Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Nadhom

Penjelasan Kitab Ri’ayah al-Himmah 22: Iman kepada Takdir (Bagian 2)

Tim Redaksi by Tim Redaksi
January 12, 2026
in Nadhom
0
Penjelasan Kitab Ri’ayah al-Himmah 22: Iman kepada Takdir (Bagian 2)
0
SHARES
58
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Menurut Ahlisunnah wal Jamaah bahwa bagi setiap hamba atau manusia diwajibkan untuk berikhtiar atau kasab (berusaha), akan tetapi usahanya itu tidak dipandang sebagai satu-satunya perkara yang dapat menghasilkan tujuan tanpa campur tangan Tuhan (ta’tsir), karena yang sesungguhnya menimbulkan keberhasilan adalah Allah SWT. Allah berfirman dalam QS Al-Anfal, 8:17:

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِىَ ٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَآءً حَسَنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ

“Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Ayat tersebut merupakan klarifikasi terhadap sejumlah tentara yang berebut ghanimah karena masing-masing mengaku bahwa merekalah yang telah berhasil membunuh orang-orang kafir, kemudian Allah membantah dengan tegas bahwa sesungguhnya Allahlah yang telah membunuh orang-orang kafir itu, bukan mereka (lihat: kitab-kitab tafsir). KH. Ahmad Rifa’i menegaskan bahwa i‘tikad Ahlussunnah wal-Jamaah itu tidak seperti i‘tikad Jabariyah dan tidak pula seperti i‘tikad Qadariyah.

I‘tikad Jabariyah menafikan ikhtiar, artinya keberuntungan dan kesialan seseorang semuanya disandarkan kepada Allah. Mereka memandang bahwa taat dan maksiat tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap ketentuan nasib seseorang; jika Allah menghendaki beruntung, maka ia beriman dan masuk surga meskipun ahli maksiat, sebaliknya jika Allah menghendaki celaka maka ia kafir dan masuk neraka meskipun amal kebajikannya banyak. Sedangkan i‘tikad Qadariyah memastikan ikhtiar manusia terhadap keberuntungan dan celaka. Jika ia orang yang taat maka ia pasti masuk surga karena ketaatannya itu, dan jika ahli maksiat maka ia masuk neraka karena perbuatan maksiatnya itu, bukan karena kasih sayang atau rahmat Allah. Dalam kitab Tuhfatul Murid disebutkan:

“Mazhab Jabariyah adalah keyakinan bahwa manusia tidak punya peran usaha. Dia dalam keadaan terpaksa (oleh qodrat Allah) bagaikan bulu yang beterbangan di udara bergerak ke sana kemari sesuai dengan arah angin. Mazhab Mu‘tazilah adalah keyakinan bahwa manusia yang menciptakan perbuatan-perbuatan ikhtiarnya dengan kemampuan yang telah diciptakan Allah dalam dirinya. Karena Mu‘tazilah mengatakan dengan kemampuan yang diciptakan Allah dalam dirinya mereka tidak dianggap kafir menurut pendapat al-ashah. Jabariyah berlebihan dalam menafikan usaha, sedangkan Mu‘tazilah berlebihan dalam menetapkan usaha. Adapun Ahlus Sunnah berada di tengah-tengah di antara keduanya. Sebaik-baik perkara adalah pertengahannya, maka mazhab Ahlus Sunnah bagaikan air susu murni yang terasa lezat bagi para peminumnya, yang telah keluar dari kotoran dan darah.”

Kiranya perlu dijelaskan bahwa mazhab Qadariyah sama dengan Mu‘tazilah. Tokoh pendiri Jabariyah adalah Jahm bin Shafwan, sedangkan tokoh pendiri Mu‘tazilah adalah Washil bin ‘Atha’. Adapun tokoh pendiri Ahlussunnah wal-Jamaah adalah Abu Hasan al-Asy‘ari dan Imam al-Maturidi.

Ahlus Sunni maksudnya Ahlussunnah wal-Jamaah, yaitu golongan mayoritas umat Islam yang berkeyakinan bahwa semua perbuatan sudah berada dalam suratan takdir, tetapi manusia berkewajiban untuk berikhtiar sesuai dengan kemampuan yang diberikan oleh Allah SWT, dan ikhtiarnya itu tidak diyakini sebagai satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan, karena pada hakikatnya keberhasilan itu berada di tangan (kekuasaan) Allah.

Selanjutnya KH. Ahmad Rifa’i menerangkan syarat sahnya iman, yaitu rida atau menerima segala ketentuan yang telah digariskan oleh Allah (takdir), baik berupa kenikmatan maupun cobaan-cobaan, serta rida terhadap hukum-hukum syara‘ baik berupa perintah maupun larangan. Seseorang menjadi murtad apabila hatinya tidak rida terhadap datangnya syariat, apalagi membenci salah satu syariat-Nya baik berupa perintah maupun larangan. QS At-Taghabun, 64:2:

“Dialah yang menciptakan kamu, lalu di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu (juga) ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Ayat di atas memperkuat adanya orang-orang mukmin dan orang-orang kafir serta perbuatannya masing-masing merupakan suratan takdir, dan segalanya terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. KH. Ahmad Rifa’i menerangkan sifat-sifat orang munafik, yaitu lahirnya seperti orang mukmin, tetapi batinnya kafir.

