Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Syarat-syarat Sah Salat Jumat dalam Kitab Ri’ayah al-Himmah

Syarat-syarat Sah Salat Jumat Dilengkapi Dalil Al-Qur’an, Hadits, Atsar, dan Qaul Ulama dalam Tinjauan Fikih Syafi’iyyah

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
September 14, 2026
in Kolom, Nadhom
0
Syarat-syarat Sah Salat Jumat dalam Kitab Ri’ayah al-Himmah
0
SHARES
28
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Muqaddimah

Salat Jumat merupakan salah satu syiar Islam yang agung, diwajibkan Allah subhanahu wa ta’ala atas setiap laki-laki muslim yang telah baligh, berakal, merdeka, dan menetap (mustautin), sebagai pengganti salat Dzuhur pada hari Jumat. Kewajiban ini ditegaskan secara langsung dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.”

— QS. Al-Jumu’ah [62]: 9

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan kewajiban ini dalam sabdanya:

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيضٌ

“Salat Jumat adalah kewajiban yang pasti atas setiap muslim untuk dilaksanakan secara berjemaah, kecuali empat golongan: budak, perempuan, anak kecil, dan orang sakit.”

— HR. Abu Dawud, dari Sahabat Thariq bin Syihab r.a., dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani

Agar salat Jumat yang kita kerjakan dinilai sah dan diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, para ulama fikih —khususnya dalam madzhab Syafi’i— merumuskan sejumlah syarat yang harus terpenuhi. Materi kajian ini disusun berdasarkan sebuah nazam (syair) pegon dari kitab Riayat Al-Himmat yang menghimpun lima belas (15) syarat sahnya salat Jumat, dilengkapi penjelasan, dalil naqli (Al-Qur’an, hadits, dan atsar), serta keterangan dari kitab-kitab fikih Syafi’iyyah agar mudah dipahami dan diamalkan oleh jemaah.

اُتَوِىْ سَكَيْه شَرَاطْ صَحَىْ جُمْعَهَنْ إيْكُوْ لِيْمَا لَسْ فَرْكَارَا ووِيْلَعَنْ

“Adapun banyaknya syarat sahnya salat Jumat itu berjumlah 15 perkara hitungannya.”

Kelima belas syarat tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok besar: (A) sembilan syarat yang bersifat umum bagi keabsahan salat apa pun — sebagaimana lazim diajarkan dalam kitab-kitab fikih dasar seperti Safinatun Najah dan Sullamut Taufiq — dan (B) enam syarat yang bersifat khusus, hanya berlaku bagi keabsahan salat Jumat.

Ringkasan 15 Syarat Sah Salat Jumat

  1. Islam
  2. Tamyiz (berakal sehat)
  3. Mengetahui kaifiat (tata cara) fardhu salat
  4. Tidak meyakini perkara fardhu sebagai sunnah
  5. Mengetahui telah masuknya waktu salat
  6. Menutup aurat
  7. Menghadap kiblat
  8. Suci dari hadas besar dan kecil
  9. Suci badan, pakaian, dan tempat dari najis yang tidak dima’fu
  10. Dilaksanakan pada waktu Dzuhur
  11. Dilaksanakan di tempat pemukiman (mustautin/bina’)
  12. Tidak didahului atau dibarengi Jumat lain dalam satu wilayah tanpa hajat
  13. Dilaksanakan secara berjemaah
  14. Diikuti minimal 40 orang yang memenuhi syarat (mustautin)
  15. Didahulukan dua khutbah sebelum salat

Bagian A — Syarat Umum Sahnya Salat (Syarat 1–9)

Sembilan syarat pertama berikut ini pada dasarnya berlaku bagi keabsahan salat fardhu apa pun, tidak khusus untuk salat Jumat. Nazam menguraikannya dalam beberapa bait yang saling berkaitan sebagai berikut.

كَڠْ دِيْهِنْ اِسْلاَمْ اَوْرَا صَحْ وَوڠْ كُفُوْرَانْ كَفِنْدَوْ تَمْيِيزْ فِنْتٓرْ كٓنَظَرَانْ

“Yang pertama adalah Islam (tidak sah salatnya orang kafir). Yang kedua adalah tamyiz (dapat membedakan baik dan buruk serta berakal sehat).”

