Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Cahaya Di Bawah Penjajahan: KH. Ahmad Rifai, Naskah Kuno, dan Keteguhan Iman Jawa Abad ke-19

Tim Redaksi by Tim Redaksi
June 3, 2026
in Kolom
0
Ahmad Rifai
0
SHARES
26
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika Bumi Jawa Menangis, Muncul Semburat Islam

Ada paradoks menakjubkan dalam sejarah. Di tengah masa-masa paling kelam bagi suatu bangsa, justru sering lahir jiwa-jiwa paling bercahaya. Pulau Jawa pada abad ke-19 adalah bukti nyata paradoks itu. Di bawah kekuasaan kolonial Belanda yang memaksakan Cultuurstelsel — sistem tanam paksa yang memeras keringat dan harapan jutaan petani — di sinilah muncul salah satu gerakan pembaruan Islam paling berani dan paling dalam yang pernah terjadi di Nusantara.

Buku ilmiah (Disertasi) karya Yumi Sugahara, seorang cendekiawan Jepang dari Universitas Osaka, membuka jendela menuju dunia yang selama ini tersembunyi di balik debu arsip kolonial dan lekuk aksara Pegon.

Judul panjang bukunya —Gerakan Keagamaan di Jawa di Bawah Penjajahan Belanda: Arus Islamisasi Indonesia Abad ke-19 dalam Naskah— menyimpan di dalamnya sebuah kisah yang jauh lebih dari sekadar catatan akademis. Ia adalah kisah tentang seorang manusia yang tidak mau tunduk; tentang bagaimana iman menemukan jalannya sendiri ketika pintu-pintu kekuasaan ditutup rapat.

“Pertanian diprioritaskan untuk komoditas ekspor Eropa. Para petani dikatakan bagaikan menikah, melahirkan, dan mati di atas ladang indigo. Bagi Jawa, abad ke-19 adalah zaman penjajahan Belanda sesungguhnya.” — Sugahara Yumi, 序章 (Pendahuluan), hal. 3

Namun, justru di dalam kegelapan inilah benih-benih itu ditanam. Ketika tubuh dipaksa bekerja untuk kepentingan asing, jiwa mencari rumahnya sendiri — dan bagi banyak orang Jawa, rumah itu adalah Islam yang benar, Islam yang tidak ikut berkompromi dengan penguasa yang zalim.

Seorang Kyai dari Kendal yang Mengubah Sejarah

Lahir pada tahun 1786 di Desa Tempuran, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara, Kyai Haji Ahmad Rifa’i bin KH. Muhammad Marhum bin KH. Abu Sujak alias Raden Soetjowidjojo tumbuh dalam kemiskinan yang tidak menumpulkan kecerdasannya. Ayah dan kakeknya meninggal ketika ia masih kecil, sehingga ia diasuh oleh ipar laki-lakinya.

Keberuntungan atau takdir membawanya ke pesantren K.H. Asy’ari yang masyhur di Kaliwungu, Kendal, tempat ia mendalami bahasa Arab, fikih Islam, hadis, dan Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh. Semarang pada masa itu adalah wilayah yang istimewa: kawasan pelabuhan penting, memiliki koneksi dengan Singapura dan dunia Islam yang lebih luas, dengan angka haji yang paling tinggi di antara semua wilayah Jawa. Peta intelektual dan spiritual Rifai terbentuk di lingkungan yang dinamis ini.

“Iman adalah benih yang tidak bisa dimatikan oleh kekeringan kekuasaan, selama ia dirawat oleh tangan-tangan yang ikhlas.”

Yang membuat Rifai menjadi figur yang luar biasa bukan hanya latar belakangnya, tetapi juga keputusan-keputusan berani yang ia ambil. Setelah menunaikan ibadah haji ke Mekah dan menghabiskan waktu yang signifikan di Tanah Suci, ia kembali ke Jawa dengan sebuah misi yang jelas: mengajarkan Islam yang benar kepada rakyat biasa yang tinggal di desa-desa terpencil.

Kitab sebagai Senjata, Pena sebagai Pedang

Rifai bukan pejuang bersenjata. Ia adalah pejuang kata. Setelah menetap di Desa Kalisalak, Kabupaten Batang, Karesidenan Pekalongan, ia mulai menulis — dan terus menulis. Buku-bukunya disebut tarajumah, ‘buku terjemahan,’ karena penuh dengan kutipan bahasa Arab dari kitab-kitab klasik yang kemudian diterjemahkan dan dijelaskan dalam bahasa Jawa aksara Pegon. Tradisi menuliskan aksara Arab dengan bunyi Jawa ini menjadi inovasi pedagogis yang jenius.

Warisan Naskah Ahmad Rifai

Dari 65 kitab yang diyakini pernah ia tulis, 25 judul tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dan Perpustakaan Nasional Indonesia. Organisasi Rifaiyah yang didirikan oleh murid-muridnya menyimpan 42 naskah tambahan yang tidak ditemukan di tempat lain.

Kitab terpanjang, Abyanal Hawaij, mencapai lebih dari 1.500 halaman dalam 6 juz— sebuah ensiklopedia keislaman untuk rakyat biasa, ditulis di tengah pengawasan penuh pemerintah kolonial.

Mengapa ia menulis dalam bahasa Jawa dan bukan Arab atau Melayu? Jawabannya sederhana namun revolusioner: agar rakyat biasa di desa-desa bisa memahami. Agar seorang petani yang lelah setelah seharian bekerja di ladang indigo pun bisa membaca dan menghafal bait-baitnya. Kitab-kitab itu disusun dalam bentuk syair yang berima sehingga mudah dihafal — sebuah metode pembelajaran yang jauh mendahului zamannya.

Tiga Pihak, Satu Panggung: Drama Kekuasaan dan Keimanan

Kedalaman analisis Yumi Sugahara terletak pada kemampuannya menampilkan kompleksitas historis tanpa menyederhanakan siapa pun. Ia melihat kisah Ahmad Rifai melalui tiga lensa sekaligus: pemerintah kolonial Belanda, para priyayi dan pejabat pribumi, serta Rifai sendiri. Masing-masing memiliki logikanya sendiri; masing-masing berbicara dalam bahasanya sendiri.

Pemerintah Kolonial Belanda Para Priyayi & Pejabat Pribumi
Awalnya acuh terhadap konflik antara Rifai dan pejabat pribumi. Pandangan mereka berubah drastis setelah pemberontakan Muslim besar di India kepada Inggris tahun 1857 — Rifai tiba-tiba menjadi ‘Muslim fanatik’ yang mengancam ketertiban kolonial. Bupati dan wedana yang mengabdi pada kolonial melihat Rifai sebagai ancaman otoritas mereka. Mereka yang disebut Rifai sebagai ‘raja zalim’ membalas dengan menggambarkan Rifai sebagai kiai sesat dalam sastra Jawa klasik Serat Cebolek.
Ahmad Rifai & Murid-muridnya Naskah Serat Cabolek & Riwayat Lipang
Melalui kitab-kitabnya yang disusun dengan teliti berdasarkan sumber-sumber Arab, Rifai menunjukkan bahwa ia bukan sesat — ia justru mewakili Islam yang paling ortodoks dan berdasar. Sastra istana Jawa ‘Riwayat Lipang’ menggambarkan Rifai sebagai kiai sesat tanpa dasar. Ironisnya, naskah inilah yang justru mengabadikan jejaknya hingga hari ini.

Yang paling mencengangkan dari temuan Sugahara adalah fakta bahwa ajaran Rifai, meskipun dituduh sesat, sebenarnya sepenuhnya berada dalam arus utama Islam Sunni. Ia mengutip sumber-sumber yang sama dengan ulama Syafi’i yang dianggap ‘resmi.’ Perbedaannya terletak bukan pada substansi ajaran, melainkan pada keberanian politiknya: Rifai dengan lantang mengkritik pejabat pribumi yang ia anggap munafik, dan mengajarkan bahwa umat tidak boleh mengikuti pemimpin yang menyimpang dari hukum Tuhan.

Ulama yang benar harus berterus terang kepada lawan. Mengajarkan kebenaran syariat dengan tulus. Bersama-sama memuliakan agama Allah. Mengajarkan ilmu syariat yang berguna bagi akhirat.

— Bait dari kitab Rifai, Bastiyah [B: 43], dikutip dalam karya Yumi, hal. 193

Pelajaran Abadi dari Seorang Kiai yang Dibuang

Pada akhirnya, Rifai ditangkap dan dibuang ke Ambon — disingkirkan bukan karena kesesatan ajarannya, tetapi karena ia terlalu berbahaya bagi keseimbangan kekuasaan yang disusun kolonialisme. Keluarganya dan para pengikutnya meninggalkan Kalisalak, tersebar ke perbukitan dan tempat-tempat tersembunyi. Namun yang tidak bisa dibuang adalah ide-idenya, yang terus hidup dalam naskah-naskah yang berpindah tangan dari guru ke murid, dari orang tua ke anak, selama berabad-abad.

Inilah pelajaran pertama dan paling kuat dari sejarah ini: kekuasaan bisa membuang seseorang, tetapi tidak bisa membuang gagasan. Kitab-kitab Rifai bukan hanya buku agama; mereka adalah surat-surat ketahanan, ditulis untuk generasi yang belum lahir, dengan keyakinan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.

Ilmu sebagai Jalan Pembebasan

Rifai percaya bahwa iman harus dibuktikan dengan perbuatan, dan perbuatan hanya bisa benar jika dilandasi ilmu yang sahih. Ia menulis satu buku tentang pernikahan (Tabyin al-Islah), satu buku tentang warisan (Mushlihat), satu buku tentang perdagangan (Tasyrikhatal Muhtaj) — semuanya ditulis agar rakyat biasa bisa menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan hukum Tuhan, tanpa harus bergantung pada interpretasi pejabat yang korup.

Ini adalah demokrasi pengetahuan yang jauh mendahului zamannya. Di era ketika akses terhadap kitab-kitab Arab klasik hanya dimiliki oleh segelintir elite, Rifai memutuskan untuk membuka pintu itu untuk semua orang. Ia percaya bahwa seorang petani pun berhak memahami agamanya dengan benar.

Relevansi Untuk Masa Kini

Kisah Rifai bukan hanya sejarah. Ia adalah cermin. Di setiap zaman, selalu ada mereka yang memilih kenyamanan kekuasaan daripada kebenaran ilmu. Dan selalu ada pula mereka yang memilih sebaliknya.

Rifai mengajarkan bahwa pendidikan rakyat adalah bentuk perlawanan paling damai namun paling bertahan lama. Satu generasi yang terdidik dengan benar akan mengubah masyarakat lebih dalam daripada seribu pemberontakan bersenjata.

“Seseorang yang dibuang tetapi idenya tidak bisa dibuang — ia sesungguhnya tidak pernah pergi.”

Apa yang Diajarkan Sejarah Ini kepada Kita?

Membaca buku Yumi Sugahara dengan seksama, kita menemukan beberapa pelajaran yang melampaui batas waktu dan tempat:

Pertama: Naskah adalah memori peradaban yang tidak bisa dibakar oleh penjajahan. Bahwa seorang ilmuwan Jepang pada abad ke-21 bisa membaca tulisan tangan seorang kiai Jawa abad ke-19 dan merekonstruksi dunianya — ini adalah bukti bahwa menulis adalah tindakan melampaui kematian.

Kedua: Kebenaran yang tidak nyaman selalu mengancam kekuasaan. KH. Ahmad Rifai tidak pernah menyerukan pemberontakan bersenjata. Yang ia lakukan adalah mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh tunduk kepada pemimpin yang zalim — dan itu sudah cukup untuk membuatnya dibuang.

Ketiga: Islamisasi di Jawa bukan proses tunggal dan linear. Ia adalah arus yang datang dari banyak arah — dari Mekah, dari Melayu, dari pesantren lokal — dan bertemu dengan budaya Jawa yang memiliki logika sendiri. KH. Ahmad Rifai adalah simpul pertemuan yang paling kelihatan di abad ke-19.

Keempat: Kita sering salah menilai orang-orang yang berbeda dengan mainstream. KH. Ahmad Rifai dituduh sesat oleh zamannya; penelitian akademis modern membuktikan ia justru paling berakar pada ortodoksi Islam. Kesalahan penilaian seperti ini bukan kelemahan zaman itu saja — ia adalah bahaya yang selalu mengancam setiap zaman, termasuk zaman kita.

Dan yang terakhir, mungkin yang paling menggerakkan hati: dari Desa Kalisalak di Kabupaten Batang — sebuah desa kecil yang bahkan tidak terkenal dalam atlas sejarah Indonesia — muncul seorang tokoh yang mengubah cara ribuan orang memahami agama mereka. Ini membuktikan bahwa besar tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh tempat kelahirannya, tetapi oleh kedalaman visinya dan keberanian pilihan-pilihannya.

Organisasi Rifaiyah masih berdiri di mana-mana di Indonesia. Naskah-naskah KH. Ahmad Rifai masih tersimpan di Leiden dan Jakarta. Dan di suatu tempat di pesisir utara Jawa, warga Rifa’iyah masih belajar dari tradisi yang diwariskan — cahaya yang tidak padam meskipun orangnya telah lama pergi.

Referensi

Sumber Utama / Buku Rujukan

Sugahara, Yumi. オランダ植民地体制下ジャワにおける宗教運動 — 写本に見ゃ19世紀インドネシアのイスラーム潮流 (Gerakan Keagamaan di Jawa di Bawah Penjajahan Belanda: Arus Islamisasi Indonesia Abad ke-19 dalam Naskah). Osaka: Osaka University Press, 2025. 352 halaman.

Naskah Primer Ahmad Rifai — Koleksi Leiden

Kitab Syariful Iman [AM 1], Abyanal Hawaij, Tabiinal Islah, Bastiyah [B], dan 21 judul lain. Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Dikutip dalam Sugahara Yumi (2025), Lampiran 2.

Sumber Sastra Jawa Klasik (Antagonis)

Serat Riwayat Lipang (Riwayat Lipang Mashur, turunan dari Serat Cabolek). Naskah berbahasa Jawa yang dianalisis dalam Bab IV, hal. 115–136. Menggambarkan Rifai dari perspektif pejabat pribumi pro-kolonial.

Sumber Arsip Kolonial Belanda

Laporan kolonial Belanda tentang Ahmad Rifai: Laporan 1855, Laporan 1858 (1) dan (2). Arsip negara Belanda, dikutip dalam Bab III–IV, hal. 87–136. Tentang formulasi citra ‘Muslim fanatik’ oleh pejabat kolonial pasca-pemberontakan India 1857.

Sumber Statistik Kolonial (Pekalongan)

Data statistik wilayah Keresidenan Pekalongan: luas dan kepadatan penduduk 1846, data tanaman indigo dan gula 1833–34, statistik haji 1861–63, data kepemilikan lahan 1862. Dikutip dalam Bab I, Tabel 1–15.

Sumber Sekunder Utama yang Dirujuk

Djamil, Abdul (2001); Kartodirdjo, Sartono (1973); Fasseur, C. (1977, 1981); Knight, G.R. (1982, 1988); Houben, V.J.H. (1994); Pigeaud (1967–80); Syazirin (1996/97); Van der Molen (1993); Cribb (2010).

Peta dan Ilustrasi Geografis

Peta administrasi Jawa 1832–1866 dan 1857 (Keresidenan Pekalongan dan sekitarnya). Bagan struktur pemerintahan kolonial berdasarkan Kamus Indonesia 1991 hal. 480 dan Hisyam 2001. Gambar 1–5 dalam buku Sugahara Yumi.

Baca Juga: Percikan Ilmu: Melebur Ego, Menemukan Diri


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: islam nusantaraKH. Ahmad RifaiPenjajahan BelandaRifaiyahYumi Sugahara
Previous Post

K. Abdul Syukur: Pelopor Dakwah Tarajumah di Baturejo Pati

Next Post

Menelusuri Ushul Fikih KH Ahmad Rifa’i dan Relevansinya bagi Dunia Modern

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Yusril Mahendra, Warga Sipil.

Next Post
Menelusuri Ushul Fikih KH Ahmad Rifa’i dan Relevansinya bagi Dunia Modern

Menelusuri Ushul Fikih KH Ahmad Rifa'i dan Relevansinya bagi Dunia Modern

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id