Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin individualistis, ada sebuah tradisi yang bergerak melawan arus—tenang, konsisten, dan penuh kehangatan. Ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan perayaan kemanusiaan yang telah bertahan lebih dari setengah abad.
Setiap tahun, ketika bulan Rajab tiba, sesuatu yang istimewa terjadi di wilayah Pantura Jawa Tengah. Di Pemalang, Pekalongan, dan Batang, warga Rifa’iyah memulai perjalanan yang tak biasa—bukan perjalanan fisik semata, melainkan pengembaraan jiwa yang menyentuh makna paling dalam dari kata “kebersamaan.”
Lebih dari sebulan penuh, mereka meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan harta untuk satu tujuan sederhana namun agung: saling mengunjungi. Dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, mereka menautkan rasa, berbagi cerita, menampung keluh kesah, dan merajut kembali benang-benang hubungan yang mungkin sempat renggang.
Inilah Safari Rajaban—fenomena budaya silaturahmi terpanjang dalam tradisi Indonesia yang, mengherankan, nyaris tak tersentuh lensa kamera wartawan maupun pena peneliti.
Ketika Rumah Menjadi Pelabuhan Hati
Ibu-ibu Rifa’iyah tak hanya hadir di majelis peringatan Isra Mi’raj. Sebelum dan sesudahnya, mereka berkeliling dari pintu ke pintu. Di setiap teras rumah, di setiap sudut ruang tamu, percakapan mengalir seperti sungai yang menyuburkan tanah kering.
Mereka saling ngaruhke—istilah lokal yang sulit diterjemahkan ke dalam satu kata, namun kurang lebih berarti “saling menanyakan kabar dengan penuh perhatian.” Bukan sekadar basa-basi, tetapi pertanyaan tulus tentang nasab dan nasib, tentang keadaan, perubahan, dan kelangsungan hidup satu sama lain.
Kadang, di tengah obrolan itu, muncul kejutan mengharukan. Seseorang tiba-tiba menyadari bahwa orang yang duduk di hadapannya adalah saudara dekat yang selama ini tak disangka. Lalu muncullah ungkapan yang sering terdengar: “Wong Rifa’iyah kuwi yen ditepung-tepungke kabeh seduulur”—orang Rifa’iyah itu kalau dirunut-runut semuanya bersaudara.
Maka kabar dari pojok kampung paling sunyi sekalipun bisa merambat cepat, tanpa pengeras suara masjid, tanpa viralitas media sosial. Kabar itu menembus lauhil mahfudz memori warga Rifa’iyah, hidup dalam ingatan kolektif, menjadi bahan perbincangan di majelis-majelis, bahkan masuk dalam tabligh para mubaligh.
Yang terjadi bukanlah ngrasani—gosip atau ghibah. Ini adalah buah dari kepedulian sejati. Ketika keburukan saudara diungkapkan, bukan untuk mengumbar aib, melainkan untuk mencari jalan islah—perbaikan dan kemaslahatan bersama dalam kehidupan bermasyarakat.
Rajaban menjadi momentum rekonsiliasi. Momentum di mana kerenggangan dileburkan dalam kesatuan tujuan dan supremasi nilai silaturahmi.
Senyum yang Tak Pernah Pudar
Yang mengagumkan dari tradisi ini adalah keikhlasan yang memancar dari setiap wajah. Jamaah Rifa’iyah datang dengan niat tulus—memberi oleh-oleh dan suguhan, menerima, berbagi. Tak ada beban protokol atau formalitas kaku. Yang ada adalah kehangatan, tawa, dan pemberian yang dibawa dengan penuh cinta.
Sepanjang bulan Rajab, senyum menghiasi wajah-wajah. Silaturahmi ini bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan kebutuhan batin—cara mereka saling menguatkan, saling merekatkan hubungan, saling mengisi jiwa yang lelah.
Keistikamahan Rajaban ini sudah teruji selama setengah abad. Sungguh ironis bahwa sebuah tradisi dengan nilai luar biasa ini diabaikan. Tidak ada liputan media massa, tidak ada penelitian akademik, tidak ada pengakuan resmi dari pemerintah. Seolah-olah dunia luar tutup mata—eh, kadang buka mata juga sih, tapi hanya sesekali, karena tidak selamanya tidur.
Masyarakat Indonesia umumnya lekat dengan agenda silaturahmi pada bulan Syawal. Diawali dengan Idulfitri, masyarakat saling berkunjung, pulang kampung demi pentingnya menyambung sanak dan kerabat. Namun bagi warga Rifa’iyah di Pemalang, Pekalongan, dan Batang, momen silaturahmi tidak hanya di Syawal, tetapi sudah diawali di bulan Rajab—karena itu disebut Rajaban atau Rajabiyah.
Pada awalnya, tradisi ini berupa peringatan hari besar Islam Isra Mi’raj. Di setiap kampung Rifa’iyah di tiga kabupaten ini secara bergilir mengadakan peringatan yang mengundang seluruh jamaah. Karena ingin kehadiran maksimal, maka dijadwal berurutan. Beberapa ranting Rifa’iyah bahkan telah menyematkan tanggal rutin di tiap tahunnya.
Roda Ekonomi yang Berputar dari Hati
Rajaban bukan hanya peristiwa spiritual dan sosial. Ia juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat luas dengan cara yang organik dan indah.
Pagi itu, di Pasar Kedungwuni, seorang pembeli mencari lontong. Sang penjual minta maaf dengan senyum: “Maaf, Mas, wis diborong wong Rifa’iyah.” Pedagang lain menimpali: “Karang Rajab kuwi bodhone wong Rifa’iyah”—karena bulan Rajab, itu hari rayanya orang Rifa’iyah.
Dikenal di masyarakat luas bahwa bulan Rajab itu hari rayanya warga Rifa’iyah di wilayah Pantura Jawa Tengah. Semua lontong habis dipesan dan diborong warga Rifa’iyah.
Di jalan-jalan menuju lokasi peringatan, deretan pedagang berjejer—puluhan lapak yang ramai sejak pagi, menghiasi setiap area helatan akbar Rajaban ini. Mereka sudah mengantongi jadwal Rajaban sejak lama, siap mengikuti perputaran acara selama sebulan penuh.
Para sopir angkutan umum, yang belakangan ini merasakan kelesuan jumlah penumpang reguler—bahkan terminal tidak lagi disediakan pemerintah—di bulan Rajab ini menyunggingkan senyum lega. Mereka mengantar jamaah di pagi hari, menunggu acara selesai sambil grumungan, ngrasani pemerintah, kadang bercanda.
Sesekali mereka berceloteh ketika Rajaban di Gandu Tirto: “Di cawisi wedang, terus mangan, beli nompo duwit, lan ora lali dicangkingi berkat. Opo ora penak kuwi?”—disuguhkan minuman, diberi makan, dapat uang, dan masih diberi cangkingan. Apa tidak enak itu?
Bahkan ada sopir nakal yang bilang, “Kae… Bu Nyai yen pas dikeloni bojone isek gelem ceramah kokae ora.”
Dijawab temannya, “Ngawur kowe.”
Tetangga para sopir sering berceletuk dengan nada iri: “Kowe penak o dijak Rajaban ibu-ibu Rifa’iyah. Wes duite nompo, dikongkon mangan, beli dicangkingi berkat. Yo por kowe ah…”—kamu enak ya, diajak Rajaban sama ibu-ibu Rifa’iyah.
Kewirausahaan: Fondasi Ketahanan Budaya
Ada rahasia di balik ketahanan tradisi Rajaban selama puluhan tahun: mentalitas wirausaha warga Rifa’iyah.
Dalam doktrin warga Rifa’iyah—bahkan ajaran Islam sendiri—diajarkan prinsip bahwa seorang istri yang baik adalah yang memperhatikan, melayani suami, dan mendidik anak. Hal tersebut dijalani menjadi budaya keseharian. Namun nilai ini tidak membuat mereka pasif. Sebaliknya, ibu-ibu Rifa’iyah justru menjalani produktivitas ekonomi mandiri di rumah tangga mereka masing-masing.
Dari sinilah muncul mentalitas kewirausahaan yang kuat. Kewirausahaan ini menjadi berkah tersendiri, karena warga Rifa’iyah mampu berdaulat menentukan kegiatan mereka sendiri. Mentalitas wirausaha inilah yang menjadi fondasi tegaknya daya tahan dan keistikamahan budaya Rajaban sampai puluhan tahun.
Andaikan warga mayoritas berprofesi pegawai kantor dengan jam kerja ketat, mustahil budaya Rajaban bisa bertahan.
Lebih dari itu, UKM-UKM yang mereka jalankan tidak sebatas menyediakan lowongan pekerjaan. Mereka mampu mendidik para pengangguran menjadi tenaga kerja yang baik.
Ada ungkapan di kalangan warga Pekalongan: “Bos sukses itu ketika ia mampu mendidik karyawannya menjadi bos.” Warga Rifa’iyah telah menjalankan prinsip ini selama puluhan tahun—tanpa gelar, tanpa sertifikat, tanpa apresiasi formal dari pihak mana pun.
Modal utama mereka sederhana: niat dan kemauan bekerja. Tak perlu ijazah, tak perlu keterampilan khusus, tak perlu kontrak kerja formal. Karena bagi mereka, penyelenggaraan pekerjaan adalah wujud dari ta’awun—tolong-menolong sesama.
Pelajaran untuk Zaman yang Terfragmentasi
Di era di mana orang lebih sering berinteraksi lewat layar daripada tatap muka, di mana silaturahmi sering tereduksi menjadi sekadar like dan komentar di media sosial, Rajaban mengingatkan kita pada sesuatu yang fundamental.
Bahwa kebersamaan sejati membutuhkan kehadiran. Bahwa hubungan yang bermakna dibangun lewat percakapan di teras rumah, bukan lewat status WhatsApp. Bahwa komunitas yang kuat lahir dari kepedulian yang tulus, bukan dari jaringan virtual yang rapuh.
Rajaban mengajarkan bahwa ekonomi yang sehat bisa tumbuh dari nilai-nilai kemanusiaan—bukan dari persaingan kejam atau eksploitasi, melainkan dari semangat berbagi dan saling menguatkan.
Dan yang paling penting: tradisi ini membuktikan bahwa perempuan bisa produktif secara ekonomi tanpa kehilangan peran sosial dan spiritualnya. Bahwa kemandirian dan kebersamaan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama.
Rajaban adalah anugerah yang sederhana namun luar biasa. Ia tidak membutuhkan sorotan media atau pengakuan akademik untuk terus hidup. Yang ia butuhkan hanyalah apa yang sudah dimilikinya selama lebih dari setengah abad: hati yang tulus, tangan yang saling terbuka, dan senyum yang tak pernah pudar.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan impersonal, Rajaban adalah pengingat bahwa ada hal-hal yang tidak boleh kita lupakan—bahwa kita adalah manusia, dan kita membutuhkan satu sama lain.
Bukan hanya di bulan Syawal, tetapi juga di bulan Rajab.
Bukan hanya sesekali, tetapi sepanjang tahun.
Bukan hanya untuk keluarga dekat, tetapi untuk semua yang kita anggap saudara.
Karena pada akhirnya, “wong mukmin kuwi yen ditepung-tepungke kabeh seduulur”—kita semua, jika dirunut dengan cinta, adalah saudara.
Paesan Tengah, 13 Januari 2026
Baca Juga: Hujan Berkah di Malam Rajaban Jajarwayang
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra


