PEKALONGAN, Rifaiyah.or.id – Ranting Angkatan Muda Rifa’iyah (AMRI) Kramatsari, Pekalongan Kota, turut meramaikan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-25 AMRI pada Selasa (27/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat kekompakan sekaligus meneguhkan semangat berkhidmah dan berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan agama.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh Ustaz Arif Budianto, senior AMRI Kramatsari. Acara kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan dan Mars AMRI sebagai bagian dari peringatan hari lahir organisasi tersebut.
Ketua Ranting AMRI Kramatsari, Sofwan Zaky, menyampaikan sambutan yang menekankan pentingnya menjadikan peringatan harlah bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, peringatan ini harus menjadi momentum untuk meneguhkan arah perjuangan, menguatkan gerakan, serta meningkatkan khidmah dan kontribusi AMRI di tengah masyarakat.
Ia juga menyoroti perjalanan AMRI selama 25 tahun yang diwarnai berbagai dinamika, tantangan, dan pencapaian. Berbagai hal tersebut dapat dilalui berkat kekompakan pengurus, anggota, serta dukungan masyarakat sekitar.
Gus Ahmad Saifullah Ajak Kader AMRI Mensyukuri Perjuangan Rifa’iyah
Acara dilanjutkan dengan mauizah hasanah yang disampaikan oleh Gus Ahmad Saifullah, yang juga dikenal sebagai Gus Asep. Dalam penyampaiannya, ia mengajak para peserta untuk mensyukuri nikmat karena menjadi bagian dari murid-murid KH. Ahmad Rifa’i.
Sebagai bentuk tahadduts bin ni’mah, Gus Asep mengajak hadirin melihat kembali keberlangsungan perjuangan para ulama terdahulu. Ia membandingkan KH. Ahmad Rifa’i dengan sejumlah tokoh ulama sezamannya, seperti Pangeran Diponegoro dan Kiai Mojo, yang memiliki pengaruh besar pada masanya.

Menurutnya, salah satu hal yang membedakan keberlanjutan pengaruh KH. Ahmad Rifa’i adalah warisan keilmuan berupa Kitab Tarajumah. Kitab-kitab tersebut terus dikaji dan dipelajari bersama oleh para pengikutnya dari masa ke masa.
Berbeda dengan tokoh-tokoh lain yang, menurut penuturannya, tidak mewariskan kitab kepada para pengikutnya, KH. Ahmad Rifa’i meninggalkan karya tulis keagamaan yang tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan keilmuan Rifa’iyah hingga sekarang.
Dari penjelasan tersebut, Gus Asep menegaskan bahwa menjadi bagian dari murid KH. Ahmad Rifa’i merupakan nikmat yang patut disyukuri. Keberadaan Kitab Tarajumah yang terus dipelajari menjadi salah satu alasan penting untuk menjaga kesinambungan ajaran dan perjuangan Rifa’iyah.
Baca Juga: Peringatan Harlah ke-25 AMRI di Pati Perkuat Amanah Pengurus dan Istiqamah Mengaji
Harlah ke-25 AMRI Jadi Momentum Memperkuat Kebersamaan
Suasana peringatan juga diwarnai pantun yang disampaikan oleh pembawa acara, Maulana. Pantun tersebut menjadi ungkapan harapan agar AMRI semakin jaya, kompak, dan terus memberikan manfaat seiring bertambahnya usia organisasi.
“Jalan-jalan ke tepi sungai,
Pulangnya membawa buah delima.
25 tahun AMRI berdiri,
Semoga makin jaya, kompak, penuh makna.”

Peringatan Harlah ke-25 AMRI menjadi pengingat bahwa perjalanan organisasi tidak hanya ditentukan oleh bertambahnya usia, tetapi juga oleh kekuatan kebersamaan, keteguhan arah perjuangan, dan kesediaan para anggotanya untuk terus berkhidmah.
Keikutsertaan AMRI Kramatsari, Pekalongan Kota, dalam memeriahkan peringatan ini menjadi bagian dari semangat bersama untuk menjaga kekompakan dan melanjutkan perjuangan Rifa’iyah melalui organisasi AMRI.
Penulis: Yusril Mahendra
Editor: Yusril Mahendra

