Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Reportase Majelis Ilmu: Menjaga Hak Setiap Huruf

Menyusuri Majelis Selapanan Ngaji Kitab Tahsinah, Warisan Ilmu Tajwid Syekh Ahmad Rifa’i yang Tetap Hidup di era Digital.

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
August 13, 2026
in Kolom
0
Reportase Majelis Ilmu: Menjaga Hak Setiap Huruf
0
SHARES
18
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

Acara Pengajian Selapanan Pimpinan Pusat Rifa’iyah
Kitab Tahsinah — Ilmu Makhorij dan Sifatil Huruf, karya Syekh Ahmad Rifa’i
Pembaca Kitab KH. Khairuddin Hasbullah (Wakil Ketua Dewan Syuro Rifa’iyah)
Tempat Mushola Al-Jailani, Gedung Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Watesalit, Batang, Jawa Tengah
Waktu Batang, 12 Agustus 2026
Siaran Disiarkan langsung (live streaming) dari Gedung Pimpinan Pusat Rifa’iyah melalui saluran: https://www.youtube.com/live/7BxIi9O4-jw?si=zfUVR4F1YeYJRe-i

Malam itu, di mushola Jaelani Gedung PP. Rifa’iyah Watesalit Batang menjadi majelis ilmu yang jangkauannya melampaui dinding-dindingnya sendiri. Dua abad setelah penanya pertama kali digoreskan, sebuah kitab Tahsinah Karangan Syekh Ahmad Rifa’i tentang sifat huruf Al-Qur’an kembali dibuka — kali ini disebarkan juga melalui kamera di kanal Youtube Rifaiyah Media, disaksikan jemaah yang tersebar di berbagai tempat.

Ketika Majelis Menyebar melalui Layar

Lewat siaran langsung, lantunan tawasul mengalun membuka pertemuan: al-Fatihah dihaturkan kepada junjungan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat, tabi’in, ulama, dan auliya — khususnya kepada Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir Jilani radhiyallahu ‘anhu — sebelum akhirnya sampai kepada pengarang kitab Tahsinah Syekh Ahmad Rifa’i yang malam itu hendak dikaji bersama.

Di balik layar ponsel dan komputer, entah berapa jemaah menyimak dari rumahnya masing-masing. Jemaah yang hadir di majlis juga meleber sampai pelataran mushola. Suasana begitu akrab, hangat, sesekali diselingi tawa lepas. Kajian malam itu adalah kelanjutan dari sebuah program panjang bertajuk Ngaji Bareng Online, mengupas Kitab Tahsinah, sebuah kitab ilmu tajwid, yang diampu oleh Romo Kiai Khairuddin Hasbullah didampingi oleh K. Akromuddin dan K. Abdul Basit Alhafidz, dua Kiai Muda dari Pekalongan.

Sebelum masuk ke materi, sang kiai menyempatkan diri menyapa hangat para hadirin, mengenang persahabatan lama dengan KH. Abdul Aziz Badri Al-Maghfurlah ayah dari K. Abdul Basit Alhafidz. “Kalau sore suruh main bola, kalau malam suruh ngaji,” kenangnya sambil tersenyum, membangkitkan gelak tawa jemaah — sebuah pengingat kecil namun bermakna, bahwa ilmu agama di lingkungan pesantren tak pernah benar-benar terpisah dari kehangatan relasi antar manusia, dari sanad guru-murid yang menyambung generasi demi generasi hingga ke ruang virtual malam itu.

Sang Pengarang dan Zamannya

Kitab Tahsinah bukan sekadar kumpulan kaidah bunyi huruf Arab. Ia lahir dari keresahan seorang ulama besar, Syekh Ahmad Rifa’i, terhadap kondisi keberislaman masyarakat Jawa pada masanya. Dalam pengantar kajian, Kiai Khairuddin mengutip sebuah catatan pengamat Belanda yang menyebut bahwa keislaman orang Jawa kala itu, hanya sebatas ritus permukaan — sunat, puasa, larangan makan babi — belum disertai pemahaman akidah dan praktik ibadah yang benar.

Di tengah kondisi itulah Syekh Ahmad Rifa’i, menurut penuturan Kiai Khairuddin, hidup semasa dengan era Pangeran Diponegoro, mengemban misi besar: ngesahna iman lan ibadahe wong Jawa — menyahihkan keimanan dan peribadatan orang Jawa. Dari keprihatinan ini lahir sejumlah karya, di antaranya Kitab Syarihul Iman beserta ringkasannya, dan kemudian Tahsinah, yang secara khusus membenahi rukun qauli — bacaan lisan — dalam salat, agar umat tidak sekadar melafalkan, tetapi benar-benar melafalkan dengan hak setiap hurufnya.

“Ngesahna iman lan ibadahe wong Jawa.”

— Visi Syekh Ahmad Rifa’i, sebagaimana disampaikan dalam majelis

Di sinilah kajian malam itu menemukan kedalamannya: bukan sekadar pelajaran fonetik, melainkan proyek intelektual dan spiritual seorang ulama yang berjuang membenahi keberagamaan sebuah bangsa, jauh sebelum siaran langsung semacam ini pernah terbayangkan.

Iman Yang Sah, Sebelum Fasih Berbicara

Sebelum berbicara tentang bunyi huruf, Kiai Khairuddin menekankan dahulu sebuah fondasi yang menurutnya kerap terlewat: iman yang sekadar diucapkan belum tentu iman yang diterima di sisi Allah. Ia mengutip firman-Nya dalam Surah Al-Hujurat tentang orang-orang Arab Badui yang mengaku beriman, padahal pengakuan itu baru sebatas ketundukan lahiriah dan belum benar-benar meresap ke dalam hati.

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah “kami telah tunduk”, karena iman belum masuk ke dalam hatimu.’” (QS. Al-Hujurāt [49]: 14)

Ayat ini, jelasnya, menjadi dasar mengapa Syekh Ahmad Rifa’i menegaskan dua syarat keabsahan iman bagi orang Jawa: attaslimu wal inqiyadu — manut, miturut, tunduk, dan patuh. Sebuah keimanan yang tidak berhenti pada pengakuan lisan, melainkan menyerah total pada ketentuan syariat. Dalil ini diperkuat dengan ayat lain dari Surah An-Nisa yang menegaskan bahwa seseorang belum benar-benar beriman sampai ia menjadikan Rasulullah Saw sebagai penengah dalam setiap perkara, lalu menerima keputusan itu tanpa keraguan sedikit pun di dalam hatinya, serta tunduk dengan sebenar-benar ketundukan.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisā’ [4]: 65)

Keyakinan semacam inilah, tegas Kiai Khairuddin, yang kemudian melahirkan pengabdian total dalam ibadah — salat yang dibenahi, zakat yang ditertibkan, puasa yang diluruskan, hingga muamalah jual-beli yang dijaga kehalalannya. Dari titik inilah, penjelasan kemudian menukik masuk ke jantung persoalan malam itu: bagaimana salat, ibadah yang paling sering dikerjakan setiap muslim, mesti ditegakkan dengan benar hingga ke bunyi hurufnya.

Tiga Rukun dalam Satu Sujud

Kiai Khairuddin menguraikan bahwa rukun salat, menurut sistematika kitab ini, terbagi menjadi tiga: rukun qalbi (perbuatan hati, yaitu niat), rukun fi’li (perbuatan anggota badan), dan rukun qauli (ucapan lisan). Ia mengingatkan hadirin agar tidak berlebihan menyulitkan diri sendiri dalam soal niat — cukup qasd (menyengaja), ta’arrud (menentukan jenis ibadah), dan ta’yin (menentukan kekhususannya/nama salat), tanpa perlu menuntut kepastian dalam kebersamaan niat dan takbir, yang justru memicu waswas berkepanjangan. Ia bahkan berbagi kisah seorang kenalan yang mengidap penyakit was-was takbir — tak kunjung merasa niatnya sah — yang kemudian ia bimbing dengan pendapat Imam al-Ghazali dalam kitab Kifayatul Akhyar hingga tenang.

Rukun fi’li, katanya, relatif lebih mudah dikuasai — bagaimana berdiri tegak, rukuk sembilan puluh derajat, sujud dengan jemari kaki menghadap kiblat, hingga tata cara duduk dan salam yang benar. “Satu bulan insya Allah bisa,” ujarnya optimistis.

Namun rukun qauli — bacaan lisan — menjadi rukun tersulit, khususnya bagi lidah orang Indonesia yang tidak terbiasa dengan fonetik Arab sejak kecil. Di titik inilah Kitab Tahsinah menemukan relevansinya yang paling dalam, dan kajian malam itu pun mulai memasuki wilayah paling teknis sekaligus paling menantang: ilmu tajwid itu sendiri.

Hak Setiap Huruf: Menyelami Jantung Tajwid

Kiai Khairuddin membuka bagian ini dengan sebuah definisi klasik yang menjadi jangkar seluruh pembahasan malam itu: memberikan kepada setiap huruf akan haknya, dan hak-hak yang timbul setelahnya.

اَلتَّجْوِيْدُ إِعْطَاءُ كُلِّ حَرْفٍ حَقَّهُ وَمُسْتَحَقَّهُ

 “Tajwid adalah memberikan kepada setiap huruf akan haknya dan hak-hak yang timbul setelahnya.”

Hak sebuah huruf, jelasnya, ada dua: makhraj (tempat keluarnya) dan sifat (karakter bunyinya), sedangkan “hak yang timbul setelahnya” adalah hukum-hukum yang muncul ketika huruf itu telah berangkai menjadi kalimat. Dari definisi inilah, satu demi satu karakter huruf hijaiyah dibedah malam itu.

  • Huruf mahmusah dan jahr. Huruf mahmusah adalah huruf yang ketika diucapkan, napas mengalir bersama keluarnya suara. Jumlahnya ada 10 huruf, yaitu ف، ح، ث، هـ، ش، خ، ص، س، ك، ت, yang dirangkai dalam kalimat mnemonik فَحَثَّهُ شَخْصٌ سَكَتْ . Kalimat ini digunakan sebagai cara mudah untuk mengingat seluruh sepuluh huruf mahmusah.

Lawannya adalah huruf jahr, yaitu huruf yang ketika diucapkan aliran napas tertahan, sehingga suara terdengar lebih jelas dan tegas. Huruf jahr berjumlah 19 huruf, yaitu ء، ب، ج، د، ذ، ر، ز، ض، ط، ظ، ع، غ، ق، ل، م، ن، و، ي، ا, yang dirangkum dalam kalimat mnemonik عَظُمَ وَزْنُ قَارِئٍ ذِي غَضٍّ جَدٍّ بَكِي. Karena sifat jahr, huruf-huruf ini tidak disertai aliran napas yang berlebihan seperti huruf mahmusah. Menurut Kiai Khairuddin, kesalahan dalam membedakan sifat ini sering terdengar semakin jelas ketika membaca menggunakan pengeras suara, karena hembusan napas yang berlebihan menjadi lebih mudah terdengar.

  • Huruf syadidah dan qalqalah. Huruf yang tertahan penuh di makhrajnya, tidak boleh dialirkan suaranya. Huruf syadidah berjumlah delapan, yaitu hamzah (ء), jim (ج), dal (د), qaf (ق), tha (ط), ba (ب), kaf (ك), dan ta (ت) — yang dapat diingat dengan kalimat أَجِدْ قَطٍ بَكَتْ (Ajid qathin bakat). Di antara huruf syadidah tersebut terdapat lima huruf qalqalah, yaitu qaf (ق), tha (ط), ba (ب), jim (ج), dan dal (د), yang punya karakter khas: dilepas secara mendadak dari makhrajnya hingga menghasilkan bunyi pantul, bukan bunyi yang mengalir.
  • Hamzah dan ‘ain. Dua huruf yang bagi telinga awam terdengar mirip, tetapi sebenarnya berbeda makhraj dan cara pengucapannya. Kesalahan pengucapan dapat mengubah makna kata secara total. Salah satu contoh yang mudah dipahami terdapat dalam Surah Al-Humazah, yaitu kata مُؤْصَدَةٌ (mu’ṣadah) yang berarti “ditutup rapat”. Jika hamzah (ء) pada kata tersebut keliru dibaca seperti ‘ain (ع), pengucapannya menjadi berbeda dan dapat mengarah pada makna yang lain. Karena itu, hamzah (ء) dan ‘ain (ع) harus dibedakan dengan jelas, meskipun bagi sebagian orang terdengar hampir sama.
  • ✦ Nabr (penekanan suara). Nabr adalah memberikan tekanan suara pada bagian tertentu ketika membaca Al-Qur’an, sehingga lafaz terdengar lebih jelas dan tidak menimbulkan kekeliruan makna. Nabr dianjurkan pada empat posisi tertentu, yaitu: (1) huruf wawu (و) atau ya (ي) yang bertasydid, (2) mad yang bertemu hamzah, (3) mad yang bertemu huruf bertasydid, dan (4) fi’il bentuk dua orang (tatsniyah) yang bertemu hamzah washal. Penekanan ini membantu memperjelas struktur dan bentuk kata, sehingga makna tidak kabur atau tertukar, terutama antara bentuk tunggal dan bentuk dua orang.
  • Tafkhim dan tarqiq. Tafkhim berarti mengucapkan huruf dengan suara tebal, sedangkan tarqiq berarti mengucapkan huruf dengan suara tipis. Tujuh huruf isti’la, yaitu خ، ص، ض، غ، ط، ق، ظ, pada dasarnya diucapkan tebal (tafkhim) karena pangkal lidah terangkat menuju langit-langit atas. Sementara itu, ra (ر) dan lam (ل) dapat berubah menjadi tebal atau tipis sesuai dengan harakat dan keadaan huruf di sekitarnya. Kaidah ini mengajarkan bahwa ketepatan bunyi tidak hanya bergantung pada gerakan bibir, tetapi juga pada posisi dan gerakan lidah, terutama pangkal lidah, yang menjadi kunci dalam membedakan bunyi tebal dan tipis.

