Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Reportase Inspiratif: Semangat yang Tak Pernah Padam

Kisah Perjuangan Siswa-Siswi MA Rifa’iyah Kedungwuni di Festival Pemuda Kabupaten Pekalongan 2026

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
August 10, 2026
in Kolom
0
Reportase Inspiratif: Semangat yang Tak Pernah Padam

Farel Aditya, Murid kelas XII MA Rifa'iyah Kedungwuni, sedang tampil dalam lomba pidato dalam Festival Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Pekalongan. (Ahmad Saifullah)

0
SHARES
30
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Semua berawal dari selembar kertas. Pada 22 Juli 2026, Bapak Amal Widiyanto membagikan pedoman Festival Pemuda Kabupaten Pekalongan di beranda grup WhatsApp MA Rifa’iyah. Pesan sederhana itu tidak disangka menjadi pemantik semangat yang, dalam beberapa pekan berikutnya, berubah menjadi rangkaian kerja keras, kebersamaan, dan pembelajaran berharga bagi para siswa madrasah.

Sambutan Hangat, Semangat yang Menular

Kabar itu langsung disambut antusias oleh Bapak Ahmad Saifullah, Kepala Madrasah Aliyah Rifa’iyah Kedungwuni. Lewat pesan singkat, beliau mengajak Bapak Agus, Ibu Maelah, dan Bapak Ilham untuk mengikutsertakan siswa-siswinya dalam berbagai cabang lomba: tembang Jawa, sesorah, pidato, dan lain-lain. Pesan itu juga dititipkan untuk Bapak Ilham yang saat itu belum tergabung dalam grup WA madrasah.

Begitu kabar sampai kepadanya, Bapak Iswadi Ilham, Waka Kesiswaan sekaligus pengampu mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan, menyambutnya dengan kegembiraan luar biasa — semangatnya digambarkan tidak kalah dari orang yang hendak menikah lagi. Dari sanalah babak baru perjuangan itu dimulai.

Merayu Semangat Belajar

Selama dua hari berikutnya, Bapak Amal Widiyanto, S.Pd. selaku Wali Kelas XI, bersama Ibu Nurul Maelah, S.Pd., bahu-membahu meyakinkan sejumlah siswa untuk turut serta dalam Festival Pemuda Kabupaten Pekalongan 2026. Usaha itu membuahkan hasil. Untuk lomba pidato bahasa Inggris, tampil Aktafia Najma Auliah, Khuroiqotus Sufya, Farel Aditya, dan Abdul Wahab Fairuz Abadi. Untuk lomba orasi kebangsaan, ada Asqina Shofwatun Najwa, Fatiyah, dan Chairil Chamdi Khakiki. Sementara itu, Zuhud Multazam, Aldi Abanatul Ahkam, dan Zaki Nur Salim memilih mengasah kreativitas lewat lomba kuliner makanan khas Kabupaten Pekalongan.

Dapur Perjuangan: Klepon dan Gemblong

Tanpa mengenal lelah, Bapak Iswadi Ilham memotivasi, mendampingi, membimbing, sekaligus melatih para siswa memasak klepon dan gemblong, dua jajanan khas Pekalongan. Bahkan, bahan-bahan masakan pun beliau cari dan beli sendiri, dengan biaya pribadi. Bagi para siswa, kehadiran beliau terasa seperti mendapatkan orang tua baru yang penuh perhatian.

Bapak Iswadi Ilham mendampingi dan membimbing siswa dalam rangka mengikuti lomba kuliner khas Pekalongan yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Pekalongan. (Ahmad Saifullah)

Persiapan tidak berhenti di dapur. Pada malam Selasa, 4 Agustus 2026, Bapak Iswadi Ilham dan Bapak Amal Widiyanto rela mendampingi latihan pidato bahasa Inggris dan orasi kebangsaan hingga larut. Ketiga siswa bersama Pak Ilham baru menyelesaikan persiapan perbekalan lomba pada pukul 01.00 WIB dini hari.

Pagi yang Mendebarkan

Bapak Muhammad Furqon, warga yang rumahnya tak jauh dari madrasah dan biasa mengantar kegiatan Nariyahan para siswa, telah menyiapkan minibusnya sejak malam sebelumnya dan memarkirkannya di halaman Balai Latihan Kerja (BLK) Al-Insap, Gembong Selatan, Kedungwuni. Keberangkatan direncanakan pukul 06.30 WIB, sesuai arahan Bapak Ilham.

Pukul 06.00 WIB, Bapak Ahmad Saifullah menghubungi pengurus Pondok Pesantren INSAP, mengingat sebagian besar peserta lomba tinggal di sana. Lurah pondok memastikan para santri sudah siap berangkat. Namun ketika Pak Furqon tiba dan memarkirkan mobilnya, para siswa justru belum sigap memanfaatkan waktu — tampaknya mereka masih menanti kedatangan Pak Ilham, yang saat itu tengah menunggu di gedung putri. Keterlambatan itu bisa dimaklumi: semalaman beliau begadang menyiapkan segala keperluan lomba kuliner.

Suasana sempat diliputi kecemasan karena rombongan tiba di Kantor Dinas Pemuda, Olahraga, dan Kepariwisataan saat lomba sudah dimulai. Namun, alhamdulillah, tiga siswa bersama Pak Ilham berhasil mengejar ketertinggalan waktu, bahkan dibantu oleh sejumlah ibu panitia yang tergerak hati untuk membantu penataan.

Bukan Soal Juara, tapi Soal Pelajaran

Semua yang terjadi hari itu menjadi pengalaman berharga: tentang kerja keras dan kedisiplinan, nilai-nilai yang biasa ditekankan Bapak Agus Sulistyo dalam setiap apel pagi.

“Tidak ada yang juara, Pak,” ujar Asqina Sofa kepada Kepala Madrasah.

“Yang penting pengalamannya bagi kamu, Nduk,” jawab beliau menenangkan.

Menang atau kalah adalah hal yang wajar dalam setiap perlombaan. Yang jauh lebih sulit adalah menjadikan semua itu sebagai pelajaran untuk bertumbuh — let’s grow. Siap berbenah, siap belajar lebih waspada, dan siap bekerja lebih keras lagi.

Suara Hati Para Pembimbing

Bapak Amal Widiyanto membagikan kesan dan pesannya usai mendampingi para siswa:

Saya merasa bangga dan terharu melihat semangat mereka belajar menghafalkan teks pidato bahasa Inggris dalam waktu yang begitu singkat. Bahkan di tengah proses latihan, ada siswa putra maupun putri yang sempat sakit, tetapi semangat mereka untuk tetap bisa tampil justru lebih tinggi.

Alhamdulillah, pada hari pelaksanaan kondisi mereka sehat semua dan penuh semangat mengikuti perlombaan di aula Dinporapar. Ini menjadi pengalaman saya mendampingi lomba pidato bahasa Inggris.

Pesan saya: tetap semangat dan jangan putus asa untuk mengikuti perlombaan lain di lain waktu dan tempat. Kalah atau menang adalah hal biasa. Jadikan lomba kemarin sebagai pengalaman berharga dan batu loncatan untuk terus belajar — semua ini bukan akhir dari segalanya. — Amal Widiyanto, S.Pd. — Wali Kelas XI

Sementara itu, Bapak Iswadi Ilham selaku Waka Kesiswaan sekaligus pembimbing lomba kuliner menyampaikan pesan, kesan, dan kesaksiannya:

Pesan saya: tetap terus berkarya dan jangan mudah merasa puas. Nikmati prosesnya, karena hasil tidak akan mengingkari usaha.

Kesan saya: sangat senang melihat kemandirian siswa dalam perhelatan lomba yang sangat mendebarkan. Semoga ini menjadi awal proses menuju kesuksesan di masa depan.

Kesaksian saya: kegigihan siswa dalam berinovasi produk sangat patut diapresiasi, sehingga menghasilkan produk yang sesuai harapan pasar. Salah satunya, sebelum lomba diadakan, para siswa mampu menganalisis kelemahan produk mereka sendiri — sebuah terobosan dalam kecekatan bersikap terhadap kekurangan sekaligus membaca peluang. — Iswadi Ilham, Waka Kesiswaan

Turut memberikan pesan dan kesan, Ibu Nurul Maelah selaku Waka Kurikulum:

Pesan: Terima kasih atas seluruh usaha maksimal yang telah kalian persembahkan, Anak-anakku. Jangan pernah padamkan semangat, teruslah menanamkan ikhtiar, do’a, dan tawakal dalam setiap perjuangan. Hasil akhir baik kalah atau menang adalah hal yang lumrah, namun pengalaman akan tetap mempunyai nilai. Inilah yang akan menempa kalian. Percayalah, langkah kecil yang kita ayunkan hari ini bisa menjadi pijakan besar untuk masa depan kalian.

Kesan: Rasa haru dan bangga tak bisa saya sembunyikan saat menyaksikan perjuangan anak-anak dan para guru. Setiap hari saya melihat guru melatih, mendampingi, dan saling menguatkan siswa. Kita memang belum membawa pulang piala, tetapi kekompakan yang tercipta di antara guru dan siswa adalah piala yang jauh lebih nyata.

Melihat antusiasme siswa dalam mengikuti lomba, rasanya mereka berhak mengikuti ajang-ajang lomba yang lain. Sebagai guru, kita wajib memfasilitasi dan memberikan ruang kepada mereka sehingga kreativitas mereka bisa tumbuh secara alami.

Keunikan dan ketangguhan ini terlihat jelas dalam perlombaan orasi kebangsaan. Siswa menunjukkan inisiatif yang cerdas, seperti memanfaatkan freshcare untuk mendalami penghayatan ekspresi, hingga keberanian mempertahankan konsep instrumen latar. Meski awalnya menghadapi kendala teknis dan keengganan juri, mereka dengan gigih membujuk juri dan menyambungkan instrumen latar ke sound system secara mandiri dibantu temannya.

Di samping kekompakan guru dan siswa, kebersamaan antarsiswa pun sangat menginspirasi. Sikap saling bantu, saling antar, dan saling menyiapkan penampilan menunjukkan indahnya empati di antara mereka.

Momen ini membuat saya belajar bahwa: “Kejuaraan memang menggiurkan, tetapi rasa kekeluargaan inilah yang harus terus kita jaga dan pertahankan.”

Doa kami menyertai langkah kalian. Semoga kelak kalian menjadi pribadi yang sukses dan berakhlakul karimah. — Nurul Maelah, S.Pd., Waka Kurikulum

Penutup: Api yang Terus Menyala

Kisah ini bukan tentang piala yang dibawa pulang, melainkan tentang guru-guru yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan uang pribadi demi mengantar murid-muridnya pada satu pengalaman berharga. Tentang siswa yang belajar bangkit dari keterlambatan dan ketegangan pagi hari, lalu tetap tampil dengan sepenuh hati. Dan tentang sebuah madrasah yang percaya bahwa proses tumbuh — let’s grow — jauh lebih bermakna daripada sekadar menang atau kalah.

Festival Pemuda Kabupaten Pekalongan 2026 mungkin telah usai, tetapi semangat kerja keras, kedisiplinan, dan kepedulian yang tumbuh dari peristiwa ini akan terus menyala, menjadi bekal bagi langkah-langkah perjuangan berikutnya.

Baca juga: Reportase Haul KH. Ahmad Rifa’i: Menjaga Adab, Merawat Kenangan


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Festival Pemuda Kabupaten PekalonganKedungwuniMA Rifa'iyah KedungwuniPekalonganRifa’iyah KedungwuniRifaiyah Pekalongan
Previous Post

Krisis Ekologi dan Krisis Nurani: Saatnya Rifa’iyah Membela Bumi

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.