Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْإِسْلَامَ دِيْنَ الْوَحْدَةِ وَالْاِئْتِلَافِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang membimbing kita untuk menjaga lisan, menjaga hati, dan menjaga persaudaraan di tengah keberagaman yang Allah anugerahkan kepada bangsa kita, Indonesia.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Salah satu rujukan besar dalam ilmu aqidah mazdhab ahlus sunnah wal Jemaah adalah kitab Maqalāt al-Islāmiyyīn karya Imam al-Ash’ari. Hal yang paling luar biasa dari kitab ini adalah sikap sang Imam yang tetap menyebut kelompok-kelompok yang berbeda pendapat dengannya sebagai “Al-Musallīn”
(orang-orang yang shalat) dan “Al-Islāmiyyīn” (orang-orang Islam). Beliau memberikan teladan bahwa perbedaan pemikiran tidak lantas menghalalkan darah, kehormatan, apalagi memutuskan tali persaudaraan.
Dikisahkan oleh para muridnya, menjelang kewafatannya, Imam al-Ash’ari berkata:
أَشْهَدُ عَلَى أَنِّي لَا أُكَفِّرُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ هَذِهِ الْقِبْلَةِ، لِأَنَّ الْكُلَّ يُشِيرُونَ إِلَى مَعْبُودٍ وَاحِدٍ، وَإِنَّمَا هَذَا كُلُّهُ اخْتِلَافُ الْعِبَارَاتِ
Artinya: “Aku bersaksi bahwa aku tidak mengkafirkan seorang pun dari ahli kiblat (umat Islam) ini, karena semuanya merujuk kepada Tuhan yang Satu, dan sesungguhnya semua (perbedaan) ini hanyalah
perbedaan dalam redaksi/ungkapan.”
Jemaah yang dimuliakan Allah, Jika kita tarik ke konteks Indonesia saat ini, pesan ini sangatlah faktual. Kita seringkali melihat di media sosial maupun di kehidupan nyata, betapa mudahnya lisan ini menghakimi sesama Muslim. Hanya karena perbedaan pilihan politik, perbedaan ormas, atau perbedaan cara ibadah yang bersifat cabang (furu’iyyah), kita seolah lupa bahwa kita bersujud menghadap kiblat yang satu.
Perselisihan yang tajam seringkali berujung pada caci maki, pemutusan silaturahmi, hingga label-label buruk seperti “sesat” atau “ahli bid’ah” yang dilontarkan tanpa ilmu dan adab. Padahal, Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damai-kanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
Rasulullah SAW juga mengingatkan kita dalam sebuah hadits:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ
Artinya: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak boleh menzaliminya,
tidak boleh membiarkannya (dalam kesulitan), dan tidak boleh merendahkannya.”
(HR. Muslim).
Jemaah Jumat yang berbahagia, Mari kita jadikan keragaman di Indonesia ini sebagai kekayaan, bukan sumber perpecahan. Belajarlah dari Imam al-Ash’ari yang mampu merangkul perbedaan dalam bingkai “Ahlul Qiblah”. Mari kita jaga lisan kita dari menyakiti saudara seiman. Jangan sampai perbedaan pilihan duniawi meruntuhkan bangunan ukhuwah yang telah kita bina selama ini.
Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita, mempersatukan langkah kita, dan menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ الصَّحْبِ وَالْأَثَرِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا بَلْدَةً آمِنَةً، مُطْمَئِنَّةً، سَخَاءً، رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ
Download file PDF: Khutbah Jumat: Perbedaan itu Rahmat
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra


