Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Tradisi Ziarah Sebagai Kerangka Tarbiyah Ummat Rifa’iyah

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
February 13, 2026
in Kolom
0
Tradisi Ziarah Sebagai Kerangka Tarbiyah Ummat Rifa’iyah
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pendahuluan

Tradisi ziarah massal yang dipraktikkan oleh jamaah Rifa’iyah—baik ziarah 16 Syawalan di Wonosobo, ziarah masyayikh wilayah Pati, Kudus, Demak, Semarang, Kendal, Batang Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, maupun ziarah kubra ke Jawa Barat—bukan sekadar ritual keagamaan yang bersifat seremonial. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan manifestasi dari sebuah kerangka tarbiyah (pendidikan) ummat yang sistematis dan komprehensif. Ziarah-ziarah tersebut menjadi metode pembelajaran berbasis kisah (qishash) yang menghubungkan generasi masa kini dengan warisan perjuangan dan spiritualitas para Masyayikh terdahulu.

Dalam konteks degradasi tradisi mendongeng di tengah keluarga muslim modern, termasuk di kalangan warga Rifa’iyah sendiri, praktik ziarah massal ini menawarkan alternatif pedagogik yang kuat: menghadirkan kisah bukan hanya melalui narasi lisan, tetapi melalui pengalaman spiritual dan sosial yang melibatkan seluruh indera, emosi, dan dimensi kemanusiaan jamaah.

Landasan Al-Qur’an tentang Kekuatan Kisah

Kisah sebagai Penguat Keteguhan Hati (Tasbīt al-Fu’ād)

Allah SWT berfirman dalam QS. Hud [11]: 120:

“Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”

Ayat ini mengungkap fungsi fundamental kisah dalam pendidikan spiritual: tasbīt al-fu’ād (meneguhkan hati). Keteguhan hati (thabāt) merupakan fondasi utama dalam menghadapi tantangan, godaan, dan ujian kehidupan. Nabi Muhammad SAW sendiri memerlukan penguatan hati melalui kisah-kisah para nabi sebelumnya ketika menghadapi penolakan kaum Quraisy. Maraknya Ziarah telah memancing para generasi menulis seri keteladanan para sesepuh Rifa’iyah, yang semakin hari semakin berkembang, dan berpotensi menjadi kisah keteladanan untuk cermin generasi.

Dalam konteks ziarah Rifa’iyah, kisah pengasingan KH Ahmad Rifa’i ke Ambon, perjuangan para masyayikh generasi pertama di pegunungan Wonosobo, dakwah para ulama di wilayah Pantura dan Jawa Barat—semuanya berfungsi sebagai tasbīt bagi jamaah masa kini. Ketika seorang jamaah dari Pati berdiri di makam Syekh Abdul Aziz di Tempursari, atau ketika rombongan dari Kendal menziarahi KH Mu’min di Arjawinangun, atau ketika para generasi menyimak penuturan kisah dari orang tua mereka, mereka tidak hanya membaca dan menyimak sejarah, tetapi mengalami kehadiran spiritual para pejuang itu. Pengalaman ini meneguhkan hati mereka untuk tetap istiqamah dalam mengamalkan ajaran Tarajumah di tengah tantangan zaman.

Kisah sebagai Basis Peradaban Aqliyah

Allah SWT berfirman dalam QS. Yusuf [12]: 111:

“Sesungguhnya pada kisah mereka itu terdapat pelajaran (‘ibrah) bagi orang-orang yang mempunyai akal (ulī al-albāb). (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Kata kunci dalam ayat ini adalah ‘ibrah (pelajaran/teladan) dan ulī al-albāb (orang-orang berakal). Kisah bukan sekadar hiburan atau nostalgia, melainkan instrumen pembangunan peradaban yang berbasis akal sehat dan kebijaksanaan (hikmah). ‘Ibrah mengandung makna kemampuan untuk menembus (‘abara = menyeberang) dari lahiriah peristiwa menuju makna batiniah yang universal.

Tradisi ziarah Rifa’iyah membangun “peradaban aqliyah” melalui beberapa mekanisme:

  1. Pembelajaran Kontekstual: Jamaah belajar bagaimana para masyayikh merespons tantangan zaman mereka—kolonialisme, tekanan politik, kemiskinan ekonomi—dengan strategi dakwah yang adaptif namun tetap berpegang pada prinsip tauhid.
  2. Transmisi Nilai Melalui Ruang: Setiap lokasi makam menjadi “ruang kelas” yang mengajarkan nilai-nilai tertentu. Wonosobo mengajarkan keteguhan di tengah isolasi geografis; Pekalongan, Batang,  Pemalang, Tegal, Brebes menunjukkan strategi dakwah di wilayah pesisir yang kosmopolitan; Jawa Barat memperlihatkan kemampuan beradaptasi dengan konteks budaya Sunda.
  3. Genealogi Keilmuan: Dengan mengidentifikasi generasi pertama, kedua, dan ketiga masyayikh, jamaah memahami bahwa transmisi ilmu dan perjuangan adalah proses berkesinambungan yang memerlukan estafet antargenerasi. Sehingga setiap generasi layaknya butiran tasbih yang harus sambung menyambung menjadi satu. Nilai yang diwariskan para leluhur layaknya tali yang menyatukan ‘butiran-butiran’ generasi Rifa’iyah.

Fenomena Pudarnya Tradisi Mendongeng: Krisis Pedagogik Keluarga

Realitas Kontemporer

Di tengah modernitas, tradisi mendongeng (qiṣaṣ al-atfāl) di keluarga muslim, termasuk warga Rifa’iyah, mengalami kemunduran signifikan. Beberapa faktor penyebabnya:

  1. Dominasi Media Digital: Anak-anak lebih banyak terpapar konten visual dari gadget—YouTube, game, media sosial—yang menawarkan stimulasi instan namun miskin makna.
  2. Kesibukan Orang Tua: Struktur ekonomi modern menuntut kedua orang tua bekerja, sehingga waktu berkualitas untuk mendongeng menjadi sangat terbatas.
  3. Hilangnya Tradisi Oral: Generasi tua yang dulu menjadi penjaga tradisi oral (kakek-nenek yang mendongeng) semakin sedikit, dan transmisi pengetahuan dari mulut ke mulut terputus.
  4. Lemahnya Literasi Kisah Islami: Banyak orang tua yang sendiri tidak memiliki perbendaharaan kisah-kisah nabi, sahabat, dan orang-orang salih yang memadai.

Dampak Pedagogik

Pudarnya tradisi mendongeng mengakibatkan:

  • Lemahnya Pembentukan Karakter: Kisah adalah medium paling efektif untuk menanamkan nilai moral pada anak. Tanpa kisah, pendidikan karakter menjadi abstrak dan kurang menempel. karena setiap kisah ada keteladanan dari tokohnya.
  • Rapuhnya Identitas Keagamaan: Anak-anak tumbuh tanpa mengenal role model dari tradisi mereka sendiri, sehingga mudah terbawa arus budaya populer yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam.
  • Menurunnya Kemampuan Reflektif: Mendongeng mengajarkan anak untuk mendengar, membayangkan, dan merefleksikan. Tanpa itu, mereka kehilangan kemampuan tafakkur (berpikir mendalam).

Ziarah sebagai Solusi Pedagogik: Menghidupkan Kembali Tradisi Qishash

Dari Dongeng Verbal ke Dongeng Eksperiensial

Tradisi ziarah Rifa’iyah menawarkan transformasi pedagogik: dari dongeng yang diceritakan (qiṣaṣ masmū’ah) menjadi dongeng yang dialami (qiṣaṣ mu’āsharah). Ini adalah pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang jauh lebih kuat dalam membentuk memori kolektif dan kesadaran identitas.

Ketika seorang ayah membawa anaknya dalam ziarah 16 Syawalan, dia tidak hanya bercerita tentang Kyai Ahmad Rifa’i, tentang para Khalifah penerusNya, tetapi membawa sang anak menapaki jejak para pendahulu itu. Anak itu melihat makam para murid beliau, merasakan kehangatan pos sedekahan yang disediakan warga, mendengar bacaan tahlil bersama ribuan jamaah, dan menyaksikan kesungguhan para peziarah dari berbagai daerah. Semua ini adalah “cerita hidup” yang terukir dalam memori multisensori.

