Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Pemikiran Keagamaan KH. Ahmad Rifa’i dalam Kitab Tarajumah

Tim Redaksi by Tim Redaksi
July 24, 2026
in Kolom
0
Pemikiran Keagamaan KH. Ahmad Rifa’i dalam Kitab Tarajumah

Seorang pelajar sedang membaca salah satu kitab tarajumah karya KH. Ahmad Rifa'i. (Yusril Mahendra)

0
SHARES
13
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pendahuluan

KH. Ahmad Rifa’i merupakan salah satu tokoh ulama pembaru dan pahlawan nasional terpenting pada abad ke-19, yang jejak pemikiran serta gerakannya terus memberikan pengaruh religius-sosial yang kuat hingga saat ini. Di tengah impitan hegemoni kolonial Belanda dan tantangan pemahaman keagamaan masyarakat Jawa kala itu, beliau tampil secara revolusioner melalui gerakan dakwah berbasis sastra lokal yang konsisten menyuarakan penguatan akidah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dan perlawanan kultural. Warisan intelektualnya yang termanifestasi dalam komunitas Rifa’iyah tidak hanya berhasil menjaga nalar kritis-religius masyarakat pada zamannya, melainkan juga tetap hidup sebagai salah satu pilar ortodoksi Islam Nusantara yang relevan dalam membentuk karakter keberagamaan kontemporer saat ini.

Dalam konstruksi pemikiran keagamaan KH. Ahmad Rifa’i, bangunan Islam yang kukuh dipandang hanya dapat tegak di atas fondasi integratif yang beliau sebut sebagai “ilmu telung perkoro” (ilmu tiga perkara), yaitu Ushuluddin, Fikih, dan Tasawuf. Ketiga disiplin ilmu ini tidak diposisikan secara terpisah atau dikotomis, melainkan sebuah kesatuan organis (trilogi ajaran) yang merefleksikan manifestasi dari konsep iman, islam, dan ihsan. Bagi beliau, mempelajari dan mengamalkan ketiganya bersifat fardhu ‘ain (wajib bagi setiap individu Muslim), karena cacatnya salah satu pilar tersebut akan berdampak langsung pada rusaknya kualitas, bahkan keabsahan seluruh amal ibadah seseorang di hadapan Allah SWT.

Guna membumikan trilogi ajaran tersebut agar mudah dipahami sekaligus dipraktikkan oleh masyarakat awam yang mayoritas berlatar belakang petani, KH. Ahmad Rifa’i menuangkan formulasi teologis-praktis ini ke dalam bait-bait syi’ir di berbagai kitab Tarajumah-nya. Beliau menempatkan Ushuluddin sebagai akar dari kemurnian Tauhid, Fikih sebagai standar sah-batalnya syariat lahiriah, dan Tasawuf sebagai ruh pembersih hati yang mengawal keikhlasan amal. Beliau mengatakan:

Wajib atas saben mukalaf dihajat

Ngaweruhi barangkang ngesahaken ing i’tiqat

Wongiku kabeh ingdalem ilmu syariat

Ushuliddin arane kinaweruhan

Lan ngaweruhi ing barangkang kezhahiran

Ngesahaken dalem ibadate kabeneran

Wongiku kabeh lan yaiku ingaranan

Ilmu fikih lan ngaweruhi ilmune

Barangkang bersihaken dalem atine

Wongiku kabeh lan barangkang tinemune

Ngeregedaken saking sekeh kashifatane

Kang pinuji lan kang cinela kinaweruhan

Lan ilmu tasawuf iku ingaranan

Ikulah ilmu telung perkara wilangan

Ushul fikih tasawuf wajib ingulatan.

Artinya:

Wajib atas setiap mukalaf

Mengetahui perkara yang mengesahkan i’tikad

Yaitu ilmu yang dinamakan Ushuluddin

Dan mengetahui perkara yang bersifat zhahir

Dinamakan ilmu Fikih

Juga ilmu tentang hal yang membersihkan hati

dan yang mengotorinya, yaitu sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat tercela

disebut dengan ilmu tasawuf

itulah ilmu tiga perkara

Ushul, Fikih dan Tasawuf yang wajib dipelajari.”[1]

Pemikiran di Bidang Ushuluddin

Teologi Perlawanan

Akidah menurut KH. Ahmad Rifa’i bukan sekadar kumpulan doktrin yang dihafalkan, melainkan keyakinan yang harus mewujud dalam sikap hidup dan tindakan nyata. Keimanan kepada Allah melahirkan keberanian untuk menolak segala bentuk kezaliman, karena hanya Allah yang berhak ditaati secara mutlak. Dalam pandangan KH. Ahmad Rifa’i, seorang mukmin yang benar tidak boleh tunduk kepada kekuasaan yang menindas dan merusak nilai-nilai agama. Oleh sebab itu, akidah menjadi fondasi moral yang menggerakkan umat untuk mempertahankan agama, kehormatan, dan keadilan.

Semangat inilah yang kemudian melandasi perlawanan KH. Ahmad Rifa’i terhadap kolonial Belanda dan para penguasa lokal yang menjadi kaki tangan Belanda. Melalui pengajaran tauhid, dakwah, dan karya-karya berbahasa Jawa pegon dalam kitab-kitab Tarajumah, beliau membangkitkan kesadaran bahwa penjajahan bukan hanya persoalan politik, tetapi juga ancaman terhadap kemurnian agama dan martabat kaum muslimin. Akidah yang kokoh melahirkan keberanian untuk tidak berkompromi dengan kebatilan, sehingga perjuangan melawan penjajah dipandang sebagai konsekuensi dari keimanan, bukan sekadar gerakan sosial atau politik. Dengan demikian, bagi KH. Ahmad Rifa’i, tauhid adalah kekuatan spiritual yang menggerakkan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan.

Corak pemikiran beliau seperti itu banyak kita temukan dalam karya-karya beliau. Misalnya beliau mengatakan:

Nyata alim lan haji dosa agung

Nelehaken sarirane ngawula ing tumenggung

Tumenggung ngawula raja kafir junjung

Pertelo tan bener panggonan kahitung.[2]

Artinya:

Nyata dosa besar bagi alim dan haji

Meletakkan dirinya mengabdi tumenggung

Tumenggung mengabdi dan menjunjung raja kafir

Perilaku tersebut jelas tidak benar.

Rukun Islam Satu

Di antara pemikiran beliau yang banyak menjadi kontroversi adalah rukun Islam satu. Beliau mengatakan:

Utawi rukune Islam iku sawiji belaka, yaitu angucap syahadat roro kang wus kasebut.[3]

Artinya:

“Adapun rukun Islam itu hanya satu, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat yang telah disebutkan.”

Apa yang beliau sampaikan secara esensi tidak berbeda dengan pandangan mayoritas ulama yang mengatakan bahwa rukun Islam itu lima. Beliau hanya menegaskan hakikat yang seolah-olah tidak dijelaskan secara gamblang oleh banyak ulama. Yaitu esensi Islam terletak pada dua kalimat syahadat. Kalimat syahadat bagaikan batang pohon. Adapun salat, zakat, puasa dan haji, serta amal-amal yang lain adalah cabang-cabangya.

Syaikh ar-Ramli mengatakan dalam kitab Ghayah al-Bayan,

فَالْإِسْلاَمُ هُوَ النُّطْقُ بِالشَّهَادَتَيْنِ فَقَطْ فَمَنْ أَقَرَّ بِهِمَا أُجْرِيَتْ عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْإِسْلاَمِ فِي الدُّنْيَا وَلَمْ يُحْكَمْ عَلَيْهِ بِكُفْرٍ إِلاَّ بِظُهُوْرِ اَمَارَاتِ التَّكْذِيْبِ كَسُجُوْدِهِ اخْتِيَارًا لِكَوَاكِبَ أَوْ صُوْرَةٍ أَو اسْتِخْفِاَفٍ بِنَبِيٍّ أَوْ بِمُصْحَفٍ أَوْ بِالْكَعْبَةِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ

“Islam adalah mengucapkan dua syahadat saja. Barangsiapa yang mengucapkannya, maka hukum-hukum Islam di dunia diberlakukan kepadanya. Ia tidak boleh dihukumi kafir kecuali ia menampakkan tanda-tanda pendustaan, seperti bersujud secara sengaja kepada bintang-bintang, patung, atau menghina Nabi, mushaf, Ka’bah dan sejenisnya.”[4]

Konsep Alim Adil

KH. Ahmad Rifai sering menyampaikan bahwa guru yang dapat dijadikan panutan adalah alim adil. Beliau menjelaskan alim artinya mengetahui aturan-aturan syara’ dan adil artinya tidak melakukan dosa-dosa besar dan tidak terus menerus melakukan dosa kecil. Demikian agar kemurnian agama dapat terjaga dan dapat dibedakan antara ulama yang dapat dijadikan panutan dan ulama yang tidak dapat dijadikan panutan.

Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadits,

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ، يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ

“Ilmu (agama) ini akan dibawa di setiap generasi pengganti oleh orang-orang yang adil (kredibel) di antara mereka. Mereka akan membersihkan ilmu tersebut dari penyimpangan orang-orang yang ekstrem (gila/berlebihan), klaim palsu orang-orang yang berbuat kebatilan, dan takwil (penafsiran keliru) orang-orang yang bodoh.”[5]

Pemikirang di Bidang Fikih

Di dalam bidang Fikih, KH. Ahmad Rifai menganut madzhab Syafi’i sebagaimana mayoritas umat Islam di Indonesia. Beliau menulis ilmu Fikih di dalam kitab-kitab Tarajumah, baik bab ibadah, muamalah, mawarits dan lain sebagainya. Ada yang beliau tulis dalam satu kitab bersamaan dengan ilmu Ushuluddin dan Tasawuf, seperti kitab Riayatul Himmah, Abyanul Hawaij, Asnal Miqashad dan lain sebagainya. Ada yang beliau tulis secara khusus dalam satu kitab, misalnya bab muamalah beliau tulis dalam kitab Tasyrihatal Muhtaj, bab nikah beliau tulis dalam kitab Tabyinul Ishlahh, bab mawarits beliau tulis dalam kitab Muslihat, bab menyembelih beliau tulis dalam kitab Tadzkiyah dan bab haji beliau tulis dalam kitab Wadhihah.

Fikih Prioritas

Biasanya para ulama menulis bab  ilmu Fikih secara lengkap, baik hal-hal yang bersifat wajib dan hal-hal yang bersifat sunnah. Akan tetapi, KH. Ahmad Rifai berbeda dalam hal ini. Beliau menyampaikan perkara-perkara yang wajib saja. Hal ini bertujuan memudahkan kalangan awam dan memberikan kesan bahwa syariat Islam itu mudah dipraktikkan. Bagi pemula dan bagi kebanyakan awam yang sibuk dengan pekerjaannya, akan merasakan keberatan jika harus melakukan ibadah secara keseluruhan, baik yang wajib maupun yang sunnah.

Beliau menekankan bahwa perkara-perkara yang wajib harus didahulukan daripada perkara-perkara yang sunnah. Tidak diperkenankan seorang muslim lebih mendahulukan sunnah daripada wajib (tilar wajib milahur sunnah). Beliau mengatakan dalam bab sedekah:

Ora wenang lan haram gawe shidqahan

Hukum sunnah wajibe temuli katinggalan

Fidyah tilar puasa kataqshiran.[6]

Artinya:

Tidak boleh dan haram berbuat shadaqah sunnah

Padahal kewajiban yang mendesak ditinggalkan

Fidyah karena meninggalkan ibadah puasa sebab kecerobohan.

Beliau menekankan yang demikian, karena dalam praktiknya, banyak yang tidak mengerti, mana yang wajib dan mana yang sunnah, mana yang pokok dan mana yang cabang, sehingga prioritas-prioritas agama banyak yang terabaikan. Bahkan keadaan bisa lebih kacau ketika yang sunnah dianggap wajib dan wajib dianggap sunnah.

Fikih Taisir

Arti dari kata Taisir adalah memudahkan. Di antara prinsip dasar syariat Islam adalah Taisir. Artinya Islam tidak menghendaki aturan-aturan syariat sebagai seuatu yang menyulitkan kehidupan masyarakat Islam. Islam menginginkan kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan. Allah Swt. berfirman:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah: 185)

Dalam mengaplikasikan prinsip agama Islam yang memudahkan, beliau sering menyarankan agar mengambil pendapat yang mudah diamallkan, meskipun pendapat tersebut dhaif atau tidak muktamad. Misalnya, dalam bab membarengkan niat dengan takbir (Muqaranah). Sesuai dengan pendapat yang muktamad, niat harus dibarengkan dengan takbir (Muqaranah Akmaliyah). Namun, ini adalah cara yang sulit dipraktikkan, terutama bagi kalangan awam. Adapun menurut pendapat dhaif, diperbolehkan niat terlebih dahulu, lalu membaca takbir (Muqaranah Urfiyah). Beliau mengatakan:

Iku miliho ing derajate wong awam

Arep taklid ing ulama agama Islam

Qaul dhaif ditut sah amal dawam

Yaiku muqaranah urfiyah dihajat.[7]

Artinya:

Hendaklah memilih derajat awam

Taklid ulama agama Islam

Mengikuti qaul dhaif yang sah diamalkan secara terus menerus

Yaitu Muqaranah Urifyah.

Bahkan menurut beliau, mengikut pendapat dhaif itu wajib ketika suatu perintah tidak dapat terlaksana kecuali dengan mengikuti pendapat dhaif tersebut. Beliau mengatakan,

Terkadang wajib taklid qaul dhaifan

Sabab tentu hashile fardhu linakonan

Taklid ing muktamad tan tinemu kabeneran

Sabab tan kuasa  bener wus kinaweruhan.[8]

Artinya:

Terkadang wajib taklid qaul dhaif

Dikarenakan fardhu terlaksana olehnya

Mengikuti qaul muktamad tidak terlaksana

Disebabkan tidak mampu melakukannya secara benar.

Tolerasansi Terhadap Perbedaan Pendapat Ulama

Seringkali KH. Ahmad Rifai dikesankan sebagai sosok yang tegas dan kaku. Padahal jika kita mengkaji pemikirannya secara utuh, ketegasan beliau itu terutama berkaitan dengan perlawanan terhadap penjajah Kafir (Belanda) dan tokoh-tokoh pribumi, baik dari kalangan pejabat maupun ulama yang menjadi kaki tangan penjajah Kafir.

Namun, hal ini berbeda ketika berkaitan dengan semangat memudahkan kalangan awam dalam praktik agama, sebagaimana telah disinggung di atas. Begitu juga dalam menyikapi perbedaan pendapat para ulama. Beliau mengatakan bahwa perbedaan para sahabat Nabi saw itu adalah rahmat. Beliau mengutip hadits Nabi saw yang mengatakan bahwa para sahabat Nabi saw laksana bintang-bintang. Semuanya dapat dijadikan sebagai petunjuk.

Kemudian terkait dengan perselisihan para mujtahid, beliau mempersilakan kaum muslimin untuk mengikuti pendapat mujtahid yang dikehendaki. Tidak ada kewajiban untuk mengikuti mujtahid tertentu. Hal ini menunjukkan bagaimana beliau bersikap lapang dada dan toleran terhadap perbedaan pendapat para mujtahid. Tentu ini berbeda jauh dengan kelompok-kelompok ektrimis dan berpaham sempit di tengah perbedaan para ulama. Kelompok-kelompok ini cenderung menganggap negatif terhadap kelompok lain. Beliau mengatakan:

Maka lamun selaya jawabe kinaweruhan

Ulama mujtahid akeh selaya pituturan

Maka qaul ashah setuhune kapertelanan

Kaduwe wong kang taklid wenang sah

Yen milih anut qaul ulama kang gampang

Maka amal kelawan qaule mujtahid kawilang

Apa wongiku karepe anute ing pamulang

Saking salah sijine ulama mujtahidan[9]

Artinya:

Jika terdapat perbedaan jawaban

Para mujtahid yang beragam

Maka menurut pendapat Ashah, orang yang taklid

Diperbolehkan memilih pendapat yang mudah

Demikian terbilang mengamalkan pendapat mujtahid

Yang dikehendaki oleh orang yang taklid

Dari salah satu di antara para ulama mujtahid.

Pemikiran di Bidang Ilmu Tasawuf

KH. Ahmad Rifai menjelaskan ilmu Tasawuf seperti berikut,

Utawi ilmu Tasawuf pertelane

Ngaweruhi ing setengahe kelakuhane

Sifat pinuji lan cinela ning atine bener ati maring Allah nejane.[10]

Artinya:

Adapun pengertian ilmu Tasawuf

Mengetahui sebagian

Sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat tercela dari hati

Agar benar tujuan perjalanan menuju kepada Allah.

Dengan demikian fokus ilmu Tasawuf menurut beliau adalah pembersihan hati dari sifat-tsifat yang tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji. Hal ini dikarenakan hati adalah pengendali gerak tubuh manusia. Jika hati seseorang kotor, yang muncul dalam perkataan dan perbuatannya adalah sesuatu yang kotor. Sebaliknya, jika hati seseorang bersih, maka yang muncul adalah perkataan dan perbuatan yang baik. Selain itu, perjalanan menuju Allah itu perjalanan yang panjang dan sangat bergantung dengan kebersihan hati. Haji yang banyak kotoran dan hijabnya, akan menemukan kesulitan menuju Allah. Sebaliknya, hati yang bersih dari kotoran dan hijab, akan mudah perjalanannya menuju Allah.

Beliau menjelaskan secara rinci sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat tercela tersebut. Sifat-sifat terpuji ada delapan, yaitu: zuhad, qana’ah, shabar, tawakal, mujahidah, ridha, syukur dan ikhlas. Sifat-sifat tercela juga ada delapan, yaitu: hubbuddunya, tamak, itba’ul hawa, ujub, riya, takabur, hasud dan sum’ah.

Fenomena Pengakuan Maqam Hakikat

Dalam dunia tasawuf, sering ditemukan pengakuan seseorang yang telah mencapai maqam hakikat, lalu ia meninggalkan syariat. Maka beliau melakukan kritik keras terhadap fenomena ini. Beliau mengatakan bahwa syariat dan hakikat harus dipakai semuanya. Tidak boleh mengambil syariat saja atau hakikat saja. Beliau mengatakan:

Tinemu ngalim sasar sabab tinggal syariat

Ngugemi amung ngambil sawiji hakikat.[11]

Artinya:

Adakalanya orang alim tersesat karena meninggalkan syariat

Berpedoman hanya kepada hakikat.

Beliau juga mengatakan:

Maka syariat tan hakikat kanthine

Iku dadi suwung ora nono isine

Utawi hakikat tan syariat tinemune

Iku rusak ora nana kamunfaatane.[12]

Artinya:

Syariat tanpa hakikat

Adalah kosong tanpa isi

Dan hakikat tanpa syariat

Rusak tidak ada manfaatnya.

Penutup

Sebenarnya masih banyak pemikiran-pemikiran KH. Ahmad Rifai yang perlu diangkat. Misalnya, pandangan beliau tentang zuhud yang tidak harus meninggalkan dunia secara fisik, namun arti zuhud lebih kepada putusnya hati dari kebergantungan terhadap dunia. Bagaimana beliau menganggap karomah yang sejati bukanlah seseorang yang bisa terbang di atas awan, berjalan di atas air dan berpindah tempat yang jauh dalam waktu sekejap. Karomah menurut beliau adalah istiqomah, yaitu seseorang berada dalam keimanan yang sah, mengikuti ajaran Rasulullah Saw. dan konsisten di dalamnya. Beliau juga mengkritik penyempitan makna tasawuf; simbolisasi tasawuf dengan memakai surban dan gamis khas kaum Sufi. Beliau menyebut, orang yang berpenampilan Sufi namun hati dan perilakunya jauh dari nilai-nilai Sufi sebagai Api-api Sufi (Sufi bohongan). Menurut beliau, orang yang berpenampilan sufi dan saleh, lalu diberi sedekah orang lain karena anggapan tersebut, padahal sejatinya ia bukan sufi dan tidak saleh, maka haram sedekah  tersebut baginya. Dan masih banyak lagi pemikiran-pemikiran beliau yang perlu kita gali dan kita ambil laksana lentera-lentera di tengah kegelapan zaman materialistik. Wallahu A’lam.

Referensi

[1] Syaikh Ahmad Rifai, Riayatul Himmah, juz I.

[2] Syaikh Ahmad Rifai, Shawalih, tt, hlm. 31

[3] Syaikh Ahmad Rifai, Takhyirah.

[4] Syamsuddin Ar-Ramli, Ghayah Al-Bayan, hlm. 6.

[5] Al-Ajuri, Asy-Syari’ah, 1/269.

[6] KH. Ahmad Rifai, Riayatul Himmah, Juz I.

[7] KH. Ahmad Rifai, Riayatul Himmah, juz I.

[8] KH. Ahmad Rifai, Riayatul Himmah, juz I.

[9] KH. Ahmad Rifai, Riayatul Himmah, Juz II.

[10] KH. Ahmad Rifai, Riayatul Himmah, juz I.

[11] KH. Ahmad Rifai, Syarihul Iman.

[12] Ibid.

Baca Juga: Hukum Menolak Jabat Tangan dalam Islam: Antara Adab, Tawaduk, dan Martabat Seorang Pemimpin


Penulis: KH. Abidun Zuhri, Lc.
Editor: Yusril Mahendra

Tags: alim adilFikihKH. Ahmad RifaiKitab TarajumahRifaiyahrukun islamTasawufTauhid
Previous Post

Hukum Menolak Jabat Tangan dalam Islam: Antara Adab, Tawaduk, dan Martabat Seorang Pemimpin

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Yusril Mahendra, Warga Sipil.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.