Bagian qalqalah rupanya menjadi salah satu titik paling hidup dalam kajian malam itu. Kiai Khairuddin menjabarkan empat “cacat” yang kerap tanpa disadari mengotori bacaan qalqalah umat: tercampur suara harakat, sehingga bunyi pantulan seolah-olah berubah menjadi bunyi a, i, atau u; berakhiran bunyi hamzah, sehingga pantulan terdengar seperti ada hentakan ء; terlalu mengaret atau diperpanjang, padahal qalqalah seharusnya singkat dan tidak dipanjangkan; serta albatr, yaitu pantulan yang lemah, tidak tegas, dan kehilangan tenaga. Ia bahkan menggambarkannya dengan perumpamaan yang mengena.

“Qalqalah yang benar itu seperti melempar bola kastik — memantul cepat dan tegas. Bukan seperti melempar kelepon, yang lembek dan menggantung.”

— Kiai Khiaruddin Hasbullah, mengibaratkan karakter bunyi qalqalah

Seluruh materi ini disampaikan bukan sebagai hafalan kering, melainkan sebagai kesadaran bahwa setiap pergeseran kecil dalam pengucapan bisa menggeser makna firman Allah Swt yang sedang dibaca — sebuah tanggung jawab yang menurut Kiai Khairuddin semestinya membuat setiap muslim semakin berhati-hati, bukan justru enggan belajar.

Ilmu Yang Riang: Ketika Belajar Menjadi Permainan

Yang membuat kajian teknis ini terasa hidup dan jauh dari kesan membebani adalah cara penyampaiannya. Sesekali Kiai Khairuddin menyisipkan permainan tebak-tebakan berhadiah kecil untuk menjaga semangat jemaah — pertanyaan seperti “huruf apa yang makhrajnya ada dua?” (jawabannya mim dan nun) atau “adakah huruf qalqalah yang justru tidak boleh dibaca qalqalah?” — dijawab riuh oleh hadirin yang antusias maju untuk mencoba menjawab.

Ia juga mengajarkan gerakan tangan sebagai jembatan untuk menghafalkan huruf mahmusah, yang dirangkai dalam sebuah kalimat mnemonik, yaitu kalimat khusus untuk membantu mengingat. Kalimat tersebut menggambarkan sifat seorang qari yang berakhlak dan bersungguh-sungguh dalam belajar, sekaligus memuat seluruh sepuluh huruf mahmusah: ف، ح، ث، هـ، ش، خ، ص، س، ك، ت. Kalimat itu diucapkan berulang-ulang sambil bertepuk tangan mengikuti irama, sehingga seluruh peserta majelis ikut melafalkannya bersama-sama. Suasana pun menjadi hidup; materi tajwid yang semula terasa abstrak berubah menjadi hafalan yang mudah melekat di ingatan, seperti sebuah nyanyian yang terus terngiang dalam pikiran.

Humor lokal turut mewarnai suasana. Kiai Khairuddin dengan jenaka menyebut kekeliruan khas dalam mengucapkan huruf-huruf tertentu yang cenderung “disembul” atau dihembuskan dengan napas berlebihan, seraya mencontohkan langsung betapa jelas kekeliruan itu terdengar ketika menggunakan pengeras suara. Di tengah materi yang cukup rumit, beliau juga menenangkan jemaah yang merasa kewalahan dengan sebuah pesan yang ringan, tetapi dalam maknanya.

“Alhamdulillah kita dikasih kitab ini supaya pusing. Pusing berarti otak kita bekerja. Kalau otak kita bekerja, berarti waras.”

— Kiai Khairuddin Hasbullah

Sebuah pengingat bahwa kesulitan belajar bukan tanda untuk menyerah, melainkan tanda bahwa otak — dan iman — sedang tumbuh dan bekerja sebagaimana mestinya.

Amanah Menjaga Bacaan: Etika Menegur Kesalahan

Menariknya, kajian ini tidak berhenti pada teknik pengucapan semata, tetapi juga menyentuh etika sosial dalam mengoreksi bacaan sesama. Kiai Khairuddin membedakan dua jenis lahn atau kesalahan bacaan: lahn jali, kesalahan yang mengubah makna dan dapat membatalkan keabsahan bacaan — misalnya dalam bacaan seorang imam salat — dan lahn khafi, kesalahan yang tidak mengubah makna tetapi tetap dianggap cacat yang semestinya diperbaiki.

Ia menegaskan bahwa seorang pengajar Al-Qur’an memikul amanah khusus sebagai penyambung sanad periwayatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada muridnya. Karena itu, membiarkan kesalahan bacaan murid tanpa menegurnya sama saja dengan mengkhianati amanah tersebut. Namun terhadap orang lain yang tak dikenal, yang kebetulan terdengar keliru membaca Al-Qur’an di masjid, sikap yang justru dianjurkan adalah menahan diri — sebab bisa jadi si pembaca mengikuti riwayat qiraat yang sah namun asing di telinga kita, sebagaimana dicontohkan lewat qiraat Imam Ruwais yang unik namun tetap memiliki sanad yang dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk menenangkan siapa pun yang merasa bacaannya masih jauh dari sempurna, ia mengutip sebuah hadis riwayat Imam Muslim tentang dua tingkatan pahala pembaca Al-Qur’an.

اَلْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat pencatat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa berat atasnya, ia mendapatkan dua pahala.” (Riwayat Imam Muslim)

“Kesulitan itu jangan dijadikan alasan untuk tidak membaca Al-Qur’an,” pesannya menutup bagian ini, “tapi jadikan alasan untuk terus belajar.”

Penutup: Warisan Yang Terus Mengalir

Menjelang pukul sepuluh malam, setelah sesi tanya jawab yang turut diramaikan pertanyaan seputar perbedaan riwayat Imam Hafsh dan gurunya, Imam ‘Ashim, majelis ditutup dengan lantunan shalawat yang diucapkan berulang-ulang oleh seluruh hadirin. Allahumma shalli ‘ala Muhammad bergema hangat menutup lebih dari satu jam pembelajaran yang padat namun tak pernah terasa berat.

Ada sesuatu yang menggugah dalam menyaksikan seluruh rangkaian malam itu: sebuah kitab yang ditulis berabad silam oleh seorang ulama yang gelisah melihat keislaman bangsanya belum sempurna, kini menemukan panggung barunya di ruang siaran langsung, ditonton oleh jemaah yang tersebar di berbagai tempat, dipandu dengan cara yang hangat, jenaka, sekaligus disiplin secara keilmuan. Misi Syekh Ahmad Rifa’i untuk ngesahna iman lan ibadahe wong Jawa, ternyata belum selesai — dan barangkali memang tidak pernah benar-benar selesai, karena setiap generasi mesti kembali belajar dari awal, huruf demi huruf, hak demi hak.

Dari sanalah pelajaran yang paling inspiratif malam itu barangkali bukan terletak pada detail kaidah qalqalah atau nabr semata, melainkan pada semangat yang mendasarinya: bahwa ketekunan mempelajari hal-hal kecil dan mendetail dalam ibadah adalah bentuk cinta yang tidak remeh kepada Al-Qur’an dan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan selama masih ada yang mau duduk untuk membenahi bacaannya huruf demi huruf, warisan Syekh Ahmad Rifa’i akan terus mengalir, menembus zaman, hingga ke ruang-ruang digital masa kini.

“Selama masih ada yang mau membenahi bacaannya huruf demi huruf, warisan Syekh Ahmad Rifa’i akan terus mengalir.”

— Catatan penutup reportase

Baca juga: Reportase Inspiratif: Semangat yang Tak Pernah Padam


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Ilmu tajwidKH. Ahmad RifaiKitab TahsinahKitab TarajumahSyekh Ahmad Rifa’itajwid
Previous Post

Menyiapkan Pemimpin Hari Ini untuk Perjuangan Esok

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.