Kerangka Tarbiyah Ummat Melalui Ziarah

Berdasarkan tiga tradisi ziarah yang telah dipaparkan, dapat diidentifikasi kerangka tarbiyah ummat yang sedang dibangun oleh komunitas Rifa’iyah:

  1. Tarbiyah Rūhiyyah (Pendidikan Spiritual)

Mekanisme:

  • Ziarah ke makam para masyayikh menjadi sarana tawassul (meminta perantaraan) dan tabarruk (mencari berkah) spiritual.
  • Bacaan tahlil, doa bersama, dan tadarus Al-Qur’an di sisi makam menciptakan atmosfer spiritual mendalam.
  • Refleksi personal tentang kesementaraan hidup (fanā’) dan pentingnya amal salih.

Nilai yang Ditanamkan:

  • Kesadaran akan kontinuitas spiritual: jamaah masa kini adalah pewaris amanah para masyayikh.
  • Kerendahan hati (tawāḍu’) dan rasa syukur: menyadari bahwa kedudukan spiritual mereka hanya mungkin karena perjuangan pendahulu.
  • Kecintaan kepada para ulama sebagai pewaris nabi (warathah al-anbiyā’).

Analogi Qur’ani: Seperti kisah Ibrahim yang menziarahi peninggalan para nabi sebelumnya, atau kisah Musa yang belajar dari Khidir, ziarah adalah bentuk ittibā’ (mengikuti jejak) orang-orang salih.

  1. Tarbiyah Tārīkhiyyah (Pendidikan Sejarah)

Mekanisme:

  • Narasi lisan dari panitia lokal atau shohibul maqbarah tentang riwayat hidup, perjuangan, dan karya para masyayikh.
  • Pengenalan toponimi (nama-nama tempat) yang terkait dengan peristiwa historis, seperti Batumerah (Ambon) sebagai tempat pengasingan KH Ahmad Rifa’i, Jawa Tondano Minahasa, sebagai pengasingan terakhirNya.
  • Dokumentasi generasi masyayikh (pertama, kedua, ketiga) yang menunjukkan estafet dakwah.

Nilai yang Ditanamkan:

  • Kesadaran sejarah (al-wa’y al-tārīkhī): memahami akar tradisi Rifa’iyah dan konteks perjuangannya.
  • Apresiasi terhadap pengorbanan: mengetahui bahwa ajaran yang mereka terima hari ini adalah hasil perjuangan berat para pendahulu.
  • Identitas kolektif: merasa menjadi bagian dari kontinuitas sejarah yang panjang.

Analogi Qur’ani: Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk berjalan di muka bumi dan melihat bagaimana akhir dari umat-umat terdahulu (QS. Al-An’am [6]: 11). Ziarah adalah bentuk sīr fī al-arḍ yang menghadirkan pelajaran sejarah secara konkret.

  1. Tarbiyah Ijtimā’iyyah (Pendidikan Sosial)

Mekanisme:

  • Pertemuan ribuan jamaah dari berbagai daerah dalam satu lokasi menciptakan jaringan sosial yang luas.
  • Pos sedekahan yang disediakan warga lokal mengajarkan nilai karāmah (kemuliaan) dan ikrām al-ḍayf (memuliakan tamu).
  • Koordinasi antara PW (Pimpinan Wilayah), PD (Pimpinan Daerah), dan panitia lokal melatih organisasi, bermusyawarah dan kerjasama dalam kebersamaan. sehingga terlatih dengan nizam. masing ingat ungkapan terkenal: Kebenaran tanpa manajemen, bisa dikalahkan dengan kebatilan yang termanage.

Nilai yang Ditanamkan:

  • Ukhuwah Islamiyyah: persaudaraan yang melampaui batas geografis dan suku.
  • Solidaritas sosial: kepedulian terhadap sesama jamaah, terlihat dari penyediaan makanan, penginapan, dan panduan rute.
  • Semangat gotong-royong: seperti yang terlihat di Wonosobo, Pemalang, hingga Jawa Barat.

Analogi Qur’ani: Konsep ummah wāhidah (satu umat) sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Anbiya [21]: 92 terwujud nyata dalam ziarah, di mana jamaah dari Pati, Kendal, Batang, Cirebon, Indramayu, dan daerah lain berkumpul sebagai satu keluarga besar.

  1. Tarbiyah Akhlāqiyyah (Pendidikan Moral)

Mekanisme:

  • Teladan konkret dari kisah para masyayikh: Kyai Ahmad Rifa’i yang istiqamah meski diasingkan; para murid yang setia meski terpisah jarak dan waktu; generasi penerus yang melanjutkan perjuangan.
  • Adab ziarah: sopan santun, kesabaran dalam perjalanan panjang, menghormati guru dalam hidupnya maupun setelah wafatnya.
  • Evaluasi diri: seberapa jauh jamaah masa kini bisa meneladani para pendahulu?

Nilai yang Ditanamkan:

  • Istiqamah: keteguhan dalam prinsip meskipun menghadapi tantangan.
  • Kesetiaan (wafā’): seperti para murid yang tetap setia kepada guru meski terpisah ratusan tahun.
  • Kesederhanaan dan kezuhudan: melihat gaya hidup para masyayikh yang sederhana namun kaya spiritual.

Analogi Qur’ani: Allah menjadikan para nabi sebagai uswah ḥasanah (teladan baik) dalam QS. Al-Ahzab [33]: 21. Para masyayikh Rifa’iyah adalah “pewarits” dari teladan para nabi di konteks lokal-kultural mereka.

  1. Tarbiyah Jugrāfiyyah (Pendidikan Geografis-Kultural)

Mekanisme:

  • Perjalanan melintasi berbagai wilayah (pegunungan Wonosobo, pesisir Pantura, dataran Jawa Barat) memberikan pemahaman tentang keragaman geografis dan budaya Nusantara.
  • Pengenalan strategi dakwah yang berbeda sesuai konteks: dakwah di wilayah agraris-pegunungan berbeda dengan dakwah di wilayah maritim-pesisir.
  • Pengalaman berinteraksi dengan jamaah dari berbagai latar belakang budaya (Jawa, Sunda, Cirebon).

Nilai yang Ditanamkan:

  • Kesadaran kebhinekaan (tanawwu’): memahami bahwa Islam Nusantara kaya dengan keragaman ekspresi kultural.
  • Kemampuan beradaptasi: belajar bagaimana para masyayikh menyesuaikan metode dakwah dengan konteks lokal tanpa kehilangan esensi ajaran.
  • Kecintaan terhadap Tanah Air: mengenal keindahan dan kekayaan geografis Indonesia.

Analogi Qur’ani: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasamu dan warna kulitmu.” (QS. Ar-Rum [30]: 22). Keragaman geografis dan kultural adalah ayat Allah yang harus dibaca dan dipahami.

  1. Tarbiyah Tanẓīmiyyah (Pendidikan Organisasi)

Mekanisme:

  • Koordinasi antara Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, dan Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang dan Ranting dalam mengatur jadwal, rute, dan logistik ziarah.
  • Pembentukan panitia lokal yang melibatkan warga setempat.
  • Evaluasi pasca-kegiatan untuk perbaikan di masa depan.

Nilai yang Ditanamkan:

  • Kesadaran organisasi: memahami pentingnya struktur dan koordinasi dalam mencapai tujuan bersama.
  • Kepemimpinan dan kerelawanan: banyak warga lokal yang secara sukarela menjadi panitia dan menyediakan fasilitas.
  • Budaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan (taṭwīr mustamirr).

Analogi Qur’ani: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran [3]: 159). Tradisi ziarah Rifa’iyah mengajarkan prinsip shūrā (musyawarah) dan ta’āwun (tolong-menolong) dalam konteks organisasi.

Baca Juga: Belajar Kelas Sosial dari Cara Kita Berjabat Tangan


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Jamaah Rifa’iyahMasyayikh Rifa’iyahPendidikan Islampendidikan spiritualTradisi ZiarahziarahZiarah MasyayikhZiarah Rifaiyah
Previous Post

Ngaji Selapan PP Rifa’iyah: Tajwid dan Sifat Huruf Kunci Lurusnya Bacaan Al-Qur’an

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id