Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Sejarah

Pelita di Tengah Kelam: Kisah Inspiratif Kiai Idris Ibn Ilham

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
February 15, 2026
in Sejarah, Tokoh
0
Pelita di Tengah Kelam: Kisah Inspiratif Kiai Idris Ibn Ilham
0
SHARES
12
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Penyebar Cahaya Rifa’iyah di Indramayu (1850-1895)

Di tengah derasnya arus kolonialisme yang mencengkeram Nusantara pada pertengahan abad ke-19, ketika rakyat tertindas di bawah sistem tanam paksa dan pajak yang mencekik, muncul sosok yang berani menerangi kegelapan. Ia bukan seorang pejuang bersenjata, melainkan seorang ulama yang berjuang dengan ilmu, kesabaran, dan keikhlasan—Kiai Idris Ibn Ilham.

Berawal dari Pekalongan: Perjalanan Seorang Pencari Kebenaran

Tahun 1850, seorang pemuda bernama Idris Ibn Ilham meninggalkan kampung halamannya di Pekalongan. Bukan karena lari dari masalah, tetapi karena terpanggil untuk membawa perubahan. Ia telah belajar langsung dari Kiai Haji Ahmad Rifa’i, sang pelopor gerakan Rifa’iyah yang mengajarkan Islam autentik kepada rakyat jelata dengan bahasa yang mereka pahami—bahasa Jawa yang dituangkan dalam kitab Tarajumah.

Idris memahami bahwa ilmu yang ia miliki bukanlah untuk disimpan, tetapi untuk disebarkan. Di masa ketika kebanyakan ulama hanya mengajar di pesantren-pesantren besar di kota, Idris memilih jalan yang berbeda: ia memilih desa-desa terpencil, ia memilih masyarakat yang terlupakan.

Menghadapi Penolakan: Ujian Pertama di Regasana

Perjalanan Kiai Idris dimulai dari Arjawinangun Cirebon, tempat ia bertemu dengan kerabatnya yang juga santri Rifa’iyah. Dari sana, ia melanjutkan ke Desa Regasana, Karangampel, Indramayu pada tahun 1850.

Di Regasana, ia mendirikan langgar sederhana dan mulai mengajar. Santri-santri berdatangan dari berbagai penjuru—Jambe, Larangan, Tinumpuk, Dukuhjati. Namun, kebaikan tidak selalu disambut dengan kebaikan. Sebagian penduduk menolak kehadirannya, fitnah dan cercaan dilontarkan kepada ulama muda ini.

Menghadapi penolakan ini, Kiai Idris tidak membalas dengan amarah. Ia tidak berdebat kusir dengan para penentangnya. Sebaliknya, ia memilih untuk pergi dengan tenang, meninggalkan warisan komunitas Tarajumah yang telah ia bentuk di Larangan, Jambe, dan Tinumpuk. Hingga kini, komunitas di Larangan masih lestari—bukti bahwa benih kebaikan yang ia tanam tidak pernah sia-sia.

“Penolakan bukanlah akhir perjuangan, tetapi ujian untuk kesabaran. Seorang penyebar kebaikan tidak mundur, ia hanya mencari jalan lain untuk sampai ke hati yang terbuka.”

Bahkan hatinya selalu mensyukuri atas penolakan masyarakat, beliau selalu mengingat bahwa dulu Sang Guru KH. Ahmad Rifa’i sering mengalami penolakan dan pengingkaran ketika menawarkan jalan keselamatan. KH. Ahmad Rifa’i yang istiqomah mengasuh majelis-majelis dengan berkuda keliling di berbagai daerah, seringkali disertai penolakan. Diantaranya majelis yang hendak diselenggarakan di Masjid Wonoyoso Buaran Pekalongan, sempat ditolak masyarakat dan tokoh setempat, bukan karena alasan fanatisme golongan, akan tetapi karena pengawasan ketat dari pemerintah Hindia Belanda terhadap majelis-majelis pencerahan dan penyadaran yang menjadikan masyarakat trauma. Hal ini juga terjadi di Wonosobo, hingga KH. Ahmad Rifa’i dipenjarakan.

Membangun dari Hutan: Kelahiran Desa Sukawera

Tahun 1853, Kiai Idris tiba di Desa Sukalila, Jatibarang. Di tempat inilah ia menemukan tanah yang menerimanya dengan tangan terbuka. Penduduk setempat menghormatinya, santri berdatangan dari Pekalongan, Tegal, Brebes, Temanggung, bahkan Karawang. Beberapa di antaranya adalah Kiai Abu Hanifah, Kiai Dhawam, Kiai Bunawi, Kiai Mursyid, dan banyak lagi.

Namun, Kiai Idris tidak puas hanya mengajar. Ia melihat hutan belantara di seberang sungai Cimanuk, tepian yang dianggap angker dan tak seorang pun berani membuka lahan di sana. Bersama saudaranya Kayyin yang memiliki ilmu kanuragan, ia memberanikan diri masuk ke hutan itu.