Syarat Ke-1: Islam

Islam menjadi syarat mutlak sahnya seluruh ibadah, termasuk salat. Orang yang belum masuk Islam (kafir), betapapun tekun dan tertib gerakannya menyerupai salat, ibadahnya tidak dinilai sah menurut hukum syara’.

Dalil dan Rujukan:

Al-Qur’an

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ

“Dan tidak ada yang menghalangi diterimanya nafkah (amal) mereka, melainkan karena mereka kufur kepada Allah dan Rasul-Nya.”

— QS. At-Taubah [9]: 54

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Dalam kitab-kitab fikih Syafi’iyyah seperti Fathul Qarib dan Kifayatul Akhyar ditegaskan bahwa orang kafir tidak terkena khithab far’iyyah (tuntutan pelaksanaan hukum-hukum cabang syariat, termasuk salat), sehingga ibadah apa pun yang dikerjakannya tidak dinilai sah secara fikih selama ia belum berikrar masuk Islam. Meski demikian, ia tetap dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak karena tetap terkena khithab ushul (pokok-pokok keimanan).

Syarat Ke-2: Tamyiz (Berakal Sehat)

Tamyiz artinya telah mampu membedakan baik dan buruk, disertai akal yang sehat. Lanjutan nazam menegaskan bahwa orang yang tidak berakal sehat (gila) juga tidak sah salatnya:

اَوْرَا صَحْ وَوڠْكَڠْ تَنْ دُوَيْ عَقَلْ جُجُورْ كَفِڠْتٓلُوْ وٓرُوهْ كَيْفِيَّةْ فَرْضُ تِنُوْتُورْ

“Tidak sah salatnya orang yang tidak berakal sehat (gila). Yang ketiga adalah mengetahui tata cara (kaifiat) pelaksanaan amalan fardhu yang disebutkan.”

Dalil dan Rujukan:

Hadits

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena (pencatatan taklif) diangkat dari tiga golongan: dari orang yang tidur sampai ia bangun, dari anak kecil sampai ia baligh, dan dari orang gila sampai ia berakal (sadar).”

— HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Fathul Qarib dan Fathul Mu’in menempatkan ‘aqil (berakal sehat) sebagai syarat taklif. Orang gila dan anak yang belum tamyiz tergolong ghairu mukallaf (tidak dibebani hukum syariat), sehingga salat mereka —jika terjadi— tidak dinilai sah secara syar’i. Adapun anak yang sudah tamyiz tetap dianjurkan berlatih (tamrin) salat sebagai bagian dari pendidikan ibadah sejak dini.

Syarat Ke-3: Mengetahui Kaifiat (Tata Cara) Fardhu Salat

Seorang yang hendak salat wajib mengetahui tata cara pelaksanaan amalan-amalan fardhu di dalamnya. Nazam melanjutkan dengan menyebut bahwa kebodohan yang disengaja/diremehkan (bodho taqshir) tidak dapat menjadi uzur:

اَوْرَا صَحْ بَودَو تَقْصِيرْ مَهَا عَاوُوْرْ كَفِعْفَتْ اَجَا نَيْقَدَكٓنْ سُنَّةْ مِلَهُورْ

“Tidak sah salatnya orang yang bodoh karena sengaja lalai/meremehkan (bodho taqsir) dan sembarangan. Yang keempat adalah jangan meyakini perkara fardhu sebagai sunnah.”

Dalil dan Rujukan:

Hadits

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihatku salat.”

— HR. Al-Bukhari, dari Sahabat Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Matan Abu Syuja’ dan Fathul Qarib menjelaskan secara rinci rukun-rukun dan tata cara (kaifiat) salat yang wajib diketahui dan dipraktikkan setiap muslim. Ketidaktahuan yang lahir dari sikap meremehkan (bodho taqshir) tidak dapat dijadikan uzur, berbeda dengan ketidaktahuan yang wajar (bodho ma’dzur) — misalnya karena baru masuk Islam atau tinggal jauh dari lingkungan yang mengajarkan ilmu agama — yang mendapat keringanan/toleransi dari para ulama.

Syarat Ke-4: Tidak Meyakini Perkara Fardhu sebagai Sunnah

Syarat keempat mensyaratkan lurusnya i’tikad (keyakinan) seseorang terhadap kedudukan hukum suatu amalan dalam salat. Nazam menutup bagian ini dengan penegasan berikut:

إڠْ فَرِنْتَهَىْ شَرَاعْ وَاجِبْ فَڠْڮٓرَانْ اَوْرَا صَحْ فَرْضُ دِتَيْقَدَاكٓنْ كَسُنَتَنْ

“Dalam hukum syariat yang menjadi patokan wajib, tidak sah hukumnya jika amalan yang fardhu diyakini/dianggap sekadar kesunnahan.”

Dalil dan Rujukan:

Qaul Ulama

“Kebenaran i’tikad terhadap kedudukan hukum suatu amalan — fardhu ataukah sunnah — termasuk kesempurnaan dalam beragama. Barangsiapa meyakini bagian yang fardhu sebagai sekadar sunnah, ia telah keliru dalam memahami ketetapan syara’.”

— Sebagaimana diuraikan dalam kitab I’anatut Thalibin dan Nihayatuz Zain

Al-Qur’an (pendukung)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau hakim atas perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati terhadap putusanmu, dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.”

— QS. An-Nisa [4]: 65

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Ulama Syafi’iyyah membahas secara rinci dampak keyakinan yang keliru ini terhadap keabsahan ibadah, terutama bila menyangkut rukun-rukun inti salat. Nazam menegaskan bahwa dalam hukum syariat, patokan wajib (fardhu) tidak boleh direndahkan kedudukannya menjadi sekadar sunnah, karena hal itu berkaitan dengan kelurusan pemahaman terhadap ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

Syarat Ke-5: Mengetahui Telah Masuknya Waktu Salat

كَفِڠْلِيْمَ فَنْجِيْڠَيْ وَاقْتُ كِنَوٓرُهَنْ اَوْرَا صَحْ وَوڠْ اَوُرْ اَوُرَانْ لِنَكُوْنَنْ

“Mengetahui telah masuknya waktu salat. Tidak sah hukumnya jika salat dilakukan secara asal-asalan/meraba-raba tanpa kepastian (waktunya).”

Dalil dan Rujukan:

Al-Qur’an

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

— QS. An-Nisa [4]: 103

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Fathul Qarib menjelaskan lima waktu salat fardhu beserta tanda-tanda masuknya masing-masing waktu. Salat yang dikerjakan tanpa keyakinan atau dzan kuat (ghalabatuzh-zhann) bahwa waktunya telah tiba dihukumi tidak sah — inilah yang dimaksud nazam dengan istilah ‘awur-awuran’ (salat yang dikerjakan secara asal-asalan tanpa kepastian waktu).

Syarat Ke-6: Menutup Aurat

كَفِڠْنٓمْ نُتُوْفِىْ عَوْرَةْ كُوْلِتْ وَارْنَانَىْ اَوْرَا صَحْ كَبُوْكَا عَوْرَةْ يٓعَاجَانَىْ

“Menutup aurat hingga warna kulit tidak terlihat. Tidak sah salatnya jika aurat terbuka secara sengaja.”

Dalil dan Rujukan:

Al-Qur’an

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Wahai anak cucu Adam, kenakanlah pakaian (yang menutup aurat) setiap kali kalian hendak melaksanakan salat.”

— QS. Al-A’raf [7]: 31

Hadits

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima salat wanita yang telah baligh (haid) kecuali dengan mengenakan khimar (penutup kepala).”

— HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Fathul Qarib dan Fathul Mu’in merinci batas aurat dalam salat: bagi laki-laki antara pusar hingga lutut, sedangkan bagi perempuan merdeka meliputi seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Aurat yang terbuka secara sengaja, sebagaimana disebutkan nazam, membatalkan keabsahan salat.

Syarat Ke-7: Menghadap Kiblat

كَفِڠْفِتُوْ مَادٓفْ اِڠْ قِبْلَتْ دَدَنَىْ اَوْرَا صَحْ ڠِوَاسْ سَكِڠْ كَعْبَهْ بٓبٓنٓرَانَىْ

“Menghadapkan dada ke arah kiblat. Tidak sah hukumnya jika berpaling/menyeleweng dari arah Ka’bah yang sebenarnya.”

