Hagia Sophia merupakan salah satu bangunan paling bersejarah di dunia yang berdiri megah di Istanbul, Turki. Selama lebih dari 1.400 tahun, bangunan ini menjadi saksi berbagai perubahan besar dalam perjalanan peradaban, mulai dari masa Kekaisaran Bizantium, Kesultanan Utsmaniyah, hingga Turki modern.
Keistimewaan Hagia Sophia tidak hanya terletak pada kemegahan arsitekturnya, tetapi juga pada sejarah panjang yang menyertainya. Bangunan ini pernah berfungsi sebagai gereja, kemudian menjadi masjid, sempat dijadikan museum, dan kini kembali difungsikan sebagai masjid.
Perjalanan panjang tersebut menjadikan Hagia Sophia sebagai salah satu bangunan paling ikonik di dunia sekaligus simbol pertemuan berbagai peradaban.
Dibangun Lebih dari 1.400 Tahun Silam
Hagia Sophia dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Justinian I dari Kekaisaran Bizantium. Pembangunannya dimulai pada tahun 532 M dan selesai sekitar lima tahun kemudian, tepatnya pada tahun 537 M.
Pada masanya, Hagia Sophia dikenal sebagai gereja terbesar di dunia dan menjadi pencapaian luar biasa dalam bidang arsitektur. Selama hampir seribu tahun, bangunan ini berfungsi sebagai katedral utama Gereja Ortodoks Timur.
Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, Hagia Sophia juga menjadi lokasi penobatan para kaisar Bizantium. Predikatnya sebagai gereja terbesar di dunia bertahan hingga akhirnya tergeser setelah berdirinya Basilika Santo Petrus di Vatikan pada abad ke-16.
Berubah Menjadi Masjid Setelah Penaklukan Konstantinopel
Perubahan besar terjadi pada tahun 1453 ketika Sultan Mehmed II atau Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel. Setelah kemenangan tersebut, Hagia Sophia diubah menjadi masjid.
Beberapa penyesuaian dilakukan, di antaranya penambahan mihrab, mimbar, serta empat menara yang hingga kini menjadi ciri khas bangunan tersebut. Meski demikian, struktur utama bangunan tetap dipertahankan sehingga kemegahan arsitektur aslinya masih dapat dinikmati.
Pada tahun 1935, pemerintah Turki kemudian mengubah status Hagia Sophia menjadi museum. Selama sekitar 85 tahun, bangunan ini terbuka bagi pengunjung dari berbagai negara tanpa memandang agama.
Kembali Difungsikan sebagai Masjid
Pada tahun 2020, pemerintah Turki memutuskan mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid.
Meskipun kembali digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam, Hagia Sophia tetap dapat dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati keindahan arsitektur dan nilai sejarahnya di luar waktu pelaksanaan salat.
Salah satu daya tarik utamanya adalah kubah besar berdiameter sekitar 31 meter dengan tinggi lebih dari 55 meter dari lantai. Pada masa pembangunannya, desain kubah tersebut dianggap sangat revolusioner karena memberikan kesan seolah-olah melayang di udara.
Perpaduan Arsitektur Bizantium dan Islam
Keunikan lain Hagia Sophia terletak pada perpaduan dua gaya arsitektur besar yang berpadu dalam satu bangunan.
Di bagian dalam, pengunjung dapat melihat mosaik bergaya Bizantium yang menggambarkan tokoh-tokoh Kristen. Di sisi lain, terdapat kaligrafi Islam berukuran besar yang memuat nama Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, serta Khulafaur Rasyidin.
Perpaduan unsur tersebut menjadikan Hagia Sophia sebagai bangunan yang memiliki karakter khas dan sulit ditemukan pada bangunan lain di dunia.
Pada tahun 1985, kawasan bersejarah Istanbul, termasuk Hagia Sophia, ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO karena memiliki nilai sejarah, budaya, dan arsitektur yang sangat tinggi.
Selama berabad-abad, Hagia Sophia menjadi saksi pergantian kekuasaan, perubahan budaya, serta perkembangan agama. Nilai sejarah itulah yang menjadikannya bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan juga simbol penting dalam perjalanan peradaban manusia.
Baca Juga: Cara Mendidik Anak Menurut Ali bin Abi Thalib: Rumus 7×3 untuk Membentuk Generasi Saleh
Penulis: Devi Setya
Editor: Yusril Mahendra
©2026 Detik.com

