Di sebuah majelis pengajian, para santri duduk bersila mengelilingi seorang kiai yang sedang mengajarkan kitab Tabyinal ishlah karya KH. Ahmad Rifa’i. Malam itu, sang kiai membuka pelajaran dengan membacakan sebuah nadzom:
Ikulah sorahe wong tan narimo kawilang
Tinemu ginawe cangkriman wenang
Siji ora entek onoho papat kurang
Ikulah lobane atine wong lanang
Para santri mendengarkan dengan saksama. Setelah selesai membaca, sang kiai bertanya, “Tahukah kalian makna cangkriman ini?”
Tidak seorang pun menjawab.
Sang kiai lalu menjelaskan bahwa bait tersebut menggambarkan sifat hati manusia yang tidak pernah merasa cukup. Satu sudah dimiliki, tetapi masih merasa kurang. Empat sudah ada, tetap belum puas. Itulah gambaran ketamakan yang sering menguasai hati manusia.
Beliau melanjutkan membaca nadzam berikutnya:
Onoho wadon satus meksih kurangan
Nyoto luwih akeh kurang hawane karepan
Gholib wong anut hawane gede kadosan
Satengahe dadi sasar kafir munafikan
Seorang santri bernama Hasan mengangkat tangan.
“Yai, mengapa orang bisa tersesat hanya karena mengikuti keinginannya?”
Sang kiai tersenyum lalu menjawab, “Karena hawa nafsu selalu meminta lebih. Ketika seseorang menuruti semua keinginannya tanpa kendali agama, ia akan sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dosa dianggap biasa, sementara kebenaran terasa berat untuk dijalankan.”
Majelis kembali hening saat sang kiai membaca bait selanjutnya.
Nyoto tan nono warege howo tinurut
Koyo lakune wong kufur kebancut
Iku sabab maring howone anut
Banget laline ing Allah tan tobat imut
Beliau lalu menceritakan seorang saudagar kaya yang memiliki sawah luas, rumah megah, dan banyak pekerja. Namun setiap hari ia masih mengeluh karena merasa kurang. Semakin banyak hartanya, semakin besar pula keinginannya. Ia sibuk mengejar dunia hingga melupakan salat dan kewajiban kepada Allah.
“Begitulah hawa nafsu,” kata sang kiai. “Ia tidak pernah kenyang. Jika terus dituruti, manusia akan semakin jauh dari Tuhannya.”
Kemudian beliau membaca bait terakhir.
Akeh wong sasar sabab anut hawane manah
Satengah alim sasar tinggal mujahadah
Anut hawane dunyo harom diarah
Para santri tampak terdiam. Mereka tidak menyangka bahwa bukan hanya orang awam yang dapat tersesat, tetapi juga orang alim.
“Ilmu saja tidak cukup,” ujar sang kiai. “Orang berilmu pun bisa tergelincir jika meninggalkan mujahadah, yakni perjuangan melawan hawa nafsu. Ketika cinta dunia menguasai hati, yang haram bisa dicari dan yang halal bisa ditinggalkan.”
Hasan menundukkan kepala. Malam itu ia memperoleh pelajaran yang sangat berharga. Ia memahami bahwa musuh terbesar manusia bukanlah kemiskinan, bukan pula kekurangan ilmu, melainkan hawa nafsu yang tidak dikendalikan.
Pengajian pun berakhir. Namun bait-bait nadzom yang dibacakan sang kiai terus terngiang di telinga para santri. Mereka sadar bahwa keselamatan hidup tidak hanya terletak pada banyaknya ilmu dan amal, tetapi juga pada kesungguhan dalam mengendalikan hawa nafsu dan senantiasa kembali bertobat kepada Allah.
Sebagaimana pesan yang terkandung dalam nadzam karya KH. Ahmad Rifa’i tersebut, banyak manusia tersesat karena mengikuti hawa nafsunya, bahkan sebagian orang alim sekalipun. Oleh karena itu, mujahadah dan pengendalian diri menjadi jalan penting untuk menjaga iman dan keselamatan hidup.
Baca Juga: Hari Lahir Pancasila: Refleksi Keislaman, Kebangsaan, dan Dakwah dalam Syi’ir Rifa’iyah
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra

