Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Rifa’iyah dan Tantangan Melanjutkan Semangat Perlawanan

Samsul Rozikin by Samsul Rozikin
October 10, 2026
in Kolom
0
Rifa’iyah dan Tantangan Melanjutkan Semangat Perlawanan
0
SHARES
35
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Rifa’iyah lahir bukan dari ruang nyaman. Ia lahir dari kegelisahan, kritik, dan perlawanan. KH. Ahmad Rifa’i tidak mendirikan gerakan untuk mencari pengakuan, apalagi kenyamanan sosial. Beliau berdiri tegak di tengah arus dominan, mengkritik penyimpangan keagamaan, mengoreksi kemapanan ulama, dan menentang ketidakadilan kolonial yang menghisap rakyat. Karena itu, jika ada satu kata yang paling tepat menggambarkan warisan terbesar KH. Ahmad Rifa’i, maka kata itu bukanlah tradisi, melainkan keberanian.

Namun, di sinilah paradoks itu muncul.

Semakin sering Rifa’iyah membanggakan sejarah perlawanannya, semakin jarang terdengar keberanian perlawanannya hari ini.

Kita bangga menceritakan bagaimana KH. Ahmad Rifa’i dibuang ke Ambon karena sikap politik dan dakwahnya. Kita bangga mengisahkan bagaimana beliau menolak tunduk kepada kekuasaan yang dianggap tidak adil. Kita bangga menyebut beliau sebagai ulama pejuang. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: di manakah semangat itu hidup hari ini?

Apakah Rifa’iyah masih menjadi gerakan yang gelisah melihat ketidakadilan? Ataukah perlahan berubah menjadi organisasi yang terlalu nyaman dengan keadaan?

Pertanyaan ini memang tidak menyenangkan. Tetapi sejarah menunjukkan, organisasi tidak mengalami kemunduran karena terlalu banyak kritik. Organisasi justru mulai kehilangan arah ketika terlalu sedikit kritik. Ketika semua orang sibuk memuji, di situlah biasanya proses kematian intelektual dimulai.

Masalah terbesar organisasi yang telah mapan bukanlah tekanan dari luar. Masalah terbesarnya adalah rasa puas diri dari dalam. Ketika organisasi merasa cukup besar, cukup dikenal, cukup memiliki lembaga pendidikan, cukup memiliki jemaah, dan cukup memiliki sejarah, maka pada saat yang sama sesungguhnya organisasi itu sedang memasuki zona paling berbahaya. Sebab, rasa cukup sering kali menjadi awal dari kemunduran panjang.

Sejarah telah berkali-kali menunjukkan hal itu. Tidak ada peradaban besar yang runtuh karena kekurangan kejayaan masa lalu. Mereka runtuh karena terlalu lama hidup dari kejayaan masa lalu.

Di lingkungan Rifa’iyah, gejala itu mulai terasa. Kita semakin rajin mengenang perjuangan KH. Ahmad Rifa’i, tetapi belum tentu semakin berani melanjutkan perjuangannya. Kita semakin sering memperingati sejarah, tetapi belum tentu menciptakan sejarah baru. Kita semakin khusyuk mengagumi keberanian beliau, tetapi belum tentu siap menanggung risiko sebagaimana yang beliau tanggung.

Hari ini kemiskinan struktural masih nyata. Korupsi masih menjadi penyakit bangsa. Oligarki ekonomi semakin kuat. Kerusakan lingkungan terjadi di berbagai daerah. Krisis moral generasi muda semakin mengkhawatirkan. Sementara dunia digital menciptakan bentuk-bentuk baru penjajahan pikiran melalui algoritma dan disinformasi.

Pertanyaannya, di mana posisi Rifa’iyah dalam menghadapi semua itu? Apakah kita hanya menjadi penonton? Apakah kita hanya menjadi komentator? Ataukah kita benar-benar hadir sebagai kekuatan moral yang memberikan arah bagi masyarakat?

Inilah pertanyaan yang sesungguhnya jauh lebih penting daripada sekadar banyaknya kegiatan organisasi, banyaknya rapat, atau panjangnya susunan pengurus.

Sebab, ukuran keberhasilan organisasi bukanlah seberapa ramai acaranya. Ukuran keberhasilan organisasi adalah seberapa besar pengaruh moral dan intelektualnya terhadap masyarakat.

Baca Juga: KH. Ahmad Rifa’i: Pendidikan Harus Membentuk Akhlak

Sayangnya, banyak organisasi keagamaan, termasuk yang berpotensi terjadi di Rifa’iyah, mulai terjebak pada budaya administratif. Energi habis untuk mengurus struktur. Pikiran habis untuk mengelola program rutin. Waktu habis untuk kegiatan seremonial. Akibatnya, organisasi menjadi sibuk bergerak tetapi tidak selalu bergerak maju.

Kita mempunyai banyak kegiatan, tetapi belum tentu melahirkan banyak gagasan.

Kita mempunyai banyak forum, tetapi belum tentu menghasilkan banyak pembaruan.

Kita mempunyai banyak pengurus, tetapi belum tentu melahirkan banyak pemikir.

Lebih ironis lagi, dalam beberapa kasus, kritik sering dianggap ancaman. Padahal KH. Ahmad Rifa’i sendiri merupakan simbol kritik. Beliau tidak menjadi besar karena pandai beradaptasi dengan kemapanan. Beliau menjadi besar karena berani mengoreksi kemapanan.

Jika hari ini kritik dipandang sebagai ancaman organisasi, maka sesungguhnya organisasi sedang bergerak menjauh dari watak asli pendirinya.

Kita perlu jujur mengatakan bahwa tidak semua gagasan baru adalah ancaman. Tidak semua kritik adalah pembangkangan. Tidak semua pemuda yang berpikir berbeda adalah pemberontak.

Bisa jadi, justru melalui merekalah masa depan organisasi sedang mengetuk pintu.

Persoalan lain yang perlu dikritisi adalah kecenderungan mengukur keberhasilan dari aspek fisik semata. Bangunan bertambah, lembaga bertambah, aset bertambah, kegiatan bertambah. Semua itu tentu patut disyukuri. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar.

Berapa banyak karya ilmiah yang lahir dari rahim Rifa’iyah setiap tahun? Berapa banyak intelektual muda yang menjadi rujukan di tingkat nasional? Berapa banyak pemikir yang mampu menafsirkan kembali Tarajumah dalam konteks kecerdasan buatan, ekonomi digital, krisis lingkungan, dan perubahan sosial kontemporer?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut masih minim, maka sesungguhnya yang sedang kita hadapi bukan krisis organisasi, melainkan krisis gagasan.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa organisasi besar tidak bertahan karena struktur yang kuat. Organisasi besar bertahan karena ide-ide besar yang terus diperbarui.

Dalam perspektif Ushul Fiqh, para ulama telah lama mengingatkan:

الحكم يدور مع علته وجودا وعدما

“Hukum berputar mengikuti alasan dan realitas yang melatarbelakanginya.”

Begitu pula dakwah dan gerakan sosial. Ketika realitas berubah, cara meresponsnya juga harus berubah. Yang tetap adalah prinsipnya. Yang dapat berkembang adalah metode dan strateginya.

KH. Ahmad Rifa’i memahami hal itu. Karena itulah beliau menggunakan bahasa yang dipahami rakyat, bukan bahasa yang hanya dimengerti kalangan elite. Dengan kata lain, beliau adalah inovator.

Maka sangat ironis apabila pengikut seorang inovator justru takut terhadap inovasi.

Pada akhirnya, persoalan terbesar yang sedang dihadapi Rifa’iyah bukanlah kekurangan jemaah, bukan kekurangan lembaga, dan bukan kekurangan sejarah. Persoalan terbesarnya adalah apakah organisasi ini masih memiliki keberanian moral sebagaimana yang dimiliki pendirinya.

Sebab, gerakan perlawanan tidak mati ketika kehilangan anggota. Gerakan perlawanan tidak mati ketika kehilangan gedung. Gerakan perlawanan tidak mati ketika kehilangan jabatan. Gerakan perlawanan mati ketika kehilangan keberanian.

Dan mungkin pertanyaan yang harus dijawab oleh seluruh keluarga besar Rifa’iyah hari ini adalah: apakah kita sedang mewarisi perjuangan KH. Ahmad Rifa’i, atau hanya mewarisi cerita tentang perjuangan KH. Ahmad Rifa’i?

Karena sejarah tidak membutuhkan penjaga kenangan. Sejarah membutuhkan pewaris keberanian. Dan masa depan Rifa’iyah akan ditentukan oleh pilihan itu.


Penulis: Samsul Rozikin
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Dakwah Rifa'iyahGerakan Rifa'iyahKH. Ahmad RifaiPemikiran KH. Ahmad Rifa'iperjuangan KH. Ahmad Rifa’iRifaiyahSejarah Rifa’iyah
Previous Post

Tarbiyatul Banat Paesan Tengah: Menjaga Tradisi Sejak 1970-an

Samsul Rozikin

Samsul Rozikin

Mahasantri Ma'had Aly At-Tarmasi Takhassus Fiqh wa Ushuluhu, PIP Tremas Pacitan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Organisasi Rifa’iyah dan Ummahatur Rifa’iyah (UMRI)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.