Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Pesantren & Filsafat: Dari Ghazalian Paradox Menuju Santri 4.0 yang Kritis

Samsul Rozikin by Samsul Rozikin
April 9, 2026
in Kolom
0
Pesantren & Filsafat: Dari Ghazalian Paradox Menuju Santri 4.0 yang Kritis

Santri membaca Al-Qur’an secara khusyuk dalam kegiatan belajar di dalam pesantren. (Pondok Pesantren Madani Global Citizenship)

0
SHARES
27
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Membicarakan filsafat di dalam ruang lingkup pesantren sering kali terasa seperti mencoba memasukkan air laut ke dalam cangkir kopi; ada kesan tumpah-tindih, tidak sinkron, bahkan bagi sebagian kalangan dianggap sebagai upaya “penyelundupan” ideologi yang berbahaya. Sebagai seorang santri yang menekuni Ushul Fiqh di Ma’had Aly At-Tarmasi sekaligus bergelut dengan teks hukum di STAI Al-Fattah Pacitan, saya merasa ada kegelisahan intelektual yang perlu kita bedah secara gentle. Frasa “peran filsafat Islam di pondok pesantren” sebenarnya adalah sebuah lompatan logika yang terlalu berani atau, dalam bahasa anak Gen Z, terlalu ambis. Mengapa? Karena asumsi bahwa pesantren sudah “bestie” dengan filsafat secara mendalam adalah sebuah klaim yang masih jauh panggang dari api. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa pesantren, sebagai benteng terakhir tradisi Sunni di Nusantara, masih memegang teguh garis anti-filsafat yang diwariskan secara turun-temurun melalui diskursus sejarah yang panjang.

Mari kita flashback sebentar ke masa di mana seorang “lelaki tambun botak”, sebagaimana narasi yang sering kita dengar dalam kuliah filsafat, yakni Al-Ghazali, menuliskan keresahannya. Beliau bukan sekadar orang biasa, melainkan intelektual raksasa yang karyanya, Tahâfut al-Falâsifah, menjadi semacam “bom atom” bagi perkembangan filsafat di dunia Islam Sunni. Al-Ghazali tidak hanya mengkritik, tetapi juga memberikan vonis bahwa filsafat mengandung 17 bid’ah dan 3 sumber kekafiran. Radiasi dari pemikiran ini sangat kuat hingga menembus dinding-dinding pesantren abad ke-21. Efeknya, filsafat sering kali dianggap sebagai “barang haram” dalam kurikulum. Kalaupun ada materi filsafat yang diajarkan di institusi pendidikan di bawah naungan pesantren, biasanya itu hanyalah bentuk “formalitas” demi memenuhi tuntutan kurikulum negara agar mendapatkan akreditasi, bukan karena ada keinginan organik dari pesantren itu sendiri untuk menjadikannya sebagai pisau analisis keagamaan.

Namun, di sinilah letak ironi yang sangat menarik. Jika kita mau deep talk dengan realitas keilmuan pesantren, kita akan menemukan fakta bahwa santri sebenarnya sudah “mengkonsumsi” filsafat setiap hari, namun dalam kemasan yang berbeda. Penolakan pesantren terhadap filsafat sebenarnya hanyalah penolakan terhadap “label” atau “brand”-nya saja. Secara substansi, pesantren adalah konsumen aktif produk-produk filosofis. Ambil contoh ilmu mantiq (logika). Di pesantren, kitab-kitab mantiq seperti Sullam al-Munawaraq dipelajari dengan tekun. Padahal, jika kita telusuri silsilah keilmuannya, mantiq adalah anak kandung dari logika Aristotelian. Tanpa disadari, santri sedang mengasah otak mereka dengan cara berpikir Yunani Klasik untuk membedah hukum Islam. Begitu juga dalam ilmu kalam dan tasawuf. Kitab-kitab teologi kita penuh dengan perdebatan mengenai atom, substansi, dan aksidensi yang semuanya adalah ranah fisika dan metafisika dalam filsafat klasik. Bahkan Al-Ghazali dalam Mîzân al-‘Amal-nya pun menggunakan analisis Aristotelian saat menjelaskan tentang anatomi jiwa (nafs). Jadi, santri itu sebenarnya adalah “filsuf yang malu-malu kucing”.

Masalahnya, watak dasar pesantren dan filsafat memang memiliki garis start yang berbeda. Filsafat menuntut “berpikir” sebagai prasyarat utama sebuah aktivitas yang tanpa batas dan tanpa sekat. Sementara itu, tradisi pesantren lebih menekankan pada hafalan, pelestarian teks (muhafadzah), dan kepatuhan. Di pesantren, mendapatkan teori baru bukanlah prioritas; yang paling penting adalah kemampuan menyerap tradisi dan mempraktikkannya dalam laku spiritual. Ada semacam ketakutan kolektif bahwa jika pintu filsafat dibuka terlalu lebar, maka “iman” yang sudah mapan akan diguncang oleh badai pertanyaan yang tak berujung. Padahal, jika kita merujuk pada pemikiran Dr. Fahruddin Faiz, filsafat itu bukan untuk membuat kita kehilangan iman, melainkan untuk membuat iman kita lebih “bernyawa” dan rasional. Kita butuh filsafat bukan untuk mencari Tuhan—karena kita sudah menemukannya lewat wahyu—tetapi untuk memahami mengapa kita menyembah-Nya dan bagaimana cara menjadi manusia yang benar di hadapan-Nya.

Memasuki era postmodern ini, tantangan pesantren makin berat. Kita hidup di zaman kebebasan informasi di mana setiap orang bisa mengklaim kebenaran hanya bermodalkan search engine. Pola pendidikan pesantren yang hanya mengandalkan hafalan kini terancam oleh pragmatisme neoliberal. Pendidikan mulai diukur hanya dari nilai ujian, absensi digital, dan gelar akademik—sebuah sistem yang sebenarnya sangat Barat dan positivistik, namun diadopsi tanpa kritik. Di sinilah filsafat berperan sebagai “alarm”. Filsafat mengajak santri untuk tidak sekadar menjadi robot yang hafal kitab Alfiyah atau Fathul Mu’in, tetapi juga memahami maqashid (tujuan) dari ilmu tersebut. Tanpa filsafat, pesantren bisa terjebak dalam formalitas kering yang kehilangan esensi ukhrawi-nya. Seperti kata Gus Dur, santri harus mampu kritis terhadap kondisi sosial-politik di sekitarnya. Dan kritisisme itu tidak tumbuh dari hafalan, melainkan dari proses dialektika yang merupakan ruh dari filsafat.

Lalu, mungkinkah filsafat diserap secara total di pesantren? Jawabannya ada pada dua kunci: restu kiai dan reposisi filsafat itu sendiri. Karena struktur sosial pesantren adalah paternalistik-karismatik, maka kebijakan apa pun—termasuk memasukkan filsafat ke dalam kurikulum—harus datang dari kiai. Jika kiai memiliki pandangan yang inklusif dan ramah terhadap filsafat, maka santri akan merasa aman untuk mengeksplorasi pemikiran. Kedua, filsafat tidak boleh diajarkan sebagai alat untuk mendekonstruksi atau meruntuhkan agama, melainkan sebagai landasan epistemologi ilmu pengetahuan (sains). Filsafat harus diletakkan sebagai “pelayan” bagi agama, sebuah alat yang membantu kita merapikan cara berpikir agar tidak terjebak dalam logical fallacy (kerancuan berpikir) saat berargumen tentang hukum Tuhan.

Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa filsafat sebenarnya adalah seni membentuk karakter. Ia bukan sekadar teori kering tentang keberadaan, tetapi tentang bagaimana kita bersikap terbuka (open-minded) terhadap kebenaran dari manapun asalnya. Santri Gen Z harus menjadi “arsitek pemikiran” yang tidak hanya jago membaca kitab kuning, tetapi juga mahir membedah realitas dengan pisau analisis yang tajam. Dengan mengintegrasikan filsafat ke dalam tradisi pesantren, kita tidak sedang “membaratkan” santri, melainkan sedang mengembalikan kejayaan intelektual muslim masa lalu seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi yang mampu menyeimbangkan antara cahaya wahyu dan tajamnya akal. Jadi, buat rekan-rekan santri, jangan takut belajar filsafat. Karena beragama dengan akal yang sehat akan membawa kita pada keyakinan yang jauh lebih kokoh daripada sekadar ikut-ikutan tanpa tahu arah.

​Referensi

  1. ​Abdullah, M. Amin. (2014). Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (Menjelaskan pentingnya menggabungkan ilmu agama dan filsafat).
  2. ​Al-Ghazali, Abu Hamid. Tahâfut al-Falâsifah (Kerancuan Para Filsuf). Terjemahan berbagai penerbit. (Karya kunci yang membentuk perspektif anti-filsafat di dunia Islam).
  3. ​Al-Ghazali, Abu Hamid. Maqashid Al-Falasifah. Jakarta: Turos Pustaka. (Buku di mana Al-Ghazali justru merangkum filsafat dengan sangat apik sebelum ia mengkritiknya).
  4. ​Madjid, Nurcholish. (1997). Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina. (Analisis sosiologis tentang tradisi intelektual pesantren).
  5. ​Wahid, Abdurrahman (Gus Dur). (2010). Prisma Pemikiran Gus Dur. Yogyakarta: LKIS. (Kumpulan tulisan yang menunjukkan betapa pentingnya santri memiliki nalar kritis).
  6. ​​Amin, Nurbaedi. (2018). “Pendidikan Karakter Menurut KH Hasyim Asy’ari”. Jurnal uinsyahada.ac.id. vol.4 No.1. (Membedah etika santri dalam menuntut ilmu).
  7. ​Tilaar, H. A. R. (2009). Pendidikan Islam dalam Perspektif Neo-Liberal dan Neo-Modernisme. Jakarta: Rineka Cipta. (Kritik terhadap pola pendidikan modern yang meninggalkan nilai filosofis).
  8. ​NU Online. (2024). “Opini: Filsafat di Pesantren: Arsitek Pemikiran Generasi Muda”. (Mengulas urgensi filsafat dalam membentuk karakter santri masa kini).

Baca Juga: Kapan Niat Ibadah Harus Menyebut “Fardhu”?


Penulis: Samsul Rozikin
Editor: Yusril Mahendra

Tags: filsafatfilsafat IslamPendidikan Pesantrenpesantrensantrisantri 4.0
Previous Post

Ketahanan Ekonomi Warga Rifa’iyah di Krisis Global 2026

Next Post

Walimah Pernikahan dalam Islam: Hukum, Syarat, dan Etika Menghadiri Undangan

Samsul Rozikin

Samsul Rozikin

Mahasantri Ma'had Aly At-Tarmasi Takhassus Fiqh wa Ushuluhu, PIP Tremas Pacitan

Next Post
Walimah Pernikahan dalam Islam: Hukum, Syarat, dan Etika Menghadiri Undangan

Walimah Pernikahan dalam Islam: Hukum, Syarat, dan Etika Menghadiri Undangan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id