Bantaeng, Rifaiyah.or.id – Warga Rifa’iyah Provinsi Sulawesi Selatan menggelar pengajian dalam rangka memperingati Haul KH. Ahmad Rifa’i pada Sabtu, 7 November 2026. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan antarsesama warga Rifa’iyah yang tinggal di luar Pulau Jawa sekaligus menjaga tradisi pengajian kitab Tarajumah.
Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 60 warga Rifa’iyah dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan. Meski jumlah yang hadir belum mencakup seluruh warga Rifa’iyah di provinsi tersebut, pertemuan ini menjadi kesempatan berharga untuk memperkuat kebersamaan di tengah jarak tempat tinggal dan kesibukan masing-masing.
Sekitar 200 Warga Rifa’iyah Bermukim di Sulawesi Selatan
Ketua PW Rifa’iyah Provinsi Sulawesi Selatan, H. Sukamat, menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi kehadiran para jemaah yang tetap menyempatkan diri berkumpul meskipun memiliki kesibukan masing-masing.
Menurut H. Sukamat, jumlah warga Rifa’iyah yang bermukim di Sulawesi Selatan diperkirakan mencapai 200 orang. Namun, kondisi geografis dengan jarak antardaerah yang cukup jauh serta kesibukan pekerjaan membuat warga yang dapat menghadiri pengajian kali ini hanya sekitar 60 orang.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar warga Rifa’iyah di Sulawesi Selatan berasal dari Demak, Jawa Tengah, yang kemudian menetap dan mengembangkan usaha di wilayah tersebut. Kebanyakan dari mereka menekuni bisnis besi tua.
Gus Ketum Ajak Perkuat Seduluran dan Pengajian Tarajumah
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) AMRI, Abdul Kholiq Syafi’i, M.Pd., hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Dalam penyampaiannya, ia menekankan pentingnya membangun komunitas seduluran atau persaudaraan di antara warga Rifa’iyah yang berada di luar Pulau Jawa.
Menurutnya, keberadaan komunitas tersebut penting agar warga Rifa’iyah dapat saling mengenal, membantu, dan menguatkan satu sama lain. Solidaritas antarsesama warga juga perlu terus dijaga, terutama bagi mereka yang tinggal berjauhan dari kampung halaman.

Selain memperkuat hubungan persaudaraan, Abdul Kholiq juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi pengajian kitab Tarajumah. Ia mengajak warga untuk tetap melestarikan kajian kitab-kitab karya KH. Ahmad Rifa’i sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Dengan demikian, keberadaan warga Rifa’iyah di perantauan tidak hanya menjadi komunitas yang terikat oleh asal daerah, tetapi juga tetap memiliki ikatan keilmuan dan perjuangan melalui ajaran KH. Ahmad Rifa’i.
Usaha Besi Tua Jadi Mata Pencaharian Warga Rifa’iyah
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula bahwa warga Rifa’iyah di Sulawesi Selatan telah mengembangkan usaha besi tua di sejumlah daerah. Aktivitas usaha mereka tersebar di wilayah Maros, Gowa, Jeneponto, Bantaeng, hingga Bulukumba.
H. Sukamat, selaku Ketua PW Rifa’iyah Sulawesi Selatan, juga merupakan salah satu pengusaha besi tua yang sukses di wilayah tersebut. Keberadaan warga Rifa’iyah yang tersebar di berbagai daerah menunjukkan bahwa komunitas ini memiliki jaringan persaudaraan sekaligus aktivitas ekonomi yang berkembang di tanah perantauan.
Rencanakan Sambang Sedulur ke Tanah Jawa
Sebagai tindak lanjut dari upaya mempererat persaudaraan, warga Rifa’iyah Provinsi Sulawesi Selatan berencana mengadakan kegiatan Sambang Sedulur Rifa’iyah ke tanah Jawa.
Rencana tersebut diharapkan menjadi kesempatan bagi warga Rifa’iyah Sulawesi Selatan untuk menjalin silaturahmi secara lebih luas dengan saudara-saudara seperjuangan di Pulau Jawa.
Peringatan Haul KH. Ahmad Rifa’i ini pun tidak sekadar menjadi kegiatan pengajian tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat identitas, solidaritas, dan kebersamaan warga Rifa’iyah di perantauan. Melalui semangat seduluran dan pelestarian pengajian kitab Tarajumah, hubungan antargenerasi dan antarwilayah diharapkan terus terjaga.
Penulis: Yusril Mahendra
Editor: Yusril Mahendra