Dengan tangan mereka sendiri, pohon-pohon ditebang, semak-semak dibersihkan, tanah tandus diubah menjadi sawah dan kebun yang subur. Tahun 1860, lahirlah pemukiman baru yang kini dikenal sebagai Desa Sukawera—desa yang dibangun dengan keringat dan doa, desa yang menjadi pusat penyebaran Rifa’iyah di Indramayu.

Melawan dengan Pendidikan: Senjata yang Tak Terlihat

Pada masa itu, Indonesia berada di bawah cengkeraman kolonial Belanda. Sistem tanam paksa memaksa petani menanam kopi dan tebu untuk kepentingan penjajah, pajak yang memberatkan membuat rakyat kelaparan, dan tahun 1846-1850 bahkan terjadi wabah tifus yang menewaskan ribuan orang di Cirebon-Indramayu.

Di tengah penderitaan ini, banyak gerakan perlawanan bersenjata bermunculan—seperti pemberontakan petani di Banten tahun 1888. Namun Kiai Idris memilih jalan yang berbeda. Ia percaya bahwa melawan dengan kekerasan hanya akan menambah penderitaan rakyat. Senjatanya adalah pendidikan dan kesadaran spiritual. Ia yang dididik dalam naungan ilmu Kalisalak menyadari benar, bahwa jihad perang bukan satu-satunya jalan. Melalui Kitab Hujahiyyah KH. Ahmad Rifa’i mewedar hal tersebut.

Ia membangun pesantren di Sukalila dan Sukawera, mengajarkan kitab Tarajumah yang ditulis dalam bahasa Jawa agar mudah dipahami rakyat biasa. Ia tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga akhlak, cara hidup yang benar, dan pentingnya kemandirian. Santri-santrinya diajarkan bertani, bercocok tanam, mengelola tanah—agar mereka tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mandiri secara ekonomi.

Visi Pendidikan Kiai Idris

  1. Mengajar agama dengan bahasa rakyat (Tarajumah), bukan bahasa Arab yang sulit dipahami masyarakat awam
  2. Memadukan ilmu agama dengan keterampilan praktis seperti pertanian
  3. Membangun pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, bukan hanya tempat belajar ritual
  4. Mendorong kemandirian ekonomi agar umat tidak bergantung pada sistem kolonial yang menindas

Protes Tanpa Kekerasan: Ajaran yang Dianggap Berbahaya

Rifa’iyah bukan sekadar gerakan keagamaan—ia adalah bentuk protes sosial terhadap ketidakadilan kolonialisme. Ajaran Kiai Idris mengajarkan bahwa orang yang mengabdi pada pemerintah kolonial dianggap fasik (berdosa), termasuk para penghulu dan birokrat tradisional yang bekerja untuk Belanda.

Karena itu, pernikahan yang dinikahkan oleh penghulu yang bekerja untuk Belanda dianggap tidak sah dan harus diulang (tajdid). Pandangan ini tentu saja membuat pemerintah kolonial gelisah. Banyak kitab Tarajumah yang dirampas dan disita, beberapa bahkan kini tersimpan di perpustakaan Universiteit Leiden, Belanda.

Namun Kiai Idris tidak gentar. Ia tidak melakukan pemberontakan fisik, tetapi ia membangun kesadaran kritis di kalangan pengikutnya. Ia mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati dimulai dari kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan spiritual—tidak tergantung pada sistem yang zalim.

Warisan yang Abadi: Transformasi Sosial-Budaya

Pengaruh Kiai Idris bukan hanya terasa pada masanya, tetapi berabad-abad setelahnya. Desa Sukawera yang ia dirikan hingga kini masih mempertahankan identitas uniknya:

  1. Dialek bahasa Jawa Pekalongan masih digunakan hingga sekarang, meskipun desa ini berada di Indramayu
  2. Budaya memakai kerudung bagi perempuan—baik yang sudah baligh maupun belum—menjadi tradisi turun-temurun
  3. Pengajian kitab Tarajumah setiap bulan Ramadan sebelum salat tarawih tetap dilaksanakan
  4. Masjid yang dibangun Kiai Idris masih berdiri kokoh sebagai pusat kegiatan keagamaan

Yang paling luar biasa adalah penyebaran ajaran ini melalui jalur pernikahan. Para santri Kiai Idris menikah dengan penduduk dari berbagai daerah—Cilamaya Karawang, bahkan hingga ke Jawa Tengah—dan di mana pun mereka menetap, di situ komunitas Tarajumah terbentuk. Ini adalah strategi dakwah yang cerdas dan berkelanjutan.

Perjuangan Tanpa Lelah hingga Akhir Hayat

Setelah K.H. Ahmad Rifa’i wafat di pengasingan Minahasa tahun 1870, beban menjaga ajaran Rifa’iyah semakin berat. Pemerintah kolonial semakin ketat mengawasi gerakan ini, khawatir akan memicu pemberontakan seperti di Banten.

Namun Kiai Idris tidak mundur. Ia justru lebih fokus pada pembinaan kader. Ia sering berkunjung ke berbagai komunitas Tarajumah, memberikan penguatan spiritual, memastikan ajaran ini tetap lestari. Ia mendidik murid-muridnya untuk mandiri, agar kelak mereka bisa meneruskan perjuangannya.

