(Refleksi atas petikan Nadzam Bayan karya KH. Ahmad Rifa’i)
Dalam salah satu bait Nadzam Bayan, KH. Ahmad Rifa’i menyampaikan pesan yang sederhana namun sangat dalam tentang tanggung jawab orang tua terhadap generasi penerus. Bait itu berbunyi:
Opo patut wong tuwo memuruke ketanggungan
Akon tetandur partikele ora tinuturan
Ora diweruhaken ing opo kang dadi karusakan
Iku tentu ora metu manfa’ate woh-wohan.
Bait ini mengajak kita merenung: apakah pantas orang tua menuntut hasil yang baik, sementara benih yang ditanam tidak pernah diberi tuntunan? Bagaimana mungkin mengharapkan buah yang manis jika proses menanamnya dilakukan tanpa pengetahuan, tanpa arahan, bahkan tanpa kepedulian terhadap potensi kerusakan yang mungkin timbul?
KH. Ahmad Rifa’i menggunakan metafora tetandur (menanam) sebagai gambaran pendidikan dan pembentukan karakter. Anak diibaratkan sebagai benih, sedangkan orang tua dan pendidik adalah penanamnya. Menanam bukan sekadar menaruh benih di tanah, tetapi membutuhkan ilmu, kesabaran, dan kesadaran akan lingkungan. Jika proses itu diabaikan, maka kegagalan bukanlah kesalahan benih, melainkan kelalaian penanam.
Dalam konteks kehidupan hari ini, nadzam ini terasa sangat relevan. Banyak orang tua berharap anaknya menjadi pribadi yang saleh, berakhlak mulia, dan berhasil, tetapi lupa bahwa nilai-nilai itu harus ditanamkan sejak dini melalui keteladanan, nasihat, dan pendidikan yang berkesinambungan. Menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah atau lingkungan tanpa peran aktif orang tua sama halnya dengan menanam tanpa perawatan.
Lebih jauh, KH. Ahmad Rifa’i juga mengingatkan tentang pentingnya mengenalkan mana yang membawa kebaikan dan mana yang berpotensi merusak. Anak yang tidak dibekali pemahaman tentang dampak perbuatan—baik secara moral maupun sosial—akan tumbuh tanpa arah. Akibatnya, harapan akan “buah” kebaikan menjadi angan-angan belaka.
Nadzam ini sejatinya bukan sekadar kritik, melainkan ajakan untuk berbenah. Orang tua diajak bercermin, pendidik diajak mawas diri, dan masyarakat diajak ikut bertanggung jawab. Pendidikan bukan proses instan, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan kesadaran dan kesungguhan.
Pada akhirnya, KH. Ahmad Rifa’i menegaskan satu hukum kehidupan: hasil tidak akan mengkhianati proses. Jika penanaman dilakukan dengan ilmu, tuntunan, dan kesadaran, maka buah kebaikan akan tumbuh dengan sendirinya. Namun, jika lalai sejak awal, jangan heran bila yang dipetik adalah kekecewaan.
Baca Juga: Lebaran di Bui: Sebuah Refleksi dari Jejak Pengasingan KH. Ahmad Rifa’i
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


