Di sebuah kampung kecil, seorang lelaki tua bernama Kasan selalu menyimpan Al-Qur’an di atas rak kayu di sudut rumahnya. Sampulnya hijau tua. Sudah kusam dimakan usia.
Setiap pagi, Kasan melewati rak itu. Setiap malam, ia melihatnya sebelum tidur. Ia merasa tenang hanya karena Al-Qur’an itu ada di rumahnya.
“Syukurlah,” gumamnya suatu malam. “Aku masih punya Qur’an.”
Namun bertahun-tahun berlalu. Qur’an itu tetap berada di tempat yang sama. Tidak banyak berubah—kecuali debu yang perlahan menebal di atasnya.
Suatu hari, cucunya pulang dari pesantren. Ia melihat sang kakek sedang duduk termenung di depan rak.
“Kek, kenapa Qur’annya tidak pernah dibaca?”
Kasan terdiam. Tangannya gemetar mengambil kitab itu. Ia meniup debu yang menempel di sampulnya. Debu beterbangan di udara. Entah mengapa, mata Kasan tiba-tiba basah.
“Cucuku,” katanya lirih, “ternyata selama ini aku bukan kehilangan Qur’an.”
Ia berhenti.
“Aku yang kehilangan jalan menuju Qur’an.”
Kalimat itu menggantung di ruang kecil yang sunyi. Cucunya tidak menjawab.
Kasan membuka lembar pertama. Jemarinya menyentuh tulisan yang selama puluhan tahun hanya ia pandangi sebagai benda suci.
Lalu ia membaca. Terbata-bata.
Satu ayat.
Kemudian satu ayat lagi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah itu tidak hanya memiliki Al-Qur’an. Rumah itu mulai dihidupkan oleh Al-Qur’an.
Barangkali demikianlah keadaan manusia. Kita bangga memiliki mushaf di rumah, tetapi belum tentu membiarkan ayatnya tinggal di hati. Kita mampu membeli Al-Qur’an dengan uang, tetapi belum tentu mampu membeli waktu untuk membacanya. Kita mampu menghafal nama-nama surah, tetapi kadang lupa mengamalkan pesan yang ada di dalamnya.
KH. Ahmad Rifa’i telah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana, tetapi menusuk jauh ke dalam:
Akeh wong podo duwe Qur’an kang ono
Gholib teqsir ilmune tan diretenono.
Banyak orang memiliki Al-Qur’an yang ada,
namun kebanyakan kurang ilmunya dan tidak diperhatikan.
Sebab persoalannya bukan selalu tentang ada atau tidak adanya Al-Qur’an di rumah kita. Persoalannya adalah: Apakah Al-Qur’an sudah ada di dalam hidup kita?
Jangan sampai kelak ketika tangan kita sudah tak mampu membuka mushaf, mata sudah tak mampu membaca hurufnya, dan umur telah sampai di penghujung perjalanan, barulah kita sadar: Al-Qur’an ternyata selama ini begitu dekat. Hanya saja… kitalah yang terlalu jauh.
Baca Juga: Alim Adil atau Alim Fasiq?
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra

