Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
Demikian lagu yang biasa dinyanyikan para pelajar yang sedang memperingati Hari Kartini 21 April.
Begitu pula di sekolahan Mas’ad, yaitu SMK Rifaiyah Kesesi. Siswa-siswi memperingati Hari Kartini dengan berupacara berpakaian kebaya bagi siswi, dan yang siswa mayoritas memakai kemeja batik. Sebagian siswa-siswi yang lain berpakaian adat khas Jawa, seperti Mas’ad yang memakai surjan, yaitu pakaian khas Sunan Kalijaga… nanging jahitane model Shanghai seperti bajunya Ip-Man Wing-Chun, jarene men kesane kaya Chindo… (lah… ana-ana bae alesane…)
Dalam amanat upacara, Pak Kepsek menyampaikan bahwa ibu kita Kartini juga seorang santriwati.
“Ibu kita Kartini juga termasuk santriwati yang pernah mengaji kepada Mbah Soleh Darat. Sejak usia muda, beliau termasuk santriwati cerdas yang kritis. Beliau juga berani mendebat gurunya langsung bila menemukan penjelasan yang masih dirasa mengganjal bagi pemahamannya sebagai perempuan. Beliau juga termasuk yang mengusulkan supaya Mbah Soleh Darat menyusun kitab tafsir supaya mudah dipelajari bagi kita, khususnya orang awam Jawa…”
Banyak sekali Pak Kepsek memberi keterangan akan peran dan jasa ibu kita Kartini. Namun yang terngiang-ngiang di kepala Mas’ad hanya tentang ibu kita Kartini adalah santriwati. Otak Mas’ad yang suka kepo dan agak usil mulai bertanya-tanya.
“Ibu kita Kartini kan santriwati, kok gambare ora jilbapan?!…”
Seusai upacara, dan mumpung pelajaran belum masuk, Mas’ad mencoba browsing, “apakah ibu kita Kartini berjilbab?”
Keluarlah gambar lukisan wanita berjilbab berkacamata, sepertinya dibuat dari pensil. Terlihat sedikit senyum dari bibir Mas’ad karena ada contoh gambar bahwa ibu kita Kartini berjilbab. Namun, senyuman itu langsung hilang karena membaca tulisan hoaks kalau ibu kita Kartini berjilbab. Dikliklah artikel tersebut, lumayan panjang, namun Mas’ad menyempatkan membacanya pelan-pelan dan penuh mencermati.
Tiba-tiba Bu Guru masuk, dan sebagian murid protes.
“Kok masuk, Bu… lha biasanya jam kosong siii…”
“Masuk… saiki luar biasa… wong wis ana MBG kok… pun mriki HP-ne kumpulke mulai pelajaran…”
Mas’ad pun menyelesaikan baca artikelnya lalu mengumpulkan HP-nya. Ia sudah sedikit mendapatkan pemahaman, namun masih belum menghilangkan dahaga rasa kepo-nya (kenapa gambar ibu kita Kartini tidak pakai jilbab, padahal kan beliau santriwati).
Sesampainya di rumah, Mas’ad langsung menemui Mbah Uti di dapur yang lagi mencuci ajang (gelas, piring, dll.) untuk menanyakan kekepoannya.
Kenapa tanyanya ke Mbah Uti?!!…
Ya kan tentang wanita dan santriwati!!…
Pasti kudune tanyane ke sesama kaume… gimane sih ande… (hehehe)
“Mbah! Terose Pak Kepsek ibu kita Kartini niku santriwati… kok gambare gak pake jilbab?!”
Sambil memperhatikan cucu kesayangannya yang tiba-tiba datang, duduk, langsung kepo, Mbah Uti mencuci tangan kemudian duduk dan melempar senyuman meneduhkan ke Mas’ad.
“Tumben!! Kid jaman now niku terose biasane apa-apa tanglede teng Mbah Gugel…”
“Empun, Mbah… jawabane isih kurang mantep. Intine niku artikelnya menyatakan hoaks ibu Kartini jilbaban. Keterangane tidak usah memaksakan ibu Kartini berjilbab. Berjilbab atau tidak berjilbab tidak akan mengurangi ketokohannya sebagai perempuan muslimah yang pantas digelari pahlawan. Keterangan yang lain, di zaman itu perempuan Jawa, bahkan yang muslimah, belum banyak yang pakai jilbab… padahal kan pesantren pun kathah… ada yang seolah mengejek kalau ibu Kartini berjilbab, gelarnya ya bukan RA Kartini… tapi Ukhti Kartini.”
Mbah Uti malah menutup mulut pakai tangan kanannya menahan ketawa, dan tangan kirinya mencubit pipi Mas’ad karena gemas melihat wajah kepo cucunya.
“Argumen ngoten niku nggeh leres. Ne argumentasine Mbah Uti begini… ibu kita Kartini leres santrine Mbah Soleh Darat, yang pernah mengaji ke Mbah Tubo Purwosari, santrine Mbah Rifa’i. Nah!.. sebagai sesama santriwati, Mbah Uti yakin nek ibu kita Kartini jilbaban. Kenapa gambarnya gak berjilbab? Ya karena mungkin sing nggambar weruhe pas ora jilbaban… kaya Mbah Uti napa ne lagi nyapu nang mburi umah kan gak pake jilbab… hehe…”
Heh! Mulai ketularan Mbah Mad kiyee Mbah Uti… (gumam Mas’ad dalam hati)
“Berarti digambar pas lagi nyapu nang mburi umah,” sahut Mas’ad bernada sebel.
“Ya bisa jadi, hehe… lha niko gambar presiden Pecinan apa ya beliau hari-harinya pakai peci terus? Kan mboten. Intine… niku perbedaan pendapat. Solusine, Mas kan pinter gambar kaleh pinter ngarang tulisan, buatlah gambar ibu kita Kartini pakai jilbab dan buatlah narasi yang bagus supaya bisa diterima argumentasinya bahwa ibu kita Kartini adalah figur santriwati yang sholehah… pastinya ibu kita Kartini berjilbab.”
“Iya juga yaaa…”
Mas’ad mulai menerima argumentasi Mbah Uti setelah mendengar kesimpulannya bahwa itu semua tentang narasi gambar dan perbedaan pendapat.
Allahu Akbar… Allahu Akbar…
“Kae pun adzan Ashar… mpun ayo salin, ge gagiyan nusul Mbah Kung jamaah Ashar teng masjid…”
“Okelah!…”
Mas’ad berdiri lalu beranjak menuju ke tempat wudhu, namun tiba-tiba Mas’ad berhenti karena teringat akan jawaban Mbah Uti kalau sanad ngaji ibu Kartini sampai ke Mbah Rifa’i. Lalu dia nengok ke Mbah Uti dan iseng bicara…
“Eeee ne ngoten berarti ibu kita Kartini ya Rifaiyah raaa… wong ngajine kaleh santrine lan santrine Mbah Rifa’i…”
Mbah Uti geleng-geleng kepala dan senyum puas karena Mas’ad masuk jebakan jawabane Mbah Uti.
“Ya sanes yoo… lebih tepatnya UMRI… lha niku pun ngertos… masa UMRI mboten jilbaban!!! Hehehe…”
“Oh iyaaa yaaa… pancen keren Mbah Uti-ku…”
Mas’ad selalu kagum dengan jawaban Mbah Uti yang sederhana, tepat, pakai contoh, dan sangat mudah dipahami serta kepenak diterimanya.
Selamat memperingati Hari Ibu Kita Kartini…
Santriwati sholehah…
Ibune poro UMRI…
Mbah utine poro AMRI…
Srinahan, 21 April 2026
Baca Juga: Mas’ad dan Mbah Mad: HBH, Perjodohan Rifa’iyah, dan Filosofi Kerupuk Keyel
Penulis: Hikman Adli
Editor: Yusril Mahendra

