Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Cerpen

Ketika Rezeki Terasa Sempit

Muhammad Nawa Syarif by Muhammad Nawa Syarif
August 28, 2026
in Cerpen, Nadhom
0
Ketika Rezeki Terasa Sempit
0
SHARES
12
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Senja turun perlahan di balik pepohonan. Langit mulai kehilangan warna, sementara seorang ayah duduk sendiri di teras rumahnya. Di dalam rumah, tiga anaknya sedang bermain. Suara tawa mereka terdengar, tetapi entah mengapa tidak mampu mengusir kegelisahan yang sejak beberapa hari memenuhi dadanya.

Ia seorang ayah dari tiga anak. Setiap pagi ia berangkat membawa harapan, setiap sore ia pulang membawa hitungan. Uang sekolah. Beras. Listrik. Kebutuhan rumah. Keperluan anak-anak. Semuanya seperti tidak pernah selesai.

Malam itu, setelah anak-anak tertidur, ia membuka dompetnya. Beberapa lembar uang tersisa. Ia menghela napas panjang.

“Apakah aku kurang bekerja?”

“Apakah rezekiku memang sesempit ini?”

“Mengapa orang lain tampak begitu mudah menjalani hidup, sementara aku harus menghitung setiap rupiah?”

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya.

Keesokan harinya, ia pergi menemui seorang kiai alim yang dikenal bukan hanya karena luas ilmunya, tetapi juga karena keadilannya. Kepada kiai itu, ia tumpahkan seluruh kegelisahannya.

“Yai, saya bekerja. Saya berusaha. Saya tidak ingin anak-anak kekurangan. Tapi semakin saya mengejar rezeki, semakin hati saya merasa sempit.”

Sang kiai diam beberapa saat, lalu bertanya, “Menurutmu, apa yang membuat seorang manusia mulia?”

Ia terdiam.

“Karena banyak hartanya?”

Ia menggeleng.

“Karena rumahnya besar?”

Ia kembali menggeleng.

Kiai itu tersenyum.

“Lalu mengapa engkau mengukur kebahagiaanmu dengan sesuatu yang memang tidak pernah Allah janjikan untuk sama?”

Ia menundukkan kepala.

Sang kiai kemudian mengutip sebuah pitutur dari KH. Ahmad Rifa’i dalam Abyanal Hawaij, Korasan 66:

Mukmin faqir sah iman syarat kapepekan

Kedik rizqine qona’ah kebatinan

Iku nyoto luwih luhur kaderajatan

Mungguh Allah wus kasebut ning Qur’an

Seorang mukmin yang hidup dalam kefakiran, tetapi tetap sah imannya, tetap teguh hatinya. Sedikit rezekinya, namun memiliki qanaah dalam batinnya. Itulah yang justru lebih tinggi derajatnya di sisi Allah.

“Faqir,” kata sang kiai perlahan, “bukan berarti hina.”

“Yang hina adalah ketika seseorang kehilangan Allah hanya karena mengejar dunia.”

Ia terdiam.

Kemudian sang kiai melanjutkan:

Lamon netepi wajib tinggal maksiat

Mongko faqir adil luwih luhur derajat

Anapon faqir maksiat tan sholat

Mongko luwih hino tuwin kafir laknat

“Jika seorang yang hidup sederhana tetap menjalankan kewajiban dan meninggalkan maksiat,” ujar sang kyai, “maka kefakirannya tidak membuatnya rendah. Bahkan ia lebih luhur derajatnya.”

“Tetapi orang yang miskin lalu meninggalkan salat, gemar bermaksiat, dan menjauh dari Allah, maka kemiskinan itu bukanlah kemuliaan.”

Kiai itu menatapnya dalam-dalam.

“Jangan takut menjadi orang yang tidak punya banyak. Takutlah menjadi orang yang punya banyak tetapi kehilangan qanaah.”

Kalimat itu seperti mengetuk pintu hatinya.

Selama ini ia mengira masalah terbesar dalam hidupnya adalah sedikitnya uang. Ternyata bukan. Yang membuatnya sesak adalah ketika ia mulai membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain. Ia lupa bahwa anak-anak yang tertawa di ruang sebelah adalah rezeki. Istri yang tetap menunggunya pulang adalah rezeki. Tubuh yang masih mampu bekerja adalah rezeki. Kesempatan untuk bersujud setiap hari adalah rezeki yang jauh lebih mahal daripada apa pun yang bisa dibeli dengan uang.

Sang kiai kemudian berkata, “Berusahalah. Jangan malas. Cari rezeki yang halal. Tunaikan kewajiban. Jauhi maksiat. Tetapi setelah semua ikhtiar itu, serahkan hasilnya kepada Allah.”

“Karena tugasmu adalah berusaha. Bukan menentukan berapa banyak Allah harus memberimu.”

Ia mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca.

Saat pulang, malam telah larut. Ia membuka pintu rumah dengan langkah pelan. Tiga anaknya tertidur dalam satu kamar. Ia berdiri di ambang pintu, memandangi wajah mereka.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa lapang. Uangnya memang belum bertambah. Masalah hidupnya juga belum semuanya selesai. Tetapi ada sesuatu yang berubah: cara ia memandang hidup.

Ia tersenyum kecil. Mungkin Allah tidak sedang membuat hidupnya sempit. Mungkin Allah sedang mengajarinya bahwa luasnya rezeki tidak selalu diukur dari banyaknya yang berada di tangan, tetapi dari lapangnya hati ketika menerima ketetapan-Nya.

Malam itu ia menutup dompetnya, lalu membuka sajadah. Di hadapan Allah, seorang ayah dari tiga anak itu akhirnya memahami: Tidak semua orang yang memiliki sedikit adalah orang yang kekurangan. Dan tidak semua orang yang memiliki banyak adalah orang yang kaya. Sebab kekayaan yang paling sulit dicari bukanlah banyaknya harta. Melainkan qanaah yang menetap di dalam hati.

Baca Juga: Qur’an yang Berdebu di Rak


Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra

Tags: hidup sederhanaikhtiarKH. Ahmad Rifaiqana'ahrezekiSyukur
Previous Post

Reportase: Cahaya Rabiul Awal di Wonoboyo

Muhammad Nawa Syarif

Muhammad Nawa Syarif

Khadim di Ponpes Faidlul Qodir, Kepala MTs Rifa'iyah Wonokerto, Sekjend PP. AMRI, Pegiat literasi KH. Ahmad Rifa'i.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.