Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Istikamah Empat Dasawarsa

Reportase Inspiratif Haul Akbar Simbah KH. Muhammad Sa’ud, Simbah Ny. Hj. Mu’ayanah, dan KH. Azka Badruzzaman

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
July 29, 2026
in Kolom
0
Istikamah Empat Dasawarsa
0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Syiiran Kitab Tarajumah mengalun pelan-pelan sebelum matahari benar-benar terik, mengiringi jemaah yang mulai memadati halaman Pondok Pesantren Roudlotul Muttaqiin, Desa Cepokomulyo. Bait-baitnya berbahasa Jawa halus, berkisah tentang sifat murid yang husnudzon kepada guru dan sifat guru yang ilmunya barokah — kidung pembuka yang, disadari atau tidak oleh yang mendengarnya, sesungguhnya adalah miniatur dari seluruh pesan yang bakal bergulir sepanjang hari: adab murid kepada guru, sanad ilmu yang tersambung, dan keberkahan yang diwariskan lintas generasi.

Hari itu menjadi istimewa karena menyatukan peringatan tiga sosok sekaligus. Haul akbar digelar untuk mengenang haul ke-12 KH. Muhammad Sa’ud bin Arba’i, haul pertama Ibu Nyai Hajah Mu’ayanah, dan haul kedua KH. Azka Badruzzaman — tiga figur yang berturut-turut meletakkan dan merawat fondasi Pondok Pesantren Roudlotul Muttaqiin, sekaligus mendoakan para masyayikh Desa Cepokomulyo yang telah lebih dulu berpulang.

Barisan Tamu Kehormatan

Majelis zikir dan haul ini dihadiri jajaran ulama dan pengurus organisasi Rifa’iyah dari berbagai daerah. Di antara yang hadir dan mendapat penghormatan khusus dalam sambutan pembuka adalah KH. Khairuddin Hasbullah dari Karawang, Jawa Barat, yang berkenan menyampaikan mau’idhah hasanah; Dr. KH. Mukhlisin Muzari dari Cirebon selaku Ketua Pimpinan Pusat Rifa’iyah; KH. Afif Fadhol dari Wonosobo selaku Ketua Dewan Syuro Rifa’iyah Pusat; serta KH. Mahfudz Isrofi dari Batang selaku Ketua Pimpinan Wilayah Rifa’iyah Jawa Tengah.

Turut hadir dan dihormati pula Simbah Kiai Imbuh Jumali selaku sesepuh Rifa’iyah, KH. Nur Yasin dari Temanggung, KH. Muhdori Albadar, KH. Ali Mustakirin, KH. Ali Munawirun, KH. Ali Sibron, serta para kiai dan asatid dari lintas ormas — Rifa’iyah, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah — yang menurut salah satu pembawa sambutan tidak mungkin disebut satu per satu, namun tidak mengurangi rasa takzim seluruh jemaah. Unsur pemerintahan Desa Cepokomulyo, mulai dari kepala desa beserta perangkat, juga hadir mendampingi warga dan para alumni yang datang dari berbagai daerah.

“Aku Ini Murid Yang Beling” — Testimoni Kh. Zamroni

Sambutan pertama disampaikan oleh KH. Zamroni dari Limpung, Batang, seorang sesepuh yang mengaku pernah nyantri di Roudlotul Muttaqiin empat puluh tahun silam, sejak usianya baru delapan tahun. Dengan nada merendah namun sarat haru, ia menyebut dirinya “murid yang beling” (murid yang nakal) yang di kemudian hari justru dipercaya menjadi bagian dari kepengurusan pondok, merangkap keamanan dan bendahara — sebuah didikan kemandirian yang, katanya, ia peroleh langsung dari lingkungan pondok asuhan KH. Muhammad Sa’ud.

Bagian paling menggugah dari testimoninya adalah kesaksian tentang keteladanan pribadi KH. Muhammad Sa’ud. Sejak dulu, ketika listrik belum masuk desa, sang kiai terbiasa mengayuh sepeda sendiri untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga ke Pasar Cepiring. Ibu Nyai Mu’ayanah, istrinya, tidak pernah diminta turun ke pasar. Bagi KH. Zamroni, kebiasaan sederhana ini adalah cerminan akhlak yang jarang ditemui: seorang suami yang menjaga kehormatan istrinya sendiri, bukan sekadar berpesan tentang itu kepada orang lain.

“Estu, kulo mboten nemoke guru sing sae, sewarok, kados Pak Kiai Haji Muhammad Sa’ud.”  — KH. Zamroni

KH. Zamroni menandaskan bahwa misi KH. Muhammad Sa’ud sesungguhnya tunggal: memastikan setiap muridnya mampu beribadah dengan benar, memahami syarat dan rukun, sehingga ibadahnya diterima Allah Swt. Di luar misi itu, sang kiai tidak pernah berani mengajarkan hal-hal yang macam-macam. Konsistensi itulah, menurutnya, yang membuat KH. Muhammad Sa’ud sanggup mengajar dari malam hingga menjelang subuh selama kurang lebih empat puluh tahun tanpa henti — sebuah istikamah yang, dalam keyakinan KH. Zamroni, mustahil dijalani tanpa pertolongan Allah.

Ia juga mengenang suasana pemakaman sang guru: jenazah yang diusung dari musala menuju permakaman disambut oleh warga yang begitu ingin ikut memanggul secara bergiliran, seolah jenazah itu sendiri “dirindukan” oleh bumi tempatnya akan disemayamkan — sebuah ungkapan Jawa klasik untuk menggambarkan husnul khatimah seorang yang dicintai, baik oleh sesama manusia maupun, secara simbolik, oleh alam.

Di sisi lain, KH. Zamroni menitipkan pesan yang tegas kepada orang tua santri: jangan sampai kesibukan mengejar pendidikan formal membuat lupa memperhatikan ibadah anak. Rezeki, tegasnya, sudah tertulis dalam catatan Allah dan tidak semata bergantung pada tingginya jenjang sekolah. Ia menyampaikan pula sebuah catatan yang menggugah — bahwa di antara ulama Rifa’iyah yang wafat sesudah tahun 2000, haul KH. Muhammad Sa’ud bin Arba’i termasuk yang paling ramai dan paling banyak dikunjungi peziarah, sebuah tanda keberkahan yang terus terjaga.

Estafet Pengasuhan — Sambutan Gus Faza Nasrun Najib

Mewakili keluarga besar (dzuriyah) sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Muttaqiin, Gus Faza Nasrun Najib menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada seluruh panitia, alumni, donatur, dan warga Dusun Cepokomulyo yang telah bergotong royong menyukseskan penyelenggaraan haul.

Dalam sambutannya, ia menuturkan rangkaian estafet kepengasuhan pondok. Sepeninggal KH. Muhammad Sa’ud dua belas tahun lalu, tongkat pengasuhan diteruskan oleh KH. Azka Badruzzaman selama kurang lebih sepuluh tahun. Namun sepuluh tahun bagi mereka yang berjuang, kata Gus Faza, terasa demikian panjang — dan KH. Azka Badruzzaman pun menyusul ke hadirat Allah Swt. Pengasuhan kemudian dilanjutkan oleh Ibu Nyai Hajah Mu’ayanah bersama Ibu Nyai Ifa Rifa’atul Mahmudah. Belum genap setahun berselang, Ibu Nyai Hajah Mu’ayanah pun turut menyusul, sehingga dalam rentang dua tahun terakhir pondok kehilangan dua figur sekaligus yang selama ini mengasuh dan merawatnya.

Kini, kepengasuhan Pondok Pesantren Roudlotul Muttaqiin sepenuhnya berada di tangan Ibu Nyai Ifa Rifa’atul Mahmudah. Gus Faza menyampaikan kabar baik di tengah dukacita itu: beberapa bulan terakhir, amanah Ibu Nyai Ifa bertambah dengan dibukanya unit santri putri di pondok — perluasan yang menandai babak baru bagi pesantren ini. Ia mengajak seluruh hadirin mendoakan agar Ibu Nyai Ifa Rifa’atul Mahmudah dan segenap masyayikh senantiasa diberi kesehatan lahir batin, panjang usia yang berkah, keistikamahan, serta keikhlasan dalam mendidik para santri, sehingga Pondok Pesantren Roudlotul Muttaqiin terus lestari hingga akhir zaman.

Wasiat Sesepuh — Kh. Habib Nur Tentang Adab Dan Ilmu

Sebagai penasehat sekaligus sesepuh pondok, KH. Habib Nur menyampaikan sambutan yang bernuansa reflektif. Ia bertutur telah mengabdi mengajar di Roudlotul Muttaqiin sejak era KH. Muhammad Sa’ud, meneruskan estafet perjuangan yang sama. Dengan suara bergetar, ia mengenang dua kerabat dekatnya yang telah berpulang lebih dulu dalam usia relatif muda — satu di antaranya wafat pada usia 36 tahun, seorang lagi pada usia 43 tahun, salah satunya ketika studi doktoralnya tinggal selangkah lagi. “Panjang atau pendeknya usia itu sama saja,” ujarnya mengutip sebuah syair Arab, “yang membedakan adalah prestasi ibadah kepada Allah Swt.”

KH. Habib Nur menjelaskan ciri khas kurikulum Roudlotul Muttaqiin yang tetap dipertahankan hingga kini: sekitar 60 hingga 70 persen pembelajaran menggunakan kitab tarajumah, juga metode tarajumah — pengkajian kitab kuning klasik yang diterjemahkan ke bahasa Jawa pegon — dilengkapi kajian kitab-kitab salaf seperti Manaqib, ilmu musthalah hadis, dan tafsir yang ia tangani sendiri, sementara Gus Faza menangani bidang tarajumah, dan sejumlah asatid lain seperti KH. Irhamuddin menangani ilmu alat seperti Alfiyah.

Karamah dan Adab: Kisah Kiai Kholil Bangkalan

Untuk menegaskan makna adab murid, KH. Habib Nur menuturkan kisah gurunya, KH. Haris Dimyati — keponakan Syekh Mahfudz At-Tarmasi, penyusun kitab berbahasa Jawa yang masyhur hingga ke Tanah Arab — tentang masa kecil Mbah Kiai Kholil Bangkalan. Suatu ketika, sang kiai kecil tertawa terkekeh-kekeh di tengah jemaah salat Magrib yang diimami gurunya sendiri. Usai salat Isya, sang guru bertanya siapa yang tertawa saat ia mengimami. Kiai Kholil kecil mengaku, lalu menjelaskan: ia melihat berkat (besek) besar berputar-putar di atas kepala gurunya ketika membaca surat-surat pendek pada rakaat pertama, alih-alih surat panjang seperti biasa — sebab sebelum salat, sang guru sempat berpesan pada istrinya agar salat dipercepat karena ada hajatan yang harus didatangi.

Gurunya menangis mendengar penjelasan itu, mengakui kebenarannya. Bagi KH. Habib Nur, kisah ini bukan sekadar cerita karamah, melainkan pelajaran tentang waskita (kepekaan batin) sebagai anugerah Allah kepada mereka yang dekat dengan-Nya, sekaligus tentang adab murid yang sesungguhnya: taat pada tuntunan dan perintah guru, bukan sekadar rajin mengantarkan buah tangan.

“Adabul murid iku derek dateng sedoyo perintah lan dawuh-dawuhipun guru, ora kok mung gemati ngeteri barang.”  — KH. Habib Nur

Di penghujung sambutannya, KH. Habib Nur menyampaikan teguran halus kepada para alumni yang jarang atau bahkan belum pernah kembali sejak lulus, mengingatkan agar generasi muda tidak hanya piawai memakai gawai namun lalai pada ketaatan beribadah. Ia menutup dengan doa bagi seluruh alumni dan masyarakat agar tetap istikamah menjaga ilmu yang telah diwariskan.

Inti Mau’idhah Hasanah — Kh. Khairuddin Hasbullah

Puncak acara adalah mau’idhah hasanah yang disampaikan KH. Khairuddin Hasbullah dari Karawang, Jawa Barat. Mengawali tausiahnya, ia mengangkat sebuah hadis masyhur riwayat Bukhari dan Muslim tentang seorang lelaki yang berulang kali diperintahkan Rasulullah Saw. untuk mengulang salatnya.

اِرْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

“Kembalilah, lalu salatlah, sebab sesungguhnya engkau belum salat.”

Hadis ini, menurut KH. Khairuddin, menjadi pintu masuk tema besar mau’idhahnya: bahwa ibadah yang benar bukan sekadar gerakan yang tampak sempurna, melainkan yang memenuhi syarat dan rukunnya secara utuh — sebagaimana yang dahulu ditekankan berulang-ulang oleh KH. Muhammad Sa’ud kepada murid-muridnya.

Bahasa yang Membumi: Warisan Metode KH. Ahmad Rifa’i

KH. Khairuddin menguraikan salah satu keistimewaan metode dakwah yang diwariskan KH. Ahmad Rifa’i dan diteruskan KH. Muhammad Sa’ud: menerjemahkan konsep-konsep ilmu Arab ke dalam bahasa Jawa yang sederhana, tanpa mengharuskan santri awam menempuh dahulu ilmu nahwu-sharaf yang rumit. Ia mencontohkan pola kata bentukan pasif (mabni majhul) yang dipadankan langsung ke kosakata Jawa sehari-hari — seperti “ginaweyan” dari kata “gaweyan”, “kinaweruhan” dari “kaweruh”, atau “winewehan” dari “weweh” — sehingga santri dapat memahami struktur makna tanpa harus lebih dulu fasih membaca kamus bahasa Arab.

“Tidak ada alasan untuk mengatakan bahasa Jawa itu sulit,” tegasnya, menandaskan bahwa kesederhanaan bahasa inilah yang membuat ajaran KH. Ahmad Rifa’i mudah diterima masyarakat awam, sekaligus menjadi kunci mengapa istikamah dalam berdakwah — betapapun sederhana caranya — akan mengundang pertolongan Allah. Ia mengutip firman Allah dalam surat Fushshilat sebagai penegasannya.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka istikamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’ (QS. Fushshilat: 30)”

Malaikat-malaikat itu, lanjutnya, hadir menyertai siapa saja yang berkumpul dalam kebaikan dan zikir kepada Allah — seperti majelis haul yang tengah berlangsung. Bahkan, tambahnya, salah satu kekhasan ajaran KH. Ahmad Rifa’i adalah kedetailannya: bila kitab-kitab umum hanya menyebut dua malaikat pencatat (Raqib dan Atid), Al-Qur’an surat Ar-Ra’d menyebut adanya malaikat penjaga yang bergantian di hadapan dan di belakang setiap insan.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ

“Bagi setiap orang ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya secara bergiliran, dari depan dan belakangnya, atas perintah Allah. (QS. Ar-Ra’d: 11)”

Jejak Gerakan Tarajumah dalam Sejarah

KH. Khairuddin lalu membawa hadirin menyusuri konteks sejarah gerakan tarajumah. Ia menyebut KH. Abdul Aziz Al-Mukhtasim sebagai salah satu perintis (minal awwalin) yang secara rutin mengantar sendiri anak-anak dari sekitar Sapugarut, Pekalongan, untuk nyantri di pesantren Termas — sebuah bentuk perjuangan menjaga kelestarian ilmu agama di kalangan warga Rifa’iyah.

Ia mengutip pula catatan seorang peneliti Belanda dari akhir abad ke-19 yang menuliskan laporan tentang kondisi masyarakat Islam di Jawa. Menurut catatan itu, sekitar tahun 1886, pemahaman keislaman masyarakat awam saat itu umumnya hanya terbatas pada tiga hal: puasa Ramadan, khitan, dan larangan makan daging babi — sementara ilmu fikih yang lebih mendalam, termasuk tata cara salat dan zakat, banyak belum dipahami. Kekosongan pemahaman itulah, menurut KH. Khairuddin, yang sempat dimanfaatkan oleh ajaran-ajaran menyimpang di masa penjajahan Belanda. Ia mengaitkannya dengan derasnya arus dakwah tarajumah yang justru hadir untuk mengisi kekosongan itu dengan fikih yang benar dan mudah dipahami.

Menyeimbangkan Fikih dan Tasawuf

Bagian penting lain dari tausiah ini adalah peringatan tentang pentingnya keseimbangan antara fikih dan tasawuf. KH. Khairuddin mengutip sebuah kaidah yang dinisbatkan kepada Imam Malik, sebagaimana tercantum dalam kitab Iqadhul Himam Syarh Al-Hikam.

مَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ فَقَدْ تَفَسَّقَ، وَمَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّهْ فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّقَ

“Barang siapa berfikih tanpa bertasawuf, sungguh ia telah fasik. Barang siapa bertasawuf tanpa berfikih, sungguh ia telah zindik. Dan barang siapa menghimpun keduanya, sungguh ia telah mencapai kebenaran.”

Kaidah ini, jelasnya, menjadi peringatan atas kekeliruan yang kerap muncul di tengah masyarakat: sebagian orang yang merasa ilmu tasawufnya telah “menyatu dengan lautan” lalu menganggap segala kesalahan dan pelanggaran syariat tidak lagi menjadi soal. Ia menyinggung secara umum fenomena tokoh-tokoh yang mengaku ahli tasawuf namun mempertontonkan perilaku yang jauh dari tuntunan syariat sebagai peringatan, bukan untuk dicontoh.

Cahaya yang Ternyata Iblis: Kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Untuk memperkuat pesan ini, KH. Khairuddin mengisahkan ulang kisah klasik dalam Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Suatu ketika, saat berkhalwat, sang syekh melihat cahaya putih berpendar-pendar yang menyatakan dirinya adalah utusan mulia, memberitahukan bahwa sang syekh telah mencapai derajat tertinggi sehingga apa yang tadinya haram kini telah dihalalkan baginya. Alih-alih tergoda, Syekh Abdul Qadir justru murka. Ia sadar bahwa Allah tidak pernah memerintahkan keburukan.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ

“Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan (perbuatan) yang keji. (QS. Al-A’raf: 28)”

Cahaya itu pun berubah menjadi asap, menampakkan wujud aslinya sebagai iblis, yang mengaku telah berhasil menyesatkan ribuan ulama dengan cara serupa, namun gagal kali ini karena keteguhan sang syekh berpegang pada syariat. “Jangan sampai kita terkena bujukan seperti itu,” pesan KH. Khairuddin, mengingatkan bahwa godaan semacam ini bisa menyasar siapa saja, tanpa memandang profesi atau institusi — termasuk, dengan nada hati-hati, ia menyinggung sorotan publik belakangan ini terhadap sejumlah kasus penyimpangan di sebagian kecil pesantren. Ia mengingatkan bahwa dari sekitar 41 ribu pesantren di Indonesia, mayoritas justru merupakan lembaga yang telah berusia ratusan tahun dan terjaga tradisinya, dan bahwa godaan serupa juga terjadi di berbagai profesi dan institusi lain — sehingga ia mengajak jemaah untuk menyikapinya dengan introspeksi dan kewaspadaan, bukan generalisasi.

Rezeki, Pendidikan, dan Kesabaran ala Nabi Zakaria

KH. Khairuddin turut menegaskan bahwa rezeki adalah anugerah Allah yang tidak melulu berbanding lurus dengan jenjang pendidikan formal. Dengan nada segar, ia mengajak hadirin mengamati sendiri komposisi jemaah haji di lingkungan masing-masing, yang menurutnya justru banyak diisi kalangan wiraswasta dibanding pegawai negeri. Ia mengaitkannya dengan kisah panjang doa Nabi Zakaria alaihissalam yang meminta keturunan hingga usia lanjut, sebagai teladan kesabaran menanti ketetapan waktu Allah.

Ia mengingatkan pula bahwa warisan sejati para nabi bukanlah harta, melainkan ilmu dan hikmah — mengutip riwayat bahwa menjelang wafat, Rasulullah Saw. meminta agar tujuh dirham terakhir yang tersisa di bawah bantalnya disedekahkan seluruhnya kepada yang membutuhkan.

Menyempurnakan yang Wajib dengan yang Sunnah

Kembali ke hadis pembuka tentang salat yang diulang tiga kali, KH. Khairuddin mengajak jemaah untuk tidak berhenti pada pemenuhan rukun qauli dan fi’li semata, tetapi juga menjaga kekhusyukan hati (rukun qalbi) — sesuatu yang menurutnya justru menjadi tantangan tersendiri bagi umat yang bukan penutur asli bahasa Arab. Ia juga mengingatkan pentingnya mempelajari kitab-kitab dasar seperti Riyadush Shalihin secara mendalam, bukan sekadar dibaca sepintas, dengan mengangkat kisah masyhur seorang pembunuh seratus nyawa yang bertobat dan akhirnya dituntun oleh seorang alim untuk memahami syarat dan rukun tobat yang benar.

Kisah itu, tegasnya, relevan dengan kekeliruan yang masih sering dijumpai hari ini — anggapan bahwa dosa besar, termasuk korupsi, dapat “dihapus” semata dengan menunaikan umrah atau haji tanpa memenuhi syarat tobat yang sesungguhnya: menghentikan perbuatan, menyesalinya, dan bertekad tidak mengulanginya.

Kriteria Wali yang Sesungguhnya

Menutup bagian ini, KH. Khairuddin menegaskan kriteria wali Allah yang sejati merujuk pada surat Yunus.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. (QS. Yunus: 62–63)”

Syaratnya jelas, tegasnya: iman dan takwa — bukan kesaktian. Mengutip Kitab Jami’ Karamatil Auliya, ia menandaskan bahwa siapa pun yang melanggar hukum syariat, sekalipun konon mampu terbang di angkasa atau berjalan di atas air, tidak layak disebut wali, melainkan zindik.

Ukhuwah Lintas Ormas dan Lintas Bangsa

Di bagian penutup, KH. Khairuddin mengajak jemaah menjaga persaudaraan lintas organisasi keislaman. Ia memaparkan bahwa secara historis, rumusan akidah, tasawuf, dan fikih Rifa’iyah sejalan dengan banyak ormas Islam lain di Indonesia — berpedoman pada akidah Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Al-Maturidi, tasawuf Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali, serta fikih mazhab Syafi’i sebagai rujukan utama Rifa’iyah. Kesamaan pijakan inilah, menurutnya, yang seharusnya mempererat, bukan memisahkan, sesama umat Islam yang berbeda ormas.

Ia turut mengingatkan agar penyelenggaraan haul tidak tergelincir menjadi pengkultusan sosok yang diperingati. Mengutip peringatan dalam surat Nuh tentang berhala-berhala Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr yang bermula dari sosok-sosok saleh yang kemudian dipuja berlebihan oleh generasi sesudahnya, KH. Khairuddin menegaskan bahwa haul semestinya memuliakan ilmu dan keteladanan, bukan menuhankan pribadi.

Ia menutup dengan menegaskan prinsip kemuliaan yang tidak mengenal sekat suku maupun bangsa, merujuk firman Allah dalam surat Al-Hujurat.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (QS. Al-Hujurat: 13)”

Prinsip ini, tegasnya, berlaku bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang etnis atau bangsa. Ia mencontohkan kisah Abdullah bin Salam, seorang alim Yahudi di Madinah yang masuk Islam begitu mendengar langsung pidato pertama Rasulullah Saw. sesampainya di Madinah — seruan untuk menyebarkan salam, memberi makan orang yang membutuhkan, menyambung tali silaturahim, dan salat malam ketika manusia lain terlelap.

أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الْأَرْحَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, sambungkanlah tali silaturahim, dan salatlah pada malam hari ketika manusia lain tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)”

Sebaliknya, tambahnya, kedekatan nasab pun tidak menjamin keselamatan bila tak disertai keimanan dan amal saleh — ia mengingatkan kisah putra Nabi Nuh alaihissalam yang tidak diselamatkan dari banjir besar meski merupakan anak kandung sang nabi, sebagaimana termaktub dalam surat Hud. Sebaliknya pula, ia mengangkat sahabat Ikrimah bin Abi Jahal, putra dari Abu Jahal yang dikenal sebagai musuh besar Islam, namun kemudian tumbuh menjadi salah satu panglima yang berjasa bagi umat — bukti bahwa nasab bukan penentu, melainkan pilihan dan perjuangan setiap pribadi.

KH. Khairuddin menutup mau’idhahnya dengan ajakan agar semangat yang diwariskan KH. Ahmad Rifa’i dan KH. Muhammad Sa’ud — mensahihkan ibadah umat Indonesia — terus dibawa oleh para santri dan alumni ke mana pun mereka mengabdi kelak, dari Kalimantan hingga Papua dan Palembang, disertai permohonan maaf atas kekhilafan dalam penyampaian, dan doa penutup.

Penutup: Doa, Infak, Dan Kidung Penutup

Rangkaian acara diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin Dr. KH. Mukhlisin Muzari, Ketua Pimpinan Pusat Rifa’iyah, memohonkan kebaikan dunia dan akhirat bagi seluruh jemaah, para masyayikh yang dihaul, serta keberlangsungan Pondok Pesantren Roudlotul Muttaqiin. Sebelum mau’idhah utama, acara juga diisi sesi penggalangan infak yang dipandu Gus Abdul Basit Al-Hafidz dari Pekalongan, diiringi selawat bersama, dengan hasil dialokasikan untuk pembangunan gedung kegiatan belajar-mengajar pondok. Panitia mengumumkan total hasil infak kardus keliling siang itu terkumpul sebesar Rp1.470.000, dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dilantunkan oleh Ustaz Rifa’ul Atfal Al-Hafidz, alumni pondok asal Wonosobo, membacakan ayat-ayat tentang keutamaan orang yang gugur di jalan Allah dan pembukaan surat Al-Qiyamah.

Majelis ditutup dengan kidung yang menggemakan kembali tembang pembuka di awal acara — pesan tentang menjauhi yang haram, menjaga hormat kepada guru, dan pentingnya ilmu yang berlandaskan tauhid yang benar. Sebuah penutup yang menyempurnakan lingkaran hari itu: dari kidung pembuka tentang adab murid, hingga kidung penutup yang menegaskannya kembali sebagai pesan yang harus dibawa pulang oleh setiap jemaah.

Haul akbar di Cepokomulyo siang itu, pada akhirnya, bukan sekadar mengenang tiga nama yang telah tiada. Ia adalah kurikulum hidup tentang istikamah — dari kayuhan sepeda seorang kiai ke pasar Cepiring, dari kelas malam hingga subuh selama empat puluh tahun, dari kitab tarajumah yang membumikan ilmu tinggi ke bahasa rakyat, hingga amanah baru yang kini dipikul Ibu Nyai Ifa Rifa’atul Mahmudah bersama unit santri putri yang baru dibuka. Estafet itu, sebagaimana ditegaskan berulang kali sepanjang acara, akan terus bersambung selama ada yang bersedia menjaga adab dan meneruskan ilmunya.

Baca juga: Ketika Kaca Hati Berdebu


Penulis: Ahmad Saefullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: CepokomulyoHaul KH. Muhammad Sa'udKitab TarajumahNy. Hj. Mu'ayanahPondok Pesantren Roudlotul MuttaqiinRifaiyahsantri rifa'iyahUlama Rifa’iyah
Previous Post

WhatsApp Web Tiba-Tiba Error? Ini 7 Cara Mengatasinya dengan Mudah

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.