DEMAK, Rifaiyah.or.id — Pimpinan Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah (PP AMRI) mendampingi proses preservasi dan digitalisasi manuskrip kitab Tarajumah dan kitab salaf di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada Selasa (6/10/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga Kamis (8/10/2026) ini menjadi langkah penting untuk menjaga warisan keilmuan KH. Ahmad Rifa’i dan murid-muridnya agar tetap lestari dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang.
Program ini diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Demak. Pelaksanaannya berpusat di Kantor Pengurus Daerah (PD) Rifa’iyah Kabupaten Demak, Jalan KH. Ahmad Rifai No. 45, Desa Surodadi, Kecamatan Gajah.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari workshop preservasi dan digitalisasi manuskrip yang diselenggarakan di Gedung PP Rifa’iyah Batang pada bulan sebelumnya. Sebagai tindak lanjut, PP AMRI membentuk tim inventarisasi dan digitalisasi manuskrip untuk mendukung upaya pelestarian naskah-naskah peninggalan ulama Rifa’iyah.
Baca Juga: Pelestarian Naskah Kuno PD Rifa’iyah Demak Berlanjut ke Digitalisasi
60 Manuskrip Berusia hingga 196 Tahun Dilestarikan
Dalam kegiatan di Demak, tim berhasil menghimpun 60 kitab kuno yang terdiri atas dua kitab salaf kuno dan 58 kitab Tarajumah. Berdasarkan identifikasi fisik, manuskrip-manuskrip tersebut diperkirakan berusia antara 70 hingga 196 tahun.
Naskah-naskah tersebut semula merupakan koleksi pribadi warga Rifa’iyah dan Nahdlatul Ulama (NU) di Desa Surodadi. Untuk mengumpulkannya, tim preservasi melakukan pendekatan langsung dengan mendatangi rumah-rumah warga yang diperkirakan menyimpan kitab peninggalan leluhur.
Upaya tersebut mendapat respons beragam. Sejumlah warga NU yang memiliki garis keturunan santri Tarajumah menyerahkan naskah peninggalan keluarga mereka secara sukarela. Sebagian warga lainnya bersedia menyerahkan kitab kuno dengan mekanisme penukaran berupa kitab keagamaan cetakan baru.
Salah satu temuan penting dalam kegiatan ini adalah dua kitab berbahan kertas daluwang berusia sekitar 196 tahun yang merupakan peninggalan KH. Hasan Musaned. Selain itu, tim juga menemukan sebuah batok MUD yang secara historis digunakan sebagai alat takaran zakat atau fidyah.
Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya pendataan dan pelestarian benda-benda peninggalan keagamaan yang masih tersimpan di tengah masyarakat. Selain menjaga keutuhan fisik naskah, proses digitalisasi diharapkan dapat mengamankan kandungan teks agar tetap dapat diakses untuk kepentingan pendidikan dan kajian keilmuan.
Setelah melalui proses restorasi, seluruh naskah yang berhasil dihimpun telah dihibahkan secara resmi kepada Perpustakaan Masjid Baitul Mu’min Surodadi untuk penyimpanan jangka panjang.
PP AMRI Bentuk Tim Inventarisasi dan Digitalisasi Manuskrip
Sebagai bagian dari penguatan program pelestarian manuskrip, PP AMRI membentuk tim inventarisasi dan digitalisasi yang melibatkan sejumlah pengurus dan anggota dari berbagai daerah.
Susunan tim tersebut adalah sebagai berikut:
- Ketua: Sakho Al-Fairuz, Lc.
- Sekretaris: Ali Rahmadin, S.Pd.
- Bendahara: Fifin Fathuri.
- Anggota: Janki Dausat (Pekalongan), Ahfa (Kabupaten Semarang), H. Nasrudin (Kendal), Samsul Rozikin (Wonosobo), dan Badrudin (Pati).
Pembentukan tim ini menjadi bagian dari upaya PP AMRI untuk memperluas jangkauan inventarisasi, preservasi, dan digitalisasi manuskrip peninggalan KH. Ahmad Rifa’i serta murid-muridnya yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara.
Ketua Umum PP AMRI menegaskan bahwa pihaknya akan memperkuat kerja sama dengan perpustakaan daerah di berbagai kabupaten untuk mendukung pelestarian manuskrip tersebut.
“Kami akan menjalin kerja sama dengan semua perpustakaan daerah di setiap kabupaten dalam rangka preservasi dan digitalisasi manuskrip KH. Ahmad Rifa’i dan murid-muridnya yang tersebar di seluruh Nusantara,” tegasnya di hadapan petugas Perpustakaan Jawa Tengah dan Perpustakaan Demak.
Ia juga menyampaikan bahwa setelah memperoleh sertifikat IKON dari Perpustakaan Nasional, PP AMRI akan semakin giat membangun kerja sama dengan perpustakaan daerah di seluruh Indonesia.
“Ini merupakan berkah tersendiri. Dulu kitab-kitab ini dibenci dan dicurigai, sekarang DICARI…!” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan perhatian terhadap manuskrip Tarajumah dan peninggalan keilmuan KH. Ahmad Rifa’i yang kini semakin mendapat ruang dalam upaya dokumentasi dan pelestarian sejarah.
Dalam kegiatan tersebut, hadir pula Budi Cahyono, perwakilan Perpustakaan Daerah Jawa Tengah yang pada bulan sebelumnya menjadi narasumber workshop preservasi dan digitalisasi manuskrip di Gedung PP Rifa’iyah Batang.
Empat Misi Pelestarian Manuskrip Tarajumah
Program preservasi dan digitalisasi manuskrip di Demak memiliki empat misi utama. Pertama, menyelamatkan kondisi fisik kitab dari kerusakan dan kehilangan. Kedua, mengamankan kandungan teks melalui digitalisasi. Ketiga, merawat dan menyimpan naskah asli agar dapat bertahan untuk generasi mendatang. Keempat, menumbuhkan kembali semangat masyarakat untuk mempelajari Kitab Tarajumah.

Pelaksanaan program ini turut disaksikan oleh sejumlah tokoh dan unsur masyarakat, antara lain Ketua PD Rifa’iyah Kabupaten Demak, Ketua PP AMRI, Ketua PD AMRI Kabupaten Demak, Kepala Desa Surodadi beserta perangkat desa, serta para sesepuh Rifa’iyah Kabupaten Demak.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menyelamatkan manuskrip yang selama ini tersimpan sebagai koleksi pribadi warga. Pelestarian naskah tidak hanya berkaitan dengan perawatan benda bersejarah, tetapi juga dengan keberlanjutan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
Meski demikian, upaya penyelamatan manuskrip masih menghadapi sejumlah tantangan. Tim menemukan kitab-kitab yang mengalami kerusakan parah, hilang, bahkan sengaja dibakar karena minimnya kesadaran terhadap nilai sejarahnya. Selain itu, beberapa pemilik masih enggan menyerahkan kitab kuno karena menganggapnya sebagai milik pribadi.
Melalui pendampingan PP AMRI dan kerja sama dengan instansi kearsipan serta perpustakaan daerah, upaya preservasi dan digitalisasi diharapkan dapat menjangkau lebih banyak manuskrip peninggalan KH. Ahmad Rifa’i dan murid-muridnya di berbagai daerah.
Program ini sekaligus menjadi langkah untuk menjaga warisan intelektual Rifa’iyah agar tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap dapat diteliti, dikaji, dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
Penulis: Yusril Mahendra
Editor: Yusril Mahendra





