Saat kawanan jangkrik bersaut-saut mesra, seakan saling menyahut dalam bahasa yang hanya mereka pahami, dan bulan dengan ikhlas menampakkan keindahannya, suasana di luar rumah telah benar-benar sepi. Tidak ada hiruk-pikuk, tidak ada suara selain desir angin dan detak waktu. Di saat seperti itulah, hati sering kali lebih jujur untuk diajak bicara.
Malam itu aku kembali merenungi sebuah nadzam As‘ad, gubahan KH. Ahmad Rifa’i. Nadzam yang sederhana, namun menghunjam dalam maknanya:
وَالغَفْلَةُ أَشَدُّ الْبَلَاءِ عَلَيْهِمْ
Utawi wong kang lali ing Allah Pangeran,
Iku luwih banget gedhene bilahi katekanan,
Atas wong iku kabeh lali ning kebatinan.
Aku terdiam cukup lama setelah membacanya. Bukan karena tidak paham, justru karena terlalu paham. Betapa sering kita mengira musibah itu hanya soal kehilangan harta, sakit badan, atau urusan dunia yang berantakan. Padahal, menurut para ulama, kelalaian hati dari Allah justru musibah yang jauh lebih berat, meski tak selalu terasa sakit.
Orang yang lalai mungkin tetap bisa tertawa, tetap tampak baik-baik saja, bahkan terlihat sukses di mata manusia. Namun kebatinannya kosong. Ia berjalan tanpa arah ruhani, hidup tanpa rasa diawasi, dan beribadah tanpa kehadiran hati. Inilah bilahi yang halus, tak kasat mata, tetapi dampaknya panjang dan dalam.
Di bawah cahaya bulan itu, aku menyadari bahwa kelalaian sering datang pelan-pelan. Dimulai dari menunda zikir, meremehkan niat, lalu terbiasa menjalani hari tanpa menghadirkan Allah dalam hati. Hingga akhirnya, hati menjadi asing dengan Tuhannya sendiri.
Malam yang sunyi mengajarkan satu hal: tidak semua musibah itu ribut, dan tidak semua peringatan itu datang dengan suara keras. Ada yang datang lewat sepi, lewat nadzam, dan lewat getaran kecil di dalam hati—asal kita mau berhenti sejenak dan merenung.
Semoga Allah menjaga kita dari bilahi yang paling berat: hati yang lalai, meski jasad masih bernapas dan langkah masih berjalan.
Baca Juga: Bahaya Pergaulan yang Merusak Agama
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


