Syekh Ahmad Hasan adalah salah satu ulama penyambung mata rantai perjuangan dan pemikiran Hadratussyaikh Ahmad Rifa’i di wilayah Pantura Pekalongan. Beliau dikenal sebagai santri yang setia, pengamal ajaran, sekaligus penyebar nilai-nilai keislaman Rifa’iyah di tengah tekanan kolonialisme Belanda. Namanya mungkin tidak setenar tokoh-tokoh besar di pusat perlawanan, namun perannya menjadi fondasi penting bagi kelangsungan ajaran dan gerakan keislaman Rifa’iyah di daerah pesisir utara Pekalongan.
Asal-usul dan Latar Belakang
Syekh Ahmad Hasan berasal dari Wiyanggong, Wiradesa, Pekalongan, sebuah wilayah yang pada masa itu menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat agraris Pantura. Dari daerah inilah beliau memulai perjalanan dakwah dan pengabdiannya kepada umat. Sejak muda, Syekh Ahmad Hasan telah menunjukkan kecenderungan kuat pada ilmu agama dan kehidupan zuhud, menjauhi gemerlap dunia yang sering kali justru menjadi alat penjinakan kolonial terhadap kaum pribumi.
Kedekatannya dengan Hadratussyaikh Ahmad Rifa’i bukan sekadar hubungan guru dan murid dalam pengertian formal, melainkan sebuah ikatan ideologis dan spiritual. Beliau menyerap langsung semangat perjuangan KH. Ahmad Rifa’i: keteguhan dalam akidah, keberanian melawan penyimpangan, serta komitmen kuat menjaga kemurnian syariat Islam dari intervensi kekuasaan zalim.
Kepribadian dan Keteladanan
Dalam keseharian, Syekh Ahmad Hasan dikenal sebagai sosok yang alim, adil, dan bijaksana. Keilmuannya tidak menjadikan beliau tinggi hati, justru semakin menumbuhkan sikap tawadhu’ dan kehati-hatian dalam bersikap. Beliau memahami bahwa ilmu bukan untuk ditonjolkan, melainkan untuk diamalkan dan diturunkan secara bertahap sesuai kesiapan umat.
Keadilannya tampak dalam cara beliau memandang persoalan masyarakat tanpa memihak hawa nafsu ataupun kepentingan golongan. Ia menimbang persoalan dengan neraca syariat dan kemaslahatan umat. Sementara itu, kebijaksanaannya tercermin dari strategi dakwah yang halus namun mengakar kuat—tidak reaktif, tetapi konsisten dan berjangka panjang.
Peran Dakwah di Pantura Pekalongan
Syekh Ahmad Hasan memiliki peran penting dalam menyebarkan ajaran KH. Ahmad Rifa’i di wilayah Pantura Pekalongan. Pada masa itu, kondisi sosial-politik berada di bawah bayang-bayang kolonialisme Belanda. Pengawasan terhadap aktivitas keagamaan sangat ketat, terutama terhadap gerakan yang dinilai mampu membangkitkan kesadaran umat dan menumbuhkan sikap kritis terhadap penjajahan.
Dalam situasi seperti ini, Syekh Ahmad Hasan memilih pola dakwah yang cerdas dan penuh kehati-hatian. Beliau mengajarkan kitab-kitab karya KH. Ahmad Rifa’i secara sembunyi-sembunyi di sawah. Sawah yang sunyi menjadi ruang pengajian, tempat ilmu ditanam seperti benih padi—perlahan, senyap, namun kelak tumbuh menghidupi banyak orang. Pola dakwah ini bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kebijaksanaan dalam membaca zaman.
Mengajar di Tengah Tekanan Kolonial
Mengajar di sawah, ladang, atau tempat-tempat terpencil merupakan strategi khas ulama Rifa’iyah pada masa kolonial. Syekh Ahmad Hasan memahami betul bahwa pengajian terbuka dapat mengundang kecurigaan aparat kolonial. Oleh sebab itu, pengajaran dilakukan secara terbatas, berpindah-pindah, dan hanya diikuti oleh murid-murid yang telah dipercaya.
Kitab-kitab nadzam karya KH. Ahmad Rifa’i menjadi materi utama pengajaran. Nadzam-nadzam tersebut bukan hanya berisi ushuluddin, fikih, dan tasawuf, tetapi juga kritik sosial, peringatan terhadap ulama su’ dan penguasa zalim, serta ajakan untuk menjaga kemurnian iman. Melalui pengajaran ini, Syekh Ahmad Hasan menanamkan kesadaran bahwa beragama bukan sekadar ritual, melainkan juga sikap moral dan keberanian bersikap benar.
Warisan Keilmuan dan Spirit Perjuangan
Warisan terbesar Syekh Ahmad Hasan bukan berupa bangunan pesantren besar atau karya tulis monumental, melainkan manusia-manusia yang tercerahkan. Murid-murid beliau kelak menjadi penerus dakwah Rifa’iyah di berbagai pelosok Pantura, menjaga ajaran KH. Ahmad Rifa’i tetap hidup meski penjajahan terus menekan. Di antara muridnya adalah Kiai Kana’at bin Sholeh, pembawa ajaran KH. Ahmad Rifa’i di Desa Pesanggrahan, Wonokerto.
Spirit perjuangan yang diwariskan adalah sikap istiqamah: tetap teguh di jalan kebenaran meski harus berjalan sunyi, tanpa tepuk tangan, bahkan tanpa nama besar. Dalam konteks ini, Syekh Ahmad Hasan adalah simbol ulama pejuang yang bekerja dalam diam, tetapi hasilnya melampaui zamannya.
Penutup
Syekh Ahmad Hasan adalah potret ulama masa kolonial yang memahami betul hubungan antara ilmu, dakwah, dan realitas kekuasaan. Ia tidak memilih jalan konfrontasi terbuka yang berisiko mematikan dakwah, tetapi juga tidak tunduk pada penjajahan. Jalan yang ia tempuh adalah jalan kebijaksanaan, kesabaran, dan keteguhan iman.
Di tengah hiruk-pikuk sejarah, nama Syekh Ahmad Hasan mungkin jarang disebut. Namun dalam mata rantai perjuangan Rifa’iyah, beliau adalah simpul penting yang menghubungkan ajaran Hadratussyaikh Ahmad Rifa’i dengan generasi setelahnya. Sebuah teladan bahwa perjuangan tidak selalu harus lantang, tetapi harus istiqamah dan berakar kuat di hati umat.
Baca Juga: Maksiat Kok Diumumkan? Diskon Pahala Langsung Hangus
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


