Negeri yang Menangis
Bayangkan sebuah negeri yang menangis diam-diam. Tahun 1820-an. Di pesisir utara Jawa, ladang-ladang tebu diperas untuk mengisi peti-peti kapal Belanda. Di alun-alun kota, seba — ritual membungkuk melebihi posisi rukuk di hadapan bupati dan tumenggung — dilakukan setiap hari oleh rakyat yang tak tahu bahwa martabat mereka sedang dirampok pelan-pelan. Penghulu yang seharusnya menjaga agama justru hadir di pesta resepsi pejabat kolonial, tertawa bersama para penjajah, sementara di luar gerbang, rakyat lapar menunggu.
Di tengah ironi itulah lahir seorang lelaki dari Tempuran, Kendal, yang namanya akan diingat berabad-abad kemudian: Ahmad Rifa’i.
Dari Tempuran ke Tanah Haram: Kelahiran Seorang Pejuang
Pada 9 Muharram 1200 Hijriyah — bertepatan dengan tahun 1786 Masehi — seorang bayi lahir di desa Tempuran, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ayahnya, RKH. Muhammad bin RKH. Abi Suja’ (dikenal pula sebagai Raden Soetjowidjojo), adalah seorang dalil agama — penjaga otoritas keislaman di kabupaten itu. Namun, takdir telah menyiapkan ujian lebih awal dari yang bisa dibayangkan: sang ayah wafat ketika Ahmad Rifa’i baru berusia enam tahun.
Anak yatim itu kemudian diasuh oleh kakak iparnya, Syaikh al-’Asyari, pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Kaliwungu. Selama dua puluh tahun, di bawah tangan hangat seorang ulama yang peduli, jiwa Ahmad Rifa’i ditempa: nahwu, sharaf, fiqih, akhlaq, tauhid — semua mengalir masuk seperti air ke bejana yang haus.
Ketika usianya genap tiga puluh tahun — tahun 1230 H/1816 M — ia mengangkat langkah menuju Makkah. Bukan sekadar menunaikan haji. Ia pergi seperti yang dilakukan ribuan santri Jawa sebelum dan sesudahnya: mencari kedalaman ilmu di jantung peradaban Islam. Tanah Haramain pada abad ke-18 hingga ke-19 adalah apa yang disebut Azyumardi Azra sebagai “sentra jaringan ulama sedunia” — sebuah universitas terbuka tanpa sekat geografis, di mana ulama-ulama dari Nusantara, Mesir, Yaman, India, dan Afrika bertemu dalam satu halaqah agung.
Di sanalah, di bawah bimbingan Syaikh Ahmad Usman dan Syaikh al-Faqih Muhammad bin Abdul Aziz al-Jaisyi, Ahmad Rifa’i menimba ilmu selama delapan tahun pertama. Ia kemudian melanjutkan ke Mesir — sebuah babak yang hingga kini masih diperdebatkan oleh para sejarawan Rifa’iyah — di mana ia diduga memperdalam Madzhab Syafi’i selama kurang lebih dua belas tahun di bawah Syaikh Ibrahim al-Bajuri dan Syaikh Abdurrahman al-Misry.
Dua puluh tahun lamanya. Barulah ia pulang.
Pulang Membawa Api
Seorang yang telah menghabiskan dua dekade di pusat ilmu dunia tidak pulang dengan tangan kosong. Ahmad Rifa’i kembali ke Jawa membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya — dari sudut pandang kolonial — daripada senjata: kesadaran.
Ia menyaksikan Jawa yang telah berubah namun sekaligus tidak berubah. Belanda semakin mencengkeram. Para bupati dan tumenggung semakin lekat dengan kursi jabatan pemberian penjajah.
Penghulu-penghulu membuka pintu untuk raja kafir. Dan umat Islam, sebagaimana dicatat oleh Zamakhsyari Dhofier yang mengutip Raffles, hanya sedikit yang benar-benar mengerti agamanya — meski secara jumlah, Islam adalah agama mayoritas penduduk Jawa.
Ahmad Rifa’i tidak memilih diam. Ia mengeluarkan kitab demi kitab — semuanya dalam bahasa Jawa, bahasa yang dimengerti rakyat, bukan bahasa Arab yang hanya dikuasai kaum elite. Kitab pertamanya, Syarikhul Iman, selesai ditulis pada tahun 1250 H/1834 M — segera setelah ia kembali dari pengembaraannya. Lewat syair-syair yang menghunjam:
“Mukmin kasab nandur jejagung. Iku luwih becik tinimbang ngawula tumenggung. Kang partela ngenani dosa luwih agung. Parek-parek kufur wong cilaka digunggung”
(Mukmin yang bekerja menanam jagung / Itu lebih baik daripada mengabdi kepada tumenggung / Yang jelas-jelas berdosa besar / Dekat kekufuran, orang celaka itu dielukan)
Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Di masyarakat yang feodalisme telah mengakar begitu dalam sampai orang rela seba — membungkuk hampir sampai tanah — di hadapan penguasa, seorang petani jagung biasa dinyatakan lebih mulia dari tumenggung bergelimang jabatan, bermandikan harta. Ini bukan sekadar kritik sosial. Ini revolusi pandangan dunia.
Kendal Bergolak, Batang Memanggil
Tahun 1835 menjadi titik balik yang tak terlupakan. Ahmad Rifa’i diajak kakak iparnya, KH. Asy’ari, menghadiri resepsi perkawinan di pendopo Kabupaten Kendal. Di sana ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri: para tamu, termasuk para alim dan haji, melakukan seba di hadapan bupati — membungkuk dalam-dalam, merendahkan diri di hadapan makhluk yang tidak ada bedanya dengan dirinya di hadapan Allah.
Bagi Ahmad Rifa’i, ini adalah kemungkaran yang nyata. Ia mengeluarkan fatwa. Kritik-kritiknya menyebar. Para pejabat yang dilumuri hujatan dalam syair-syairnya murka. Dan pemerintah kolonial Belanda, yang selalu waspada terhadap ulama yang bisa membakar semangat rakyat, mengambil tindakan: pada 1847, Ahmad Rifa’i “ditempatkan” — sebuah eufemisme untuk pengasingan — ke Kalisalak, Kabupaten Batang.
Namun penjajah telah salah menghitung. Di Kalisalak, jauh dari Kendal, Ahmad Rifa’i justru menemukan ladang baru. Santri-santri berdatangan. Kitab-kitab terus ditulis. Perlawanan tidak berhenti — ia hanya berpindah panggung.
Misteri di Lautan: Benarkah Tiga Pendekar Pulang Bersama?
Inilah bagian yang paling menggoda dan sekaligus paling perlu diperiksa dengan cermat.
Selama ini beredar cerita — masyhur di kalangan Rifaiyah dan dituturkan dari pengajian ke pengajian — bahwa KH. Ahmad Rifa’i pulang ke Nusantara bersama dua ulama besar lainnya: Syaikh Nawawi al-Bantani dan KH. Muhammad Kholil Bangkalan. Di atas kapal yang mengarungi samudra, ketiganya disebut bermusyawarah dan bersepakat untuk menjalankan tiga program perjuangan: amar ma’ruf nahi munkar, menerjemahkan kitab-kitab Arab ke bahasa lokal, dan mendirikan pondok pesantren.
Kisah itu indah. Kisah itu inspiratif. Namun sebagai sejarawan, kita berkewajiban untuk memeriksanya di bawah cahaya data.
Angka-Angka yang Bercerita
Mari kita letakkan ketiga tokoh ini berdampingan dalam garis waktu:
KH. Ahmad Rifa’i lahir tahun 1200 H/1786 M. Berangkat ke Makkah pada 1230 H/1816 M. Berdasarkan penyelesaian kitab Syarikhul Iman yang bertanggal 1250 H, ia kembali ke Jawa sekitar tahun 1834 M — setelah dua puluh tahun menimba ilmu di Haramain dan Mesir.
Syaikh Nawawi al-Bantani — sebagaimana tercatat dalam al-Durus min Madhi al-Ta’lim wa Hadlirih bi al-Masjidil Haram karya Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar — lahir di Tanara, Serang, Banten, pada tahun 1230 H/sekitar 1813-1815 M. Ia berangkat ke Makkah untuk pertama kali pada usia lima belas tahun (sekitar 1828-1830 M), bermukim tiga tahun, lalu kembali ke Banten. Namun tekanan kolonial Belanda — ia dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro — memaksanya kembali ke Makkah sekitar 1830 M, dan ia bermukim di sana hingga akhir hayatnya pada 1314 H/1897 M.
Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan — berdasarkan data yang lebih banyak disepakati — lahir pada 9 Safar 1252 H/25 Mei 1835 M di Kemayoran, Bangkalan, Madura. Ia baru berangkat menuntut ilmu ke Makkah pada sekitar tahun 1859 M dan kembali ke tanah air pada 1863 M. Di Makkah, ia berguru — antara lain — kepada Syaikh Nawawi al-Bantani sendiri.
Apa yang Bisa Disimpulkan?
Dari data di atas, setidaknya ada tiga hal yang bisa kita petik:
Pertama, kisah “tiga pendekar pulang bersama dalam satu kapal” secara kronologis sulit dipertahankan. Ketika Ahmad Rifa’i pulang ke Jawa (sekitar 1834 M), Syaikhona Kholil baru berusia sekitar empat belas tahun (jika lahir 1820) atau bahkan belum lahir (jika lahir 1835). Ia baru ke Makkah dua puluh lima tahun kemudian. Mereka tidak mungkin satu kapal dalam perjalanan pulang.
Kedua, pertemuan Ahmad Rifa’i dengan Nawawi di Makkah sangat mungkin terjadi. Ahmad Rifa’i bermukim di Makkah hingga sekitar 1834 M. Nawawi kembali permanen ke Makkah sekitar 1830 M. Artinya, ada jendela waktu sekitar empat tahun di mana keduanya sama-sama berada di kota suci itu — sebelum Ahmad Rifa’i pulang. Jika pertemuan itu terjadi, bukan di kapal pulang, melainkan di serambi-serambi masjid Makkah.
Ketiga, pertemuan Nawawi dan Kholil di Makkah adalah fakta yang terdokumentasi. Berbagai sumber biografi Syaikhona Kholil secara konsisten menyebutkan bahwa ia berguru kepada Syaikh Nawawi al-Bantani selama di Makkah (1859-1863 M). Hubungan guru-murid ini nyata dan menghasilkan rantai sanad keilmuan yang terus mengalir hingga kini.
Satu Kurun Perjuangan, Tiga Panggung
Meski tiga serangkai itu tidak “satu kapal”, mereka sesungguhnya satu kurun perjuangan. Ahmad Rifa’i (1786-1870 M), Nawawi al-Bantani (1813-1897 M), dan Syaikhona Kholil (1820/1835-1925 M) adalah generasi yang tumbuh di bawah langit yang sama: langit Nusantara yang digelapi kolonialisme. Mereka masing-masing, dari panggung yang berbeda, memilih jalan yang sama: ilmu sebagai perlawanan, pesantren sebagai benteng, dan tulisan sebagai senjata.
Ahmad Rifa’i melakukannya dengan 67 judul kitab berbahasa Jawa yang membakar kesadaran rakyat jelata. Nawawi al-Bantani melakukannya dengan lebih dari 115 kitab berbahasa Arab yang menjadikannya Sayyid Ulama al-Hijaz — sumber otoritas keilmuan bagi ulama-ulama Nusantara generasi berikutnya. Dan Syaikhona Kholil melakukannya dengan menjadi maha guru yang melahirkan tokoh-tokoh seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan— yang kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar dan terkaya di dunia.
Mereka adalah tiga pelita yang dinyalakan di tiga sudut ruangan gelap. Meski tidak menyentuh api satu sama lain secara langsung, cahaya mereka bertemu dan menerangi satu negeri yang sama.
Warisan yang Tak Lekang
Peninggalan Ahmad Rifa’i bukan hanya kitab-kitab yang masih dibaca di pesantren-pesantren Rifaiyah di Batang, Pekalongan, dan sekitarnya. Ia mewariskan sebuah prinsip yang jarang disuarakan ulama di zamannya: bahwa kepatuhan kepada penguasa memiliki batas, bahwa bungkuk di hadapan manusia bisa menjadi dosa, dan bahwa seorang petani yang jujur lebih mulia dari seorang pejabat yang berkhianat pada rakyatnya.
Di era ketika banyak ulama lebih memilih berkompromi dengan kekuasaan demi keselamatan, Ahmad Rifa’i memilih jalan yang lebih sunyi namun lebih tegak. Ia dibui. Ia diasingkan. Namun ia tidak pernah berhenti menulis dan berjuang.
Seperti syairnya sendiri yang mungkin ia tulis untuk para munafik pada jamannya:
“Kafir munafik neng dasare neraka tanda luwih ala”
Di dasar neraka ada tempat yang lebih buruk dari kafir biasa — yaitu munafik. Dan munafik yang ia maksud bukan hanya yang mengkhianati iman, tetapi juga nurani, yang mengkhianati rakyatnya, mengkhianati kebenaran demi kursi jabatan.
Tiga abad berlalu, pesan itu masih segar, masih menggigit. Keadaan sekarang sepertinya karakter itu masih melekat, bahkan lebih parah.
Meluruskan untuk Memuliakan
Menelaah kritis kisah “tiga pendekar dalam satu kapal” bukan berarti merendahkan ketiganya. Justru sebaliknya — ketiga tokoh ini terlalu besar untuk perlu dihiasi dengan legenda yang tidak terbukti. Masing-masing dari mereka telah berdiri tegak di atas fondasi sejarahnya sendiri yang luar biasa.
Tugas kita hari ini adalah mewariskan kebenaran, bukan hanya keindahan. Sejarah yang jujur justru lebih menginspirasi daripada sejarah yang dihias. Karena yang sejati selalu lebih indah dari yang dibayangkan.
Dan sesungguhnya, bahwa Ahmad Rifa’i, Nawawi al-Bantani, dan Kholil Bangkalan — dengan segala jarak waktu dan jarak tempat di antara mereka — berhasil melakukan hal yang sama: menjaga nyala Islam di tengah badai kolonialisme, adalah keajaiban yang tidak memerlukan kapal yang sama untuk dirayakan.
Referensi
Tentang KH. Ahmad Rifa’i:
- Naskah kitab Syarikhul Iman (1250 H/1834 M) — karya perdana KH. Ahmad Rifa’i, menjadi patokan tahun kepulangannya ke Jawa.
- Ahmad Naseihun, “Tjatatan Sekedar Riwajat Hidup Nja Sjeh Achmad Rifa’ie Bin Muchamad” (1968), yang merujuk kepada catatan K. Machful Karangsambo Sapuran Wonosobo.
- Wawancara K. Asmuni, H. Ali, Ranu (September–Maret 1985), Kendal.
Tentang Syaikh Nawawi al-Bantani:
- Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar, “al-Durus min Madhi al-Ta’lim wa Hadlirih bi al-Masjidil Haram” (1379 H) — sumber primer yang menjadi rujukan utama biografi Nawawi dari kalangan Timur Tengah.
- Chaidar, Sejarah Pujangga Islam, Syech Nawawi al-Banteni Indonesia (Jakarta: CV. Sarana Utama, 1978).
- Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Jakarta: Kencana, 2012).
Tentang Syaikhona Kholil Bangkalan:
- Data tahun lahir dan perjalanan ke Makkah: berbagai sumber menyebut dua versi — 1235 H/1820 M dan 1252 H/1835 M. Versi 1252 H/1835 M lebih konsisten dengan data keberangkatan ke Makkah tahun 1859 M pada usia 24 tahun.
- Dikonfirmasi pula oleh catatan Kompas.com (2022) dan NU Online Jatim (2025) berdasarkan penelitian Tim Pengusul Syaikhona Kholil sebagai Pahlawan Nasional.
- Hubungan guru-murid antara Nawawi dan Kholil dikonfirmasi oleh: Biografi Syaikhona Kholil (Scribd/Wordpress), Biografi MA Al-Ma’had An-Nur (2024).
Konteks sejarah umum:
- Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren (Jakarta: PT. Matahari Shakti), hlm. 8; mengutip Stanford Raffles, The History of Java vol. II (London, 1830).
- M.C. Ricklefs, “Pengaruh Islam Terhadap Budaya Jawa”, makalah Seminar 2000.
Baca Juga: Kesejahteraan Guru Honorer dan Solusi Kemandirian ala Rifa’iyah
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

