Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Reportase Inspiratif: Membaca Iman dengan Titik dan Koma yang Benar

Catatan mendalam dari kajian tentang iman yang jujur, makrifat, taklid yang selamat, dan pintu tobat yang belum ditutup

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
October 7, 2026
in Kolom, Nadhom
0
Reportase Inspiratif: Membaca Iman dengan Titik dan Koma yang Benar
0
SHARES
15
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Prolog: Tanda Baca yang Menentukan Makna

Dalam tradisi membaca kitab, satu jeda bisa mengubah makna. Berhenti terlalu cepat, pembaca memotong keterangan yang justru menyempurnakan kalimat; melaju terlalu jauh, ia menerabas batas yang semestinya dijaga. Karena itu, di pesantren, belajar membaca bukan sekadar belajar melafalkan, melainkan belajar tahu di mana harus berhenti, di mana harus melanjutkan, dan di mana sebuah penjelasan benar-benar tuntas.

Itulah semangat yang mengalir pada Kajian Kitab Tarajumah ke-3 yang diselenggarakan Pengurus FUKKAR (Forum Komunikasi Keluarga Rifa’iyah) pada Senin, 28 September 2026, di Aula PP Annasihun, Paesan Utara, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Bersama Kyai Imbuh Jumali, jemaah membuka Kitab Ri’ayatal Himmah Juz Awal dengan tema “Metode Membaca dengan Titik dan Koma yang Benar”.

 

Kegiatan Kajian Kitab Tarajumah ke-3
Pemateri Kyai Imbuh Jumali dari Temanggung
Kitab Ri’ayatal Himmah Juz Awal (karya KH. Ahmad Rifa’i)
Tema Metode Membaca dengan Titik dan Koma yang Benar
Penyelenggara Pengurus FUKKAR (Forum Komunikasi Keluarga Rifa’iyah)
Waktu Senin, 28 September 2026
Tempat Aula PP Annasihun, Paesan Utara, Kedungwuni, Kab. Pekalongan

Kajian dibuka dengan basmalah, lalu memasuki pokok yang paling mendasar dalam beragama: iman. Saat membaca redaksi kitab tentang iman itulah Kyai Imbuh menyelipkan satu kaidah membaca: bila dalam sebuah kalimat ada mubdal minhu, pasti ada badal yang menyertainya.[1] Bagian awal kalimat sering baru membuka persoalan; penjelasannya menyusul. Pembaca yang menaruh titik terlalu dini akan membawa pulang separuh makna.

Dari kaidah kecil itu, pembahasan bergerak ke wilayah yang jauh lebih besar. Sebab iman pun punya “titik” dan “koma”: batas-batas yang tak boleh ditawar, sekaligus ruang yang selalu terbuka untuk belajar, bertobat, dan memperbaiki diri. Reportase ini menelusuri kembali perjalanan itu.

Peta Kajian

  1. Iman yang tidak berhenti di lisan: empat potret iman.
  2. Ketika syahadat hanya tinggal di bibir: ciri iman yang ditolak.
  3. Kehati-hatian sebelum menjatuhkan titik: adab menghukumi orang lain.
  4. Pintu tobat yang belum ditutup.
  5. Makrifat: kewajiban yang pertama.
  6. Taklid yang selamat: pegangan orang awam.
  7. Iblis pun mengenal Tuhannya: tentang taslim.
  8. Dua wilayah, dua cara berguru: ushuluddin dan furu’uddin.
  9. Akidah lima puluh dan cara alam berbicara.
  10. Pulang dengan titik dan koma.

I. Iman yang Tidak Berhenti di Lisan

“Utawi iman iku…” Dengan rumusan khas bahasa tarajumah itulah Kyai Imbuh yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Riyadotussholikhin Wassholikhat Temanggung, Jawa Tengah membacakan bagaimana kitab memotret iman. Dalam uraian tersebut, iman bukanlah satu bongkahan seragam. Ia punya tingkatan nasib: ada yang terjaga, ada yang diterima, ada yang masih menggantung, dan ada yang ditolak.

Empat potret iman

  • Iman ma’shum, iman yang terpelihara dari kerusakan, sebagaimana imannya para nabi.
  • Iman maqbul, iman yang diterima. Inilah iman orang mukmin: pengakuannya jujur, rukun dan syarat sahnya terpenuhi, dan ia dijaga dari hal-hal yang dapat meleburkannya.
  • Iman mauquf, iman yang masih “awur-awuran”, tergantung dan belum menemukan pijakan. Gambarannya: Islam yang sekadar mengikuti orang tua, syahadat yang terucap di permukaan, dan hidup yang masih terjerat bid’ah serta maksiat.
  • Iman mardud, iman yang ditolak. Syahadat dan ibadahnya hanya tampak di luar, sementara hatinya menolak. Inilah iman kafir munafik.

Membaca daftar ini, godaan pertama adalah menaruhnya di depan orang lain. Padahal pertanyaan yang lebih jujur adalah: iman saya sedang berada di anak tangga yang mana, dan apa yang perlu saya lakukan agar naik?

INTISARI

Iman yang diterima bukanlah iman yang paling keras diucapkan, melainkan iman yang jujur, memenuhi rukun dan syarat, serta dijaga dari hal-hal yang merusaknya.

Baca Juga: Kaji Kitab Ri’ayah Al-Himmah, Pengajian Selapanan FUKKAR Soroti Ketelitian Memahami Struktur Kalimat Tarajumah

II. Ketika Syahadat Hanya Tinggal di Bibir

Setelah memetakan iman, Kyai Imbuh membacakan sisi paling gelap dari peta itu: iman kafir munafik. Bagian ini dibaca bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar pendengar mampu mengenali penyakit hati sejak dini.

Kitab menguraikan tanda-tandanya. Orang munafik mengucapkan syahadat dan menjalankan ibadah, tetapi semuanya diarahkan untuk kepentingan dunia. Dalam hatinya tumbuh kebencian pada syarak, yakni aturan agama, dan pada upaya mencegah maksiat. Ia enggan menuntut ilmu yang bermanfaat bagi akhirat, menyimpan hasud kepada alim yang adil, lalu menjauhinya.

Lima tanda yang dibacakan

  • Syahadat dan ibadah dijalankan demi urusan dunia semata.
  • Benci kepada syarak dan kepada amar ma’ruf nahi mungkar.
  • Enggan menuntut ilmu yang bermanfaat untuk akhirat.
  • Menyimpan hasud kepada alim yang adil.
  • Menjauh dari alim yang adil.

Al-Qur’an menggambarkan keadaan batin mereka dengan tiga kata yang sangat tajam:

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

(Mereka) tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak dapat kembali. (Qs. Al-Baqarah [2]: 18)

Dalam uraian yang dibacakan, tuli, bisu, dan buta itu bersifat batin, bukan jasmani. Ada pelajaran lembut di balik gambaran keras ini: telinga bisa mendengar nasihat tanpa ada yang masuk ke hati, lidah bisa fasih berzikir tanpa pernah jujur, mata bisa menatap tanda-tanda tanpa membaca pesannya.

Kitab juga mencatat pemandangan yang pahit: banyaknya alim yang rusak, yang menyesuaikan diri dengan penguasa zalim, menjadikan syahadat dan ibadah sebagai tameng kehormatan, namun membenci amar ma’ruf nahi mungkar dan hasud kepada alim yang adil. Catatan sejarah: bagi keluarga Rifa’iyah, kritik semacam ini tidak asing. KH. Ahmad Rifa’i dikenal gigih menegur para pejabat dan penghulu yang berpihak pada kekuasaan kolonial pada zamannya. Renungan: ilmu yang kehilangan keberanian menegur kemungkaran mudah berubah menjadi alat mencari muka.

Titik pertama: beranjak dari majelis yang melecehkan ayat

Kyai Imbuh juga mengingatkan dua petunjuk Al-Qur’an dalam surah An-Nisa. Pertama, kemuliaan (izzah) seluruhnya milik Allah, maka tak perlu dicari dengan bersandar kepada orang-orang kafir (ayat 139). Kedua, bila mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diolok-olok, jangan duduk bersama mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain; sebab yang tetap duduk akan serupa dengan mereka (ayat 140).

Di sini ada “titik” yang sangat konkret: titik untuk berdiri dan pergi. Renungan: pada zaman ini, majelis semacam itu bisa berupa grup percakapan, kolom komentar, atau tontonan. Pertanyaannya tetap sama: kapan saya harus beranjak?

III. Kehati-hatian Sebelum Menjatuhkan Titik

Setelah uraian yang keras itu, Kyai Imbuh menutup satu pintu kesalahpahaman. Ciri-ciri iman yang ditolak tidak boleh serta-merta ditempelkan kepada orang lain.

Ketika ucapan dan perbuatan lahir seseorang benar-benar bertentangan dengan syahadatnya, memang ada hukum yang berlaku secara lahiriah. Namun syaratnya berat: kekufuran itu harus tersaksikan oleh orang-orang yang adil dan nyata terbukti. Ia tidak dibangun di atas prasangka, kabar burung, atau kesan sepintas. Sementara isi hati yang sebenarnya tetap berada dalam pengetahuan Allah.

Renungan: pelajaran ini terasa mendesak di era media sosial, saat satu potongan kalimat bisa menjadi vonis dalam hitungan menit. Dalam bahasa membaca kitab, ini adalah soal menaruh titik: jangan menutup kalimat orang lain sebelum keterangannya selesai dibaca.

INTISARI

Mengenali ciri penyakit hati adalah untuk bercermin. Menghukumi orang lain menuntut bukti yang nyata dan saksi yang adil, bukan prasangka.

IV. Pintu Tobat yang Belum Ditutup

Kajian lalu bergerak ke bagian yang paling menenteramkan. Ayat-ayat yang menyebut siksa bagi kafir dan munafik, antara lain peringatan dalam An-Nisa ayat 138 dan janji Allah dalam At-Taubah ayat 68, menurut Kyai Imbuh wajib disampaikan. Tujuannya bukan menghakimi, melainkan agar mereka bertobat selagi masih di dunia, selagi pintu tobat masih dibuka. Ayat peringatan, dengan kata lain, adalah tangan yang terulur.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (berada) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri, berpegang teguh pada (agama) Allah, dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Mereka itu bersama orang-orang mukmin, dan kelak Allah akan memberi orang-orang mukmin pahala yang besar. (Qs An-Nisa [4]: 145–146)

Perhatikan bahwa ayat itu tidak berhenti pada ancaman. Setelah kata “kecuali”, terbentang jalan pulang dengan empat syarat:

  1. Bertobat: kembali dari kekufuran dan kemunafikan.
  2. Memperbaiki amal: tobat yang disusul perbaikan nyata.
  3. Berpegang teguh pada Allah: menjadikan-Nya sandaran, bukan kekuasaan atau pujian manusia.
  4. Ikhlas: agama dijalankan semata karena Allah.

Kyai Imbuh menegaskan bentuk kembali itu: tunduk (taslim) kepada syariat, mengikuti fatwa para alim sebatas kemampuan, menaati syariat Nabi secara lahir, sementara hati diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Dengan jalan itulah, disebutkan, seseorang memperoleh keselamatan, dari dosa lahir maupun dosa batin.

INTISARI

Peringatan tentang siksa adalah bentuk kasih sayang: ia dibacakan agar orang kembali selagi pintu tobat terbuka. Yang menentukan adalah tobat, perbaikan, keteguhan, dan keikhlasan.

V. Makrifat: Kewajiban yang Pertama

Dari bahaya iman yang rusak, kajian beralih ke hulu persoalan: apa kewajiban pertama seorang mukallaf?[2] Jawaban yang dibacakan dari kitab dan dari kalam ulama itu tegas: makrifat kepada Allah. Mengenal Allah sebagai Tuhan Yang Esa, yang mengadakan alam, lalu meneguhkannya dalam hati dengan keyakinan yang kuat.

Kitab menyebutnya wilayah kebatinan, yaitu urusan hati yang tak cukup diwakili lisan. Dasarnya adalah perintah Allah dalam Al-Qur’an:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah. (QS. Muhammad [47]: 19)

Perintah itu dimulai dengan kata “ketahuilah”, bukan “ucapkanlah”. Di situlah titik tekan makrifat: mengetahui dengan sebenar-benarnya, lalu mengakuinya dengan hati yang mantap. Dan jalan untuk mengetahui itu, uraian Kyai Imbuh menunjukkan, terbentang di hadapan semua orang: alam semesta.

Alam adalah dalil, petunjuk; Allah adalah madlul, yang ditunjuk. Pandanglah tujuh lapis langit dan segala keajaiban ciptaan yang tak bercela; setiap makhluk, dari yang paling besar hingga yang paling kecil, menjadi tanda kuasa Allah. Bagi yang memandang dengan hati, langit bukan sekadar atap, melainkan lembaran ayat yang terbuka tanpa tutup.

INTISARI

Mengenal Allah tidak menuntut perpustakaan besar. Ia menuntut kejujuran untuk memandang alam sebagai tanda, lalu mantap meyakini Sang Pencipta di baliknya.

VI. Taklid yang Selamat: Pegangan Orang Awam

Pertanyaan berikutnya hampir pasti muncul: bagaimana dengan orang awam yang tak sanggup menyusun dalil secara rumit? Di sinilah kitab membuka pembahasan taklid[3] dalam tauhid, sebuah pembahasan yang bila dibaca tanpa titik dan koma yang benar mudah disalahpahami ke dua arah: terlalu menyulitkan, atau terlalu menggampangkan.

Dalil yang dibutuhkan orang awam cukup dalil jumali,[4] yaitu pengetahuan garis besar bahwa alam yang ada ini pasti ada yang menciptakan. Dengan bekal itu, ditambah keyakinan yang jazim,[5] imannya sah. Ada tiga pegangan yang disebutkan:

  • Keyakinannya mantap, bebas dari keraguan. Orang yang tidak jazim kepada Allah, ragu atau bimbang, tidak sah imannya; dalam hal ini ulama sepakat.
  • Sumber yang adil. Keyakinan itu diambil dari alim yang adil dan terkenal kebenarannya, bukan dari kabar yang tak jelas asalnya.
  • Menimbang siapa yang diikuti. Taklid yang mengikuti siapa saja tanpa memperhatikan kelayakan orangnya tergolong “awur-awuran” dan tidak boleh dijadikan pegangan.

Para ulama berbeda pendapat tentang iman orang yang bertaklid. Sebagian tidak mengesahkannya; ulama Ahlussunnah dari kalangan Asy’ariyah mengesahkannya bila jazim; dan sebagian merinci: imannya sah, tetapi ia berdosa bila sebenarnya mampu berpikir dan berdalil namun enggan melakukannya. Rincian terakhir inilah yang diterangkan sebagai pendapat yang dipegang (mu’tamad).

Renungan: dua pelajaran bisa dipetik. Pertama, kemudahan: orang awam tak perlu merasa imannya runtuh hanya karena belum fasih berdalil. Kedua, tanggung jawab: kemudahan itu bukan izin untuk berhenti belajar, terutama bagi yang mampu.

INTISARI

Taklid yang selamat bukan taklid buta. Ia bertumpu pada keyakinan yang mantap, pada sumber yang adil, dan pada kemauan untuk terus belajar.

VII. Iblis pun Mengenal Tuhannya

Lalu, apakah iman cukup dengan mantap di hati dan hafal sifat dua puluh? Kyai Imbuh meluruskan dua kekeliruan sekaligus.

Kekeliruan pertama: menyamakan hafalan dengan syarat sah iman. Mengetahui sifat dua puluh wajib bagi setiap mukallaf dan tidak boleh ditinggalkan. Namun kitab membedakan antara yang wajib diketahui dan yang menjadi syarat sahnya iman. Orang awam yang hatinya telah mantap, meski belum memahami rincian sifat dua puluh, tetap dihitung berada dalam iman yang benar; ia tidak serta-merta keluar dari iman, hanya saja ada kekurangan yang wajib dilengkapi.

Kekeliruan kedua: mengira keyakinan saja cukup tanpa penyerahan diri. Contoh paling terang adalah Iblis. Ia mengenal Tuhannya, tetapi menolak tunduk pada perintah-Nya. Maka makrifat belum cukup; iman menuntut taslim, yakni pasrah dan tunduk kepada perintah Allah.

Kyai Imbuh juga mengingatkan agar kelonggaran ini tidak dibaca sebagai kelonggaran untuk bermaksiat. Meninggalkan kewajiban yang bukan syarat sah iman, atau melakukan maksiat besar yang tidak sampai membatalkan iman, memang tidak serta-merta menghapus iman, tetapi keduanya menjadi sebab besar menuju neraka. Titik dan koma di sini sangat halus: iman belum batal, tetapi bahayanya nyata.

INTISARI

Iman bukan sekadar tahu, melainkan tunduk. Yang tidak membatalkan iman tetap tidak boleh dianggap ringan.

