Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Cerpen

Pelajaran tentang Rezeki: Kisah Pak Sulaiman dan Makna Tawakal kepada Allah

Muhammad Nawa Syarif by Muhammad Nawa Syarif
June 22, 2026
in Cerpen
0
Pelajaran tentang Rezeki
0
SHARES
22
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Setiap pagi sebelum matahari terbit, Pak Sulaiman sudah berjalan menuju sawahnya. Di tangannya tergenggam cangkul tua yang gagangnya mulai licin dimakan usia. Setelah memeriksa tanaman padi dan membersihkan gulma, ia pulang ke rumah. Namun pekerjaannya belum selesai. Di depan rumahnya berdiri sebuah toko kelontong kecil yang menjadi sumber penghidupan keluarganya.

Begitulah kehidupan Pak Sulaiman selama puluhan tahun: pagi menjadi petani, siang hingga malam menjadi pedagang.

Orang-orang desa mengenalnya sebagai sosok yang jujur. Jika beras yang dijual kualitasnya biasa, ia akan mengatakan biasa. Jika ada cacat pada barang dagangannya, ia akan menjelaskannya terlebih dahulu kepada pembeli.

“Terlalu jujur tidak baik untuk dagangan, Pak,” kata seorang pedagang muda suatu hari.

Pak Sulaiman hanya tersenyum.

“Mungkin daganganku tidak membuatku cepat kaya, tapi aku ingin tenang ketika menghadap Allah.”

Namun hidup tidak selalu berjalan mudah. Pada suatu tahun, musim kemarau berkepanjangan melanda. Sawahnya gagal panen. Pada saat yang sama, toko kecilnya juga sepi. Banyak warga yang sedang kesulitan ekonomi sehingga membeli barang secukupnya saja. Tabungan mulai menipis.

Suatu malam Pak Sulaiman duduk sendirian di teras rumah. Lampu toko sudah dipadamkan. Di dalam rumah, istrinya sedang menghitung sisa uang yang tersimpan di laci. Anaknya yang paling kecil akan masuk sekolah beberapa minggu lagi. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Pak Sulaiman merasa takut. Bagaimana jika sawah kembali gagal? Bagaimana jika toko semakin sepi? Bagaimana jika ia tidak mampu menafkahi keluarganya?

Di tengah kegelisahan itu, tangannya mengambil sebuah kitab tua yang diwariskan ayahnya. Di antara halaman-halaman yang mulai menguning, matanya tertuju pada nazam Targhib korasan 17 karya KH. Ahmad Rifa’i.

Ia membaca perlahan:

Syariate wong dagangan kelakuhane
Yoiku arep netepi Syara’ sah hukumane
Mengkono ugo wong kang nenandur
Wajib anut ing lakune Syara’ jujur
Ojo ngelakoaken harom kang pinilahur

Pak Sulaiman menghela napas panjang. Tiba-tiba ia teringat perjalanan hidupnya selama ini. Ia tidak pernah mengurangi timbangan. Ia tidak pernah memalsukan kualitas barang. Ia tidak pernah mengambil hak orang lain. Di sawah pun ia berusaha bekerja dengan cara yang halal dan jujur.

“Ya Allah,” gumamnya, “aku hanya berusaha menjaga syariat-Mu.”

Matanya kemudian melanjutkan ke bait berikutnya.
Utawi thoriqote wong dagang lan nenandur
Yoiku arep nejo atine ing Allah toat
Munfaate Arto ginawe nulungi ibadat
Netepi wajib ngedohi maksiyat
Nejone ati amrih munfaate akhirat

Pak Sulaiman terdiam lama. Ia bertanya kepada dirinya sendiri. Untuk apa sebenarnya ia berdagang? Untuk apa ia bertani? Selama ini ia selalu menjawab: untuk mencari nafkah. Tetapi malam itu ia menemukan jawaban yang lebih dalam. Ia berdagang agar keluarganya bisa makan dengan halal. Ia bertani agar anak-anaknya dapat belajar. Ia bekerja agar dapat membantu tetangga yang kesusahan. Ia mencari rezeki agar dapat beribadah dengan tenang.

Ternyata selama ini pekerjaan yang dianggapnya biasa saja memiliki nilai yang besar di hadapan Allah. Air matanya mulai mengalir.

Lalu ia membaca bait berikutnya.

Ojo pisan nejo kerono dunyo beloko
Nenandur lan dagangan nulungi duroko
Iku ora syari’at ora thoriqot kareko
Balik iku lakune wong kafir ciloko

Dadanya bergetar. Selama beberapa bulan terakhir ia terlalu sibuk memikirkan keuntungan dan kerugian. Ia mulai mengukur keberhasilan hanya dengan angka-angka. Padahal dunia bukan tujuan akhir. Yang paling penting bukan seberapa banyak hasil panen atau seberapa ramai pembeli datang ke toko. Yang paling penting adalah apakah semua itu membuatnya semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh.

Kemudian ia sampai pada bagian terakhir.

Utawi partelane Kanti haqeqot
Ingatase wong dagangan dihajat
Tuwin nenandur barang opo dihimmat
Yoiku arep mandeng ing Rohmat
Saking Allah paring rizqi wus ginawaruhan
Solah tingkah ugo saking Allah tulungan
Kabecikan dhohir batin saking pengeran
Ora rumoso duwe tingale kebatinan

Saat itulah sesuatu berubah dalam hatinya. Selama ini ia mengira rezeki datang dari sawah. Kadang ia mengira rezeki datang dari toko. Padahal sawah hanyalah sebab. Toko hanyalah sebab. Rezeki datang dari Allah. Sawah tidak bisa menumbuhkan padi tanpa kehendak-Nya. Toko tidak bisa mendatangkan pembeli tanpa izin-Nya. Bahkan tenaga yang ia gunakan untuk bekerja setiap hari pun merupakan karunia-Nya.

Malam itu Pak Sulaiman menangis. Bukan karena kemiskinan. Bukan karena ketakutan. Melainkan karena selama ini ia terlalu sering memandang sawah dan tokonya, tetapi lupa memandang Allah yang berada di balik semua itu.

Beberapa bulan kemudian keadaan mulai membaik. Hujan turun. Sawah kembali menghijau. Pembeli sedikit demi sedikit datang ke tokonya. Namun ada satu hal yang berbeda. Pak Sulaiman tidak lagi merasa bangga ketika dagangannya laris. Ia juga tidak lagi putus asa ketika hasil panennya berkurang.

Kini, setiap kali membuka toko atau melangkah ke sawah, ia selalu berdoa:

“Ya Allah, jadikan daganganku dan tanamanku sebagai jalan untuk taat kepada-Mu. Jika Engkau memberi banyak, aku akan bersyukur. Jika Engkau memberi sedikit, aku akan tetap bersyukur. Karena yang kucari bukan sekadar hasilnya, tetapi ridha-Mu.”

Dan sejak saat itu, sawah serta toko kecilnya bukan lagi sekadar tempat mencari nafkah. Keduanya telah menjadi madrasah yang mengajarkannya tentang syariat, tarekat, dan hakikat; tentang kerja keras, keikhlasan, dan keyakinan bahwa rezeki selalu datang dari Allah, melalui jalan yang Dia kehendaki.

Baca Juga: Cerpen: Cangkriman Hawa Nafsu


Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Cerita PendekCerpencerpen inspiratifcerpen islamirezekiSyukurTawakal
Previous Post

Roadshow Safari Dakwah PP AMRI di Sumatera Utara Ditutup dengan Pembentukan PD AMRI Kota Binjai

Next Post

PP AMRI dan Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta Perkuat Kerja Sama Akademik, Siapkan Simposium Nasional Pemikiran KH. Ahmad Rifa’i

Muhammad Nawa Syarif

Muhammad Nawa Syarif

Khadim di Ponpes Faidlul Qodir, Kepala MTs Rifa'iyah Wonokerto, Sekjend PP. AMRI, Pegiat literasi KH. Ahmad Rifa'i.

Next Post
PP AMRI dan Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta Perkuat Kerja Sama Akademik, Siapkan Simposium Nasional Pemikiran KH. Ahmad Rifa’i

PP AMRI dan Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta Perkuat Kerja Sama Akademik, Siapkan Simposium Nasional Pemikiran KH. Ahmad Rifa'i

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.