Batang – Pimpinan Pusat Rifa’iyah mengeluarkan maklumat resmi terkait kemungkinan terjadinya perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri 1447 H/2026 M. Maklumat tersebut menjadi panduan bagi warga Rifa’iyah dalam menyikapi dinamika penentuan awal Syawal yang kerap terjadi di Indonesia.
Dalam maklumat bernomor 014/MLM/PP.Rifa’iyah/III/2026, dijelaskan bahwa penetapan awal Ramadhan dan Syawal tetap berpedoman pada hasil Mudzakarah Ulama Rifa’iyah tahun 2022 yang diselenggarakan di Batang dan Limpung. Keputusan tersebut menegaskan penggunaan dua metode utama, yakni hisab dan rukyat.
Secara hisab, Rifa’iyah masih menggunakan kriteria MABIMS lama, yaitu tinggi hilal minimal 2 derajat. Sementara itu, rukyat dilakukan sesuai ketentuan ulama, yakni berdasarkan kesaksian satu atau dua orang yang adil yang benar-benar melihat hilal.
Dalam maklumat juga dikutip pendapat dari kitab Tuhfatul Muhtaj yang menyebutkan bahwa puasa Ramadhan diwajibkan setelah bulan Sya’ban digenapkan 30 hari atau melalui rukyatul hilal yang disaksikan oleh orang yang adil.
Berdasarkan hasil hisab Lembaga Falakiyah Rifa’iyah, pada Kamis, 29 Ramadhan 1447 H, tinggi hilal telah mencapai 2 derajat. Hal ini berarti telah memenuhi kriteria MABIMS lama. Namun demikian, penetapan 1 Syawal belum dapat diputuskan hanya dengan hisab semata.
Pimpinan Pusat Rifa’iyah menegaskan bahwa keputusan akhir tetap menunggu hasil rukyat di lapangan serta hasil Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
“Apabila ada saksi yang menyatakan melihat hilal dan memenuhi ketentuan syariat, maka Rifa’iyah akan menetapkan 1 Syawal pada hari tersebut,” demikian isi maklumat tersebut.
Maklumat ini ditetapkan di Batang pada 28 Ramadhan 1447 H atau bertepatan dengan 18 Maret 2026, dan ditandatangani oleh jajaran pimpinan, antara lain Ketua Dewan Syuro KH. Afief Afadhol, Sekretaris Dewan Syuro K. Moh. Affan Dzul Fadlol, Ketua Umum Dr. KH. Mukhlisin Muxaric, M.Ag., serta Sekretaris Jenderal H. Saeful Arif, SH., M.Kn.
Dengan adanya maklumat ini, warga Rifa’iyah diharapkan dapat menyikapi potensi perbedaan Idulfitri dengan bijak, tetap berpegang pada pedoman organisasi, serta menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan yang mungkin terjadi.
Penulis: Yusril Mahendra
Editor: Yusril Mahendra



