Temanggung – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan bahwa organisasi Rifa’iyah tidak perlu merasa kecil. Hal ini karena ajaran dan karya Ahmad Rifa’i telah memberi kontribusi besar dan diakui secara luas, bahkan melampaui kalangan internal Rifa’iyah.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Pelantikan Pengurus Wilayah dan Pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) V Rifa’iyah Jawa Tengah, Ahad (26/4), di Gedung Pemuda, Jalan Suwardi–Suwandi, Temanggung.
“Rifa’iyah jangan merasa kecil. Kitab-kitab karya KH. Ahmad Rifa’i tidak hanya dipelajari oleh warga Rifa’iyah, tetapi juga oleh umat Islam secara luas,” ujarnya.
Ia menambahkan, besar atau kecilnya organisasi tidak menjadi ukuran karena semua memiliki peran yang sama dalam menyebarkan ajaran Allah SWT. Menurutnya, ketokohan Ahmad Rifa’i juga terbukti melalui pengakuan negara sebagai pahlawan nasional, sekaligus menunjukkan kontribusi besarnya dalam perjuangan bangsa.
“Keteladanan beliau dalam perjuangan dan keteguhan prinsip perlu menjadi inspirasi untuk memperkuat sinergi dalam menjaga keutuhan bangsa,” jelasnya.
Lebih lanjut, Wagub menilai keberadaan Rifa’iyah turut mendorong terciptanya harmoni dan sinergi di Jawa Tengah sehingga menghadirkan rasa aman dan nyaman di tengah masyarakat.
Kepada para pengurus yang baru dilantik, ia berpesan agar tetap istiqamah dalam berdakwah dan tidak mudah menyerah.
“Dakwah itu didengar atau tidak, jangan berhenti sebelum mencapai keberhasilan,” tegasnya.
Sebagai bentuk dukungan pemerintah, ia juga menyampaikan bahwa Pemprov Jawa Tengah telah memfasilitasi pengembangan UMKM Batik Rifa’iyah serta membuka peluang beasiswa bagi santri, guru, dan ustaz di lingkungan Rifa’iyah.
Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Rifa’iyah Jawa Tengah, Isrofi Makfud, mengajak seluruh pengurus untuk aktif berkontribusi dalam membimbing umat menuju cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
“Rifa’iyah berpusat di Jawa Tengah sehingga kita memiliki tanggung jawab besar untuk terus berjuang dan memperkuat organisasi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antarstruktur organisasi dalam menyukseskan program kerja ke depan.
Ketua Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Dr. Muhlisin Muzarie, dalam arahannya menyampaikan bahwa Muskerwil menjadi momentum pembaruan niat sekaligus penguatan arah gerak organisasi.

Menurutnya, KH. Ahmad Rifa’i bukan hanya seorang ulama, tetapi juga pejuang yang membawa semangat pemurnian ajaran Islam secara tegas.
“Sejarah mencatat, perjuangan beliau sempat menuai penolakan, bahkan dianggap pemberontak. Namun, itu merupakan bagian dari dinamika dakwah di masa penjajahan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa Rifa’iyah bukanlah ajaran menyimpang, melainkan bagian dari gerakan Islam yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah bangsa.
“Kini Rifa’iyah memasuki fase kebangkitan—baik secara organisasi, pengakuan pemerintah, maupun pengembangan pendidikan hingga perguruan tinggi,” tambahnya.

Ketua panitia pelaksana, Amin Rindhoi, melaporkan bahwa kegiatan ini diikuti sekitar 200 peserta delegasi, 45 panitia, dan 1.500 peserta penggembira, dengan total anggaran sekitar Rp115 juta.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wakil Gubernur Jawa Tengah, jajaran Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Dewan Syuro, Bupati Temanggung, unsur Forkopimda, serta pimpinan organisasi keagamaan.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung hingga malam hari, dilanjutkan dengan agenda Muskerwil yang akan membahas program kerja Rifa’iyah Jawa Tengah periode 2026–2030.
Baca Juga: Sekjen PP Rifa’iyah Berangkat Haji, Jemaah Kesesi Antar hingga Donohudan
Penulis: Abdul Manan
Editor: Yusril Mahendra

