Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Nadhom

Penjelasan Kitab Ri’ayah al-Himmah 23: Macam-macam Iman (Bagian 2)

Tim Redaksi by Tim Redaksi
February 9, 2026
in Nadhom
0
Penjelasan Kitab Ri’ayah al-Himmah 23: Macam-macam Iman (Bagian 2)
0
SHARES
57
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Fasik dan Munafik

KH. Ahmad Rifa’i menjelaskan adanya orang fasik, yaitu orang alim yang tunduk dan patuh bahkan membela para pemimpin kafir dan zalim. Mereka dipandang sebagai orang yang sama bahayanya dengan orang-orang munafik. Bedanya, orang fasik masih ada iman di hatinya sedangkan munafik tidak ada, tetapi dilihat dari lahirnya sama, keduanya melakukan kezaliman.

Arti Kata

  1. Ukara artinya peraturan.
  2. Jelunat artinya kurang ajar atau susah diatur.
  3. Atnar berasal dari bahasa Belanda amtenar, artinya pejabat pemerintah.

Selanjutnya KH. Ahmad Rifa’i mengutip QS An-Nisa, 4: 138–140 yang menerangkan ancaman dari Allah Swt. terhadap orang-orang munafik yang suka mengecoh orang-orang mukmin dengan tujuan agar orang-orang mukmin memilih mereka sebagai pemimpin.

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah. Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur`an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam.” (QS. An-Nisa, 4:138-140)

Pengertian Ayat

  1. Allah mengancam orang-orang munafik dengan azab yang pedih.
  2. Allah menjelaskan sifat orang munafik yaitu: mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai teman sejati atau teman setia, dan mereka mencari kemuliaan, kekuatan, dan dukungan dari orang-orang kafir.
  3. Allah menegur mereka dengan mengatakan bahwa semua kekuatan dan kemuliaan itu milik Allah.
  4. Jika kita (orang-orang yang beriman) mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan oleh orang-orang kafir, janganlah ikut duduk bersama mereka kecuali mereka beralih ke pembicaraan yang lain.
  5. Jika kita mengikuti mereka, maka kita dianggap oleh Allah sama dengan mereka (orang-orang kafir dan munafik).
  6. Allah mengumpulkan orang-orang munafik dan kafir di dalam neraka Jahannam meskipun tingkatannya berbeda.
  7. Kata “auliya” merupakan bentuk jamak dari kata “wali” yang berarti pemelihara, pemimpin, wakil, penolong, teman sejati atau kekasih dekat. Ayat di atas memperingatkan bahwa orang-orang beriman tidak boleh menjadikan orang-orang kafir sebagai teman sejati, atau sebagai wakil, atau sebagai pemimpin. Dalam QS Ali Imran, 3: 28 Allah menegaskan sebagai berikut:

لَّا يَتَّخِذِ ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْكَـٰفِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ ٱللَّهِ فِى شَىْءٍ إِلَّآ أَن تَتَّقُوا۟ مِنْهُمْ تُقَىٰةًۭ ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفْسَهُۥ ۗ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya dan hanya kepada Allah tempat kembali.”

Ancaman Terhadap Orang Munafik

KH. Ahmad Rifa’i mengutip QS An-Nisa, 4: 145–146 tentang balasan orang-orang munafik berada di dasar neraka:

إِنَّ ٱلْمُنَـٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرْكِ ٱلْأَسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا. إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا۟ وَأَصْلَحُوا۟ وَٱعْتَصَمُوا۟ بِٱللَّهِ وَأَخْلَصُوا۟ دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَعَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًۭا

“Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka, kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.”

Pengertian Ayat

  1. Tempat orang-orang munafik adalah pada tingkatan paling dasar dari neraka tanpa ada yang menolong mereka.
  2. Hukum ini berlaku bagi semua orang munafik kecuali mereka bertaubat, memperbaiki diri, berpegang teguh pada petunjuk Allah, dan mengikhlaskan agama mereka karena Allah. Jika demikian, maka mereka bersama orang-orang mukmin dan Allah mengganjar mereka dengan pahala yang besar.
  3. Ahmad Rifa’i menguraikan ayat tersebut sebagai berikut:

Lebih jauh beliau mengutip QS At-Taubat, 9: 68 tentang ancaman terhadap orang-orang munafik bukan hanya disiksa di akhirat, tetapi juga mendapat kutukan dari Allah Swt.

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلْمُنَـٰفِقِينَ وَٱلْمُنَـٰفِقَـٰتِ وَٱلْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ هِىَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ ٱللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌۭ مُّقِيمٌۭ

“Allah menjanjikan (mengancam) orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka; dan mereka mendapat azab yang kekal.”

Pengertian Ayat

  1. Orang-orang munafik dan orang-orang kafir sama-sama diancam oleh Allah dengan neraka Jahannam, kekal di dalamnya.
  2. Selain diancam dengan siksa yang kekal dan pedih, orang-orang munafik dilaknat atau dikutuk oleh Allah Swt. sehingga hidup mereka selalu gelisah.
  3. Orang-orang munafik dan orang-orang kafir sama-sama di neraka karena mereka ketika di dunia sama-sama kufur dan sama-sama memusuhi Allah dan Rasul-Nya dan mengingkari ayat-ayat-Nya (lihat: Tafsir As-Sa‘di).
  4. Orang-orang munafik ditempatkan di neraka yang paling dasar karena di samping mereka kafir kepada Allah dan memusuhi Rasul-Nya serta orang-orang mukmin, mereka melakukan makar (tipu daya) dan lebih leluasa dalam memusuhi orang-orang mukmin karena status gandanya tanpa disadari oleh orang-orang mukmin. Lebih dari itu, hukum-hukum Islam secara zahir juga berlaku bagi mereka. Dan mereka mendapatkan hak-hak yang sebenarnya bukan hak mereka (lihat: Tafsir As-Sa‘di).
  5. Ahmad Rifa’i menguraikan makna ayat di atas sebagai berikut:

Allah sudah menentukan balasan orang-orang munafik dan orang-orang kafir, baik laki-laki maupun perempuan, dimasukkan ke dalam neraka untuk selama-lamanya sebagai balasan atas kemunafikan dan kekafirannya. Selanjutnya KH. Ahmad Rifa’i mengingatkan kepada segenap orang mukmin agar memantapkan keimanan terhadap isi dan kandungan Al-Qur’an, termasuk terhadap ancaman yang ditujukan kepada orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Tujuannya agar orang-orang mukmin yang tergelincir melakukan maksiat, segera bertaubat, kembali kepada Allah, dan tunduk serta taslim kepada hukum-hukum syariat dan selalu mendengar fatwa para ulama yang benar-benar alim dan adil.

Baca sebelumnya: Penjelasan Kitab Ri’ayah al-Himmah 23: Macam-macam Iman


Penyusun: KH. Muhammad Toha, KH. Muhammad Abidun, Lc, KH. Sodikin, M.Pd.I, KH. Ahmad Rifa’i
Editor: Yusril Mahendra

Sumber: Metode Pengajaran Kitab Tarajumah (Ri’ayah al-Himmah)
Penerbit: UMRI Kab. Pati

Tags: fasikimanK.H. Ahmad Rifa’iMPKTmunafikRiayatal Himmah
Previous Post

PP AMRI: Potensi Akademisi Rifa’iyah Yogyakarta Jadi Modal Utama Implementasi Tiga Pilar AMRI

Next Post

KH. Ahmad Nasikhun: Sang Pemimpin Visioner dari Paesan

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Next Post
KH. Ahmad Nasikhun: Sang Pemimpin Visioner dari Paesan

KH. Ahmad Nasikhun: Sang Pemimpin Visioner dari Paesan

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id