| Penyelenggara | Jam’iyyah Rifa’iyah Ranting Tirto, Kota Pekalongan |
| Waktu | Sabtu malam Ahad, 29 Agustus 2026 |
| Lokasi | Masjid Baiturrahman, Tirto, Kota Pekalongan |
| Qori’ | KH. M. Ircham Dahlan, S.Th.I., MA — Pengasuh Pondok Pesantren Sab’ati, Kayen, Pati |
| Penceramah | Dr. M.A. Zuhurul Fuqohak, S.Ud., M.Si — Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Yahyawiyah, Kayen, Pati |
| Khataman Qur’an | Dipandu KH. Al-Mufidu Dahlan bersama santri TPQ Baiturrahman |
| Didukung oleh | Mubarok Production, Medono – Pekalongan (0851-9960-5040) |
Malam itu, Sabtu 29 Agustus 2026, Masjid Baiturrahman di Tirto, Kota Pekalongan, tampak berbeda dari malam-malam biasanya. Lantunan salawat menggema sejak awal waktu, mengiringi kedatangan ratusan jemaah — para kiai, wali santri, tokoh masyarakat, hingga unsur pemerintahan sipil, militer, dan kepolisian — yang memenuhi undangan Jam’iyyah Rifa’iyah Ranting Tirto. Malam itu bukan sekadar pengajian umum biasa, melainkan momen istimewa yang menyatukan dua peristiwa besar sekaligus: peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Wisuda Santri TPQ Baiturrahman. Disiarkan langsung dan didukung oleh Mubarok Production Medono, acara ini mengusung tema yang menghunjam dalam kalbu setiap yang hadir: “Meneladani Akhlak Nabi, Membangun Generasi Qur’ani.”
Malam Penuh Syukur dan Harapan
Acara dibuka oleh KH. Abdul Aziz dengan lantunan Al-Fatihah, sebelum rangkaian sambutan digelar. Mewakili panitia sekaligus Kepala TPQ dan Madin Baiturrahman, disampaikan rasa syukur atas terselenggaranya wisuda Marhalatul Ula ke-27 dan Marhalatul Mutawasitah ke-12, sekaligus ucapan terima kasih kepada Amri Ranting Tirto, Ummahat Rifaiyah Ranting Tirto, Himmah Ranting Tirto, dan para donatur jemaah Masjid Baiturrahman yang telah menopang jalannya acara. Pesan yang paling ditekankan kepada para santri yang diwisuda malam itu sederhana namun dalam: wisuda bukanlah tanda berhenti mengaji, melainkan awal untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan Al-Qur’an yang lebih tinggi.
Sambutan mengharukan turut disampaikan oleh perwakilan wali santri, Ustaz Syifa Khairani. Dengan suara penuh haru, ia menuturkan bagaimana para wali santri menyaksikan sendiri putra-putri mereka perlahan mengenal huruf hijaiyah, membaca ayat demi ayat Al-Qur’an, hingga memahami adab dan tata cara ibadah. Bagi para orang tua, katanya, anak yang dekat dengan Al-Qur’an adalah investasi akhirat bagi keluarga — mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.
Diuji di Atas Panggung, Santri Buktikan Kemampuan
Sebelum resmi diwisuda, para santri terlebih dahulu menjalani semacam “ujian terbuka” di hadapan seluruh hadirin. Adik Muhammad Akmal Latif tampil menjawab rangkaian pertanyaan ilmu fikih dasar — mulai dari syarat wajib salat, tata cara bersuci, hingga rukun wudu — didampingi Al-Ustaz Muhammad Masluhi. Disusul kemudian adik Nadia Maulidah Husna dan Hasna Kurrota Ainina yang menunjukkan penguasaan ilmu tajwid dan gharibul Qur’an bersama Al-Ustaz Ahmad Sukron, M.Pd., selaku Badko TPQ Kota Pekalongan. Tak ketinggalan, adik Kuina Kaisa Al-Faidah tampil mewakili sebelas wisudawan Marhalatul Mutawasitah dalam bidang ilmu Amsilati, menjawab dengan lancar seputar sharaf dan nahwu di bawah bimbingan Koordinator Amsilati Provinsi Jawa Tengah, Ustaz Muhammad Imam Muhajir, S.Ag. Setiap jawaban yang tepat disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin — kebanggaan yang tak tersembunyikan dari wajah para wali santri.
Sungkeman: Puncak Haru Malam Wisuda
Jika ada satu momen yang paling menggetarkan hati semua yang hadir malam itu, momen itu adalah ketika para wisudawan mengucapkan ikrar santri — berjanji rajin salat lima waktu, taat kepada orang tua, hormat kepada guru, rajin mengaji, serta siap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah itu, para orang tua diminta naik ke panggung, berdiri di belakang putra-putri mereka. Satu demi satu, anak-anak berbalik badan, berlutut, dan mencium tangan ayah dan ibu mereka, sementara pembawa acara menuntun renungan tentang pengorbanan orang tua sejak anak masih dalam kandungan hingga tumbuh besar. Isak tangis terdengar di sana-sini — dari santri, dari orang tua, dan dari jemaah yang menyaksikan. Sungkeman itu ditutup dengan pelukan erat dan doa dari hati yang paling dalam, diiringi lantunan salawat bersama seluruh hadirin.
