| Hari, Tanggal | Ahad, 10 Rabiul Awal 1448 H / 23 Agustus 2026 M |
| Tempat | Desa Wonorojo, Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah |
| Agenda | Pengajian Selapanan • Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW • Pelantikan Pimpinan Daerah Rifa’iyah Kabupaten Temanggung |
| Masa Khidmat | 1448–1453 Hijriah / 2026–2031 Masehi |
| Penyelenggara | Pimpinan Daerah Rifa’iyah Kabupaten Temanggung |
Ahad pagi, 10 Rabiul Awal 1448 Hijriah yang bertepatan dengan 23 Agustus 2026, jemaah Rifa’iyah dari berbagai penjuru Kabupaten Temanggung berdatangan ke Desa Wonorojo, Kecamatan Wonoboyo. Yang menanti mereka bukan sekadar pengajian selapanan sebagaimana biasa, melainkan sebuah majelis yang menghimpun tiga peristiwa sekaligus: kajian rutin bulanan yang menjadi napas keseharian jemaah Rifa’iyah, kegembiraan menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, serta pelantikan Pimpinan Daerah (PD) Rifa’iyah Kabupaten Temanggung untuk masa khidmat 1448–1453 Hijriah, atau 2026–2031 Masehi.
Majelis pagi itu dihadiri jajaran Dewan Syuro Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Pimpinan Wilayah Rifa’iyah Jawa Tengah, unsur pemerintah Kecamatan Wonoboyo beserta Forkopimcam, aparatur Pemerintah Desa Wonorojo, perwakilan organisasi masyarakat setempat, para kiai dan ibu nyai, serta pengurus organisasi otonom Rifa’iyah — AMRI, UMRI, HIMMAH, dan BARANUSA. Suasana kekeluargaan yang hangat berpadu dengan kekhidmatan seremoni organisasi, mengingatkan bahwa Rifa’iyah bukan sekadar wadah pengajian, melainkan sebuah rumah besar yang terus dirawat dari generasi ke generasi.
Pembukaan dan Sambutan Kehormatan
Majelis dibuka dengan pembacaan Al-Fatihah serta rangkaian doa dan tawasul yang dipimpin oleh Kiai Afan Dzul Fadhal dari Pekalongan, salah seorang Dewan Syuro Pimpinan Pusat Rifa’iyah. Dalam pembukaannya, beliau mengajak seluruh hadirin untuk memohon kelapangan hati dan kemudahan urusan, sebagaimana doa yang senantiasa dipanjatkan para penuntut ilmu: Rabbi isyrah li shadri wa yassir li amri.
Sambutan kehormatan kemudian disampaikan mewakili unsur pemerintah kecamatan oleh Bapak H. Anas Suprianto, S.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas konsistensi Rifa’iyah Kabupaten Temanggung dalam merawat tradisi keagamaan sekaligus tertib berorganisasi, serta menitipkan harapan agar kepengurusan baru dapat terus bersinergi dengan pemerintah desa dan kecamatan demi kemaslahatan bersama.
Pengesahan dan Pembacaan Surat Keputusan
Proses menuju pelantikan pagi itu sesungguhnya telah ditempuh melalui rangkaian musyawarah yang panjang. Musyawarah Daerah (Musda) Rifa’iyah Kabupaten Temanggung yang digelar pada 3 Safar 1448 H atau 18 Juli 2026 lebih dulu menetapkan sosok yang akan memimpin — Kiai Sobikun, S.Pd.I. Susunan kepengurusan lengkap kemudian dirampungkan melalui Rapat Pleno pada 4 Agustus 2026, sebelum akhirnya disahkan oleh Pimpinan Pusat Rifa’iyah melalui Surat Keputusan Nomor 035/SK-B/PP.Rifaiyah/12/2026 yang ditetapkan di Batang pada 20 Agustus 2026 dan ditandatangani oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Dr. H. Mukhlisin Muzarie, M.Ag.
Surat keputusan tersebut dibacakan langsung oleh delegasi Pimpinan Pusat yang hadir: KH. Afif Afadhol selaku Ketua Pimpinan Dewan Syura Pengurus Pusat Rifa’iyah, didampingi KH. Afan selaku Sekretaris Dewan Syura Pengurus Pusat, Kiai Imbuh Jumali, dan KH. Nur Yasin. Satu demi satu nama pengurus baru disebutkan, disambut takzim oleh seluruh hadirin sebagai penanda estafet kepemimpinan resmi berpindah tangan.
| Jabatan | Susunan Personalia PD Rifa’iyah Kab. Temanggung 2026–2031 |
| Ketua | KH. Sobikun, S.Pd.I |
| Anggota 1 | Imron Mujahidin, S.Pd.I |
| Anggota 2 | Abdul Manan, M.A. / S.IP |
| Anggota 3 | Amin Rindoi |
| Anggota 4 | Sodikin, S.Pd.I |
| Anggota 5 (Sekretaris) | Fuad Arifin |
| Anggota 6 | Budi Utomo, S.Pd.I |
| Anggota 7 | Tim Yati Nur Asin, M.Pd |
| Bendahara | Lutfi Abdillah |
| Wakil Bendahara | Dewi Haryanto |
Amanat Peralihan: Testimoni Kiai Nur Yasin
Sebelum tongkat estafet sepenuhnya berpindah, Kiai Nur Yasin — Ketua PD Rifa’iyah Kabupaten Temanggung masa khidmat 2021–2026 — menyampaikan refleksi menutup masa baktinya. Dengan nada rendah hati, beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran pengurus daerah yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran bagi perjalanan organisasi selama lima tahun terakhir, serta permohonan maaf atas kekurangan selama masa kepemimpinannya.
Demi kemajuan organisasi, saya berharap akan lebih mudah bagi generasi yang lebih muda untuk melanjutkan. Ini bukan soal mengundurkan diri, melainkan soal memberi ruang bagi regenerasi yang sehat. — Kiai Nur Yasin, Ketua PD Rifa’iyah Temanggung 2021–2026
Meski secara struktural telah menyerahkan amanah kepemimpinan, Kiai Nur Yasin menegaskan kesiapannya untuk terus mendampingi dan berjuang bersama demi kemajuan Rifa’iyah di Kabupaten Temanggung. Beliau juga berpesan kepada seluruh pengurus ranting agar terus menjaga budaya dan tradisi Rifa’iyah, sebab tanpa dukungan para pemimpin ranting, sekokoh apa pun kepengurusan daerah, perjuangan itu akan sulit membumi hingga ke akar rumput.
Pesan Mendalam dari Kiai Imbuh Jumali: Tiga Tanda Zuhud
Salah satu bagian paling berkesan dari majelis pagi itu adalah tausiah reflektif Kiai Imbuh Jumali, anggota Pengurus Pusat sekaligus Dewan Syuro Rifa’iyah yang telah puluhan tahun mendampingi perjalanan organisasi bersama Kiai Nur Yasin. Beliau membuka pesannya dengan mengenang tiga tanda kezuhudan yang diajarkan gurunya.
Tanda pertama, seorang yang zuhud tidak berbangga ketika kedudukan datang, dan tidak bersedih ketika kedudukan itu hilang. Beliau menceritakan bahwa jauh sebelum menjadi pemimpin Rifa’iyah, baik Kiai Nur Yasin maupun dirinya sendiri sesungguhnya telah lebih dulu memiliki pondok masing-masing — sehingga, dalam pandangannya, jabatan kepemimpinan organisasi ini tidak menambah apa pun bagi keduanya selain amanah dan tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan tulus.
Tanda kedua, keterbukaan dalam hal harta dan kekayaan. Kiai Imbuh Jumali bahkan mengibaratkan semangat ini dengan istilah LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) yang lazim dikenal dalam dunia pemerintahan — sebuah ajakan agar setiap pengurus Rifa’iyah berani hidup transparan, tidak menjadikan jabatan organisasi sebagai jalan memperkaya diri.
Tanda ketiga, sikap lapang menerima kritik. Beliau mengenang nasihat gurunya yang menjadi pegangan hidupnya hingga kini:
Ketika aku dipuji, aku justru sedih, sebab pujian mengurangi nilai amal. Ketika aku dikritik, aku tidak alergi terhadapnya — sebab kritik adalah guru. Semakin banyak yang mengkritik dengan benar, semakin ringan pula tugasku untuk memperbaiki diri. — diteladankan Kiai Imbuh Jumali dari gurunya
Kiai Imbuh Jumali juga mengungkapkan kebahagiaannya melihat buah dakwah Rifa’iyah yang mulai dirasakan luas — media dakwah organisasi yang semakin dikenal dan diapresiasi masyarakat, serta yang paling menyentuh hatinya, anak-anak generasi Rifa’iyah yang kini dapat bersekolah dengan baik dan istiqamah menunaikan salat berjamaah di masjid.
Kepada seluruh pengurus baru, beliau memaparkan tiga pilar yang menopang gerak organisasi Rifa’iyah: pertama, Dewan Syuro sebagai pemberi nasihat dan arah; kedua, tim manajerial yang merumuskan manhaj serta metode organisasi; dan ketiga, tim pergerakan atau harokah — beliau menyebutnya “pasukan lima kali delapan”, yakni empat puluh orang yang siap bergerak setiap kali sesepuh memberi instruksi. Amanah kepemimpinan ini, tegasnya, kelak akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana firman Allah SWT:
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا
“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 34)
Mau’idhoh Hasanah: Menyambut Cahaya Kelahiran Sang Nabi
Rangkaian majelis ditutup dengan mau’idhoh hasanah yang disampaikan Kiai Afan Dzul Fadhol, menautkan suasana Rabiul Awal dengan bekal-bekal ilmu yang relevan bagi kehidupan sehari-hari jemaah.
Beliau membuka ceramahnya dengan mengajak hadirin merenungi kisah masyhur tentang Abu Lahab, paman Nabi yang justru menjadi salah satu musuh utama dakwah beliau, hingga celaannya diabadikan dalam Surah Al-Lahab. Namun riwayat menyebutkan, karena kegembiraannya menyambut kabar kelahiran sang keponakan, Muhammad, Abu Lahab memerdekakan budaknya, Tsuwaibah al-Aslamiyah. Atas kegembiraan yang tulus itu — meski ia kekal dalam neraka — diriwayatkan bahwa siksanya diringankan setiap malam Senin.
Jika seorang yang celaannya diabadikan dalam Al-Qur’an saja mendapat keringanan karena kegembiraannya menyambut kelahiran Nabi, bagaimana lagi dengan seorang mukmin yang bergembira dan bershalawat kepada beliau sepanjang hidupnya? — Kiai Afan Dzul Fadhol
Dari kisah itu, beliau mengajak jemaah untuk menghidupkan kegembiraan menyambut Rabiul Awal dengan memperbanyak shalawat dan menebar kasih sayang, termasuk lewat kebiasaan sederhana namun agung: mengucapkan salam, baik kepada yang dikenal maupun yang tidak dikenal, sebagaimana pesan Nabi SAW.
أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Ceramah kemudian bergeser ke ranah fikih praktis seputar adab menjadi imam salat. Merujuk kitab Bughyatul Mustarshidin, Kiai Afan memaparkan tiga watak imam: imam yang “khianat”, yakni mengurangi kesempurnaan sunnah-sunnah salat, misalnya bertasbih kurang dari tiga kali dalam ruku’ dan sujud; imam yang menjaga sunnah secara proporsional; dan imam “ahli fitnah”, yakni memperpanjang bacaan secara berlebihan tanpa kerelaan makmum di belakangnya. Beliau mengingatkan bahwa kepemimpinan salat, sekecil apa pun, tetap menuntut kepekaan terhadap kondisi jemaah yang dipimpin — sebuah pelajaran yang beliau tautkan pula dengan semangat kepemimpinan organisasi yang baru saja dilantik.
Beliau juga menyinggung pentingnya umat mengenal batasan dosa besar (kaba’ir), merujuk pandangan Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kaba’ir yang merinci tujuh puluh dosa besar, serta Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Az-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kaba’ir yang memperluas cakupannya hingga sekitar empat ratus. Bagi Kiai Afan, upaya para ulama merinci jenis-jenis dosa itu sejalan dengan pentingnya mengenal batasan najis — keduanya sama-sama menjadi bekal agar seorang muslim mampu menjaga kesucian diri, lahir maupun batin.
Menutup ceramahnya, beliau mengingatkan larangan tasyabbuh — meniru gaya berpakaian atau perilaku lawan jenis secara berlebihan — sebagaimana disabdakan Nabi SAW:
لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan, dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (H.R. Bukhari)
Sebagai penutup, Kiai Afan Dzul Fadhol mengibaratkan kecintaan sejati kepada Nabi SAW dengan kepatuhan tulus seorang muda-mudi yang saling mencintai — bila cinta itu benar, ketaatan pada apa yang dicintai akan mengalir dengan sendirinya. Demikian pula kecintaan kepada Rasulullah SAW, semestinya melahirkan ketaatan yang hidup dalam keseharian, bukan sekadar ucapan di bibir.
Penutup: Doa dan Harapan Bersama
Majelis siang itu ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan bagi kepengurusan baru PD Rifa’iyah Kabupaten Temanggung masa khidmat 2026–2031, agar senantiasa diberi kekuatan menjaga amanah, merawat ukhuwah, serta melestarikan ajaran KH. Ahmad Rifa’i yang menjadi ruh pergerakan Rifa’iyah. Pembacaan Surah Al-Fatihah menjadi penutup rangkaian acara, mengiringi harapan bahwa cahaya Rabiul Awal yang menyertai pelantikan pagi itu akan terus menuntun langkah Rifa’iyah Temanggung dalam lima tahun ke depan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Baca juga: Reportase Majelis Ilmu: Menjaga Hak Setiap Huruf
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

