Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Nadhom

Penjelasan Kitab Ri’ayah al-Himmah 20: Iman kepada Hari Kiamat (Bagian 3)

Tim Redaksi by Tim Redaksi
December 25, 2025
in Nadhom
0
Hari Kiamat
0
SHARES
33
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Selanjutnya KH. Ahmad Rifa’i menjelaskan kehidupan orang-orang kafir sebagai berikut:

Kehidupan orang-orang kafir kebalikan dari orang-orang mukmin, mereka ditempatkan di neraka untuk selama-lamanya. Adapun orang-orang mukmin yang berdosa karena melakukan maksiat kemudian bertaubat, maka ia masuk ke dalam surga, demikian ijma’ para ulama. Sedangkan orang-orang mukmin yang melakukan maksiat yang tidak bertaubat, maka ia berada dalam kehendak Allah. Apabila Allah berkehendak memaafkan kesalahannya, maka ia masuk surga, tetapi apabila Allah tidak memaafkan, maka ia disiksa di dalam neraka sesuai dengan kadar maksiat yang telah dilakukannya, kemudian dimasukkan ke dalam surga. Dengan demikian, ia tidak akan kekal di neraka. QS. Al-Baqarah [2]: 39 menerangkan keadaan orang-orang kafir:

وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَكَذَّبُوا۟ بِـَٔايَـٰتِنَآ أُو۟لَـٰٓئِكَ أَصْحَـٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَـٰلِدُونَ

“Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”

Ayat di atas merupakan dalil atas apa yang telah disampaikan sebelumnya bahwa orang-orang kafir kekal di dalam neraka. Selanjutnya Allah Swt. menjelaskan keadaan orang-orang kafir yang digiring ke neraka dalam QS. Fushilat [41]: 19–21 sebagai berikut:

وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَآءُ ٱللَّهِ إِلَى ٱلنَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ. حَتَّىٰٓ إِذَا مَا جَآءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَـٰرُهُمْ وَجُلُودُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ. وَقَالُوا۟ لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوٓا۟ أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِىٓ أَنطَقَ كُلَّ شَىْءٍۢ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍۢ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring ke neraka lalu mereka dipisah-pisahkan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allah, yang (juga) menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, dan Dialah yang menciptakan kamu yang pertama kali dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.”

KH. Ahmad Rifa’i menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:

Ayat di atas masih berkaitan dengan dalil yang disebutkan sebelumnya, yaitu tentang keadaan orang-orang kafir pada hari kiamat. Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa musuh-musuh Allah akan digiring ke dalam neraka secara keseluruhan. Ketika mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka kerjakan di dunia. Mereka berkata kepada kulit-kulit mereka, “Mengapa kalian menjadi saksi terhadap kami?” Mereka menjawab, “Allah-lah yang telah menjadikan kami berkata.”

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap ayat ini menyebutkan sejumlah hadis yang berkaitan dengan hal tersebut, antara lain hadis riwayat Anas bin Malik yang artinya sebagai berikut:

Suatu hari Rasulullah saw. tertawa dan tersenyum, lalu beliau bersabda, “Mengapa kalian tidak bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tertawa?” Beliau bersabda, “Aku heran terhadap bantahan seorang hamba kepada Tuhannya pada hari kiamat. Ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah berjanji kepadaku bahwa Engkau tidak menzalimiku?’ Allah menjawab, ‘Ya.’ Hamba itu berkata, ‘Sesungguhnya aku tidak menerima saksi kecuali dari diriku sendiri.’ Allah berfirman, ‘Tidakkah cukup diri-Ku dan para malaikat pencatat amal sebagai saksi?’ Hamba tersebut mengulang-ulang perkataannya, lalu mulutnya terkunci dan anggota tubuhnya berbicara tentang apa yang telah ia kerjakan. Lalu ia berkata, ‘Celaka kalian, aku membantah untuk membela kalian.’”

Lebih lanjut dikatakan sebagai berikut:

والحاصل أن الناس على قسمين: مؤمن، وكافر، فالكافر مخلد في النار إجماعا، والمؤمن على قسمين: طائع، وعاص، فالطائع في الجنة إجماعا، والعاصي على قسمين: تائب، وغير تائب. فالتائب في الجنة إجماعا، وغير التائب في المشيئة، وعلى تقدير عذابه لا يخلد في النار (نورالظلام ١١٢)

Kesimpulannya, sesungguhnya manusia terbagi menjadi dua bagian, sebagian mukmin dan sebagian kafir. Ulama sepakat (ijma’) bahwa orang kafir kekal di neraka. Orang mukmin dibagi menjadi dua bagian lagi, yaitu orang mukmin yang taat dan orang mukmin yang ahli maksiat. Orang mukmin yang taat ditempatkan di dalam surga, sedangkan orang mukmin yang ahli maksiat terbagi menjadi dua, yaitu orang mukmin ahli maksiat yang akhirnya bertaubat dan orang mukmin ahli maksiat yang tidak sempat bertaubat. Orang mukmin ahli maksiat yang bertaubat dan diterima taubatnya, maka ia masuk surga. Adapun orang mukmin yang ahli maksiat tetapi belum bertaubat, maka sangat tergantung pada kehendak Allah (‘alā masyī’atillāh). Jika Allah menghendaki, maka ia dimasukkan ke dalam surga, dan jika Allah menghendaki, ia dimasukkan ke dalam neraka sesuai dengan dosanya. Namun yang pasti, ia tidak kekal di dalam neraka dan akan masuk surga ba‘dal hisab.

KH. Ahmad Rifa’i mengutip QS. Al-A‘la [87]: 11–13 yang menerangkan siksa bagi orang-orang yang celaka:

“Dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.”

Ayat di atas menjelaskan kehidupan orang-orang yang celaka di neraka. Mereka hidup sengsara sebagaimana yang disebutkan dalam Tafsir Al-Wasith. Orang-orang yang celaka tersebut dahulu selalu mengabaikan peringatan dan mau‘izhah serta menjauhi nasihat yang diberikan oleh para ulama yang alim dan adil. Mereka terus-menerus dalam kekufuran dan pengingkaran. Hal ini berlainan dengan sifat orang-orang mukmin. Mereka suka menerima ajakan (dakwah) dan mau mengambil manfaat dari nasihat dan peringatan yang diberikan kepada mereka.

KH. Ahmad Rifa’i melanjutkan:

Ayat ini menjelaskan salah satu keadaan orang kafir di akhirat, yaitu mereka berharap menjadi debu agar tidak merasakan siksaan. Mereka mengatakan, “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” Mereka mengatakan demikian ketika Allah berfirman kepada binatang-binatang setelah Dia melakukan hukum qishash sebagian binatang terhadap binatang yang lain. Allah berfirman, “Jadilah kalian semua tanah.” Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Asy-Syawi dalam tafsirnya:

يقول ذلك عند ما يقول الله تعالى للبها ئم ثم بعد الاقتصاص من بعضها لبعض كوني تراب

Sebagian mufassir memberikan tafsiran lain, yaitu orang kafir ketika itu berharap menjadi tanah karena semasa di dunia ia tidak menjadi makhluk hidup. Demikian ketika ia melihat azab Allah secara langsung dan melihat amal-amal jahatnya telah ditulis oleh tangan-tangan malaikat. Imam Ibnu Katsir mengatakan:

أي : يود الكافر يومئذ أنه كان في الدار الدنيا ترابا ، ولم يكن خلق ، ولا خرج إلى الوجود . وذلك حين عاين عذاب الله ، ونظر إلى أعماله الفاسدة قد سطرت عليه بأيدي الملائكة السفرة الكرام البررة

Orang-orang kafir menyesali diri mereka dan menginginkan ketika mereka di dunia, alangkah baiknya jika menjadi debu saja, tidak menjadi manusia. Padahal keinginan demikian merupakan sesuatu yang tidak mungkin terlaksana. Penyesalan itu muncul ketika mereka melihat azab yang amat pedih akibat kerusakan yang telah mereka perbuat.

Baca sebelumnya: Penjelasan Kitab Ri’ayah al-Himmah 19: Iman kepada Hari Kiamat (Bagian 2)


Penyusun: KH. Muhammad Toha, KH. Muhammad Abidun, Lc, KH. Sodikin, M.Pd.I, KH. Ahmad Rifa’i
Editor: Yusril Mahendra

Sumber: Metode Pengajaran Kitab Tarajumah (Ri’ayah al-Himmah)
Penerbit: UMRI Kab. Pati

Tags: hari kiamatKitab TarajumahMPKTRiayatal Himmahrukun iman
Previous Post

Kekuasaan, Kebijakan Keliru, dan Tipuan Dunia

Next Post

Rajaba atau Rajabin? Penjelasan Nahwu Doa Bulan Rajab

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Next Post
Doa bulan Rajab

Rajaba atau Rajabin? Penjelasan Nahwu Doa Bulan Rajab

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id