KH. Ahmad Rifa’i mengutip QS Az-Zumar, 39:36–37 sebagai berikut:

قَالَ اللهُ تَعَالَى وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَامٍ

“Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya? Mereka menakut-nakutimu dengan sesembahan selain Dia. Barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Dan barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Mahaperkasa dan mempunyai (kekuasaan untuk) menghukum?”

Ayat di atas menjadi dalil untuk memperkuat akidah bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam alam nyata ini sudah ada dalam suratan takdir (pada zaman azali), akan tetapi manusia berkewajiban untuk berikhtiar mencapai kebaikan dan menghindari keburukan. Di antara dalil yang menunjukkan wajibnya ikhtiar ialah:

1) QS At-Taubah, 9:105

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إإِلَىٰ عَـٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’”

2) Hadis:
احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجز

“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari dan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah atau menyerah.”

3) Hadis riwayat Abdullah bin Mas‘ud r.a.:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الـْمَصْدُوْقُ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَاً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الـْمَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرٌّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَالله الَّذِيْ لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلاذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَايَكُوْنُ بَييْنَهُ وَبَيْنَهَا إلا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Dari Abdullah bin Mas‘ud r.a. berkata: Rasulullah ﷺ telah menceritakan kepada kami—dan beliau adalah orang yang paling jujur dan dapat dipercaya—bahwa:

“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula. Setelah itu Allah mengutus malaikat lalu meniupkan ruh ke dalamnya, dan malaikat itu diperintahkan untuk menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, serta apakah ia celaka atau bahagia.

Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sungguh salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sejengkal, tetapi ketentuan yang telah ditetapkan Allah mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka sehingga ia pun masuk neraka. Dan sungguh salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sejengkal, tetapi ketentuan Allah mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga sehingga ia pun masuk surga.”

4) Hadis riwayat Ali r.a.:

كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ في جَنَازَةٍ، فأخَذَ شيئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ به الأرْضَ، فَقالَ: ما مِنكُم مِن أحَدٍ إلَّا وقدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ، ومَقْعَدُهُ مِنَ الجَنَّةِ قالوا: يا رَسولَ اللَّهِ، أفلا نَتَّكِلُ علَى كِتَابِنَا، ونَدَعُ العَمَلَ؟ قالَ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِما خُلِقَ له، أمَّا مَن كانَ مِن أهْلِ السَّعَادَةِ فيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أهْلِ السَّعَادَةِ، وأَمَّا مَن كانَ مِن أهْلِ الشَّقَاءِ فيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أهْلِ الشَّقَاوَةِ، ثُمَّ قَرَأَ: {فَأَمَّا مَن أعْطَى واتَّقَى وصَدَّقَ بالحُسْنَى} الآيَةَ

Nabi Muhammad ﷺ suatu ketika berada di sebuah pemakaman. Beliau mengambil sesuatu lalu menggores-goreskan ke tanah, kemudian bersabda:

“Tidak seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka dan tempat duduknya di surga.”

Para sahabat bertanya,

“Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah kami cukup bersandar pada ketetapan itu saja dan meninggalkan amal?”

Beliau menjawab:

“Beramallah! Karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang ia diciptakan untuknya.

Orang yang termasuk golongan orang-orang yang berbahagia (ahli surga) akan dimudahkan untuk melakukan amal-amal orang yang berbahagia.

Dan orang yang termasuk golongan orang-orang yang celaka (ahli neraka) akan dimudahkan untuk melakukan amal-amal orang yang celaka.”

Kemudian Nabi ﷺ membaca firman Allah:

“Adapun orang yang memberi dan bertakwa serta membenarkan kebaikan (janji Allah)…” (QS. Al-Lail).

Baca sebelumnya: Penjelasan Kitab Ri’ayah al-Himmah 21: Iman kepada Takdir


Penyusun: KH. Muhammad Toha, KH. Muhammad Abidun, Lc, KH. Sodikin, M.Pd.I, KH. Ahmad Rifa’i
Editor: Yusril Mahendra

Sumber: Metode Pengajaran Kitab Tarajumah (Ri’ayah al-Himmah)
Penerbit: UMRI Kab. Pati

Tags: Ahlussunnah wal Jamaahiman kepada takdirKH. Ahmad Rifaiqadha dan qadarRiayatal Himmahtakdir
Previous Post

Hujan Berkah di Malam Rajaban Jajarwayang

Next Post

Musibah Hati yang Lalai

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Next Post
Musibah Hati yang Lalai

Musibah Hati yang Lalai

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id