Biografi KH. Muhammad Fadoli: Pejuang Rifa’iyah dari Cepokomulyo

Asal-Usul Kelahiran dan Perubahan Nama
KH. Muhammad Fadoli lahir pada tahun 1888 M. Nama kecil beliau adalah Sarboen. Sebagaimana tradisi santri zaman dahulu, nama tersebut kemudian berubah setelah beliau menunaikan ibadah haji.
Berdasarkan dokumen paspor haji, Sarboen berangkat ke tanah suci dari Pelabuhan Semarang pada tanggal 16 Desember 1928 saat berusia 40 tahun. Setelah menyelesaikan rukun haji, pada malam Jumat, 23-24 Juni 1929, beliau resmi berganti nama menjadi Haji Muhammad Fadoli. Perubahan nama ini adalah simbol transformasi spiritual sekembalinya dari Baitullah.
Di balik itu, perjalanan haji di usia 40 tahun pada zaman kolonial menunjukkan tekad yang luar biasa dalam menjalankan syariat Islam sekaligus memperkuat identitas keulamaan.
Keluarga
Dalam mengarungi kehidupan dan perjuangan dakwah, KH. Fadoli didampingi oleh istri setianya, Mbah Ngarpah. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai tiga orang anak yang meneruskan garis keturunan dan nilai-nilai luhur beliau, yaitu:
-
Siti Kalsum (Sumiati)
-
KH. Zainudin
-
Hj. Siti Mar’ati
Pendidikan dan Sanad Keilmuan
Sanad keilmuan KH. Fadoli menyambung kuat kepada pendiri ajaran Rifa’iyah, KH. Ahmad Rifa’i. Beliau menimba ilmu kepada Kiai Imam Basyari di Beran, Watesalit, Batang.
Hubungan antara guru dan murid ini sangatlah erat. Bukti sejarah mencatat adanya “Layang Kangen” (surat rindu) dari Kiai Imam Basyari yang ditujukan kepada Sarboen (KH. Fadoli). Dalam surat tersebut, sang guru mengungkapkan rasa rindu yang mendalam dan meminta santri kesayangannya itu untuk bersilaturahmi ke Beran.
“Layang Kangen” dari Kiai Imam Basyari menjadi bukti bahwa keberkahan ilmu didapat dari kecintaan dan hubungan batin yang kuat antara guru dan murid (ta’dzim).

Secara genealogi keilmuan, jalurnya adalah sebagai berikut:
-
KH. Ahmad Rifa’i
-
Kiai Abu Ilham (Murid langsung KH. Ahmad Rifa’i)
-
Kiai Imam Basyari (Murid Kiai Abu Ilham)
-
KH. Muhammad Fadoli (Murid Kiai Imam Basyari)
Proses Dakwah di Kendal
Peran KH. Fadoli dalam peta dakwah di Kendal sangatlah strategis. Nama beliau tercatat dalam dokumen kolonial sebagai tokoh yang gigih menyebarkan ajaran Rifa’iyah di tengah tekanan pemerintah Hindia Belanda.
Dalam buku ‘Perlawanan Kiai Desa’ karya Prof. Dr. KH. Abdul Djamil, MA., KH. Fadoli (saat itu masih menggunakan nama Sarboen) disebut sebagai satu dari tujuh tokoh utama penyebar ajaran KH. Ahmad Rifa’i di Kendal. Hal ini diperkuat oleh laporan Residen Kendal (G.D.P.A Renardel de Lavalete) kepada Residen Semarang tertanggal 24 Oktober 1924.
Pada waktu itu, beliau tercatat membimbing 20 santri di daerah Cepoko, Gemuh. Bersama tokoh lain seperti Mat Said (yang juga membina 20 santri di Cepoko), KH. Fadoli membangun basis kekuatan moral dan spiritual di Dukuh Krajan, Desa Cepokomulyo. Dakwah beliau berfokus pada usul fikih dan tasawuf dalam kitab Riayah al Himmah dan kitab lainnya.
Kegigihan beliau di tengah tekanan sangat teruji. Meskipun dipantau ketat oleh intelijen Belanda (sebagaimana tercantum dalam laporan Residen), KH. Fadoli tetap konsisten berdakwah dan mendidik santri.
Wafat
Setelah mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan umat, KH. Muhammad Fadoli wafat pada tahun 1953 M. Beliau meninggalkan warisan berupa komunitas masyarakat Rifa’iyah yang kokoh di Gemuh, Kendal, yang tetap lestari hingga saat ini.
Biografi KH. Zainudin: Sosok “Kiai Tandur” dan Penjaga Gawang Rifa’iyah

Kelahiran dan Garis Keturunan
KH. Zainudin lahir pada tahun 1943 M. Beliau merupakan putra kedua dari tiga bersaudara pasangan KH. Muhammad Fadoli dan Mbah Ngarpah. Tumbuh besar di lingkungan keluarga pejuang, KH. Zainudin mewarisi semangat dakwah ayahnya dalam menyebarkan dan mempertahankan ajaran Rifa’iyah di tanah Kendal.
Pendidikan dan Sanad Keilmuan
Beliau memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, memadukan antara sanad Rifa’iyah yang kental dan pendidikan pesantren salaf yang progresif:
-
Pendidikan Dasar: Ilmu agama pertama kali didapatkan langsung dari ayahnya, KH. Muhammad Fadoli.
-
Mbah Yai Ridwan (Purwosari): Beliau menimba ilmu kepada Mbah Yai Ridwan Purwosari, putra dari Kiai Idris bin KH. Muhammad Tuba. Perlu diketahui bahwa KH. Muhammad Tuba adalah murid langsung dari KH. Ahmad Rifa’i, sehingga sanad keilmuan beliau sangat terjaga kemurniannya.
-
Pondok Pesantren Lirboyo: KH. Zainudin juga pernah nyantri di Kediri, tepatnya di PP. Lirboyo. Di sana, beliau belajar bersama tokoh besar lainnya, yakni KH. Muhammad Saud (Pendiri Pesantren Roudhatul Muttaqin, Cepokomulyo). Kedekatan ini membangun jejaring keilmuan yang kuat bagi perkembangan dakwah di kemudian hari.
Pengalaman belajar beliau dari jalur Rifa’iyah (Purwosari) hingga pesantren salaf (Lirboyo) menunjukkan sikap terbuka terhadap ilmu pengetahuan seluas-luasnya, yang kemudian beliau dedikasikan kembali untuk membesarkan organisasi Rifa’iyah.
Keluarga
Dalam kehidupan berkeluarga, KH. Zainudin didampingi HJ. Nur Sa’adah (Siti Puriyah) dan dikaruniai enam orang anak yang sebagian besar meneruskan jejak beliau di jalur keulamaan dan organisasi:
-
Abdul Majid (Wafat saat masih kecil)
-
Nur Wahidah
-
KH. Nurudin
-
Hj. Nur Chamidah
-
H. M. Nasrudin
-
Ky. Irhamudin
Keberhasilan beliau mendidik putra-putrinya hingga menjadi kiai dan tokoh agama menunjukkan bahwa dakwah yang sukses adalah dakwah yang mampu melahirkan generasi penerus yang militan.
Perjuangan Dakwah dan Khidmah Kultural
KH. Zainudin dikenal sebagai salah satu barisan pendiri organisasi Rifa’iyah di tingkat kultural. Beliau memiliki profil khas sebagai “Kiai Tandur”, sebuah istilah yang menggambarkan sosok kiai yang bersahaja, mandiri, dan istiqomah dalam menggarap “ladang” dakwah di akar rumput.
Istilah “Kiai Tandur” menjadi pengingat bahwa seorang pejuang agama harus memiliki kemandirian hidup agar dapat berdakwah dengan ikhlas tanpa bergantung pada orang lain.
Khidmah utama beliau meliputi:
-
Takmir Masjid At-Taqwa: Beliau menghabiskan masa hidupnya dengan berkhidmah secara istiqomah di Masjid At-Taqwa, Desa Cepokomulyo. Sebagai takmir, beliau menjaga agar masjid tetap menjadi pusat peradaban umat.
-
Ngifayahi (Penyuluh Ajaran): Beliau sangat tekun dalam ngifayahi (mengajar kitab-kitab karya KH. Ahmad Rifa’i) di majelis-majelis taklim Masjid At-Taqwa. Keistiqomahannya dalam mengisi pengajian kitab Tarajumah membuat ajaran Rifa’iyah tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat.
Wafat
Setelah puluhan tahun mengabdi sebagai penjaga benteng kultural Rifa’iyah di Gemuh, KH. Zainudin wafat pada tahun 2021 M. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam sekaligus warisan spiritual yang sangat berharga bagi warga Cepokomulyo.
Biografi KH. Nurudin Azzen: Sang Intelektual, Da’i, dan Penggerak Organisasi

Kelahiran dan Garis Keturunan
KH. Nurudin Azzen, S.Ag, M.S.I lahir pada tahun 1975 M. Beliau adalah putra ketiga dari KH. Zaenudin dan cucu dari KH. Muhammad Fadoli. Tumbuh dalam tradisi intelektual pesantren yang kuat, beliau mewarisi semangat dakwah kakeknya dan ketekunan ayahnya, namun membawakannya dalam corak yang lebih modern dan akademis.
Pendidikan dan Sanad Keilmuan
Beliau merupakan prototipe ulama modern yang menguasai khazanah klasik (turats) sekaligus metode ilmiah kontemporer:
-
Pendidikan Pesantren (Sanad Salaf):
-
Berguru kepada Simbah KH. Muhammad Sa’ud di Cepokomulyo (sahabat karib ayahnya sewaktu di Lirboyo).
-
Menimba ilmu di Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal, yang dikenal sebagai salah satu pusat literasi kitab kuning tertua di Jawa Tengah.
-
-
Pendidikan Formal & Akademik:
-
Menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang.
-
Melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral (S3). Hingga akhir hayatnya, beliau sedang dalam proses penyelesaian disertasi di bawah bimbingan langsung Prof. Dr. KH. Abdul Djamil, MA. (Rektor UNISNU Jepara dan penulis buku Perlawanan Kiai Desa yang memuat sejarah kakek beliau).
-
Meskipun sudah menjadi kiai dan dosen, beliau tetap mengejar ilmu hingga jenjang tertinggi (Disertasi S3). Ini adalah teladan nyata dari hadis minal mahdi ilal lahdi (belajar dari buaian hingga liang lahat).
Keluarga
Dalam menjalankan tugas dakwah dan akademiknya, beliau didampingi oleh istri setianya, Akmelia Syarifa Dwi. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai empat orang putra-putri:
-
Salwa Ulyana
-
Asna Suroya
-
Naqia Mumtaza
-
M. Jalaluddin Nur
Kiprah Dakwah dan Pengabdian
KH. Nurudin Azzen dikenal sebagai figur yang sangat aktif di berbagai lini:
-
Akademisi: Beliau merupakan dosen di Sekolah Tinggi Islam Kendal (STIK), tempat beliau mentransformasikan nilai-nilai agama kepada generasi muda melalui jalur pendidikan formal. Beliau membuktikan bahwa menjadi seorang Kiai tidak menghalangi seseorang untuk menjadi akademisi yang mumpuni. Pendidikan pesantren dan universitas harus berjalan beriringan.
-
Pemakmur Masjid: Bersama sang ayah (KH. Zaenudin), beliau istiqomah memakmurkan Masjid At-Taqwa Desa Cepokomulyo. Salah satu peninggalan dakwah beliau yang sangat berkesan adalah majelis taklim Kuliah Subuh dengan kajian spesifik Tafsir Al-Qur’an.
-
Pimpinan Organisasi: Beliau merupakan tokoh kunci dalam organisasi Rifa’iyah. Hingga akhir hayatnya, beliau masih menjabat sebagai Ketua PD Rifa’iyah Kabupaten Kendal, mengonsolidasikan seluruh kekuatan jamaah di tingkat daerah.
-
Da’i & Penceramah: Dikenal sebagai orator yang mumpuni, beliau sering hadir di tengah masyarakat untuk memberikan pencerahan yang menyejukkan.
- Khidmah Tanpa Batas: Beliau mewariskan semangat untuk berkhidmah di tiga pilar sekaligus: Masjid (ibadah), Organisasi (sosial-politik), dan Kampus (pendidikan).
Wafat dan Estafet Kepemimpinan
KH. Nurudin Azzen wafat pada tahun 2021 M, di tahun yang sama dengan kewafatan ayahandanya. Meski tergolong masih dalam usia produktif, dampak perjuangan beliau sangat dirasakan luas.
Setelah kewafatan beliau dan sang ayah, estafet kepengurusan Masjid At-Taqwa Cepokomulyo kini dilanjutkan oleh adik beliau, Ky. Irhamudin Azzen, dengan dukungan penuh dari sang kakak, H. M. Nasrudin Azzen.
Penutup
Jejak langkah ketiga tokoh di atas—KH. Muhammad Fadoli, KH. Zaenudin, dan KH. Nurudin Azzen—merupakan bukti nyata sebuah estafet perjuangan yang tidak pernah putus. Melintasi tiga generasi, keluarga besar ini telah mendedikasikan hidupnya untuk memastikan ajaran KH. Ahmad Rifa’i tetap tegak dan relevan di bumi Kendal, khususnya di Desa Cepokomulyo.

Dari kepeloporan KH. Fadoli yang membangun fondasi di tengah tekanan kolonial, berlanjut pada keistiqomahan KH. Zaenudin dalam menjaga tradisi kultural masjid, hingga transformasi dakwah intelektual yang dilakukan oleh KH. Nurudin Azzen, ketiganya telah mengukir jasa yang sangat besar bagi umat.
Sebagai bentuk takzim dan upaya merawat memori kolektif atas perjuangan mereka, masyarakat Cepokomulyo secara rutin menggelar peringatan Haul setiap tahunnya. Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk menyerap kembali ibrah dan semangat juang para leluhur.
Hal ini terlihat jelas pada perhelatan Haul yang dilaksanakan pada Ahad, 3 Mei 2026 yang lalu. Menurut catatan panitia, acara tersebut dibanjiri oleh sekitar 3.000 pengunjung, baik laki-laki maupun perempuan, yang datang dari berbagai daerah. Antusiasme jamaah yang luar biasa ini menjadi saksi bisu betapa mendalamnya kecintaan masyarakat terhadap sosok-sosok pejuang yang telah mewakafkan seluruh umurnya untuk ilmu, organisasi, dan pengabdian kepada Sang Khalik.
Semoga semangat yang mereka wariskan terus menyala di hati generasi penerus Rifa’iyah, demi tegaknya syiar Islam yang damai dan mandiri.
Kontributor: Nasrudin Azzen
Penulis: Ahmad Zahid Ali
Editor: Ahmad Zahid Ali

