Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى هَدَانَا لِلإِيْمَانِ، وَأَفَاضَ عَلَيْنَا مِنْ نُوْرِ الْعِلْمِ وَالْبَيَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْوَاحِدُ الْمَنَّانُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِالْقُرْآنِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِى الْفَضْلِ وَالْعِرْفَانِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ: يَرفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنوا مِنكُم وَالَّذينَ أوتُوا العِلمَ دَرَجاتٍ
Sidang Jumat yang Dirahmati Allah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, uswah hasanah kita dalam menuntut dan mengamalkan ilmu.
Belakangan ini, kita sering mendengar berita populer tentang prestasi anak-anak bangsa dalam “Cerdas Cermat” atau kompetisi sains tingkat internasional. Fenomena ini tentu membanggakan. Namun, sebagai umat beriman, kita perlu merenungkan kembali: Apakah hakikat “cerdas” yang sesungguhnya di hadapan Allah SWT?
Dalam kitab Syarikhul Iman, KH. Ahmad Rifa’i menjelaskan perbedaan antara orang yang pintar secara dhohir dengan orang yang pintar secara hakikat. Beliau menuliskan:
اَلْعَالِمُ الْحَقِيْقَةُ الَّذِي عِلْمُهُ كَثِيْرٌ وَنَافِعٌ، بِخِلاَفِ مَنْ ظَاهِرُهُ عَالِمٌ وَحَقِيْقَتُهُ جَاهِلٌ بِسَبَبِ حُبِّ الدُّنْيَا
Artinya: “Orang alim yang sesungguhnya adalah orang yang ilmunya banyak dan bermanfaat. Berbeda dengan orang yang penampakan luarnya seperti orang alim (pintar), namun hakikatnya dia bodoh karena hatinya rakus terhadap dunia.”
Hadirin yang Dimuliakan Allah,
Cerdas dalam pandangan syariat bukan sekadar mampu menjawab soal matematika atau menghafal teori fisika. Cerdas yang hakiki adalah kecerdasan yang membawa pemiliknya semakin tunduk kepada Allah SWT. Dalam kitab tersebut, KH. Ahmad Rifa’i mengingatkan agar kita tidak menjadi “Alim Fasik” (orang berilmu yang menyimpang)—yaitu mereka yang cerdas otaknya namun hanya menggunakan ilmunya untuk kepentingan duniawi, pangkat, dan pujian manusia.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang dikutip maknanya dalam kitab Syarikhul Iman:
إِنَّ مِنْ غَيْرِ الدَّجَّالِ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ مِنَ الدَّجَّالِ، فَقِيْلَ مَنْ هُوَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ: الْعُلَمَاءُ السُّوْءُ
Artinya: “Sesungguhnya ada yang lebih aku khawatirkan atas kalian melebihi Dajjal. Ditanyakan: Siapakah itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Para ulama yang buruk (alim su’).”
Mengapa ulama atau orang pintar yang buruk akhlaknya lebih berbahaya? Karena mereka menggunakan kecerdasannya untuk membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar demi ridha makhluk, bukan ridha sang Khalik.
Sidang Jemaah yang Berbahagia,
Kitab Syarikhul Iman mengajarkan bahwa puncak dari kecerdasan adalah “Ma’rifatullah” (mengenal Allah). Dengan mengenal Allah manusia berkesadaran bahwa dimanapun bersama Allah, sehingga orang yang paling cerdas adalah orang yang paling takut melanggar aturan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
Oleh karena itu, jika kita melihat anak-cucu kita memenangkan lomba cerdas cermat, ajarkanlah mereka bahwa juara yang abadi adalah juara di hadapan Allah. Kecerdasan intelektual harus dibungkus dengan integrasi antara Syariat, Thariqat, dan Hakikat. KH. Ahmad Rifa’i dalam bait nadhom-nya memberikan perumpamaan indah:
فَالشَّرِيْعَةُ بِلَا حَقِيْقَةٍ عَاطِلَةٌ، وَالْحَقِيْقَةُ بِلَا شَرِيْعَةٍ بَاطِلَةٌ
Artinya: “Maka syariat tanpa hakikat adalah kosong/sia-sia, dan hakikat tanpa syariat adalah rusak/batal.”
Maksudnya, kepintaran akademis (ilmu dhohir) tanpa diikuti kebersihan hati (ilmu batin) akan melahirkan kesombongan. Sebaliknya, merasa saleh tanpa aturan syariat akan melahirkan kesesatan.
Marilah kita jadikan momentum berita viral tentang kontroversi penilaian LCC ini sebagai pengingat bagi kita semua untuk kembali belajar, bertanya kepada ulama adil, dan menjauhi sifat rakus dunia agar ilmu kita menjadi cahaya yang menuntun ke surga, bukan beban yang menyeret ke neraka.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْن، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ الزَّي تَقَدَّسَ بِصِفَاتِ الْجَلاَلِ وَالْكَمَالِ، وَتَنَزَّهَ عَنِ الْأَشْبَاهِ وَالْأَمْثَالِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْكَبِيْرُ الْمُتَعَالِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ فِى الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، الَّذِي ذِكْرُهُ دَوَاءٌ وَطَاعَتُهُ هُدًى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَادَةِ الْوَرَى، صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُصَلُّوْنَ، اتقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَرَاقِبُوْهُ رِقَابَةَ مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ اللهَ مُطَّلِعٌ عَلَى نِيَّاتِهِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: “إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا”
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِماتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ نَوِّرْ قُلُوْبَنَا بِنُوْرِ عِلْمِكَ، وَارْزُقْنَا فَهْمَ أَوْلِيَائِكَ، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا نَافِعًا لِأَخِرَتِنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Download file pdf: Khutbah Jumat: Hakikat Kecerdasan
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra


