YOGYAKARTA – Nama Prof. Dr. Kuntowijoyo (1943–2005) selama ini identik dengan menara gading akademisi sebagai sejarawan ulung Universitas Gadjah Mada (UGM) dan cendekiawan Muslim terkemuka dari rahim Muhammadiyah. Namun, ada satu sisi sejarah pengabdiannya yang fundamental, tetapi jarang tersorot luas oleh publik: peran strategisnya sebagai Ketua Dewan Syuro pertama dalam organisasi Rifaiyah.
Keterlibatan Kuntowijoyo dalam struktural Rifaiyah bukanlah sebuah kebetulan, melainkan cerminan dari kedalaman pemikiran intelektualnya yang melampaui batas-batas organisasi (transorganisasi). Sebagai sosok yang lahir di Bantul dan tumbuh dalam tradisi santri, Kuntowijoyo melihat Rifaiyah bukan sekadar organisasi massa, melainkan entitas penting dalam mozaik pergerakan Islam di Indonesia.
Intelektual yang Berakar pada Tradisi
Meskipun Kuntowijoyo dikenal luas sebagai kader Muhammadiyah yang menerima Life Achievement Award pada Kongres Sejarawan Muhammadiyah, kedekatannya dengan Rifaiyah menunjukkan kapasitas beliau sebagai pemersatu umat. Di Rifaiyah, posisi beliau sebagai Ketua Dewan Syuro pertama menempatkannya sebagai kompas moral dan intelektual bagi organisasi yang didirikan berdasarkan pemikiran KH. Ahmad Rifa’i tersebut.
Langkah Kuntowijoyo masuk ke struktural Rifaiyah sejalan dengan gagasan besar yang selalu ia dengungkan: Ilmu Sosial Profetik (ISP). Baginya, seorang intelektual tidak boleh hanya berhenti pada teks, tetapi harus melakukan transformasi sosial berdasarkan nilai-nilai kenabian (humanisasi, liberasi, dan transendensi). Khidmatnya di Rifaiyah adalah bentuk nyata dari pengabdian sosial tersebut.
Sejarawan yang Menulis dengan Hati
Sebagai doktor lulusan Columbia University, Kuntowijoyo membawa perspektif metodologis yang segar bagi organisasi. Bersama tokoh-tokoh seperti Tashadi, Sartono, dan Adabi Darban, ia membangun fondasi kesadaran sejarah dan pendidikan di lingkungan Rifaiyah.
Beberapa poin penting mengenai kontribusi dan identitas beliau adalah:
- Pionir Organisasi: Menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro pertama Rifaiyah, memberikan arah kebijakan strategis bagi pengembangan organisasi.
- Jembatan Antar-Gerakan: Menjadi bukti hidup bahwa identitas sebagai kader Muhammadiyah tidak menghalangi pengabdian struktural di organisasi Islam lain seperti Rifaiyah.
- Sastrawan dan Budayawan: Karya-karyanya seperti Khotbah di Atas Bukit dan Pasar menunjukkan bahwa ia adalah manusia paripurna yang menyentuh dimensi ketuhanan melalui estetika sastra.
Warisan untuk Masa Depan
Wafat pada 22 Februari 2005, Kuntowijoyo meninggalkan warisan pemikiran yang sangat kaya. Bagi warga Rifaiyah, sosoknya bukan sekadar pimpinan, melainkan penasihat yang meletakkan dasar-dasar intelektualitas dalam berorganisasi.
Bagi generasi muda, santri, dan aktivis masa kini, sejarah hidup Pak Kunto—begitu ia akrab disapa—mengajarkan bahwa integritas akademik harus berjalan beriringan dengan pengabdian umat. Ia membuktikan bahwa seorang sejarawan tidak hanya mencatat sejarah, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembuatan sejarah itu sendiri melalui organisasi Rifaiyah.
“Jangan sampai publik tidak mengetahui posisi penting beliau di Rifaiyah,” menjadi pesan kuat bagi kita semua untuk terus menggali peran-peran tersembunyi para tokoh bangsa dalam mempererat ukhuwah Islamiyah di Indonesia.
Penulis adalah santri, aktivis, dan mahasiswa yang menaruh perhatian pada sejarah intelektual Islam di Indonesia.
Baca Juga: Bagaimana Cara Memilih Guru Agama yang Benar? Ini Jawaban 3 Ulama Besar Indonesia
Penulis: Samsul Rozikin
Editor: Yusril Mahendra

