Ada satu pertanyaan yang tidak pernah bisa dibungkam oleh waktu: Apa yang sejatinya kita yakini di dalam hati? Pertanyaan ini bukan sekadar soal teologi atau filsafat. Ia adalah soal manusia — soal siapa kita, kemana kita pergi, dan apa yang membuat hidup ini layak untuk dijalani dengan penuh makna.
Dua karya besar dari khazanah intelektual Islam — Al-Ibanah ‘an Ushuliddiyanah karya Imam Al-Asy’ari dan Syarikh Al-Iman karya KH. Ahmad Rifa’i — berbicara tentang satu hal yang sama namun dari dua sisi yang saling melengkapi: bahwa keimanan bukanlah hafalan, bukan pula warisan buta, melainkan sebuah perjalanan hati yang hidup, bergerak, dan terus mencari cahaya.
Saat Akal Tidak Lagi Cukup
Imam Abu Hasan Al-Asy’ari hidup di tengah gelombang perdebatan teologi yang memuncak. Kaum Mu’tazilah, dengan keanggunan rasionalisme mereka, mengatakan bahwa akal manusia adalah hakim tertinggi bagi segala kebenaran agama. Selama bertahun-tahun, Al-Asy’ari berada di tengah arus itu — belajar, berdebat, dan mempertahankan argumen demi argumen.
Namun, ada satu momen yang mengubah segalanya. Bukan karena ia kalah dalam argumen, melainkan karena ia jujur pada dirinya sendiri. Ia bertanya: apakah akal yang selama ini aku andalkan benar-benar membawaku lebih dekat kepada kebenaran, atau justru lebih jauh dari sumbernya?
“Iman sejati bukan terletak pada banyaknya argumen yang bisa kita bangun, melainkan pada kejujuran hati yang bersedia menerima kebenaran meski kebenaran itu mengubah kita.” — Terinspirasi dari Al-Ibanah ‘an Ushuliddiyanah
Keberanian Al-Asy’ari untuk berbalik — meninggalkan posisi intelektual yang nyaman, mengakui bahwa ada yang lebih dalam dari sekadar logika — adalah sebuah keteladanan yang melampaui zamannya. Ia menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari kemenangan debat, tetapi dari kerendahan hati untuk bersedia berubah.
Dalam bahasa yang sangat manusiawi: terkadang, momen paling jujur dalam hidup kita adalah ketika kita berani berkata, ‘Aku salah, dan aku akan kembali.’
Iman: Sebuah Peristiwa di Dalam Hati
KH. Ahmad Rifa’i dalam Syarikh Al-Iman membuka dengan sebuah definisi yang sederhana namun sangat dalam: Iman adalah keyakinan hati, bukan sekadar ucapan di lidah, bukan sekadar ritual yang dijalankan. Iman adalah sesuatu yang terjadi di ruang paling pribadi dari diri manusia — di dalam hati.
Ini adalah sebuah pernyataan yang sekaligus membebaskan dan menuntut. Membebaskan karena ia mengatakan bahwa iman tidak bisa dipaksakan dari luar. Tidak ada kekuatan duniawi yang bisa menanam keyakinan ke dalam hati seseorang. Dan menuntut, karena ia menegaskan bahwa kita tidak bisa bersembunyi di balik formalitas belaka.
“Barangsiapa hatinya meyakini semua yang dibawa Rasulullah, maka ia adalah orang mukmin di sisi Allah — meskipun tidak ada yang mengetahuinya selain dirinya dan Tuhannya.” — KH. Ahmad Rifa’i, Syarikh Al-Iman
Ada sesuatu yang sangat humanis dalam pandangan ini. Ia mengakui bahwa manusia adalah makhluk batin. Bahwa ada dimensi dalam diri kita yang tidak bisa dilihat, tidak bisa diukur, tidak bisa diverifikasi oleh orang lain — dan justru di situlah letak yang paling hakiki dari keimanan kita.
Bayangkan seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang keras, yang tidak pernah diajarkan cara beribadah dengan benar, yang bahkan mungkin tidak tahu bagaimana melafalkan syahadat dengan fasih — namun dalam hatinya ada cahaya yang menyala, ada pengakuan yang tulus kepada Tuhan. Syaikh Rifa’i mengajarkan bahwa Allah melihat jauh lebih dalam dari apa yang tampak di permukaan.
Enam Pilar yang Menopang Langit Batin
Rukun iman yang enam bukanlah sekadar daftar doktrin untuk dihafalkan. Dalam cahaya Syarikh Al-Iman, keenam rukun itu adalah peta bagi perjalanan hati — sebuah kosmologi batin yang menata hubungan manusia dengan Tuhan, dengan alam semesta, dan dengan masa depan yang belum terlihat.
Beriman kepada Allah berarti mengakui bahwa ada sumber keberadaan yang melampaui kita — bahwa kita bukan poros dari semesta ini. Beriman kepada malaikat berarti menerima bahwa ada dimensi realitas yang tidak terjangkau oleh indera kita. Beriman kepada kitab-kitab berarti menghargai bahwa kebenaran bisa diwahyukan — bahwa Tuhan tidak diam membiarkan manusia berjalan sendirian dalam kegelapan.
Beriman kepada para Rasul berarti mengakui bahwa manusia membutuhkan teladan yang nyata — bukan hanya konsep abstrak, tetapi sosok yang pernah berjalan di bumi ini, merasakan lapar dan sedih, namun tetap teguh. Beriman kepada hari akhir berarti menerima bahwa setiap perbuatan memiliki bobot dan konsekuensi — bahwa keadilan tidak berhenti di pintu kematian. Dan beriman kepada takdir berarti melepaskan beban ilusi kendali penuh, dan belajar berdamai dengan misteri kehidupan.
“Enam pilar iman bukan penjara doktrin. Mereka adalah fondasi dari rumah batin yang bebas — tempat jiwa manusia menemukan ketenangan sejatinya.” — Refleksi atas Syarikh Al-Iman
Pulang Kepada Sumber: Pelajaran dari Al-Asy’ari
Kisah intelektual Al-Asy’ari mengajarkan sesuatu yang sangat relevan bagi kita hari ini: bahwa perjalanan menuju kebenaran sering kali bukan garis lurus, melainkan sebuah busur — memutar, naik, kadang turun, sebelum akhirnya sampai pada titik yang lebih tinggi dari tempat kita memulai.
Al-Ibanah ditulis bukan sebagai traktat kemenangan, melainkan sebagai kesaksian seorang manusia yang telah menemukan jalan pulang. Ia mendokumentasikan bagaimana Ahlussunnah wal-Jama’ah — warisan para sahabat Nabi — adalah mercusuar yang tidak pernah redup, bahkan ketika badai perdebatan intelektual mencoba memadamkannya.
Ada sesuatu yang sangat menyentuh dalam keputusan Al-Asy’ari: ia tidak memilih jalan yang mudah. Berbalik dari posisi yang telah membesarkan namanya adalah sebuah pengorbanan. Tapi ia memilih kebenaran di atas reputasi. Dan itulah yang membuat namanya abadi.
Dalam kehidupan sehari-hari kita, kisah ini berbicara tentang hal yang sama: keberanian untuk mengakui bahwa kita mungkin telah salah jalan — dalam karier, dalam hubungan, dalam cara kita memandang hidup — dan bahwa memilih untuk kembali adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan.
Taubat: Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
Salah satu tema paling mengharukan dalam Syarikh Al-Iman adalah tentang orang yang berbuat dosa — orang biasa, dengan kelemahan manusiawi yang nyata — dan bagaimana Allah menyikapi mereka. Syaikh Rifa’i tidak menggambarkan Tuhan sebagai penghukum yang keras dan tidak kenal ampun. Ia menggambarkan Tuhan yang membuka dua kemungkinan: menyiksa atau mengampuni. Dan taubat — kembali kepada Allah dengan hati yang pecah namun tulus — adalah kunci yang membuka pintu kemungkinan kedua itu lebih lebar.
“Di saat hatimu hancur karena merasa kekurangan dalam menunaikan hak-hak agamamu, maka Allah lah yang hadir mendampingimu.” — KH. Ahmad Rifa’i, Syarikh Al-Iman
Ada kalimat yang terasa seperti pelukan hangat di tengah malam yang paling gelap: Allah hadir dekat dengan orang yang hatinya hancur. Bukan dengan orang yang sempurna. Bukan dengan orang yang tidak pernah jatuh. Tetapi dengan orang yang jatuh dan merasakan betapa dalamnya ia jatuh — dan dalam kedalaman itu, ia memanggil nama Tuhannya.
Ini adalah teologi kasih sayang. Ini adalah Islam yang berbicara kepada sisi paling rapuh dari manusia. Dan inilah mengapa ajaran ini, meski lahir berabad-abad yang lalu, masih terasa seperti air segar di padang kehausan jiwa modern.
Makrifat: Mengenal Allah dengan Seluruh Keberadaan
Syarikh Al-Iman ditutup dengan sebuah bab yang indah tentang makrifat — mengenal Allah bukan hanya dengan kepala, tetapi dengan seluruh keberadaan. Syaikh Rifa’i mengajarkan bahwa tanda seseorang benar-benar mengenal Allah adalah ketika ia menjadikan Allah sebagai sahabat terdekatnya.
Bukan dalam pengertian mistis yang abstrak, tetapi dalam keseharian yang sangat konkret: menundukkan pandangan, memfokuskan niat, berdamai dengan takdir, bertawakal dalam mencari rezeki, dan selalu menyisakan ruang di hati untuk hadir bersama Allah — di tengah kesibukan siang maupun keheningan malam.
“Jika kamu benar-benar mengenal Allah, niscaya kamu akan menjadikan-Nya sebagai sahabat dan kamu akan menemukan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan selama Dia bersamamu.” — KH. Ahmad Rifa’i, Syarikh Al-Iman
Dalam dunia yang sering kali terasa seperti berlomba tanpa henti, ada sesuatu yang sangat revolusioner dalam ajaran ini: bahwa kedamaian sejati tidak ditemukan dengan memiliki lebih banyak, mencapai lebih tinggi, atau mengendalikan lebih besar — tetapi dengan mengenal lebih dalam.
Mengenal Allah. Mengenal diri sendiri. Dan dalam pertemuan kedua pengenalan itu, menemukan rumah yang sesungguhnya.
Warisan yang Berbicara kepada Zaman Ini
Al-Ibanah ditulis di abad ke-10 Masehi. Syarikh Al-Iman diselesaikan pada abad ke-19. Namun keduanya berbicara tentang sesuatu yang tak lekang oleh waktu: kerinduan manusia akan kebenaran, kebutuhan manusia akan kasih sayang Tuhan, dan kapasitas manusia untuk berubah menjadi lebih baik.
Di era ketika informasi membanjiri kita dari segala arah, ketika kebisingan dunia digital sering kali menyulitkan kita untuk mendengar suara hati sendiri — dua karya ini hadir sebagai pengingat yang lembut namun tegas: bahwa perjalanan paling penting bukan ke luar angkasa atau ke puncak tangga karier, melainkan ke dalam — ke dalam hati, ke dalam kesadaran, ke dalam hubungan dengan Yang Maha Ada.
Iman bukan beban. Akal bukan musuh hati. Dan setiap manusia, dengan segala kerapuhan dan kelebihannya, memiliki kapasitas untuk pulang kepada cahaya.
Semoga tulisan ini menjadi jalan kecil yang membawa pembaca lebih dekat kepada cahayanya masing-masing.
Referensi
- Al-Asy’ari, Abu Hasan Ali ibn Ismail. Al-Ibanah ‘an Ushuliddiyanah. Riyadh: Dar Al-Muslim, 1432 H.
- Rifa’i, Ahmad ibn Muhammad Marhum. Syarikh Al-Iman (Terjemahan). Diselesaikan 4 Rabiul Awal 1255 H.
Baca Juga: Tiga Pelita Di Tengah Badai
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

