Batang — Pimpinan Pusat Rifa’iyah kembali menggelar kegiatan rutin Ngaji Selapan dengan kajian mendalam Kitab Tahsinah karya KH. Ahmad Rifa’i, sebagai bagian dari penguatan tradisi pembelajaran Al-Qur’an dan ilmu tajwid di lingkungan jamaah Rifa’iyah.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 11 Februari 2026, pukul 20.00–21.00 WIB, bertempat di Gedung PP. Rifa’iyah, Watesalit, Batang, dan menghadirkan KH. Chaeruddin Khasbullah, Wakil Ketua Dewan Syuro PP. Rifa’iyah, sebagai pemateri. Acara juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Rifa’iyah Media agar dapat diikuti jamaah dari berbagai daerah.
Kajian kali ini merupakan kelanjutan program pembelajaran bertahap Kitab Tahsinah, yang dirancang sebagai program jangka panjang untuk memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an umat, mulai dari makharijul huruf hingga sifat-sifat huruf.
Fokus Kajian: Sifatul Huruf dan Ketelitian Bacaan
Dalam pemaparan materi, dijelaskan bahwa pembelajaran tajwid tidak cukup hanya mengetahui tempat keluarnya huruf (makhraj), tetapi juga harus memahami sifat-sifat huruf (sifatul huruf) agar bacaan tidak berubah makna.
Beberapa pokok bahasan penting yang dikaji antara lain:
- Perbedaan Lahn Jali dan Lahn Khafi
- Lahn Jali adalah kesalahan bacaan yang sampai mengubah makna dan bisa membatalkan shalat.
- Lahn Khafi adalah kesalahan ringan yang tidak sampai mengubah makna.
- Jamaah ditekankan untuk terus belajar karena kesalahan dalam proses belajar tetap bernilai pahala.
- Pentingnya membaca Al-Qur’an secara tartil
- Berdasarkan perintah Al-Qur’an untuk membaca dengan tartil.
- Bahkan Nabi Muhammad ﷺ pun tidak tergesa-gesa dalam menerima dan membaca wahyu.
- Rujukan Ulama Tajwid
- Materi sifat huruf merujuk pada pendapat para ulama tajwid, terutama Imam Ibnul Jazari, yang diakui luas sebagai otoritas besar dalam ilmu tajwid.
- KH. Ahmad Rifa’i menerjemahkan dan menurunkan kaidah tersebut agar mudah dipahami masyarakat melalui nazam dan penjelasan berbahasa lokal.
Lima Sifat Huruf Berlawanan yang Dibahas
Kajian mengurai lima pasang sifat huruf utama dalam tajwid:
- Jahr vs Hams — menahan nafas vs mengalirnya nafas saat melafalkan huruf
- Syiddah vs Rikhwah — tertahannya suara vs mengalirnya suara
- Isti’la vs Istifal — naiknya pangkal lidah vs posisi lidah mendatar
- Idbaq vs Infitah — menempelnya lidah ke langit-langit vs terbuka
- Idzlaq vs Ismat — huruf ringan diucap vs huruf berat diucap
Selain itu juga dijelaskan huruf Tawassuth (Bainiyah) sebagai sifat pertengahan, serta sifat tambahan seperti qalqalah, ghunnah, shafir, lin, takrir, tafasysyi, dan inhiraf.
Praktik Langsung pada Surah Al-Fatihah
Materi tidak hanya teoritis, tetapi langsung dipraktikkan pada bacaan Surah Al-Fatihah, dengan penekanan pada:
- Kesalahan umum pelafalan lam, ‘ain, ha’, ra’, sin, dan huruf-huruf isti’la
- Larangan membaca huruf tebal dengan monyong atau mencucu
- Perbedaan bunyi huruf Arab dan logat lokal
- Pentingnya menjaga sifat huruf agar makna ayat tidak berubah
Penegasan tentang Ibadah Mahdhah dan Penentuan Awal Puasa
Dalam sesi akhir, juga disinggung prinsip bahwa puasa termasuk ibadah mahdhah yang tata cara dan waktunya harus berdasarkan dalil. Dijelaskan pula konsep rukyat, ijtimak, dan isbat sebagai bagian dari metode penetapan awal bulan yang memiliki dasar sunnah.
Melalui Ngaji Selapan ini, PP. Rifa’iyah terus memperkuat komitmen menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an melalui jalur sanad, kitab, dan bimbingan ulama. Kajian Kitab Tahsinah karya KH. Ahmad Rifa’i menjadi salah satu pilar penting dalam membumikan ilmu tajwid secara sistematis dan mudah dipahami masyarakat.
Baca Juga: Waris Tak Bisa Ditawar: PP Rifa’iyah Dalami Ilmu Fara’id dalam Kitab Nadhom Muslihat
Penulis: Yusril Mahendra
Editor: Yusril Mahendra


