Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Dari Tanah Sundoluhur: Mewariskan Cahaya, Menapak Jejak Para Ulama

Haul K. Djazuli ke-68 dan Masyayikh & Haflah Akhirus Sanah | Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah Desa Sundoluhur, Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
June 19, 2026
in Kolom
0
Dari Tanah Sundoluhur: Mewariskan Cahaya, Menapak Jejak Para Ulama
0
SHARES
95
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Muqaddimah: Pagi yang Diberkahi

Pagi itu, halaman Masjid Jami’ Taufiqillah di Desa Sundoluhur, Kayen, Pati, mendenyutkan keramaian yang penuh hikmat. Ibu-ibu berkerudung putih duduk berjejer rapi. Bapak-bapak berkopiah mengisi shaf dengan tertib. Para santri berseragam dengan samir tergantung di leher, berbaris menunggu dipanggil nama mereka satu persatu. Di atas depan panggung kehormatan, para kiai dan sesepuh duduk dengan wibawa yang menenangkan.

Ini bukan sekadar acara tahunan biasa. Ini adalah Haflah Akhirus Sanah yang ke-50 — sebuah perayaan yang menyatukan tiga dimensi waktu: mengenang perjuangan para pendahulu melalui haul, mensyukuri capaian masa kini melalui wisuda, dan mempersiapkan generasi mendatang melalui nasihat dan doa.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Dalam gemuruh takbir dan lantunan selawat, prosesi wisuda dimulai. Para wisudawan dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), SMA Rifa’iyah, dan Pondok Pesantren Miftahul Muhtadin memasuki arena dengan langkah penuh kebanggaan — arsitek-arsitek masa depan yang telah menuntaskan satu fase perjuangan panjang.

Akar yang Kukuh: Sejarah YPI Rifa’iyah Sundoluhur

Untuk memahami makna hari ini, kita perlu menelusuri akar yang kukuh di bawah tanah Sundoluhur. KH. Muhammad Abidun Zuhri, Lc., Pengasuh Pondok pesantren Miftahul Muhtadin, Pembina Yayasan Pendidikan Islam Rifa’i’yah sekaligus mewakili dzuriah (keturunan) para pendiri, mengurai silsilah perjuangan itu dengan khidmat.

Pada tahun 1950, Kiai Djazuli mendirikan pondok pesantren di tanah ini. Dengan kesederhanaan dan ketulusan yang tak perlu diragukan, beliau menyalakan obor ilmu di tengah masyarakat desa. Lima belas tahun kemudian, pada 1965 masa kepemimpinan KH. Ali Zuhri, yang merupakan peneruh sekaligus putra K. Djazuli (K. Djazuli wafat pada 1960), berdirilah Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah (YPI Rifa’iyah)— sebuah lembaga formal yang akan menjadi penerus cita-cita tersebut selama lebih dari setengah abad.

Baca juga: K. Djazuli dan Masyayikh: Pilar Tarajumah Rifa’iyah dari Sundoluhur Pati

Kini, 50 tahun sejak lembaga formal pertama (Madrasah Ibtidaiyah, berdiri 1970) meluluskan santri pertamanya, ribuan alumni telah menyebar ke berbagai penjuru Indonesia. “Niki mboten undanganipun panitia, tetapi undanganipun Simbah Kiai Djazuli,” kata KH. Abidun Zuhri penuh haru, mengingatkan bahwa yang mengumpulkan mereka semua hari ini bukan sekadar surat undangan, melainkan panggilan keberkahan dari para pendahulu yang soleh.

📅  Pondok Pesantren Miftahul Muhtadin didirikan: Tahun 1950 oleh Kiai Djazuli (Penamaan ‘Miftahul Muhtadin’ pada masa KH. Ali Zuhri)
🏛️  Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah Sundoluhur didirikan: Tahun 1965
🎓  Lembaga formal pertama (MI Miftahul Muhtadin): Tahun 1970
📜  Haflah Akhirus Sanah tahun ini: Wisudawan ke-50
🕌  Simbol kekokohan: Masjid Jami’ Taufiqillah tetap berdiri dengan gagahnya

Sanad Ilmu: Rantai Emas yang Tak Putus

Di sinilah keistimewaan Rifa’iyah yang membedakannya dari lembaga pendidikan biasa. KH. Abidun Zuhri memaparkan mata rantai keilmuan (sanad) yang menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar para santri.

Dari Mbah Kiai Djazuli, ilmu mengalir dari Mbah Abdul Manan Grobogan. Dari Mbah Zuhri, berasal dari Mbah Kiai Haji Abdul Malik, kemudian dari Mbah Bajuri Kretegan dan Mbah Soleh, lalu naik ke Mbah Abdul Qohar Rejosari. Sanad ini terus menjulang ke atas menembus batas geografis — hingga sampai kepada Syekh Haji Ahmad Rifa’i, sang pelopor gerakan Rifa’iyah.

Syekh Ahmad Rifa’i sendiri, sebagaimana tercatat dalam manakib dan buku-buku sejarah, menuntut ilmu selama 12 tahun di Makkah dan Mesir. Di Mesir, beliau berguru kepada Syekh Ibrahim Al-Bajuri, pimpinan tertinggi Al-Azhar Al-Syarif — penulis kitab Hasyiyah Fathul Qarib yang masyhur. Beliau juga menimba ilmu dari Syekh Asy-Syarqawi, penulis Syarah Al-Hikam, yang di masanya aktif melawan penjajahan Prancis di Mesir.

“Kita di dalam beragama tidak sekedar berdasarkan cerita-cerita jarene ketoke, tetapi berdasarkan basirah — berdasarkan bukti yang nyata.”  — KH. Muhammad Abidun Zuhri, Lc.

Sanad ini bukan sekadar data historis. Ia adalah jaminan otentisitas — bahwa ilmu yang dipelajari para santri Miftahul Muhtadin hari ini tersambung langsung ke ulama-ulama besar Timur Tengah, dan dari mereka kepada Rasulullah SAW. Inilah yang disebut KH. Abidun Zuhri sebagai “sanad ilmiah” — ikatan jiwa yang menjaga kemurnian agama dari generasi ke generasi.

Prosesi Wisuda: Satu Fase Usai, Perjalanan Berlanjut

Prosesi wisuda berlangsung dengan tertib dan penuh haru. Satu per satu wisudawan dipanggil naik ke panggung kehormatan. Pengalungan samir dilakukan oleh kepala lembaga masing-masing: Kepala RA Ibu Siti Muayanah, S.Pd.; Kepala MI Ibu Indah Muslihatin, S.Pd.; Kepala MTs Bapak Ali Mahrus, S.Pd.I.; dan Kepala SMA Bapak Ali Mashadi, S.Ag.

Di antara ribuan kisah yang tersembunyi di balik senyum para wisudawan, satu syair berbahasa Jawa mengalun pelan dari panggung — sebuah nasihat klasik tentang sifat murid yang baik, warisan tak ternilai yang terus dilestarikan:

“Sifate murid ingkang bagus iku limo” — ada lima sifat murid yang baik: terus-menerus berbuat kebaikan kepada guru, berperilaku santun, menghormati guru, menjaga amal baik, dan ikhlas dalam segala langkah. Kalimat-kalimat itu meluncur dalam bahasa Jawa klasik yang bersahaja, namun mengandung kedalaman tasawuf yang tak terkira.

Sambutan Perwakilan Wisudawan

Saudari Sofia, mewakili seluruh mutakharrijin mutakharrijat, berdiri di atas panggung dengan suara yang bergetar namun mantap. Ia berucap:

“Hari ini bukan tentang perpisahan, melainkan tentang perjalanan panjang yang kita lalui bersama. Bertahun-tahun kita datang ke sekolah dengan berbagai cerita — datang dengan rasa semangat, dengan rasa malas, pernah merasa lelah, dan juga ingin menyerah. Namun pada akhirnya kita mampu hingga titik ini.”  — Sofia, Perwakilan Wisudawan SMA Rifa’iyah

Ia melanjutkan dengan mengutip sebuah pepatah yang menggetarkan jiwa: “Murabbi — jika bukan karena guruku, maka saya tidak akan pernah mengenal Tuhanku.” Sebuah pengakuan tulus yang merangkum ribuan jam belajar, teguran, bimbingan, dan doa para guru.

Catatan Prestasi: Bukti Nyata Kualitas

Tahun ini, Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah menorehkan tinta emas dalam sejarahnya. Panitia mengumumkan deretan prestasi yang membuktikan bahwa madrasah yang berpijak pada nilai-nilai klasik Islam pun mampu bersaing di arena nasional.

Diterima di Perguruan Tinggi Negeri

Shofieyah Diterima di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang — Jurusan Biologi (SNPB) dan UIN Sunan Kudus Jurusan Ekonomi Syariah (SPAN-PTKIN)
Fadholallohu Robbuna Diterima di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang — Jurusan Hubungan Internasional (SNBP)
Muhammad Hafidz Zuhri Alhakimi Diterima di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) — Jurusan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) – SNBP
Muhammad Kafa Nafisa Diterima di Universitas Negeri Semarang (Unnes) — Jurusan Manajemen Bisnis (SNBT)

Keberhasilan ini disambut dengan tepuk tangan meriah hadirin. Khususnya Muhammad Hafidz Zuhri Alhakimi, yang diterima di jurusan Artificial Intelligence — sebuah pencapaian yang mempertemukan tradisi pesantren dengan teknologi masa depan dengan cara yang paling indah.

Penghafal Al-Qur’an

Lebih mengharukan lagi, beberapa alumni SMA Rifa’iyah sekaligus santri Pondok Pesantren Miftahul Muhtadin telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an: satu santri Kang Alif Kana menghafal 15 juz, dan Kang Hasdik dari Wonosobo telah merampungkan 30 juz penuh. Allahu Akbar.

Alumni di Al-Azhar Kairo

Tidak berhenti di situ. Pondok Pesantren Miftahul Muhtadin telah mengirimkan lima alumni ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir — lembaga pendidikan Islam tertua dan paling bergengsi di dunia. Salah satunya, Ustazah Athi’ Dina Nasicha, Lc., bahkan tengah menempuh program magister (S2) di Al-Azhar.

“Belajar di Al-Azhar itu gratis dari dulu sampai sekarang, karena mereka mempunyai sistem wakaf yang menggaji guru dan memberi beasiswa kepada murid-murid,” terang KH. Abidun Zuhri, seolah ingin mengingatkan bahwa nilai-nilai wakaf dan keikhlasan yang diajarkan di Miftahul Muhtadin memiliki resonansi langsung dengan peradaban Islam di sana.

🏆  4 Siswa SMA Rifa’iyah diterima di PTN (Undip, Unesa, Unnes dan UIN Sunan Kudus)
🕌  1 Santri hafal 30 juz Al-Qur’an; 1 santri hafal 15 juz
✈️  5 Alumni belajar di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir
📚  1 Ustazah sedang menempuh S2 di Al-Azhar (Ustazah Athi’ Dina Nasicha, Lc.)

Suara Orang Tua: Tiga Pesan untuk Penerus

Bapak Zainal Abidin, mewakili seluruh wali santri dan wali murid, tampil dengan bahasa Jawa yang halus namun penuh makna. Setelah menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada para guru, ia menitipkan tiga pesan penting kepada para wisudawan:

  1. Al-Ilmu bit-Ta’allum — Ilmu hanya bisa diraih dengan belajar sungguh-sungguh. Para wisudawan, khususnya lulusan MTs, diingatkan bahwa belajar membaca dan menulis kitab selama tiga tahun belumlah cukup. Perjalanan ilmu harus terus dilanjutkan.
  2. Al-Barakah bil-Khidmah — Keberkahan ilmu datang dari pengabdian. Para santri dianjurkan untuk terus berkhidmah di Pondok Miftahul Muhtadin — baik sebagai pengurus maupun dalam peran apa pun — karena di sanalah sumber keberkahan.
  3. Al-Manfa’ah bi-Rida Syeikh— Manfaat ilmu bergantung pada ridha guru. Jadikanlah para guru senang dan rela, agar ilmu yang diperoleh membawa manfaat sejati bagi agama dan kehidupan.

Mauidah Hasanah: Hakikat Hidup dan Warisan Orang Saleh

Puncak acara adalah mauidah hasanah yang disampaikan oleh KH. Isrofi Mahfudz, Ketua Pimpinan Wilayah Rifa’iyah Jawa Tengah dari Batang. Dengan gaya penyampaian yang khas — berpindah lincah antara bahasa Jawa, Indonesia, dan kutipan Arab — beliau membawa hadirin menyelami tiga mutiara hikmah yang dalam.

Mutiara Pertama: Kesalihan Leluhur, Penjaga Keturunan

KH. Isrofi mengawali dengan kisah Al-Qur’an yang sangat terkenal namun sering dilupakan maknanya — kisah Nabi Khidir AS yang mendirikan kembali tembok yang hampir roboh tanpa diperintah siapa pun. Ketika Nabi Musa AS bertanya heran, Nabi Khidir menjawab (QS. Al-Kahfi: 82):

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Dan adalah ayah keduanya seorang yang saleh.” Imam Al-Qurtubi menafsirkan ayat ini: di sini terdapat dalil bahwa Allah SWT menjaga seseorang yang saleh, menjaga harta bendanya, bahkan menjaga keturunannya — meskipun dari kejauhan.

“Kalau hari ini orang-orang Sundoluhur masih eksis, tasih istikomah netepi iman lan Islam, meniko mboten saged lepas kalian kesolihan ketakwaan para pendahulu kita. Wonge biyen nek ngibadah ora nggo awake dewe — orang-orang hebat dulu beribadah bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk anak cucunya.”  — KH. Isrofi Mahfud, Ketua PW Rifa’iyah Jawa Tengah

Beliau lalu mengutip Said ibn Musayyab, seorang tabi’in besar, yang pernah berkata kepada putranya: “La’azidanna shalati alaika” — Aku sungguh akan menambah shalatku demi (kebaikan) mu. Para ulama dahulu beribadah bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga sebagai amal jariah bagi masyarakat dan keturunan mereka.

Mutiara Kedua: Hakikat Hidup Adalah Perlombaan

Mengambil ayat pembuka khutbahnya — Kullu nafsin dza’iqatul maut (QS. Al-Mulk: 2) — KH. Isrofi mengajak hadirin merenungkan mengapa Allah menciptakan mati dan hidup. Jawaban Al-Qur’an tegas:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Hidup ini, kata beliau, adalah seperti festival film. Allah ingin memberikan “Nobel” kepada penyapu terbaik, pembantu terbaik, aktor terbaik. Yang dinilai bukan jabatan, bukan harta, bukan usia — melainkan kualitas amal.

Imam Fudhail ibn ‘Iyad menafsirkan “ahsanu amala” dengan dua syarat: aswabuhu — paling benar menurut syariat, dan akhlashuhu — paling ikhlas. Inilah mengapa Mbah Rifa’i mengajarkan tiga pilar yang tidak bisa dipisahkan:

  • Syariat — landasan semua ibadah dan muamalah. “Man shala jahilan bikaifiyatil wudui wash-shalah lam tasihha shalatuju” — ibadah tanpa ilmu syariat adalah batal.
  • Tarekat — motivasi dan tujuan. Menata niat agar setiap langkah mengarah kepada Allah SWT.
  • Hakikat — memandang segala sesuatu sebagai karunia Allah. “Salah tingkah zohir batin saking Allah panguasan” — seluruh gerak lahir dan batin adalah milik dan kuasa Allah.

Mutiara Ketiga: Hati yang Bersih, Kunci Surga

KH. Isrofi menutup tausiyahnya dengan sebuah hadis riwayat Imam Ahmad yang memikat. Rasulullah SAW tiga kali berkata kepada para sahabat: “Telah datang kepada kalian seorang laki-laki dari penduduk surga.” Sahabat Abdullah ibn Amr ibn Ash pun penasaran. Ia meminta izin menginap tiga hari di rumah lelaki tersebut untuk menyelidiki apa rahasia ibadahnya.

Hasilnya mengejutkan. Lelaki itu tidak banyak shalat malam. Ibadahnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. Hingga ketika hendak pamit, Abdullah bertanya langsung. Lelaki itu menjawab:

 مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ  مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ.

فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ.

Artinya: “Tidak ada amalan khusus selain yang telah engkau lihat. Hanya saja aku tidak menemukan dalam diriku kecurangan (ghisy), kedengkian, atau niat buruk terhadap seorang pun dari kaum muslimin, dan aku tidak iri kepada siapa pun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya.”

Abdullah berkata: “Inilah yang membuatmu mencapai derajat itu, dan inilah yang sulit kami lakukan.”

— Lelaki Ahli Surga dalam Hadis Riwayat Imam Ahmad

KH. Isrofi menutup dengan pesan yang meresap: kita boleh berbeda, kita boleh bersaing, kita boleh berlomba-lomba dalam kebaikan. Tetapi umat Islam tidak boleh bercerai-berai. Beda dalam perjuangan, tapi satu dalam semangat dan tujuan.

Penutup: Warisan yang Hidup

Saat azan Dzuhur mengalun, acara pun ditutup dengan doa yang dipimpin Kiai Hamidun dari Talun Kayen. Tangis haru dan senyum bahagia bercampur aduk di wajah para wisudawan, orang tua, dan guru. Foto-foto bersama abadi diabadikan — kenangan yang akan dikenang seumur hidup.

Haflah akhirus sanah ke-50 ini bukan hanya tentang wisuda. Ini adalah perayaan kesinambungan. Ini adalah bukti bahwa tradisi yang dibangun di atas keikhlasan, kesabaran, dan sanad keilmuan yang sahih tidak akan lekang oleh waktu. Dari Kiai Djazuli, mengalir ke KH. Ali Zuhri, menerus ke KH. Muhammad Toha Ja’far dan KH. Muhammad Abidun Zuhri, dan kini mengucur ke ratusan wisudawan yang siap menerangi Indonesia.

Di bawah langit Sundoluhur, di tanah yang pernah dibasahi keringat para masyayikh, satu lilin baru telah dinyalakan. Dan cahayanya — insyaallah — tidak akan pernah padam.

مَنِ اللّٰهُ مَوْلَاهُ، فَلَا يَضِيعُ وَلَا يَخِيبُ

Siapa yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya, ia tidak akan sia-sia dan tidak akan kecewa.

Tokoh-Tokoh Kunci dalam Acara

NAMA / JABATAN PERAN DALAM ACARA
KH. Isrofi Mahfudz Ketua PW Rifa’iyah Jawa Tengah — Penyampai Mauidah Hasanah
KH. Muhammad Abidun Zuhri, Lc. Pengasuh Ponpes Miftahul Muhtadin sekaligus Pembina YPI Rifa’iyah Sundoluhur & Zuriah — Sambutan Yayasan
KH. Muhammad Toha Ja’far Pembina YPI Rifa’iyah Sundoluhur & Zuriah
KH. Ahmad Rifa’i Ketua PD Rifa’iyah Kabupaten Pati — Sambutan PD
Kiai Muhammad Nur Alim Ketua YPI Rifa’iyah
Bapak Zainal Abidin Perwakilan Wali Murid — Sambutan Wali Murid
Shofieyah Wisudawan SMA Rifa’iyah — Sambutan Perwakilan Wisudawan
Ustazah Nurul Zakiah Alumni SMA Rifa’iyah Ambarawa — Tilawatil Qur’an

Baca juga: Rakaat Panjang Rifaʼiyah: Merawat Benih, Menuai di 2045

Reportase ini disusun berdasarkan transkrip rekaman acara Haflah Akhirus Sanah & Haul ke-68 Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah Sundoluhur, Kayen, Pati — Jawa Tengah


Penulis: Ahmad Saefullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Haul K. DjazuliHaul Rifa'iyahKH Muhammad Abidun ZuhriKH. Ali ZuhriKH. Isrofi MahfudzMasyayikh Rifa’iyahPendidikan IslamPondok Pesantren Miftahul MuhtadinRifaiyah Patisanad keilmuanSundoluhur Kayen PatiTarajumahUlama Rifa’iyahYPI Rifa'iyah
Previous Post

Khutbah Jumat: Mengokohkan Ibadah dengan Ilmu dan Menguji Keikhlasan Hati

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id