Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Tarbiyatul Banat Paesan Tengah: Menjaga Tradisi Sejak 1970-an

Dari keresahan para sesepuh terhadap layar tancap, lahirlah sebuah majelis kecil di Paesan Tengah yang lebih dari lima dasawarsa kemudian masih melingkarkan puluhan anak laki-laki dan perempuan dalam shalawat, kitab, dan keberanian.

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
October 9, 2026
in Kolom
0
Tarbiyatul Banat Paesan Tengah: Menjaga Tradisi Sejak 1970-an
0
SHARES
24
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Salat maghrib baru usai di Paesan Tengah, Kedungwuni. Di sebuah gang yang tak jauh dari Musala Al-Mustaqim, anak-anak perempuan berdatangan satu per satu menuju Majelis Khodijah. Di dalam, karpet telah terbentang. Beberapa dampar—meja kitab rendah khas pesantren—tertata melingkar, sementara satu meja guru berdiri di hadapan mereka. Sebentar lagi pengeras suara akan menyala, dan suara-suara kecil itu akan bergantian melantunkan shalawat, barzanji, tamrinan Kitab Tarajumah, serta belajar sambutan, pidato, qira, dan bersama berdoa. Malam itu malam Jumat. Dan bagi anak-anak di dusun Paesan Tengah ini, malam Jumat berarti satu hal: Tar’at (Tarbiyatul Athfal) dan Tarban (Tarbiyatul Banat). Tar’at merupakan majelis untuk anak-anak putra, dan Tarban untuk anak perempuan.

Tarban—demikian warga menyingkat Tarbiyatul Banat, yang bermakna pendidikan bagi anak-anak perempuan— Tar’at: Tarbiyatul Athfal atau pendidikan anak-anak adalah majelis pengajian anak yang telah berjalan sejak tahun 1970-an. Sebagian orang di Paesan Tengah menyebutnya pula berzanjinan, sebab denyut utamanya adalah pembacaan Kitab Al-Barzanji secara bergiliran. Ia bukan sekolah. Ia tak punya kurikulum, kompetensi inti, maupun kompetensi dasar sebagaimana lembaga formal. Namun, lebih dari lima dasawarsa ia bertahan, dan dari lingkaran kecil itu lahir anak-anak yang terbiasa berdiri di hadapan banyak orang dan menyuarakan apa yang mereka pelajari.

Resah yang Menjadi Ikhtiar

Kisahnya bermula pada tahun 1970-an, dari sebuah keresahan. Selepas maghrib, ketika sebagian anak Paesan Tengah semestinya mengaji dan nderes, tidak sedikit yang justru berkerumun menonton layar tancap dan pertunjukan wayang golek di sebuah tempat yang warga kenal dengan nama SEMAR. Kemudian Semar ini menjadi nama bioskop di Kedungwuni Pekalongan. Para sesepuh tahu betul bahwa wayang dan gamelan pada mulanya dipakai Wali Songo sebagai medium dakwah. Tetapi di mata mereka, perkembangan berikutnya membuat panggung itu kian menggeser jam belajar anak-anak dan membuka pintu bagi kebiasaan yang jauh dari tuntunan agama.

Keresahan itu dipikul oleh enam orang: Bapak Zubaidi, Bapak Faizin Abu Khoir, dan Bapak Khadzirin (almarhum), bersama Ibu Nyai Runtianah, Ibu Nyai Misrokhat (almarhumah), dan Ibu Mir’ati. Mereka adalah generasi penerus ajaran Islam ala KH. Ahmad Rifa’i—ulama yang berdakwah sembari melawan penjajahan Belanda, dan yang oleh negara dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2004. Bagi mereka, meneruskan perjuangan sang kiai berarti memastikan anak-anak desa tetap memiliki tempat untuk belajar. Waktunya tidak dirampas oleh layar hiburan.

Mereka lalu duduk berdiskusi, mencari jalan agar malam Jumat anak-anak terisi kegiatan keagamaan. Gagasan pengajian khusus anak itu mereka bawa sowan kepada para sesepuh, kemudian kepada masyarakat Paesan. Setelah musyawarah yang panjang, warga menyetujui, dan para sesepuh meminta para orang tua melibatkan anak-anak mereka. Jawaban atas keresahan itu akhirnya berbentuk sebuah tempat: sebuah majelis.

Mula-mula majelis ini menumpang di musala Pondok Pesantren INSAP Putri (Ponpes Fadhilah) di Paesan Tengah. Seiring bertambahnya jumlah anak, dan agar tidak mengganggu kegiatan para santri, ia berpindah ke tempat yang lebih khusus: Majelis Khodijah, rumahnya kini. Jerih payah para pengurus dari tahun ke tahun membuahkan hasil—peserta terus bertambah hingga sekitar 40–50 anak setiap malam Jumat. Sedangkan majelis Tarbiyatul Athfal bertempat di Tajug Pusaka, Paesan Tengah , Kedungwuni. Secara tentatif Tar’at juga melakukan kegiatan keliling, diundang untuk memeriahkan tasyakuran khitan di beberapa desa.

SEKILAS TARBIYATUL BANAT
Berdiri Sekitar tahun 1970-an, digerakkan oleh generasi penerus KH. Ahmad Rifa’i
Tempat Majelis Khodijah, Paesan Tengah, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan
Waktu Setiap malam Jumat, selepas maghrib hingga selesai (sekitar 1,5–2 jam)
Peserta Sekitar 40–50 anak, dari usia dini hingga usia sekolah dasar
Nama lain Tarban; warga juga menyebutnya berzanjinan
Kegiatan inti Barzanji, pidato, tilawah, shalawat, hafalan Kitab Tarajumah, storytelling, doa penutup

Baca Juga: Reportase Inspiratif: Membaca Iman dengan Titik dan Koma yang Benar

Tujuh Babak dalam Satu Malam

Pengajian dimulai selepas maghrib dan berlangsung sekitar satu setengah hingga dua jam. Menurut penelitian, urutannya ada tujuh: membaca Al-Barzanji, berpidato, tilawah Al-Qur’an, shalawat, hafalan dan kajian Kitab Tarajumah, storytelling, lalu doa penutup. Tiap babak berlangsung singkat saja, kira-kira lima hingga lima belas menit—seolah para pengurus paham bahwa perhatian anak-anak adalah tamu yang tak boleh dibiarkan bosan.

Barzanji yang bergiliran. Inti acara ini adalah pembacaan Al-Barzanji. Setiap anak membaca bergantian sesuai nama-nama yang telah ditetapkan pengurus pada malam Jumat sebelumnya. Lewat riwayat hidup Rasulullah SAW yang dituturkan dalam bait-bait yang indah, anak-anak berkenalan dengan kejujuran, kesabaran, sikap amanah, dan semangat tolong-menolong.

Berpidato di hadapan kawan. Tiga anak mendapat giliran berpidato. Teksnya disiapkan pengelola; boleh dihafalkan, boleh dibaca saat tampil. Yang dilatih bukan hanya rangkaian kata, melainkan keberanian.

Tilawah dan shalawat. Semua anak dilatih membaca Al-Qur’an dengan irama dan tartil, satu per satu. Mereka yang dianugerahi suara merdu mendapat perhatian khusus: dilatih secara pribadi di luar acara. Selepas tilawah, seorang anak maju ke depan melantunkan shalawat, disambut teman-temannya.

Tarajumah dan cerita penuh hikmah. Ada hafalan dan ceramah berdasarkan Kitab Tarajumah karya KH. Ahmad Rifa’i—di antaranya Abyanal Hawaij, tentang iman dan doa—serta storytelling kisah-kisah Islami yang dipilih supaya anak pulang membawa hikmah sebagai buah tangan.

Doa bersama, dan sedekah kecil. Acara ditutup dengan doa bersama. Di sela istirahat, ada kebiasaan kecil yang kerap luput dari sorotan: anak-anak menyisihkan uang jajan untuk membeli makanan, lalu membaginya kepada teman-temannya. Mereka melakukannya dengan antusias, sebab bersedekah memberi banyak keistimewaan bagi diri sendiri.

Bila ustadzah berhalangan hadir, majelis tetap berjalan; waktu diisi dengan belajar khitobah, supaya malam Jumat tak pernah kosong.

Jenjang Ngaji ala Sang Kiai

Cara belajar di Tarban berakar pada metode yang diwariskan KH. Ahmad Rifa’i: empat tahap yang bermula dari Mubtadi’ (permulaan), Mutawasith (pertengahan), Muntaha (penghabisan), lalu amaliyah (pengamalan). Tahap pertama dikenal sebagai ngaji ireng atau ngaji makna: santri belajar membaca kitab Tarajumah yang ditulis dengan aksara Arab berbahasa Jawa, huruf demi huruf hingga terangkai menjadi kalimat. Tahap kedua, ngaji abangan, mengkaji dalil Al-Qur’an, hadis, dan pendapat ulama dengan tajwid yang terjaga. Tahap ketiga memadukan keduanya dalam ngaji abang-ireng, dan tahap keempat—ngaji maksud atau bandungan—mengajak santri menyelami maksud isi kitab langsung dari guru.