Hingga usianya mencapai sekitar 85 tahun, Kiai Idris masih aktif mengajar dan membimbing. Tahun 1895, ia wafat di kompleks pesantrennya di Sukalila, tepat di tepi sungai Cimanuk yang memisahkan Sukalila dengan Sukawera—dua desa yang menjadi saksi bisu perjuangan hidupnya.

Pelajaran untuk Zaman Kita

Kisah Kiai Idris Ibn Ilham bukan sekadar sejarah masa lalu. Ia adalah cermin bagi kita di masa kini:

  1. Keberanian Melawan dengan Cara yang Benar

Di tengah penindasan kolonial, banyak yang memilih kekerasan. Kiai Idris memilih pendidikan dan pemberdayaan. Ia membuktikan bahwa perubahan sejati tidak datang dari senjata, tetapi dari kesadaran dan kemandirian rakyat.

  1. Kesabaran Menghadapi Penolakan

Ketika ditolak di Regasana, ia tidak membalas dendam atau menyerah. Ia pergi dengan tenang dan mencari tempat lain yang lebih menerima. Kesabaran ini mengajarkan kita bahwa tidak semua orang akan memahami kebaikan kita, dan itu tidak apa-apa.

  1. Kerja Keras dan Etos Membangun

Membabat hutan belantara untuk mendirikan Desa Sukawera bukanlah pekerjaan mudah. Tetapi Kiai Idris tidak mengeluh. Ia bekerja dengan tangannya sendiri, bersama santri-santrinya, membuktikan bahwa seorang pemimpin sejati adalah yang turun langsung ke lapangan.

  1. Pendidikan Berpihak pada Rakyat Kecil

Kiai Idris tidak mengajar dengan bahasa Arab yang sulit dipahami petani desa. Ia menggunakan bahasa Jawa dalam kitab Tarajumah agar ilmu agama dapat diakses oleh semua kalangan. Ini adalah pendidikan yang inklusif dan emansipatoris.

  1. Visi Jangka Panjang

Ia tidak hanya berpikir untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang akan datang. Ia mendidik kader-kader yang nantinya akan meneruskan perjuangannya. Hasilnya? Hingga lebih dari satu abad setelah wafatnya, ajaran Rifa’iyah masih hidup di Indramayu, Karawang, dan berbagai daerah lainnya.

Pelita yang Tak Pernah Padam

Kiai Idris Ibn Ilham adalah pelita di tengah kegelapan masa kolonial. Ia menerangi bukan dengan kekerasan, tetapi dengan ilmu, kesabaran, dan kerja keras. Ia tidak mencari popularitas atau kekuasaan—ia hanya ingin rakyatnya melek agama, mandiri, dan tidak lagi tertindas.

Makamnya di Sukalila mungkin sederhana, tanpa monumen megah. Tetapi warisannya? Tidak akan pernah mati. Setiap kali ada pengajian Tarajumah di Sukawera, setiap kali ada perempuan yang memakai kerudung karena kesadaran beragama, setiap kali ada komunitas Rifa’iyah yang masih bertahan—itu adalah bukti bahwa pelita yang ia nyalakan lebih dari 170 tahun lalu masih menerangi hingga hari ini.

“Seseorang yang ikhlas mengajar, tidak akan pernah mati. Ia hidup dalam setiap muridnya, dalam setiap ilmu yang ia sebarkan, dalam setiap kebaikan yang ia tanam.”

Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk tidak hanya mengingat para pejuang masa lalu, tetapi juga untuk meneruskan perjuangan mereka dengan cara kita masing-masing—menerangi kegelapan di mana pun kita berada.

Timeline Perjalanan Kiai Idris Ibn Ilham

  • 1810 (perkiraan): Lahir di Pekalongan
  • 1850: Berangkat dari Pekalongan menuju Indramayu melalui Cirebon
  • 1850-1852: Menetap dan mengajar di Desa Regasana, Karangampel
  • 1853: Pindah ke Desa Sukalila, Jatibarang dan membangun pesantren
  • 1856: KH. Ahmad Rifa’i berkunjung ke Sukalila
  • 1860: Membabat hutan dan mendirikan Desa Sukawera
  • 1865: Membangun masjid dan pesantren di Sukawera
  • 1870: KH. Ahmad Rifa’i wafat di pengasingan Minahasa
  • 1880-1895: Periode pembinaan intensif komunitas Tarajumah
  • 1895: Wafat di usia sekitar 85 tahun di Sukalila

Referensi

Rahmah Nur Fauziah, Peran Kiai Idris Ibn Ilham dalam Menyebarkan Ajaran Rifa’iyah di Indramayu, Jawa Barat (1850-1895)

KH. Ahmad Rfa’i, Hujahiyyah

Baca Juga: KH. Ahmad Nasikhun: Sang Pemimpin Visioner dari Paesan


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Dakwah Rifa'iyahIndramayuKiai Idris Ibn IlhamKitab TarajumahSejarah Rifa’iyahUlama Rifa’iyah
Previous Post

Penjelasan Kitab Tasyrihatal Muhtaj 22: Status Zakat bagi Mustahiq yang Safih dan Lalai Salat

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id