Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Berita

Simposium Pemikiran KH Ahmad Rifa’i Soroti Relevansi Warisan Intelektual bagi Islam Kontemporer di Nusantara

Sofarul Wildan Akhmad by Sofarul Wildan Akhmad
July 13, 2026
in Berita
0
KH Ahmad Rifa'i

KH Ahmad Rifa'i

0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SURAKARTA – Pemikiran KH Ahmad Rifa’i tidak hanya dipandang sebagai warisan sejarah, tetapi juga menawarkan perspektif baru dalam menghadapi tantangan kehidupan umat Islam di era modern. Gagasan tersebut mengemuka dalam Simposium Pemikiran KH Ahmad Rifa’i dan Pameran Manuskrip Kitab Tarajumah yang diselenggarakan di Gedung Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta, Senin (13/7).

Mengangkat tema “Pemikiran KH Ahmad Rifa’i dan Relevansinya bagi Islam Kontemporer di Nusantara”, simposium menghadirkan akademisi, peneliti, dan tokoh Rifa’iyah untuk membedah warisan intelektual KH Ahmad Rifa’i dari berbagai sudut pandang, mulai dari sejarah manuskrip, dakwah, pendidikan, hingga pemikiran keagamaan yang tertuang dalam Kitab Tarajumah.

Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. H. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag., membuka kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan perguruan tinggi terhadap pelestarian manuskrip Islam Nusantara sekaligus penguatan tradisi intelektual yang lahir dari karya para ulama lokal.

Manuskrip sebagai Bentuk Perlawanan Epistemik

Salah satu gagasan yang mendapat perhatian besar disampaikan oleh Direktur Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Islah Gusmian, S.Ag., M.Ag., melalui keynote lecture bertajuk “Manuskrip yang Hidup: Pembangkangan Epistemik di Nusantara.”

Dalam paparannya, Islah Gusmian menjelaskan bahwa kolonialisme tidak hanya hadir dalam bentuk penguasaan wilayah, tetapi juga melalui penguasaan terhadap sistem pengetahuan. Menurutnya, penjajahan yang paling bertahan lama justru berlangsung melalui dominasi bahasa, cara berpikir, dan otoritas keilmuan yang membentuk cara masyarakat memandang agamanya sendiri.

Di tengah situasi tersebut, KH Ahmad Rifa’i hadir bukan sekadar sebagai ulama, melainkan produsen pengetahuan yang membangun tradisi literasi baru. Sepulang dari rihlah ilmiah di Makkah, beliau memilih menulis puluhan kitab menggunakan bahasa Jawa beraksara Arab Pegon. Strategi ini, menurut Islah Gusmian, merupakan bentuk vernakularisasi ilmu, yakni menjembatani khazanah kitab klasik Timur Tengah dengan kebutuhan masyarakat Jawa sehingga ilmu agama dapat dipahami langsung oleh kalangan akar rumput.

Lebih jauh, ia menilai manuskrip karya KH Ahmad Rifa’i tidak hanya berfungsi sebagai kitab keagamaan, tetapi menjadi infrastruktur gerakan sosial. Salinan-salinan manuskrip yang ditulis ulang oleh para santri membentuk jaringan pendidikan yang tersebar di berbagai daerah tanpa bergantung pada pusat kekuasaan. Dengan cara itulah, gagasan KH Ahmad Rifa’i tetap hidup meskipun pemerintah kolonial berusaha membatasi pengaruhnya melalui pengasingan dan berbagai bentuk represi.

Dakwah KH Ahmad Rifa’i dan Warisan Pendidikan Rifa’iyah

Pada sesi panel, Ketua Umum Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Dr. KH. Mukhlisin Muzarie, M.A., mengajak peserta melihat perjalanan dakwah KH Ahmad Rifa’i secara lebih utuh, mulai dari latar belakang kehidupannya hingga perkembangan gerakan Rifa’iyah saat ini.

Ia menjelaskan bahwa setelah menempuh perjalanan intelektual di Makkah dan Mesir selama dua dekade, KH Ahmad Rifa’i kembali ke tanah air membawa semangat pembaruan. Dakwahnya menitikberatkan pada pemurnian akidah, penguatan ibadah, serta gerakan amar makruf nahi munkar yang kemudian berkembang menjadi kritik terbuka terhadap praktik kolonialisme Hindia Belanda beserta aparat pribumi yang mendukungnya.

Sikap tersebut berujung pada pengasingan KH Ahmad Rifa’i ke Ambon dan kemudian Minahasa pada 1859. Namun, menurut Mukhlisin Muzarie, tekanan pemerintah kolonial tidak mampu menghentikan penyebaran ajarannya. Kitab-kitab Tarajumah terus disalin secara estafet oleh para murid sehingga tradisi intelektual Rifa’iyah tetap bertahan hingga sekarang.

Mukhlisin juga menyoroti konsep pendidikan yang diwariskan KH Ahmad Rifa’i. Ia menegaskan bahwa setiap muslim wajib mempelajari tiga bidang ilmu secara terpadu, yakni ushuluddin sebagai fondasi akidah, fikih sebagai pedoman ibadah, dan tasawuf sebagai pembinaan akhlak. Ketiga aspek tersebut menjadi karakter utama pendidikan Rifa’iyah yang masih relevan untuk dikembangkan pada masa kini.

Selain itu, ia menilai penyusunan syarah Kitab Tarajumah dalam bahasa Indonesia menjadi kebutuhan mendesak agar generasi muda lebih mudah memahami pemikiran KH Ahmad Rifa’i.

Ilmu Telung Perkoro sebagai Fondasi Kehidupan Muslim

Sementara itu, KH Muhammad Abidun, Lc., mengulas lebih mendalam kandungan pemikiran keagamaan KH Ahmad Rifa’i dalam Kitab Tarajumah. Ia menjelaskan bahwa keseluruhan ajaran KH Ahmad Rifa’i dibangun di atas konsep “Ilmu Telung Perkoro”, yaitu ushuluddin, fikih, dan tasawuf yang merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, ketiganya mencerminkan kesempurnaan iman, Islam, dan ihsan dalam kehidupan seorang muslim.

Dalam bidang akidah, KH Ahmad Rifa’i menempatkan keimanan sebagai dasar yang harus melahirkan keberanian menolak kezaliman. Karena itu, beliau mengecam praktik keagamaan yang memberi legitimasi kepada penguasa zalim.

Di bidang fikih, beliau mengedepankan prinsip kemudahan bagi masyarakat awam, termasuk membuka ruang penggunaan pendapat fikih yang lebih ringan ketika diperlukan selama tetap berada dalam koridor syariat.

Adapun dalam tasawuf, KH Ahmad Rifa’i menekankan pentingnya penyucian hati melalui delapan sifat terpuji sekaligus menghindari delapan sifat tercela seperti riya’, ujub, takabur, dan hubbud dunia.

KH Muhammad Abidun juga menegaskan bahwa KH Ahmad Rifa’i mengkritik keras praktik tasawuf yang melepaskan diri dari syariat. Menurutnya, hakikat dan syariat merupakan dua unsur yang saling melengkapi sehingga tidak dapat dipertentangkan. Ia menutup paparannya dengan mengingatkan bahwa karamah sejati bukanlah kemampuan luar biasa, melainkan istiqamah dalam menjaga keimanan dan mengikuti ajaran Rasulullah SAW.

Baca Juga : Menyalakan Kembali Api Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i

Peran Generasi Muda Melanjutkan Estafet Dakwah

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah (AMRI), Abdul Kholiq, M.Pd., A.H., menyoroti tema “Relevansi Gerakan Dakwah dan Pendidikan Rifa’iyah dalam Penguatan Islam Kontemporer di Nusantara”.

Ia menegaskan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam melanjutkan estafet perjuangan para ulama melalui penguatan literasi, pendidikan, dan dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan KH Ahmad Rifa’i perlu terus dihidupkan melalui ruang-ruang pendidikan, kajian, serta gerakan sosial yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern tanpa kehilangan akar tradisi keilmuan Islam Nusantara.

Pameran Manuskrip Menghidupkan Tradisi Literasi Pegon

Selain forum ilmiah, penyelenggara juga menghadirkan pameran manuskrip Kitab Tarajumah yang menjadi daya tarik tersendiri. Berbagai naskah yang dipamerkan memperlihatkan kekayaan tradisi literasi Pegon sekaligus menjadi bukti bahwa karya-karya KH Ahmad Rifa’i tetap terjaga melalui proses penyalinan yang dilakukan secara turun-temurun oleh para muridnya.

Melalui simposium ini, para peserta tidak hanya diajak mengenang sosok KH Ahmad Rifa’i sebagai ulama pejuang, tetapi juga memahami bahwa manuskrip, pendidikan, dan tradisi literasi yang beliau bangun merupakan fondasi penting dalam menjaga kemandirian berpikir umat. Di tengah tantangan era digital yang ditandai oleh derasnya arus informasi dan dominasi budaya global, warisan intelektual tersebut dinilai tetap relevan sebagai pijakan untuk memperkuat identitas Islam Nusantara yang berakar pada tradisi, namun tetap mampu menjawab perkembangan zaman.

Penulis: Sofarul Wildan Akhmad
Editor: Tim Redaksi

Previous Post

Ketika Kaca Hati Berdebu

Sofarul Wildan Akhmad

Sofarul Wildan Akhmad

Penulis lepas di beberapa media sekaligus praktisi kehumasan. Saat ini menekuni dunia kehumasan, belajar merangkai pesan, membangun relasi, dan menjaga citra organisasi dengan cara yang lebih dekat dan manusiawi.

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.