Khutbah Pertama
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْعَفْوِ وَالصَّفْحِ وَإِصْلَاحِ ذَاتِ الْبَيْنِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hadirin jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita bersyukur kepada-Nya karena masih diberi kesempatan untuk beribadah, berkumpul, dan saling memperbaiki diri.
Makna Halalbihalal
Saudara-saudariku seiman,
Salah satu tradisi mulia umat Islam Indonesia setelah Idulfitri adalah halalbihalal. Banyak yang mengira tradisi ini hanya sekadar berkumpul dan berjabat tangan. Namun, sesungguhnya makna halalbihalal jauh lebih dalam dari sekadar pertemuan biasa.
Secara bahasa, kata halal berasal dari akar kata حَلَّ – يَحِلُّ yang berarti: melepaskan ikatan, meluruskan yang bengkok, mencairkan yang beku, dan menyelesaikan kesulitan. Maka halalbihalal berarti: menyelesaikan persoalan antar sesama, menyambung yang terputus, dan memperbaiki yang rusak.
Dari segi fikih, seseorang yang pernah menyakiti orang lain — baik dengan perkataan maupun perbuatan — masih menanggung beban dosa sosial (hak adami). Dosa ini tidak cukup hanya dihapus dengan tobat kepada Allah. Ia harus meminta maaf langsung kepada orang yang dizalimi. Inilah inti dari halalbihalal: menghalalkan kembali apa yang pernah terharam karena kezaliman.
Dalil Al-Qur’an: Perintah Memaafkan
Allah Ta’ala berfirman dalam QS. An-Nur ayat 22:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Maafkanlah dan lapangkanlah. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)
Ayat ini mengajarkan bahwa memaafkan bukan sekadar anjuran, melainkan jalan menuju ampunan Allah. Siapa yang mau memaafkan sesama, Allah akan memaafkannya. Sungguh indah pertukaran ini: kita memberi maaf kepada manusia, Allah memberi ampunan kepada kita.
Tidak Cukup Hanya Memaafkan — Harus Berbuat Baik
Namun, Islam tidak berhenti pada sekadar memaafkan. Allah memerintahkan lebih dari itu. Firman Allah dalam QS. Fussilat ayat 34:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34)
Islam menghendaki bukan hanya halal, tetapi halalan thayyiban — yang baik dan membawa kebaikan. Memaafkan adalah awal. Berbuat baik setelah memaafkan adalah kesempurnaan.
Ancaman Bagi Pemutus Silaturahmi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan sekadar ancaman, melainkan peringatan keras agar kita tidak menyepelekan hubungan dengan sesama. Silaturahmi adalah jalan surga. Memutusnya adalah penghalang dari rahmat Allah.
Kekuatan Sejati Ada pada Pemaaf
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Al-Ghazali rahimahullah menambahkan nasihat yang agung:
وَاعْلَمْ أَنَّ الْعَفْوَ عَنِ النَّاسِ سَبَبٌ لِعَفْوِ اللَّهِ عَنْكَ
“Ketahuilah, sesungguhnya memaafkan manusia adalah sebab Allah memaafkanmu.”
Kesimpulan
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Halalbihalal bukan sekadar tradisi. Ia adalah:
Pertama: Penghapus dosa antar sesama manusia yang tidak bisa terhapus hanya dengan tobat kepada Allah.
Kedua: Penyambung silaturahmi yang terputus, yang jika dibiarkan bisa menghalangi kita dari surga.
Ketiga: Wujud akhlak mulia — memaafkan dengan tulus dan berbuat baik setelahnya.
Keempat: Sarana membangun persatuan umat dan kekuatan bangsa.
Marilah kita jadikan momentum ini bukan hanya acara seremonial, tetapi momentum perbaikan diri, perbaikan hubungan, dan perbaikan umat.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعَفْوَ مِنْ أَفْضَلِ الْأَخْلَاقِ
وَجَعَلَ صِلَةَ الرَّحِمِ مِنْ أَعْظَمِ الطَّاعَاتِ وَالْأَعْمَالِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ
اِتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى وَأَطِيعُوهُ، وَاجْتَنِبُوا نَوَاهِيَهُ وَمَعَاصِيَهُ
أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ الْكِرَامُ
إِنَّ الْحَلَالَ بِالْحَلَالِ — هَذِهِ الْعَادَةُ الْكَرِيمَةُ فِي بِلَادِنَا —
لَيْسَتْ مُجَرَّدَ تَقْلِيدٍ اجْتِمَاعِيٍّ، بَلْ هِيَ عِبَادَةٌ اجْتِمَاعِيَّةٌ عَظِيمَةٌ
مِنْ خِلَالِهَا نُزِيلُ الضَّغَائِنَ وَالْأَحْقَادَ
وَنُصْلِحُ مَا أَفْسَدَتِ الْغِيبَةُ وَالنَّمِيمَةُ وَسُوءُ الظَّنِّ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
ارْحَمُوا تُرْحَمُوا، وَاغْفِرُوا يَغْفِرِ اللَّهُ لَكُمْ
فَاعْفُوا عَنِ الْمُسِيئِيْنَ، وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ
وَصِلُوا أَرْحَامَكُمْ، وَتَحَابُّوا فِي اللَّهِ
فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ تَزِيدُ فِي الْعُمُرِ وَتُوَسِّعُ فِي الرِّزْقِ، وَتُورِثُ مَحَبَّةَ اللَّهِ وَرِضَاهُ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَوَحِّدْ صُفُوفَنَا
وَاجْمَعْ قُلُوبَنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْخَيْرِ
اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا
وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِلْمُسْلِمِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ
Download file pdf: Khutbah Jumat: Halalbihalal — Memaafkan, Memperbaiki, dan Mempererat
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