Apresiasi bagi yang Berprestasi
Sebagai penyemangat, panitia turut memberikan penghargaan kepada santri berprestasi. Untuk tingkat Marhalatul Mutawasitah, peringkat pertama diraih Kuina Kaisa Al-Faidah (putri Bapak Mufassirul Huda), disusul Zalfa Azaliah Zuhroh (putri Bapak Ustaz Saiful Bahri) di peringkat kedua, dan Nu’ma Inaba El Maula (putri Bapak Nasruddin) di peringkat ketiga. Sementara untuk tingkat Marhalatul Ula, peringkat pertama diraih Hasna Qurrota Ainina (putri Bapak Yunan Helmi), peringkat kedua Muhammad Akmal Latif (putra Bapak Mahruddin), dan peringkat ketiga Nadia Maulidah Husna (putri Bapak Syarianto). Sebuah penghargaan istimewa juga diberikan kepada santri termuda yang diwisuda malam itu, Siana Aisyah Hani, yang baru berusia 8 tahun. Piala dan hadiah diserahkan langsung oleh Koordinator Amsilati Provinsi Jawa Tengah bersama Gus Haji Fadli Mubarak Fazah.
Lantunan Ayat Suci dan Tausiyah yang Menyentuh
Suasana khidmat kian terasa saat KH. M. Ircham Dahlan, S.Th.I., MA, melantunkan ayat suci Al-Qur’an beserta salawat kepada Nabi dengan suara merdu yang menggetarkan hati hadirin. Puncak acara kemudian diisi oleh mauidzoh hasanah dari Dr. M.A. Zuhurul Fuqohak, S.Ud., M.Si, yang menyampaikan tausiyah panjang penuh hikmah. Beliau mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an sejatinya bukan sekadar melafalkan huruf, melainkan tilawah yang sesungguhnya — meresapkan makna ke dalam akal dan hati hingga membentuk akhlak yang bersih.
Salah satu kisah yang paling berkesan malam itu adalah tentang Zaid bin Sa’nah, seorang Yahudi ahli kitab yang sengaja menagih utang Rasulullah SAW sebelum jatuh tempo dengan cara yang kasar, semata untuk menguji apakah sifat Rasulullah benar-benar sesuai dengan ciri-ciri Nabi akhir zaman yang ia baca dalam Taurat. Alih-alih marah, Rasulullah SAW justru menegur sahabat yang hendak membelanya, lalu memerintahkan agar utang tersebut dibayar dengan tambahan sebagai bentuk kebaikan. Kelembutan dan keadilan itulah yang akhirnya membuat Zaid bin Sa’nah masuk Islam. Dari kisah ini, Dr. Zuhurul Fuqohak mengingatkan pentingnya menepati janji dan melunasi utang tepat waktu, serta meneladani akhlak mulia Rasulullah dalam pergaulan sehari-hari.
Beliau juga mengulas hikmah di balik penetapan bulan Rabiul Awal — bulan kelahiran sekaligus wafatnya Rasulullah SAW — sebagai bulan peringatan Maulid. Mengingat kelahiran Nabi berarti turut mengingat kepergiannya, sebuah musibah besar bagi umat, sehingga Maulid menjadi momentum untuk mendekatkan diri kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah, sebagaimana yang dahulu dirasakan langsung oleh para sahabat. Beliau menutup tausiyahnya dengan mengingatkan hadirin agar senantiasa membiasakan tadarus dan memahami Al-Qur’an dalam keseharian, sehingga anak-cucu kelak tumbuh sebagai generasi ahlul Qur’an — generasi yang doanya, sebagaimana doa Nabi Ibrahim AS bagi keturunannya, akan terus mengalirkan manfaat dari generasi ke generasi.
Menutup Malam dengan Doa
Rangkaian acara yang berlangsung khidmat sejak awal hingga larut malam itu ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Amruddin Nasihun, memohon agar ilmu yang telah diperoleh para santri menjadi berkah, serta agar TPQ dan Madin Baiturrahman terus istiqamah mencetak generasi Qur’ani. Malam Maulid dan Wisuda Santri TPQ Baiturrahman ini pun meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh yang hadir — sebuah pengingat bahwa kecintaan pada Al-Qur’an dan keteladanan akhlak Rasulullah SAW adalah fondasi utama dalam membesarkan generasi penerus yang saleh dan salihah.
Jam’iyyah Rifa’iyah Ranting Tirto, Kota Pekalongan
Baca juga: Reportase: Cahaya Rabiul Awal di Wonoboyo
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

