Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Profil Nabi Muhammad SAW: Wajah Yang Menerangi Zaman

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
August 24, 2026
in Kolom
0
Profil Nabi Muhammad SAW: Wajah Yang Menerangi Zaman
0
SHARES
27
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Rindu Yang Tak Pernah Padam

Berapa banyak dari kita pernah membayangkan wajah itu? Wajah yang cahayanya disebut menyerupai purnama, yang senyumnya menenteramkan hati yang gundah, yang langkahnya membawa keteduhan ke mana pun ia singgah. Pertanyaan itu terus hidup dari zaman ke zaman: seperti apa sesungguhnya rupa Rasulullah saw.? Bagaimana ia berdiri, berjalan, duduk, tersenyum, atau diam?

Umat ini diberi keberuntungan yang jarang dimiliki umat mana pun. Jika tokoh-tokoh besar dunia lain hanya dikenang lewat legenda yang kabur atau lukisan khayalan, sosok Nabi Muhammad saw. justru diabadikan oleh orang-orang yang benar-benar hidup di sisinya—istri, sahabat, bahkan cucunya sendiri—dengan ketelitian yang menakjubkan. Mereka menyimpan setiap lekuk wajahnya, setiap cara ia berbicara, bahkan cara ia berdiam diri, agar cahaya itu tidak pernah pudar dari ingatan orang-orang yang mencintainya.

Ada sahabat yang begitu terpukau oleh ketampanannya hingga bertanya dengan polos, “Siapa yang lebih tampan, engkau atau Yusuf?” Nabi hanya tersenyum dan menjawab dengan rendah hati, “Yusuf memang lebih tampan, tetapi aku lebih manis.” Ada pula yang begitu segan oleh wibawanya sampai tubuhnya gemetar ketika berhadapan dengannya. Nabi pun menenangkannya, “Tenanglah, aku ini hanya manusia biasa, yang juga suka makan daging.”

Yang lain mengenang sentuhan tangannya: tidak pernah mereka menyentuh sutra yang lebih lembut daripada telapak tangan itu, dan tidak pernah pula mencium wewangian yang melebihi keharuman tubuhnya. Seorang sahabat bahkan bercerita, begitu ia menggenggam kedua tangan Nabi lalu menempelkannya ke wajahnya sendiri, ia merasakan kesejukan yang melebihi salju dan keharuman yang melampaui kesturi.

Kisah-kisah kecil semacam inilah yang dihimpun ulama sejak masa awal Islam—di antaranya oleh Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi dalam karyanya, Al-Anwār fī Syamā’il an-Nabiyy al-Mukhtār. Namun kesan yang berserak dari para sahabat itu hanyalah pecahan-pecahan cahaya. Ada satu riwayat yang jauh lebih utuh dan runtut, dituturkan bukan oleh orang luar, melainkan oleh keluarga terdekat Nabi sendiri.

Potret Dari Bibir Yang Jujur

Kesaksian Hind bin Abi Halah

Al-Hasan bin Ali, cucu Nabi yang sempat merasakan hangatnya dekapan sang kakek semasa kecil, tumbuh dengan kerinduan yang tak pernah selesai. Ia pun mendatangi pamannya dari pihak ibu, Hind bin Abi Halah—putra Sayyidah Khadijah dari suami sebelumnya—seorang yang dikenal piawai melukiskan sesuatu dengan kata-kata. Al-Hasan ingin memiliki sesuatu yang bisa ia genggam erat-erat dari sosok kakeknya.

عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ: سَأَلْتُ خَالِي هِنْدَ بْنَ أَبِي هَالَةَ، وَكَانَ وَصَّافًا، عَنْ حِلْيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنَا أَشْتَهِي أَنْ يَصِفَ لِي مِنْهَا شَيْئًا أَتَعَلَّقُ بِهِ، فَقَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخْمًا مُفَخَّمًا، يَتَلَأْلَأُ وَجْهُهُ تَلَأْلُؤَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

“Dari Al-Hasan bin Ali, ia berkata: ‘Aku bertanya kepada pamanku, Hind bin Abi Halah—dan ia dikenal pandai menggambarkan sesuatu dengan kata-kata—tentang sifat-sifat Nabi saw., sedang aku sangat ingin ia menuturkan sesuatu tentang beliau yang bisa kupegang erat.’ Maka ia berkata: ‘Rasulullah saw. adalah pribadi yang agung lagi penuh wibawa; wajahnya bersinar bagaikan cahaya bulan purnama.’” (Riwayat Hind bin Abi Halah — HR. At-Tirmidzi, Asy-Syamā’il al-Muhammadiyyah; lihat pula Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, juz 6)

Dari titik itu, Hind melukis dengan detail yang jarang tertandingi. Tubuh Nabi saw. sedang—tidak menjulang di antara orang-orang bertubuh tinggi, namun tidak pula tenggelam di antara yang pendek. Kepalanya besar, rambutnya sedikit berombak, dan bila terurai panjang, tidak pernah melewati daun telinganya. Kulit wajahnya bercahaya, keningnya lapang, kedua alisnya panjang dan lentik tanpa bertaut, dengan sebuah pembuluh halus di antaranya yang tampak jelas hanya ketika ia marah.

Hidungnya mancung dengan cahaya yang menyelimutinya, sehingga orang yang tidak memandangnya dengan saksama bisa mengira ia sedang mendongak. Janggutnya lebat, matanya hitam pekat dan teduh, pipinya halus, mulutnya lebar dengan gigi yang renggang dan bersih. Sehelai bulu halus membelah dadanya hingga ke pusar, sementara lehernya digambarkan seindah leher patung perak yang bersih berkilau. Seluruh anggota tubuhnya serasi satu sama lain, dadanya bidang, dan bahunya lebar.

Ketika berjalan, ia melangkah dengan mantap, condong ke depan seolah sedang menuruni bukit—langkah yang ringan namun penuh tujuan, tak pernah gontai dan tak pernah terburu. Bila berhadapan dengan seseorang, ia menghadapkan seluruh tubuhnya, bukan sekadar menoleh. Dan dari seluruh kebiasaannya, ada satu yang paling menyentuh: ia selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan salam kepada siapa pun yang ia jumpai di jalan.

Ucapan Yang Tak Pernah Sia-Sia

Imam Hasan melanjutkan pertanyaannya kepada sang paman tentang cara Rasulullah saw. berbicara. Jawaban yang ia terima melukiskan pribadi yang jarang bicara kecuali bila memang diperlukan—namun setiap kali membuka mulut, kata-katanya mengalir fasih, singkat, padat, tanpa satu kata pun yang berlebihan, dan tanpa satu keterangan penting pun yang tertinggal.

Ia berbicara lembut, tak pernah kasar, tak pernah menyakiti. Ia memandang setiap anugerah, sekecil apa pun, sebagai sesuatu yang besar, dan tak pernah sekali pun mengeluh. Dunia tidak pernah membuatnya marah. Tetapi bila hak seseorang dirampas, kemarahannya begitu murni sehingga tak seorang pun sanggup menghalanginya sampai hak itu dikembalikan kepada pemiliknya.

Majelisnya adalah majelis kesabaran, kehormatan, kejujuran, dan kepercayaan. Tidak ada suara yang ditinggikan, tidak ada tuduhan yang dilontarkan sembarangan. Semua orang yang duduk bersamanya merasa menjadi orang yang paling istimewa, karena ia memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama—rendah hati kepada yang lemah, hormat kepada yang tua, penyayang kepada yang muda, dermawan kepada yang papa, dan ramah kepada siapa pun yang baru datang.

Diam Yang Penuh Makna

Bahkan diamnya Rasulullah saw. pun bukan kekosongan. Ketika Imam Husain bertanya kepada ayahnya, Imam Ali, tentang hal ini—karena kisah yang sama juga diwariskan turun kepadanya—dijelaskan bahwa diamnya Nabi saw. lahir dari empat hal: kesabaran, kehati-hatian, pertimbangan yang matang, dan perenungan yang dalam.

Pertimbangannya selalu diarahkan untuk memandang dan mendengarkan setiap orang secara adil, sementara perenungannya digunakan untuk memilah mana yang bermanfaat dan mana yang sia-sia belaka. Ia memadukan kesabaran dengan lapang dada, sehingga tidak ada satu pun yang mampu membuatnya kehilangan kendali diri.

Tiga Bagian Waktu Seorang Rasul

Bagaimana Rasulullah saw. mengisi waktunya sendiri di rumah? Beliau membaginya menjadi tiga bagian yang tertata rapi: sebagian untuk beribadah kepada Allah, sebagian untuk keluarganya, dan sebagian lagi untuk dirinya sendiri. Bagian yang untuk dirinya itu pun kemudian dibaginya lagi—sebagian khusus untuk para sahabat dekat, sebagian lainnya terbuka untuk siapa saja dari kalangan umum.

