Temanggung – Malam 1 Muharam 1448 Hijriah yang bertepatan dengan Senin (15/6/2026) menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar Perguruan Islam Pondok Pesantren (PIPP) Mambaul Hikmah Bantengan, Temanggung. Pada malam tersebut, pondok pesantren yang berada di kawasan pegunungan itu menggelar Haflah Akhiruddirosah ke-28 sekaligus Wisuda Periode VIII bagi para santri yang telah menyelesaikan masa belajarnya.
Sebanyak 76 santri diwisuda, terdiri atas 41 santriwati dan 35 santriwan. Acara yang berlangsung di halaman kompleks putri PIPP Mambaul Hikmah tersebut dihadiri ribuan tamu dan jemaah dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut narasumber utama Prof. Dr. KH. Abdul Djamil, M.A., Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Temanggung Agus Sujarwo, Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kabupaten Temanggung Ahmad Syafei, pimpinan Pondok Pesantren Riyadhotus Sholihin Pomahan KH. Imbuh Jumali, jajaran Pengurus Daerah Rifaiyah Temanggung, Forkopimcam Wonoboyo, serta Kepala Desa Kebonsari.
Diperkirakan lebih dari 3.000 jemaah yang terdiri atas wali santri, keluarga besar alumni, dan warga Jam’iyah Rifaiyah memadati lokasi acara hingga akhir kegiatan.
Pesantren Melahirkan Generasi Teladan
Mewakili Bupati Temanggung, Kabag Kesra Agus Sujarwo menegaskan bahwa Haflah Akhiruddirosah bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan tonggak penting dalam perjalanan hidup para santri.
“Ikhtiar yang dibarengi doa dan kesabaran akan membuahkan keberhasilan yang membanggakan bagi guru, lembaga, maupun orang tua,” ujarnya.
Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam sejarah bangsa Indonesia karena telah melahirkan generasi yang memiliki kecintaan terhadap agama sekaligus tanah air.
“Santri harus menjadi teladan di tengah masyarakat melalui kedisiplinan, sikap tawaduk, dan kemampuannya memberi manfaat bagi umat,” katanya.
Ia juga menilai pesantren mampu menjaga tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama sekaligus terbuka terhadap perkembangan zaman dengan sikap kritis dan selektif.
Senada dengan itu, Kasi Pontren Kementerian Agama Kabupaten Temanggung Ahmad Syafei menegaskan bahwa lulusan pesantren memiliki peluang yang luas untuk berkiprah di berbagai bidang.
“Yang terpenting adalah meningkatkan literasi dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman yang berlangsung sangat cepat,” tegasnya.
Alumni Harus Terus Belajar
Khodimul Ma’had PIPP Mambaul Hikmah, KH. Nur Yasin, menyampaikan bahwa keberhasilan pendidikan santri tidak hanya ditentukan oleh pondok pesantren, tetapi juga dukungan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama di pesantren masih merupakan fondasi dasar yang harus terus dikembangkan melalui pendidikan lanjutan maupun pembelajaran mandiri di tengah masyarakat.
“Selesai belajar di pondok bukan berarti selesai menuntut ilmu. Santri harus terus belajar, baik di pesantren lain, perguruan tinggi, maupun melalui pengalaman kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Ia mengingatkan para alumni agar mampu menjaga nama baik almamater serta menerapkan nilai-nilai yang diperoleh selama mondok.
“Jangan menjadi santri yang ketika di pondok taat aturan, tetapi setelah pulang justru kehilangan arah. Ingat, alumni membawa nama pondok,” pesannya.
KH. Nur Yasin menegaskan bahwa kualitas alumni akan menentukan citra dan perkembangan lembaga di masa mendatang. Semakin banyak alumni yang memberi manfaat bagi masyarakat, semakin besar pula kontribusi pesantren dalam penyebaran ilmu dan dakwah.
Santri Harus Berani dan Pantang Menyerah
Dalam tausiyahnya, Prof. Dr. KH. Abdul Djamil, M.A. menyampaikan tiga pesan penting kepada para santri dan alumni.
Pertama, santri harus memiliki keberanian dalam belajar dan mengembangkan kemampuan yang telah diperoleh.
“Bahasa tidak cukup dipelajari secara teori, tetapi harus dipraktikkan secara terus-menerus agar menjadi kebiasaan,” jelasnya.

Kedua, santri tidak boleh mudah putus asa. Menurutnya, proses menuntut ilmu membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketekunan.
Ia mencontohkan perjalanan para ulama besar yang membutuhkan waktu panjang untuk mencapai puncak keilmuan. Karena itu, santri yang belajar lebih lama tidak perlu merasa rendah diri.
“Selesai lebih cepat memiliki kebanggaan tersendiri, tetapi belajar lebih lama juga merupakan bagian dari proses pematangan ilmu,” tuturnya.
Pentingnya Kesadaran Sejarah
Pesan ketiga yang disampaikan Prof. Abdul Djamil adalah pentingnya membangun kesadaran sejarah.
“Orang yang melupakan sejarah tidak akan mampu menghargai jasa para pendahulunya,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa sejarah perjuangan pesantren dan para ulama merupakan bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia. Salah satu tokoh yang diangkatnya adalah KH. Ahmad Rifa’i, ulama pejuang asal Kalisalak yang pada masa kolonial pernah dianggap sebagai pengganggu keamanan, namun kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah.
Menurutnya, perjalanan hidup KH. Ahmad Rifa’i menunjukkan bahwa perjuangan dakwah, pendidikan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan merupakan bagian penting dalam sejarah bangsa.
Prof. Abdul Djamil juga mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah pesantren terbesar di dunia. Keberadaan ribuan pesantren tersebut menjadi bukti besarnya kontribusi ulama dan lembaga pendidikan Islam dalam membangun peradaban bangsa.
“Kita wajib bersyukur dengan cara melestarikan, mempelajari, dan mengembangkan ajaran para ulama pendahulu,” pungkasnya.
Penutup
Haflah Akhiruddirosah ke-28 dan Wisuda Periode VIII PIPP Mambaul Hikmah tidak hanya menjadi perayaan kelulusan 76 santri, tetapi juga momentum meneguhkan kembali peran pesantren sebagai pusat pendidikan, pembentukan karakter, dan pelestarian nilai-nilai perjuangan.
Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, para alumni diharapkan mampu menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta memiliki kesadaran sejarah sebagai bekal untuk mengabdi kepada agama, masyarakat, dan bangsa.
Baca Juga: Malam 1 Muharram 1448 H, PW AMRI Provinsi Riau Resmi Terbentuk
Penulis: Abdul Manan
Editor: Yusril Mahendra