VIII. Dua Wilayah, Dua Cara Berguru

Kyai Imbuh kemudian menegaskan perbedaan dua wilayah ilmu agama, yaitu ushuluddin dan furu’uddin.[6] Pesan intinya: jangan sampai keliru dalam bertaklid, sebab cara berguru di dua wilayah itu tidak sama.

  • Ushuluddin (akidah). Yang dituntut adalah keyakinan yang mantap berdasarkan dalil, setidaknya garis besarnya. Taklid diterima bagi yang tak mampu, dengan syarat tetap jazim.
  • Furu’uddin (fikih dan ibadah). Orang awam wajib bertaklid kepada ulama mujtahid yang layak. Pada zaman ini, rujukannya adalah alim yang adil, memahami syariat, dan terpercaya kelurusannya.

Dari sini lahir pesan yang paling praktis: ibadah yang dikerjakan dengan mengetahui syarat dan rukunnya, meski melalui taklid kepada ulama yang layak, adalah sah. Sebaliknya, ibadah yang dikerjakan asal-asalan tanpa ilmu tidak sah, sekalipun bentuknya kebetulan cocok dengan ketentuan yang sebenarnya. Ketidaktahuan bukan alasan untuk membiarkan ibadah berjalan tanpa ilmu.

Karena itu, jalan menuju Allah, yaitu ilmu dan amal yang lurus, harus dicari dengan sungguh-sungguh dan dijaga dari tipu daya setan. Seperti dalam membaca kitab, kesalahan terbesar bukan pada ketidaktahuan, melainkan pada keengganan bertanya.

IX. Akidah Lima Puluh dan Cara Alam Berbicara

Pada bagian yang terekam, kajian memasuki kumpulan “akidah lima puluh”: dua puluh sifat wajib bagi Allah beserta dua puluh lawannya yang mustahil, satu sifat jaiz, lalu sifat para rasul, yakni empat wajib, empat mustahil, dan satu jaiz. Daftar itu tampak seperti hafalan, tetapi cara Kyai Imbuh menyajikannya lebih menyerupai perjalanan: dari alam menuju Sang Pencipta.

Tujuh sifat yang paling akrab dengan pengalaman sehari-hari dikaitkan langsung dengan tanda-tandanya di alam:

Sifat Allah Lawan (mustahil) Tanda di alam menurut uraian
Qudrah (kuasa) ‘Ajz (lemah) Adanya setiap makhluk, besar maupun kecil
Iradah (berkehendak) Karahah (tak berkehendak) Beragamnya ukuran, warna, dan rupa—besar kecil, merah hitam
‘Ilmu (mengetahui) Jahl (bodoh) Ciptaan yang teratur, tepat, dan tanpa cacat
Hayat (hidup) Mawt (mati) Adanya makhluk-makhluk yang hidup
Sama’ (mendengar) Shamam (tuli) Adanya bunyi dan suara
Bashar (melihat) ‘Umy (buta) Adanya rupa dan segala yang terlihat
Kalam (berfirman) Bukm (bisu) Adanya syariat: perintah, larangan, dan hukum yang diturunkan

Kyai juga menunjukkan bagaimana sifat-sifat itu “bersinggungan” dengan objeknya (ta’alluq). Qudrah dan iradah hanya berkaitan dengan hal yang mungkin ada atau tiada (mumkin); keduanya tidak berkaitan dengan yang wajib maupun yang mustahil. Ilmu meliputi yang wajib, yang mungkin, dan yang mustahil. Sedangkan hayat, yakni hidup, berdiri sendiri tanpa ta’alluq. Ketelitian semacam ini, seperti titik dan koma, menjaga kita dari bahasa yang sembrono tentang Allah.

Akal pun diajak bekerja. Mengapa mustahil Allah itu bermula? Sebab bila Allah bermula (baru), Ia membutuhkan pencipta, yang membutuhkan pencipta lagi, dan seterusnya tanpa ujung, sesuatu yang tak mungkin diterima akal. Mengapa mustahil Allah itu berbilang? Sebab bila ada dua Tuhan, tatanan alam akan kacau dan rusak; kenyataannya alam tertib, maka Tuhan itu Esa.

Ujung pembahasan ini kembali ke awal: alam sebagai dalil, Allah sebagai yang ditunjuk. Dan itulah, sebagaimana menutup bagian yang terekam, jalan keyakinan orang awam: memandang alam, lalu condong dan menghadap kepada Allah yang menciptakan segala sesuatu.

X. Pulang dengan Titik dan Koma

Kajian ini bermula dari urusan tanda baca dan berakhir pada urusan hidup. Sebab beragama pun, pada akhirnya, adalah seni menaruh jeda di tempat yang tepat. Berikut bekal yang bisa dibawa pulang:

  1. Periksa syahadat. Pastikan ia bukan sekadar lafaz, melainkan keyakinan yang jujur dan tunduk.
  2. Jaga hati. Waspadai benci kepada syariat dan hasud kepada alim yang adil; rapatkan diri kepada alim yang adil.
  3. Hati-hati menghukumi. Titik untuk orang lain hanya boleh ditaruh dengan bukti yang nyata dan saksi yang adil.
  4. Ingat pintu tobat. Bertobat, memperbaiki amal, berpegang teguh pada Allah, dan mengikhlaskan agama.
  5. Kenali Allah lewat alam. Jadikan setiap ciptaan sebagai pengingat, lalu mantapkan hati.
  6. Teruslah belajar. Taklid adalah kemudahan, bukan alasan untuk berhenti; ibadah hendaknya dikerjakan dengan ilmu.

Bagi keluarga besar Rifa’iyah, kajian tarajumah seperti ini adalah warisan yang hidup: ilmu-ilmu pokok agama dituturkan dalam bahasa yang akrab di telinga, agar iman tidak menjadi milik segelintir orang yang mampu membaca kitab berbahasa Arab. Melalui kajian ketiga ini, FUKKAR sedang merawat sambungan itu, dari guru ke murid, dari kitab ke hati.

Dan seperti dalam membaca kitab, yang menentukan bukanlah kecepatan, melainkan ketepatan menaruh jeda. Wallahu a’lam bishawab.

Catatan Penyusun

  • Reportase ini disusun dari transkrip otomatis rekaman kajian berbahasa Jawa.
  • Transkrip otomatis memuat banyak salah dengar, sehingga sejumlah istilah dan kalimat dirangkum menurut maksud yang paling jelas. Klasifikasi iman pada bab I (khususnya iman ma’shum) ditangkap dari bagian awal pembacaan yang paling kabur; mohon dicek kembali pada kitab dan kepada Kyai.
  • Ayat-ayat Al-Qur’an dikenali dari potongan lafaz Arab dalam transkrip dan dicocokkan dengan mushaf; rujukan nomor ayat sebaiknya diperiksa ulang sebelum diterbitkan.
  • Bagian bertanda Renungan dan Catatan sejarah, serta kotak Intisari, adalah rangkuman dan refleksi penyusun, bukan ucapan langsung Kyai Imbuh Jumali.
  • Bagian rekaman yang tersedia berakhir pada pembahasan sifat-sifat Allah dan dalil alam; pembahasan sesudahnya tidak tercakup.

[1]Mubdal minhu: kata atau frasa yang diganti/dijelaskan; badal: kata atau frasa pengganti yang menyebutkan maksud sebenarnya. Keduanya dibaca sebagai satu kesatuan makna.

[2]Mukallaf: orang yang telah dibebani kewajiban syariat, yakni Islam, baligh dan berakal.

[3]Taklid: menerima suatu keyakinan atau hukum dari orang lain tanpa mengetahui dalil-dalilnya.

[4]Dalil jumali: argumen garis besar, misalnya “alam ini ada, maka pasti ada yang menciptakannya”; berbeda dengan dalil tafshili yang rinci dan terurai.

[5]Jazim: keyakinan yang mantap dan tegas, tanpa keraguan sedikit pun.

[6]Ushuluddin: pokok-pokok agama, yakni akidah. Furu’uddin: cabang-cabangnya, yakni hukum fikih seperti ibadah dan muamalah.


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Forum Komunikasi Keluarga Rifa’iyahFUKKARKajian Kitab TarajumahKitab TarajumahRiayatal HimmahTarajumah
Previous Post

PP AMRI Dampingi Digitalisasi 60 Manuskrip Tarajumah di Demak

Next Post

KH Abdul Malik: Ulama Teguh Penyebar Ajaran Tarajumah dari Kendal ke Semarang

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Next Post
Tokoh Rifa'iyah

KH Abdul Malik: Ulama Teguh Penyebar Ajaran Tarajumah dari Kendal ke Semarang

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Organisasi Rifa’iyah dan Ummahatur Rifa’iyah (UMRI)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.