Dalil dan Rujukan:

Al-Qur’an

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, dan di mana pun kalian berada, hadapkanlah wajah kalian ke arahnya.”

— QS. Al-Baqarah [2]: 144

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Fathul Qarib membedakan antara orang yang dapat melihat Ka’bah secara langsung — wajib tepat menghadap ‘ainul Ka’bah — dengan orang yang berada jauh, yang cukup menghadap ke arahnya (jihatul Ka’bah) berdasarkan dalil-dalil penunjuk arah yang tersedia (ijtihad), seperti kompas, posisi bintang, atau petunjuk mihrab masjid setempat.

Syarat Ke-8: Suci dari Hadas

كَفِڠْوَوْلُوْ سُوْڄِىْ بَدَانَىْ كِنَوٓرُهَنْ سَكِڠْ حَدَثْ ؼٓدَىْ لَنْ ڄِيْلِىْ كٓېَتَأَنْ

اَوْرَا صَحْ وَوڠْ حَدَثْ صَلَاةْ تَنْ كَعُذُرَانْ

“Dipastikan/diketahui sucinya badan dari hadas besar maupun hadas kecil secara nyata. Tidak sah salatnya orang yang dalam keadaan berhadas tanpa adanya uzur (halangan syar’i).”

Dalil dan Rujukan:

Al-Qur’an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajah kalian dan tangan kalian sampai siku, sapulah kepala kalian, dan (basuhlah) kaki kalian sampai kedua mata kaki.”

— QS. Al-Ma’idah [5]: 6

Hadits

لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Tidak diterima salat salah seorang di antara kalian apabila ia berhadas, sampai ia berwudhu.”

— HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Fathul Qarib menjelaskan rukun-rukun wudhu untuk menyucikan hadas kecil, tata cara mandi janabat untuk hadas besar, serta tayamum sebagai sarana bersuci ketika berhalangan menggunakan air. Nazam menegaskan bahwa salat orang yang berhadas tanpa uzur syar’i (halangan yang dibenarkan syariat) hukumnya tidak sah.

Syarat Ke-9: Suci Badan, Pakaian, dan Tempat dari Najis

كَفِڠْسَڠَا سُوْڄِىْ بَدَانْ دَودَوتْ فَڠْڮُوْنَنْ

سَكِڠْ نَجِسْ تَنْ مَاعَفْ فٓفَڠْڮٓرَانَىْ اَوْرَا صَحْ سَرْتَا نَجِسْ تَنْ كَعُذُوْرَانَىْ

“Sucinya badan, pakaian (dodot), dan tempat salat dari najis yang tidak dimaafkan (tan ma’fu) sesuai ketentuannya. Tidak sah salat yang disertai najis tanpa adanya uzur.”

Dalil dan Rujukan:

Al-Qur’an

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan pakaianmu, sucikanlah.”

— QS. Al-Muddatstsir [74]: 4

Hadits

إِنَّ فِيهِمَا قَذَرًا

“Sesungguhnya pada keduanya (kedua sandal) terdapat kotoran (najis) — teguran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang sahabat yang salat memakai sandal bernajis hingga beliau memerintahkannya untuk melepas sandal tersebut.”

— HR. Abu Dawud, dari Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Fathul Mu’in menjelaskan kategori najis yang dima’fu (ditoleransi karena sedikit atau sulit dihindari, misalnya percikan darah atau nanah dalam kadar tertentu) dan yang tidak dima’fu, beserta tata cara penyuciannya masing-masing. Nazam menyebut istilah ‘tan ma’fu’ untuk najis yang tidak termasuk kategori yang dimaafkan tersebut.

Bagian B — Syarat Khusus Sahnya Salat Jumat (Syarat 10–15)

Enam syarat berikut ini bersifat khusus dan hanya berlaku bagi keabsahan salat Jumat, tidak berlaku bagi salat fardhu lainnya.

Syarat Ke-10: Dilaksanakan pada Waktu Dzuhur

كَفِعْ سٓفُولُهْ شَرَطْ صَحْ جُمْعَةْ لَكُوْنَىْ اَرٓفْ اَنَا وَقْتُ ظُهُرْ تُوْمِبَانَىْ

اَوْرَا صَحْ وَوڠْ جُمْعَة وَقْتُوْنَىْ كَبُوْدُوهَنْ

“Pelaksanaan salat Jumat harus jatuh pada waktu Dzuhur. Tidak sah hukumnya salat Jumat jika waktunya tidak diketahui (karena kebodohan/kelalaian) atau dilakukan di luar waktu Dzuhur.”

Dalil dan Rujukan:

Hadits

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِينَ تَمِيلُ الشَّمْسُ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan salat Jumat ketika matahari telah tergelincir (condong dari tengah langit, tanda masuknya waktu Dzuhur).”

— HR. Al-Bukhari, dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Ulama Syafi’iyyah sepakat bahwa waktu salat Jumat adalah waktu Dzuhur, sebagaimana disebutkan Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dan dirinci dalam Kifayatul Akhyar. Bila waktu Dzuhur telah habis sebelum salat Jumat sempat diselesaikan, maka wajib disempurnakan sebagai salat Dzuhur empat rakaat, bukan lagi sebagai Jumat.

Syarat Ke-11: Dilaksanakan di Tempat Pemukiman (Mustautin/Bina’)

كَفِڠْ سَوٓلَسْ اَرٓفْ اَنَا ؼَونْ فُوْمَهَنْ

اَوْرَا صَحْ نِڠْ اَرَ اَرَ صَلَاةْ جُمْعَهَنْ

“Harus dilaksanakan di tempat pemukiman (wilayah perkampungan/desa berpenghuni). Tidak sah hukumnya melaksanakan salat Jumat di tanah lapang/padang terbuka (yang bukan merupakan kawasan pemukiman).”

Dalil dan Rujukan:

Atsar/Qaul Ulama

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafaur Rasyidin melaksanakan salat Jumat di kawasan pemukiman (Kota Madinah), dan tidak pernah mensyariatkannya bagi penduduk baduwi/nomaden yang tinggal berpindah-pindah di padang pasir terbuka.”

— Dipahami dari praktik (sunnah ‘amaliyyah) generasi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Fathul Qarib dan I’anatut Thalibin mensyaratkan salat Jumat dilaksanakan di kawasan ‘khittah al-bunyan’ (wilayah bangunan/pemukiman tetap, baik berupa kota maupun desa), sebagai bentuk ittiba’ terhadap praktik generasi awal Islam. Batasan wilayah pemukiman yang dimaksud termasuk masalah ijtihadiyyah yang dibahas secara mendalam oleh fuqaha Syafi’iyyah.

Syarat Ke-12: Tidak Didahului atau Dibarengi Jumat Lain dalam Satu Wilayah

كَفِڠْ رَوْلَسْ تَنْ كٓدِيْڠِنَنْ إحْرَامَنْ

تُوِينْ بٓبَرٓڠَنْ جُمْعَةْ سِيْجِىْ ؼَونْ تَنْ عُذُرْ اَوْرَ صَحْ كٓدِعِينَنْ إحْرَمَ تِنُوْتُورْ

“Takbiratul ihram-nya tidak didahului maupun bersamaan dengan salat Jumat lainnya dalam satu daerah/wilayah tanpa adanya uzur syar’i. Tidak sah salatnya jika didahului takbiratul ihram-nya sebagaimana yang telah dijelaskan.”

Dalil dan Rujukan:

Qaul Ulama

“Pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi sahabat, dalam satu wilayah/kota hanya diselenggarakan satu salat Jumat, sebagai wujud menjaga persatuan (ijtima’) umat Islam. Menyelenggarakan Jumat kedua tanpa adanya hajat (kebutuhan mendesak, seperti jauhnya jarak tempuh atau sempitnya masjid) menimbulkan persoalan keabsahan bagi jemaah yang takbiratul ihram-nya mendahului atau bersamaan.”

— Sebagaimana diuraikan dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (Imam An-Nawawi), Kifayatul Akhyar, dan Fathul Wahhab

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Dalam persoalan ta’addud al-jumu’ah (berbilangnya Jumat) ini, ulama Syafi’iyyah merinci melalui kaidah ‘man sabaqa’ (siapa yang lebih dahulu takbiratul ihram-nya) untuk menentukan Jumat mana yang sah apabila terjadi lebih dari satu penyelenggaraan tanpa hajat dalam satu wilayah.

Syarat Ke-13: Dilaksanakan secara Berjemaah

كَفِعْتٓلُولَسْ بٓرْحَمَعَة بٓڄَمْفُورْ اَوْرَ صَحْ دَيْوَيْ- دَيْوَيْ جُمْعَة مِلَهُورْ

“Dilaksanakan secara berjemaah. Tidak sah hukumnya melaksanakan salat Jumat yang dikerjakan secara sendiri-sendiri.”

Dalil dan Rujukan:

Hadits

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً

“Salat Jumat adalah kewajiban yang pasti atas setiap muslim untuk dilaksanakan secara berjemaah, kecuali empat golongan (yang disebutkan pada bagian muqaddimah).”

— HR. Abu Dawud, dari Sahabat Thariq bin Syihab radhiyallahu ‘anhu

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Fathul Qarib menegaskan bahwa lafal ‘fi jama’ah’ (dengan berjemaah) dalam hadits di atas menunjukkan bahwa salat Jumat — berbeda dengan salat fardhu lainnya yang tetap sah dikerjakan sendirian (munfarid) — mutlak harus dilaksanakan secara berjemaah agar sah.

Syarat Ke-14: Kuorum Minimal 40 Orang Mustautin

كَفِڠْفَتْ بٓلَسْ وَوڠْ فَتَڠْ فُوْلُهْ كُمْفُوْلَنْ عَاقِلْ بَالِغْ لَنَڠْ مَرْدِيْكَا اَوْمَهْ-اَوْمَهَنْ

فَدَا نُوڠْؼَلْ سَوِجِ ؼَونْ كَوَجِبَن تَنْ عَالِيهْ رٓنْدٓڠْ كٓتِؼَا اَڠِڠْ كَسُوْكٓراَنْ

اَوْرَا صَحْ وَوڠْ جُمْعَة وِيْلَڠَنَىْ كورڠ كاَوَوْرَانْ رَارَيْ تُوِينْ وَوڠْ عَقَلَىْ اِيْلَڠْ

تُوِينْ وَوڠْ وَادَونْ تُوِينْ مُسَافِرْ كَوِيْلَڠْ كَڠْ اَوْرَا اَوْمَهْ-اَوْمَهْ يَاتَ كٓسَاوَاڠ

“Diikuti jemaah sekurang-kurangnya 40 orang yang berkumpul, dengan syarat: berakal (‘aqil), balig, laki-laki, merdeka, dan menetap/bermukim (mustautin) yang berada dalam satu wilayah kewajiban salat Jumat tersebut, serta tidak berpindah-pindah tempat baik di musim hujan (rendheng) maupun musim kemarau (ketiga) kecuali karena ada kesusahan/bahaya (kasukeran).”

Penjelasan Tambahan: Tidak sah salat Jumat jika jumlah jemaahnya kurang (dari 40 orang yang memenuhi syarat), seperti jika hitungan 40 orang tersebut tercampur oleh anak kecil (rare), orang gila/hilang akal, perempuan, maupun musafir yang tidak bertempat tinggal/menetap (mustautin).

Dalil dan Rujukan:

Hadits

أَوَّلُ مَنْ جَمَّعَ بِنَا فِي هَزْمِ النَّبِيتِ مِنْ حَرَّةِ بَنِي بَيَاضَةَ فِي نَقِيعٍ يُقَالُ لَهُ نَقِيعُ الْخَضِمَاتِ … قُلْتُ: كَمْ كُنْتُمْ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: أَرْبَعُونَ

“(Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata tentang As’ad bin Zurarah): Orang yang pertama kali mengumpulkan kami untuk salat Jumat (sebelum hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah) adalah As’ad bin Zurarah, di Hazmin Nabit, dari perkampungan Bani Bayadhah, pada sebuah tempat bernama Naqi’ul Khadhamat … Aku (perawi) bertanya, ‘Berapa jumlah kalian saat itu?’ Ia menjawab, ‘Empat puluh (orang).’”

— HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Berdasarkan riwayat inilah madzhab Syafi’i menetapkan kuorum minimal pelaksanaan Jumat sebanyak 40 orang laki-laki yang memenuhi syarat: ‘aqil (berakal), baligh, merdeka, dan mustautin (menetap, tidak berpindah-pindah baik di musim hujan/rendheng maupun musim kemarau/ketiga, kecuali karena adanya kesukeran/bahaya). Ketentuan ini dirinci dalam Kifayatul Akhyar dan Fathul Mu’in, dan berbeda dengan pendapat madzhab-madzhab lain mengenai jumlah kuorum Jumat — misalnya madzhab Hanafi yang tidak mensyaratkan angka pasti selama terkumpul jemaah dalam jumlah yang lazim disebut jama’ah.

Syarat Ke-15: Didahulukan Dua Khutbah

كَفِڠْلِيْمَا لَسْ دِيْڠِيْنَكٓنْ خطبة كَلِيْهَانْ اَوْرَا صَحْ دِيْڠِيْنَاكٓنْ صَلَاةْ جُمْعَهَنْ

ڠَيْرَيْأكٓنْ سَكِڠْ خُطْبَة رَوْرَوْ لِنَكَوْنَنْ إيْكُوْلَهْ شَرَطَىْ صَحْ جُمْعَةْ كَفٓفٓكَنْ

“Mendahulukan dua khutbah (sebelum pelaksanaan salat Jumat). Tidak sah hukumnya jika salat Jumat didahulukan daripada khutbah, melainkan salat dilaksanakan setelah (mengakhirkan salat dari) dua khutbah tersebut.”

Dalil dan Rujukan:

Hadits

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ قَائِمًا ثُمَّ يَجْلِسُ، ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ قَائِمًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dengan berdiri, kemudian duduk sejenak, kemudian berdiri lagi untuk menyampaikan khutbah kedua sambil berdiri.”

— HR. Muslim, dari Sahabat Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu

Tinjauan Fikih Syafi’iyyah:

Fathul Qarib menjelaskan rukun-rukun dua khutbah Jumat dengan duduk sejenak di antara keduanya sebagai bagian dari syarat sahnya pelaksanaan salat Jumat. Apabila salat didahulukan sebelum khutbah, maka pelaksanaan Jumat tersebut tidak sah dan wajib diulang sesuai tata cara yang benar — yakni khutbah terlebih dahulu, baru kemudian salat.

Penutup

Itulah keseluruhan syarat-syarat sahnya salat Jumat secara lengkap (kapepekan), berikut dalil dan tinjauan fikih Syafi’iyyahnya. Semoga dengan memahami syarat-syarat ini, pembaca semakin bersemangat dalam menyempurnakan ibadah Jumat, sehingga salat yang dikerjakan benar-benar sah dan diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu a’lam bish-shawab.

Daftar Rujukan (Marâji’)

  1. Al-Qur’anul Karim dan terjemahnya
  2. Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari
  3. Shahih Muslim, Imam Muslim bin Al-Hajjaj
  4. Sunan Abu Dawud, Imam Abu Dawud As-Sijistani
  5. Sunan At-Tirmidzi, Imam At-Tirmidzi
  6. Fathul Qarib (Al-Qaulul Mukhtar/Al-Qaulul Mukhtashar), Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi
  7. Fathul Mu’in, Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari
  8. Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayatil Ikhtishar, Imam Taqiyuddin Al-Hishni
  9. I’anatut Thalibin, Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi
  10. Nihayatuz Zain, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani
  11. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Imam An-Nawawi

Baca Juga: Khutbah Nikah: Merajut Mawaddah wa Rahmah dalam Naungan Cinta Ilahi


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Fikihhukum salat Jumatjumatkhutbah jumatKitab TarajumahRi'ayah al-Himmahsalat Jumatsyarat salat Jumat
Previous Post

Bedah Jejak Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i, Kemah Literasi 2026 Dorong Lahirnya Generasi Penerus Ulama Pejuang

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Organisasi Rifa’iyah dan Ummahatur Rifa’iyah (UMRI)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.