Khutbah Pertama
الحَمْدُ لِلّٰهِ، الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِلسَّلَامِ، وَأَمَرَنَا بِتَصْحِيْحِ الِإيْمَانِ وَالْأَحْكَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْعَلَّامُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَيْرُ الْأَنَامِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْكِتَابِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah, Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yakni menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, panutan kita dalam syariat, tarekat, hingga hakikat.
Jemaah yang dirahmati Allah, Seorang ulama besar Nusantara, KH. Ahmad Rifa’i bin Muhammad al-Jawi dalam kitabnya Tanbih, memberikan peringatan keras kepada kita semua mengenai bahaya keberagamaan yang hanya ikut-ikutan tanpa ilmu, atau yang disebut dengan Taksir (keteledoran). Beliau mengingatkan bahwa banyak orang awam yang terjebak dalam bid’ah yang menyesatkan karena mereka menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya dan mengikuti “setan berwujud manusia” sebagai gurunya.
Sebagaimana sudah dinash di dalam Al-Qur’an surat Al-Jasiyah:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Jasiyah: 23)
Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan ikutilah dia (Nabi Muhammad), agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 158).
Ayat ini menegaskan bahwa standar kebenaran adalah mengikuti jejak Rasulullah SAW, bukan mengikuti tokoh yang hanya pandai bersilat lidah namun hatinya terpikat pada dunia, terlena pada empuknya kursi jabatan, kepincut pada palsunya nikmat syahwat. KH. Ahmad Rifa’i mengkritik fenomena “Alim Fasiq”, yaitu orang yang berilmu namun perilakunya melanggar syariat. Beliau mengutip kaidah:
مَنْ عَصَى اللهَ تَعَالَى فَهُوَ جَاهِلٌ
“Barangsiapa durhaka kepada Allah Ta’ala, maka dialah orang yang bodoh (jahil).”
Jemaah Jumat yang berbahagia, jika kita tarik dalam konteks Indonesia saat ini, peringatan ini sangat relevan. Di era digital ini, betapa banyak kita melihat fenomena “ulama instan” atau pemuka agama yang lebih mengedepankan popularitas, jumlah followers, dan kepentingan politik praktis daripada kemurnian syariat. Banyak ulama suu’ yang memperlakukan santrinya layaknya alat pemuas nafsu. Sehingga banyak awam yang bingung, karena keteladanan yang disaksikannya merupakan kebalikan dari ucapan-ucapan dalam pengajian.
Pada zaman KH. Ahmad Rifa’i hidup juga telah menyaksikan pertentangan-pertentangan ini. Para Ulamanya lebih memilih menjalani syariat yang sesuai dengan syahwatnya. Dalam Kitab Tanbih beliau mencontohkan tentang ibadah Salat Jumat. Beliau mengkritik mereka yang melaksanakan salat Jumat hanya sekadar berkumpul, namun Jemaahnya tidak paham rukun shalat, imamnya tidak mau mengajar, sehingga ibadah tersebut menjadi batal secara fikih. Ini adalah teguran bagi kita semua agar tidak terjebak pada ritualitas formalitas belaka. Ibadah kita harus didasari oleh ilmu yang sah (shihah).
Dalam kitab nadzom Zubad, sebagaimana dikutip oleh KH. Ahmad RIfa’i dalam kitab Ri’ayah Al-Himmah :
وكل من بغير علم يعمل # أعماله مردودة لاتقبل
“Setiap orang yang beramal tanpa ilmu maka amalnya tertolak, tidak diterima.”
Jemaah yang dimuliakan Allah, Tanda orang yang benar-benar mengagungkan Allah adalah ia yang menundukkan hawa nafsunya. Sebagaimana firman Allah:
فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
“Maka berpalinglah (wahai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan ia tidak menghendaki kecuali kehidupan dunia semata.” (QS.An-Najm: 29).
Janganlah kita tergiur oleh mereka yang menjual ayat-ayat Allah demi keuntungan duniawi, demi kepuasan syahwat atau mereka yang memicu kegaduhan dan kebencian (hasud) di tengah umat, memecah belah bangsa. Seorang mukmin yang jujur imannya akan menyatukan syariat (fikih yang benar) dengan hakikat (hati yang ikhlas).
Marilah kita bermuhasabah. Apakah salat kita sudah sesuai rukun dan syaratnya? Apakah guru yang kita ikuti benar-benar menuntun kita kepada Allah, atau hanya menuntun kita pada fanatisme golongan dan cinta dunia?
Ingatlah janji Allah:
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
“Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 194)
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita hidayah untuk mengikuti ulama yang saleh dan ‘adil, menjauhkan kita dari fitnah dunia, dan menerima segala amal ibadah kita dengan sempurna.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ
وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَصَابِيْحِ الدُّرَرِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى مُخْبِرًا وَآمِرًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا هَذِهِ (إِنْدُوْنِيْسِيَا) بَلْدَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Download file PDF: Khutbah Jumat: Menjaga Kemurnian Ibadah dan Menghindari Fitnah Ulama Duniawi
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra


