Temanggung – Pondok Pesantren Rifaiyah PIPP Mambaul Hikmah memperingati puncak milad ke-29 pada Jumat (17/4), yang dipusatkan di aula asrama putri. Kegiatan ini mengusung tema “Memupuk Potensi, Membentuk Prestasi” sebagai refleksi perjalanan panjang pondok dalam mencetak generasi santri yang unggul.
Ketua Majelis Ma’arif Perguruan Islam Pondok Pesantren (PIPP) Mambaul Hikmah, K. Yunianto Muslim, dalam sambutannya menguraikan sejarah berdirinya pondok. Ia menjelaskan bahwa cikal bakal pondok dimulai sejak kepulangan K. Nuryasin dari Tremas, Jawa Timur, pada tahun 1993. Namun, secara resmi pondok mulai membuka diri untuk umum pada tahun 1998 dengan nama Mambaul Hikmah, yang berarti “Sumber Hikmah”.
“Awalnya sangat sederhana. Kegiatan pembelajaran dilakukan di rumah-rumah warga. Kelas Tsanawiyah berlangsung pada sore hari, sedangkan pagi hari untuk Aliyah, dengan fasilitas yang serba terbatas,” kenangnya.
Lebih lanjut, K. Yunianto Muslim menjelaskan bahwa perkembangan signifikan terjadi pada tahun 2011 dengan dibukanya program Pendidikan Luar Sekolah (PLS) serta SMP Terbuka yang menginduk ke SMP Negeri Tretep. Selain itu, program dakwah bil hal yang dilakukan santri saat bulan Ramadan di berbagai desa sekitar turut memperluas pengaruh dan keberadaan pondok di tengah masyarakat.
Di usia ke-29 ini, pihaknya berharap pondok terus berkembang dan mampu menjaga kualitas lulusan yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum.
“Hal ini penting untuk menjawab tantangan umat yang semakin kompleks, sekaligus menjaga kepercayaan dan dukungan masyarakat,” tegasnya.
Saat ini, jumlah santri PIPP Mambaul Hikmah mendekati 900 orang, terdiri dari santri putra dan putri tingkat MTs, MA, ISMA, hingga pendidikan tinggi yang bekerja sama dengan salah satu perguruan tinggi Islam di Kendal.
Ia juga menegaskan bahwa pondok merupakan milik bersama yang harus dijaga keberlangsungannya.
“Jangan sampai pondok berhenti sepeninggal kiai. Karena itu, kami membentuk yayasan dan menyiapkan kaderisasi dengan baik,” ungkapnya.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, K. Musyafak menekankan pentingnya kesungguhan dalam menuntut ilmu. Menurutnya, ilmu harus dikejar dengan keaktifan dan kesabaran.
“Santri yang berhasil adalah yang mampu menggunakan akalnya, memiliki pemahaman yang baik, dan bersabar. Orang berakal akan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar santri menjauhi maksiat dan tidak meremehkan guru.
“Meremehkan guru dapat berdampak pada hilangnya keberkahan ilmu, seperti mudah lupa, sulit berbicara, hingga kesempitan hidup,” tambahnya.
K. Musyafak yang telah mengabdi selama 15 tahun di pondok tersebut juga menyinggung tantangan dakwah di tengah masyarakat, seperti tudingan mencari keuntungan, popularitas, atau kekuasaan.
“Semoga Mambaul Hikmah terus memberi manfaat bagi umat,” harapnya.
Rangkaian milad ini sebelumnya diisi dengan berbagai lomba antar asrama. Puncak acara turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya jajaran Majelis Ma’arif, Kepala MA Chorir Rofik, Kepala MTs Ustadz Dimyati, Ketua Komite, serta seluruh ustadz dan ustadzah.
PIPP Mambaul Hikmah berlokasi di Bantengan, Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung, di bawah asuhan K. Nuryasin dan Nyai Mum Fatihah.
Baca Juga: Pucuk Pimpinan Rifa’iyah dan AMRI DIY Masa Khidmat 2026–2031 Resmi Dilantik
Penulis: Abdul Mannan
Editor: Yusril Mahendra