Karena pesertanya masih anak-anak usia sekolah dasar, Tarban memulai dari anak tangga paling bawah: tahap pertama. Pelan-pelan, sedikit demi sedikit.

Enam Dimensi dalam Satu Lingkaran

Skripsi yang menjadi sumber tulisan ini menyebut keragaman nilai di majelis tersebut sebagai multidimensi: banyak sisi pendidikan yang dijalankan sekaligus dalam satu majelis kecil. Setidaknya ada enam.

Dimensi Wujudnya di Majelis
Ibadah Tamrinan—mengkaji, nderes, dan mengulang-ulang kitab Tarajumah; tarawih berjamaah anak-anak di bulan Ramadan bersama pengurus HIMMAH Paesan Tengah di Musala Al-Mustaqim (sekitar 30 anak); serta darusan Tarajumah selepas maghrib.
Iman dan takwa Pembacaan Al-Barzanji menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW, sekaligus memperkenalkan keteladanannya: jujur, sabar, amanah, dan tolong-menolong.
Akhlak Dibekali ilmu, diajak bergaul dengan teman-teman yang baik, didorong meninggalkan sifat malas, dan dibimbing mengubah kebiasaan buruk.
Karakter Lewat pembiasaan: hadir tepat waktu, berbusana pantas, mendengarkan ustadzah, tidak gaduh, dan bersalaman saat hendak pulang.
Sosial Persaudaraan dan silaturahmi; berbagi makanan dari uang jajan; juga syair-syair Barzanji tentang menghargai sesama tanpa memandang status dan tentang santun menyapa.
Mental Berpidato, bertilawah, melantunkan shalawat, dan bercerita di depan teman-teman—melatih keberanian dan menumbuhkan percaya diri.

Nilai-nilai itu tumbuh bukan lewat ceramah panjang semata, melainkan lewat pembiasaan—doa bersama sebelum belajar, hadir tepat waktu, mendengarkan ustadzah, dan bersalaman sebelum pulang. Hal-hal kecil yang diulang setiap pekan, sampai pelan-pelan menjadi watak.

Suara dari Dalam Lingkaran

Dampak sebuah majelis paling jujur dituturkan oleh mereka yang pernah duduk di dalamnya. Nurun Naela Rahmatika, alumni yang pernah memimpin Tarban sebagai ketua pengurus pada 2022, mengenang:

“Perubahan yang saya rasakan setelah mengikuti pendidikan Tarbiyatul Banat sangat banyak. Salah satunya bisa membuat diri ini semakin rendah hati, mandiri, menyelesaikan masalah bersama, mempunyai rasa tanggung jawab … melatih saya untuk menguatkan mental, belajar berbicara di depan anak-anak, di depan forum saat rapat.”

— Nurun Naela Rahmatika, alumni dan ketua pengurus Tarban 2022

Dari sisi orang tua, Bapak Ahmad Saifullah, S.Sos.—yang juga Kepala MA Rifa’iyah Kedungwuni—menyaksikan perubahan itu di rumah:

“Kegiatan pengajian ini sangat memberi dampak positif bagi anak-anak. Banyak pelajaran yang didapat, salah satunya anak saya dapat mengontrol emosi, rajin beribadah, jamaah ke musala, rajin ngaji dan belajar, pergaulannya bagus, sudah tidak introvert, berbicara sopan dengan orang tua.”

— Ahmad Saifullah, S.Sos., orang tua

Arqis Salma, anggota pengurus, merasa lebih paham banyak hal di bidang agama—termasuk hal-hal kecil yang sering terabaikan dalam keseharian—dan merasakan bertambahnya wawasan, ilmu, persaudaraan, serta silaturahmi. Sementara itu, seorang siswi kelas 6 MI yang diwawancarai peneliti menyebut kegiatan ini sangat menyenangkan: bertemu banyak teman, belajar kitab Tarajumah, belajar khitobah, dan banyak lagi.

Panggung yang Melahirkan Juara

Karena setiap anak mendapat giliran tampil, Tarban menjadi tempat para pengurus mengenali bakat: yang fasih mengaji, yang berani berpidato, yang kuat hafalannya. Dari sinilah anak-anak diutus mewakili desa dalam berbagai perlombaan, termasuk ajang FUKKAR yang diikuti anak-anak Rifa’iyah se-Jawa Tengah serta lomba-lomba TPQ tingkat Kecamatan Kedungwuni.

Pada 7 Juli 2024, dalam lomba FUKKAR yang digelar di Desa Sukorejo, Ulujami, Pemalang, anak-anak Tarbiyatul Banat bersama Tarbiyatul Athfal—majelis serupa bagi anak laki-laki Paesan Tengah, yang berlangsung di tempat terpisah sesuai tradisi setempat—meraih juara umum FUKKAR ke-21 dengan total 1.350 poin. Mereka juga kerap menjuarai lomba praktik ibadah, hafalan, cerdas cermat, dan pidato.

Jejaknya tak baru kemarin. Pada generasi-generasi awal, KH. Amruddin Nasikhun selalu menjuarai lomba MTQ tingkat kecamatan hingga Kabupaten Pekalongan, dan almarhum Pak Abdul Majid pun langganan juara lomba pidato. Anak-anak didikan Tarban, demikian catatan skripsi itu, mampu bersaing di mana pun dan selalu mengharumkan nama Desa Paesan Tengah.

Catatan untuk Hari Esok

Perjalanan lebih dari lima dasawarsa tentu tak selalu mulus. Kesibukan sebagian pengurus—karena acara sekolah atau urusan lain—kadang membuat mereka tak dapat hadir; ustadzah pun sesekali berhalangan. Namun majelis selalu menemukan jalan agar malam Jumat tidak lengang.

Skripsi ini juga memberi catatan yang jujur. Metode yang dominan di majelis masih berupa ceramah, sehingga anak-anak lebih banyak mendengar dan melihat. Peneliti menyarankan variasi—tanya jawab, diskusi, demonstrasi (seperti peragaan wudhu, tayamum, dan salat), latihan berulang (drill), hingga pengajaran beregu—agar anak tak jenuh. Pengelolaan kurikulum pun dinilai perlu diperkuat, supaya anak yang telah baligh memiliki jenjang lanjutan yang lebih jelas.

Lalu, apa kaitannya dengan pendidikan dasar? Tarban memang bukan sekolah: ia nonformal, singkat, dan tanpa kurikulum baku. Namun keduanya bertemu pada satu hal—sama-sama melengkapi pengetahuan, kemampuan, keterampilan, serta minat dan bakat anak yang tak sepenuhnya terjangkau bangku sekolah karena terbatasnya waktu dan kurikulum.

Cahaya yang Dijaga Bersama

Zaman memang terus berganti rupa. Layar yang dulu mencuri perhatian anak-anak selepas maghrib kini digantikan layar-layar lain yang lebih kecil, lebih dekat, dan lebih sulit dilepaskan dari genggaman. Barangkali karena itulah majelis seperti Tarban justru kian berarti. Ia tidak melawan zaman dengan teriakan; ia menawarkan sesuatu yang tak dapat disajikan layar mana pun—sebuah lingkaran tempat seorang anak dipanggil namanya, diberi giliran bicara, dan disambut lantunan shalawat teman-temannya.

Di sanalah, barangkali, makna sabda Nabi SAW menemukan rumahnya:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Khairukum man ta‘allama al-Qur’āna wa ‘allamahū.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari)

Di Paesan Tengah, para sesepuh telah menyalakan pelitanya sejak tahun 1970-an. Tugas generasi sesudahnya sederhana, sekaligus tidak ringan: menjaga agar malam Jumat itu tak pernah padam.

Sumber: Nelda Nurmala Yanuar, “Multidimensi Pendidikan Tarbiyatul Banat di Desa Paesan Tengah Kedungwuni Pekalongan dan Relevansinya terhadap Pendidikan Dasar”, Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta, 2024. Kutipan wawancara disunting ringan demi keterbacaan.


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: KedungwuniMajelis KhodijahPaesan TengahPekalonganPendidikan IslamTar’at Paesan TengahTarban Paesan TengahTarbiyatul AthfalTarbiyatul Banat
Previous Post

KH Abdul Malik: Ulama Teguh Penyebar Ajaran Tarajumah dari Kendal ke Semarang

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Organisasi Rifa’iyah dan Ummahatur Rifa’iyah (UMRI)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.