Tidak sedikit pun waktu ia sisihkan semata untuk kepentingan pribadinya. Dalam bagian yang ia curahkan untuk orang lain, ia senantiasa mendahulukan mereka yang mulia keutamaannya dalam agama, lalu menggolongkan setiap orang sesuai dengan derajat kebaikannya—bukan karena keturunan atau kedudukan dunia, melainkan karena ketakwaan.

Majelis Kasih Sayang

Bagaimana Rasulullah saw. bergaul dengan para sahabatnya? Ia selalu ceria, lembut hati, dan ramah; tak pernah kasar, tak pernah berhati keras, dan tak pernah membentak. Ia tak suka mencari-cari kesalahan orang lain, juga tak suka memuji secara berlebihan. Bila ada perilaku yang tak disukainya, ia hanya mengabaikannya dengan cara yang halus, sehingga orang itu tidak tersinggung dan tidak putus asa.

Ia menjaga dirinya dari tiga hal: bertengkar, banyak bicara tanpa guna, dan mengungkit kesalahan orang. Ia tak pernah berkata kecuali dengan harapan mendatangkan kebaikan. Ketika ia berbicara, para pendengarnya menundukkan kepala penuh khidmat, seakan seekor burung sedang bertengger di atas kepala mereka; dan ketika ia berhenti bicara, barulah mereka kembali bersuara.

Ia biasa berpesan kepada para sahabatnya, “Jika kamu melihat orang yang memerlukan pertolongan, bantulah ia.” Ia tidak pernah menerima pujian kecuali dari orang yang benar-benar tulus, dan tidak pernah menyela pembicaraan orang lain kecuali bila orang itu telah melampaui batas kesopanan. Semua yang duduk bersamanya merasa dicintai sebagaimana seorang ayah mencintai anak-anaknya, karena ia memperlakukan mereka semua dengan cara yang sama.

Cahaya Yang Tak Pernah Padam

Potret yang dilukis Hind bin Abi Halah ini bukan sekadar catatan sejarah yang layak dikagumi dari kejauhan. Ia adalah cermin yang seharusnya kita dekatkan pada diri kita sendiri—pada cara kita berbicara, cara kita diam, cara kita membagi waktu, dan cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat, serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Tugas kita—Anda dan saya—bukan hanya menghafal detail wajah dan tutur katanya, melainkan membiarkan bayangan indah itu benar-benar hidup dalam keseharian kita: dalam cara kita menahan lisan, dalam cara kita membagi waktu untuk Allah, keluarga, dan sesama, serta dalam cara kita menyapa dan menuntun orang-orang yang lebih membutuhkan.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 107)

Selama umat ini masih mau mendengar dan meneladani, cahaya wajah yang digambarkan Hind bin Abi Halah kepada Al-Hasan bin Ali empat belas abad silam itu tidak akan pernah benar-benar padam.

Referensi

  1. Al-Qur’an al-Karīm: QS. Al-Qalam (68): 4; QS. Al-Ahzab (33): 21; QS. Al-Anbiya (21): 107.
  2. Riwayat Al-Hasan bin Ali dari Hind bin Abi Halah tentang sifat Rasulullah ﷺ — HR. At-Tirmidzi, Asy-Syamā’il al-Muhammadiyyah; Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, j. 6; Al-Baihaqi, Dalā’il an-Nubuwwah, j. 1.
  3. Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi, Al-Anwār fī Syamā’il an-Nabiyy al-Mukhtār.
  4. Ma’āni al-Akhbār, hlm. 83; ‘Uyūn Akhbār Ar-Ridhā, j. 1: 246.
  5. Ibn Katsir, As-Sīrah An-Nabawiyyah, j. 2: 601.
  6. Thabathaba’i, Sunan An-Nabi saw., hlm. 102–105.

Baca Juga: Makna Merdeka Menurut KH. Ahmad Rifa’i


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Akhlak RasulullahNabi MuhammadNabi Muhammad SAWProfil Nabi MuhammadRasulullahsirah nabawiyahSuri teladan
Previous Post

Korupsi: Krisis Hukum atau Akhlak?

Next Post

45 Pengurus PD Rifaiyah Temanggung Dilantik, Siap Jalankan Amanah dan Majukan Organisasi

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Next Post
45 Pengurus PD Rifaiyah Temanggung Dilantik, Siap Jalankan Amanah dan Majukan Organisasi

45 Pengurus PD Rifaiyah Temanggung Dilantik, Siap Jalankan Amanah dan Majukan Organisasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.