Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Dari Dapur ke Mimbar, dari Pekalongan ke Nusantara: Perempuan Rifa’iyah Menulis Sejarahnya Sendiri

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
March 1, 2026
in Kolom, Sejarah
0
Dari Dapur ke Mimbar, dari Pekalongan ke Nusantara: Perempuan Rifa’iyah Menulis Sejarahnya Sendiri
0
SHARES
11
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ada sebuah kenyataan yang sering luput dari catatan sejarah gerakan Islam: bahwa di balik setiap jamaah yang kokoh, selalu ada kaum perempuan yang diam-diam menjadi pilarnya. Mereka mengurus pengajian, mendidik generasi, menjaga identitas, namun namanya jarang tertulis dalam prasasti. UMRI, Ummahatur Rifa’iyah, hadir untuk mengubah itu.

Pada suatu sore di Pekalongan, awal tahun 1990-an, seorang ulama bernama KH. Ahmad Syadzirin Amin mengajukan sebuah pernyataan kepada segelintir perempuan di hadapannya: sudah saatnya perempuan Rifa’iyah punya ‘rumah’ sendiri. Pernyataan itu sederhana, tapi efeknya seperti batu yang dilempar ke permukaan air yang tenang — riak-riak kecilnya menjalar jauh, melewati batas kota, menembus dinding tradisi, dan akhirnya melahirkan sebuah organisasi yang kini beranggotakan ribuan perempuan dari Jawa sampai Sulawesi.

Itulah awal mula kisah Ummahatur Rifa’iyah — yang lebih dikenal dengan singkatan UMRI — organisasi perempuan di bawah naungan Jam’iyah Rifa’iyah yang hari ini menjadi salah satu gerakan keperempuanan Islam paling unik di Indonesia.

Konteks: Perempuan dalam Tradisi Rifa’iyah

Untuk memahami mengapa berdirinya UMRI begitu penting, kita perlu memahami konteksnya. Ajaran Rifa’iyah, yang berakar pada kitab-kitab tarajumah karya KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak, dikenal sangat menjunjung tinggi ikhtiyat — kehati-hatian dalam beragama. Salah satu penafsiran yang beredar di sebagian komunitas adalah larangan perempuan bersuara di depan umum atau di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Penafsiran ini, meski sebenarnya di dalam pemahaman warga Rifa’iyah sendiri tidak selalu seragam, tapi seringkali diklaim, berdampak nyata: ruang gerak publik perempuan Rifa’iyah menjadi sempit.

Padahal, KH. Ahmad Rifa’i sendiri, dalam kitab Tabyinal Ishlah, sesungguhnya tidak mengharamkan suara perempuan secara mutlak. Ia menekankan bahwa mendengar suara perempuan diperbolehkan selama tidak menimbulkan fitnah. Bahkan fakta sejarah membuktikan bahwa sejak awal, perempuan-perempuan dalam komunitas Rifa’iyah — terutama di Pekalongan — telah aktif mengisi pengajian lintas organisasi, menjadi guru, bidan, dan bahkan kepala desa.

Namun tanpa wadah yang resmi, sumbangsih perempuan Rifa’iyah itu tak terdokumentasi, tak terstruktur, dan tak berdaya secara kolektif. Itulah gap yang hendak diisi oleh UMRI.

Karimah, Halimah, dan Miskiyah: Tiga Perempuan yang Menyalakan Api

Sejarah UMRI tak bisa dilepaskan dari tiga nama: Nur Khasanatul Karimah, Hj. Halimah, dan Hj. Miskiyah — tiga perempuan dari Pekalongan yang menjadi motor penggerak awal organisasi ini.

Di antara ketiganya, Karimah lah yang paling awal bergerak. Dengan semangat yang menyala, ia berkeliling dari desa ke desa di wilayah Pekalongan, mengajak perempuan Rifa’iyah untuk berkumpul dan berorganisasi. Hj. Halimah, yang mendapat motivasi langsung dari KH. Syadzirin Amin, menjadi penopang dan penggerak moral. Sedangkan Hj. Miskiyah, selain aktif dalam konsolidasi, juga tampil sebagai bukti hidup bahwa perempuan Rifa’iyah bisa berperan luas: ia aktif di organisasi desa, menjadi pengurus MUI Kabupaten Pekalongan, dan bahkan sempat menjabat sebagai Kepala Desa Jajarwayang — sebuah pencapaian yang luar biasa.

Di Wonosobo, semangat serupa juga muncul. Himbauan KH. Syadzirin sampai ke telinga perempuan Rifa’iyah di dataran tinggi itu. Pada tahun 1996, lahirlah Pemudi Rif’ah, yang kemudian menjadi Pemudi Rifa’iyah, dipimpin oleh Ibu Istiqomah Azzain, lalu dilanjutkan Bu Nyai Isna Muflihatin yang baru saja menyelesaikan masa nyantri di pesantren.

Jejaring itu terus meluas. Setelah bertahun-tahun melakukan konsolidasi informal, tibalah momen bersejarah itu.

8 September 2000: Sebuah Nama Lahir

Pada 8 September 2000, atas prakarsa Nur Khasanatul Karimah, berdirilah secara resmi organisasi perempuan Rifa’iyah pertama dengan nama IFARI — Ikatan Fatayat Rifa’iyah. Hari itu adalah tonggak bersejarah: untuk pertama kalinya, perempuan Rifa’iyah memiliki rumah organisasi yang resmi.

Namun sejarah organisasi ini penuh dinamika nama dan identitas. Hanya beberapa bulan kemudian, pada 11 Januari 2001, IFARI berganti nama menjadi RUMRI — Remaja Umroh Rifa’iyah. Perubahan itu mencerminkan semangat untuk memperluas cakupan, tidak hanya mewadahi fatayat (perempuan muda), tetapi seluruh remaja putri Rifa’iyah.

Lalu, pada 3 Maret 2002, nama kembali berganti menjadi UMRI — Umroh Rifa’iyah. Pemilihan nama ini bermakna ganda: merujuk pada nama putri KH. Ahmad Rifa’i, yaitu Siti Umrah, sekaligus menegaskan dimensi spiritual organisasi ini sebagai perjuangan menuju ridha Allah.

15 April 2016: Lahirnya Ummahatur Rifa’iyah

Tahun demi tahun berlalu. UMRI tumbuh, berkembang, dan melebarkan sayapnya. Namun satu persoalan mengganjal: nama ‘Umroh Rifa’iyah’ sering disalahartikan oleh masyarakat umum sebagai Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIH). Kebingungan ini mengganggu identitas organisasi.

Maka, pada 15 April 2016, melalui musyawarah nasional, nama organisasi ini berganti — untuk yang terakhir kalinya — menjadi Ummahatur Rifa’iyah (UMRI). Kata ummahatur berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘para ibu’, mencerminkan cakupan yang lebih luas: bukan hanya remaja putri, bukan hanya fatayat, tetapi seluruh perempuan Rifa’iyah — ibu-ibu, remaja, bahkan lansia — dalam satu naungan.

Nama ini pula yang memberi organisasi ini karakter yang lebih anggun dan bermartabat: para ibu yang berjuang, bukan hanya untuk keluarga mereka sendiri, tetapi untuk jamaah dan bangsa.

Melampaui Ruang Domestik: Transformasi Peran

Salah satu pencapaian terpenting UMRI adalah mentransformasi persepsi — baik dari luar maupun dari dalam komunitas Rifa’iyah — tentang apa yang bisa dan boleh dilakukan oleh perempuan.

Sebelum UMRI berdiri, peran publik perempuan Rifa’iyah sangat terbatas. Doktrin yang berkembang — meski tidak sepenuhnya berakar pada ajaran KH. Ahmad Rifa’i yang asli — membuat perempuan enggan tampil di ruang publik. Pengajian, ceramah, dan peran sosial kemasyarakatan didominasi oleh laki-laki.

UMRI mengubah itu. Secara bertahap, perempuan Rifa’iyah mulai tampil di mimbar-mimbar pengajian. Tokoh-tokoh seperti Nyai Hj. Nur Aeni, Hj. Halimah, dan Hj. Kiswati mulai mengisi pengajian tidak hanya di internal Rifa’iyah, tetapi juga di forum-forum Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan lintas organisasi. Ini bukan hal kecil — ini adalah revolusi budaya yang berlangsung dengan tenang namun pasti.

Kemandirian ekonomi pun mulai tumbuh. Perempuan Rifa’iyah didorong untuk berpendidikan formal lebih tinggi, berwirausaha, dan aktif dalam pelayanan sosial. Biro-biro dalam struktur UMRI — Pendidikan, Ekonomi, Kesehatan, Hukum, dan Seni Budaya — mencerminkan kesadaran bahwa perjuangan perempuan Rifa’iyah bersifat multidimensi.

Silatnas UMRI: Ribuan Perempuan Berkumpul dari Seluruh Nusantara

Besarnya UMRI hari ini bisa diukur dari momen-momen Silaturahmi Nasionalnya (Silatnas) yang telah berlangsung sembilan kali. Silatnas I dimulai di Kabupaten Pati pada 2012, berlanjut ke Wonosobo (2016), Temanggung (2017), Kendal (2018), dan Batang (2019). Pada Silatnas VI, 22 Juni 2022, Silatnas UMRI digelar di Desa Bojongminggir, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan. Acara itu dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai wilayah: Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sulawesi. Bupati Pekalongan Fadia Arafiq turut hadir memberikan sambutan yang penuh penghargaan. Sebuah simbol nyata bahwa UMRI telah menjadi kekuatan sosial yang diperhitungkan pemerintah daerah.

Sebelumnya, Silatnas VIII digelar di Pemalang pada 2024 dengan pengajian oleh KH. Muhlisin (Ketua PP Rifa’iyah) dan Nyai Nur Khamidah. Kemudian, pada Silatnas IX, 27 April 2025, Silatnas UMRI kembali digelar — kali ini dengan skala yang lebih besar dan penuh makna historis. Lokasi yang dipilih adalah Gedung Serbaguna Tanahbaya, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang — tanah leluhur gerakan Rifa’iyah, tempat yang namanya sudah berulang kali muncul dalam sejarah organisasi ini. Sekitar 4.000 peserta hadir dari berbagai penjuru Indonesia: Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sulawesi. Dipimpin oleh Pimpinan Pusat UMRI Nikma Lailatul Qodariyati, Silatnas ini menjadi momen konsolidasi organisasi untuk masa khidmat 2023–2028.

Acara dibuka dengan lantunan rebana, diisi sambutan tokoh-tokoh nasional UMRI dan Rifa’iyah, dan ditutup dengan doa yang khidmat. Ribuan perempuan berpakaian seragam, berwajah cerah, penuh semangat — sebuah pemandangan yang pada satu generasi sebelumnya sulit dibayangkan.

Jejak Langkah UMRI: Timeline Perjalanan Organisasi

Dari IFARI hingga Ummahatur Rifa’iyah — perjalanan dua dekade lebih yang mengukir sejarah.

Warisan Ummul Umrah: Makna di Balik Nama

Ada sebuah keindahan dalam pemilihan nama Ummahatur Rifa’iyah. Ia bukan sekadar nama organisasi — ia adalah pernyataan identitas. Ummahatur, ‘para ibu’, merujuk pada posisi sentral perempuan dalam peradaban Islam: sebagai pendidik generasi, penjaga nilai, dan pembangun peradaban dari dalam rumah yang kemudian menjalar keluar.

Dan ada kedalaman tersendiri dalam fakta bahwa nama sebelumnya, Umroh Rifa’iyah, merujuk pada Siti Umrah, putri KH. Ahmad Rifa’i. Dalam sejarah yang sering melupakannya, nama Siti Umrah hampir tidak pernah disebut. Tapi para perempuan UMRI memilihnya sebagai penanda identitas — sebuah tindakan sekaligus untuk mengangkat kembali ingatan yang terlupakan.

Dalam tradisi Rifa’iyah, nama bukan sekadar label. Nama adalah doa, harapan, dan niat. Maka ketika ribuan perempuan menyebut dirinya Ummahatur Rifa’iyah, mereka sedang menyatakan: kami adalah para ibu penerus cita-cita KH. Ahmad Rifa’i, yang memperjuangkan Islam yang lugas, kamil, syamil, mudah dipahami, dan mudah diamalkan.

Perempuan yang Menulis Sejarahnya Sendiri

Lebih dari dua dekade setelah IFARI berdiri di sebuah pengajian kecil di Pekalongan, UMRI telah tumbuh menjadi kekuatan yang memiliki kepengurusan di puluhan kabupaten, ribuan anggota, dan program kerja yang melibatkan pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, hingga seni budaya.

Yang lebih penting dari angka-angka itu adalah transformasi yang berlangsung dalam kesadaran: perempuan Rifa’iyah tidak lagi hanya menjadi subjek yang diajar, diatur, dan dilindungi — mereka menjadi agen yang mengajar, mengatur, dan melindungi. Mereka bukan hanya pelanjut tradisi, tapi juga pembaharu yang bijaksana.

Dalam konteks gerakan Islam perempuan di Indonesia, UMRI menawarkan sebuah model yang khas: transformasi dari dalam, bukan dari luar. Tidak ada konfrontasi dengan tradisi, tidak ada penolakan terhadap ajaran leluhur. Yang ada adalah penafsiran ulang yang lebih adil, pemaknaan yang lebih inklusif, dan keberanian yang bertumpu pada keyakinan bahwa Islam — sebagaimana diajarkan KH. Ahmad Rifa’i — adalah agama yang memuliakan semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan.

Dan selama masih ada perempuan yang bersemangat berkumpul, mengaji, dan berkhidmat — sebagaimana Karimah, Halimah, dan Miskiyah di awal-awal itu — UMRI akan terus menulis sejarahnya sendiri.

Feature ini disusun berdasarkan Dokumen UMRI (diakses melalui Ny Halimah) dan sumber-sumber akademik tentang gerakan perempuan Rifa’iyah.

Baca Juga: Dari Tanahbaya untuk Nusantara: Perjalanan Pondok Pesantren Salafiyah Rifa’iyah Raudlotul Ri’ayah


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Feature Sejarahperempuan Rifa’iyahSejarah Rifa’iyahSiti UmrahUmmahatur Rifa’iyahUMRI
Previous Post

Penjelasan Kitab Tasyrihatal Muhtaj 23: Suluh dalam Muamalah

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id