Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Reportase Inspiratif: Sembilan Ribu Hati, Satu Nama

Catatan dari Haul ke-38 Simbah KH. Abdul Malik dan Pelajaran tentang Akar yang Tak Boleh Putus

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
October 15, 2026
in Kolom
0
Reportase Inspiratif: Sembilan Ribu Hati, Satu Nama
0
SHARES
25
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ada pagi yang datang bukan untuk menyambut matahari, melainkan untuk menyambut sebuah nama. Pada Kamis, 8 Oktober 2026, nama itu adalah Simbah KH. Abdul Malik, ulama yang telah berpulang sejak 1988, namun tiga puluh delapan tahun kemudian masih sanggup menggerakkan ribuan langkah menuju Ngawinan, Jetis, Bandungan, Kabupaten Semarang.

Jadwal semula menyebut acara dimulai sebelum pukul sepuluh. Tetapi sebelum waktu itu tiba, kursi-kursi sudah penuh dan harus ditambah. Jemaah putri mengeluh tak lagi kebagian tempat duduk, sehingga panitia bergegas mencari terpal agar hadirin dapat duduk lesehan. Ketika perkiraan dihitung, angkanya melampaui seluruh prediksi: sekitar sembilan ribu orang hadir pada haul tahun ini, datang dari kampung-kampung sekitar hingga dari luar Kabupaten Semarang.

Barangkali begitulah cara orang-orang saleh menepati janji. Mereka tidak menagih apa pun kepada dunia, tetapi dunia sendiri yang datang menunaikan kenangannya.

Kegiatan Pengajian Akbar dalam rangka Haul ke-38 Simbah KH. Abdul Malik
Hari/Tanggal Kamis, 8 Oktober 2026
Tempat Ngawinan, Jetis, Bandungan, Kabupaten Semarang
Mauidhah Hasanah Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, Lc., M.A. (Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Al-Mahrusiyah, Lirboyo, Kediri)
Jemaah Sekitar 9.000 orang, dari berbagai kabupaten dan kota
Rangkaian acara Pembukaan dan Al-Fatihah › tilawah › tahlil dan doa › sambutan panitia › sambutan sesepuh › istirahat dan selawat › tilawah › mauidhah hasanah dan doa penutup

Pagi yang Melampaui Hitungan

Di balik lautan manusia itu ada hitungan yang tidak sederhana. Panitia menyiapkan konsumsi berdasarkan komitmen warga yang mendaftar lebih awal. Lalu datang titipan 200 dus dari jemaah baru, sehingga seluruhnya menjadi 8.200 dus. Para donatur mengambil bagian sesuai kemampuan, ada yang menyumbang 40 dus, 30 dus, dan 20 dus, sementara rencana anggaran biaya kegiatan mencapai Rp86 juta. Dengan nada bercanda, Bapak Hadar selaku perwakilan panitia meminta warga kampung tuan rumah agar tidak lebih dulu meminta dus: tamu didahulukan, itu pakem-nya.

Namun yang paling menyentuh bukanlah angka, melainkan keramahan yang tak tercantum dalam RAB. Hingga pukul dua belas malam sebelum acara, panitia berkeliling memastikan lokasi siap, sementara warga masih menata rumah-rumah mereka untuk menjamu tamu. Bagi yang datang terlambat dan kehabisan tempat, panitia berpesan: masuklah ke rumah-rumah penduduk, sebab di sana tersedia tempat istirahat dan hidangan. Menjamu tamu, bagi warga Ngawinan, rupanya adalah sedekah yang paling tak banyak bicara. Dengan kelakar halus, panitia menambahkan bahwa tuan rumah yang hidangannya tak disentuh barangkali akan ngersulo.

Kepada penceramah, panitia menitipkan satu permohonan: berkenan mengaji sedetail mungkin dan memaksimalkan waktu. Jemaah datang dari jauh, dan ngaji yang setengah-setengah, kata mereka, terasa kurang memuaskan.

Gerbang Doa: Dari Fatihah ke Fatihah

Acara dibuka dengan Ummul Kitab, lalu tilawah Al-Qur’an oleh Al-Ustaz Ain Ali Maftuh. Ayat-ayat yang dilantunkan mengingatkan hadirin pada hari ketika setiap orang melihat apa yang telah dikerjakan tangannya, ayat-ayat dari penghujung Surah An-Naba’ hingga Surah An-Nazi’at tentang orang yang takut berdiri di hadapan Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu. Di pagi yang penuh kenangan atas seorang yang telah berpulang, pilihan ayat itu terasa seperti bisikan lembut bahwa kita semua sedang berjalan ke arah yang sama.

Tahlil dan doa dipimpin Al-Ustaz Ihsan Isroil. Al-Fatihah dikirimkan berurutan: kepada Rasulullah ﷺ beserta keluarga dan sahabat, kepada para nabi dan wali, kepada Syekh Abdul Qadir al-Jilani, kepada KH. Ahmad Rifa’i beserta para murid dan silsilah ke-Rifa’iyah-an di seluruh Indonesia, kepada Simbah KH. Abdul Malik beserta keluarga, lalu kepada seluruh kaum mukminin dan mukminat yang telah mendahului. Di tengah ribuan suara itu tersambunglah rantai guru dan murid yang di pesantren disebut sanad, bukan hanya sanad ilmu, tetapi juga sanad cinta.

Suara Sesepuh: Karamah, Air, dan Sujud Memohon Hujan

Sambutan sesepuh disampaikan oleh KH. Anas Anwar dengan bahasa Jawa yang hangat dan ringkas. Beliau mengaku hanya diberi waktu delapan menit, maka tak ada kalimat yang mubazir. Simbah KH. Abdul Malik wafat pada 1988, dan kini genap tiga puluh delapan tahun. Beliau dikenang sebagai sosok yang banyak karamah dan ma’unah, hal-hal yang, tutur sang sesepuh, tak terjangkau akal manusia biasa. Satu per satu beliau menyebut daerah asal jemaah: Grobogan, Demak, Pati, Magelang, Yogyakarta, Temanggung, Wonosobo, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Brebes, bahkan Jakarta. Beliau juga mengenang bahwa di masa pandemi Covid-19, haul tetap dijalankan dengan menaati aturan pemerintah, tanpa salaman dan tanpa berdempetan.

Lalu sang sesepuh menyampaikan pesan yang sangat membumi. Kemarau telah berlangsung sekitar empat bulan dan air berkurang. Warga yang biasanya memiliki air berlimpah diminta memakainya seperlunya, terutama agar para tamu dapat berwudu dengan sempurna. Dan bila hujan belum juga turun, beliau mengajak hadirin tak meninggalkan salat, menghadap kiblat, dan memohon kepada Allah dengan kerendahan hati. Di tengah acara yang sebesar itu, seorang sesepuh tidak lupa pada hal-hal kecil: seteguk air untuk wudu.

Selawat yang Menggerakkan Tangan Dermawan

Pada sesi istirahat, Gus Basit tampil mewakili panitia pembangunan kantor pimpinan pusat Rifa’iyah. Dari pusat telah disiapkan 20 toples donasi, sebab pengunjung diperkirakan membludak. Beliau bercerita bahwa dalam rapat terdahulu ada rencana mewujudkan lift, tetapi dana yang terkumpul kemudian dialihkan untuk mushala di belakang kantor. Siapa pun yang melintas di sana, katanya, dipersilakan mampir dan melihat betapa indahnya gedung yang lama dicita-citakan itu. Hajat besar warga Rifa’iyah belum selesai, dan beliau memohon doa serta dukungan hadirin.

Selawat pun dilantunkan, shalatullah salamullah ‘ala Thaha Rasulillah, bergelombang dari ribuan mulut. Di sela-selanya terselip syair berbahasa Jawa yang mengajak jemaah mengaji kepada para kiai dan mengkaji kitab ilmu agama karya KH. Ahmad Rifa’i, bersyukur karena ditakdirkan menjadi warga Rifa’iyah, serta istiqamah mengaji dan rajin bersedekah demi berdirinya gedung pusat. Seloroh khas pun terdengar dari panggung: selawat boleh berhenti, tetapi toples jangan berhenti. Dan ucapan terima kasih kepada Pak Camat pun menggema dari atas panggung.

Baca Juga: Feature Inspiratif: Kunci yang Tak Boleh Berubah

Mauidhah Hasanah: Ketika Makam Menjadi Mimbar

Ketika Dr. KH. Reza Ahmad Zahid naik ke mimbar, waktu sudah mendekati zuhur. Panitia berpesan agar beliau berhenti saat azan berkumandang. Dengan senyum, beliau menyapa para kiai, habaib, dan nyai, para sesepuh, Bapak Camat Bandungan, Kapolsek, Danramil, Babinsa, para lurah, serta keluarga besar (bani) Mbah Kiai Ahmad Rifa’i dan Mbah Kiai Abdul Malik. Lalu beliau bertanya kepada ribuan jemaah: lanjut atau tidak? Jawaban serempak terdengar: lanjut.

Beliau membuka dengan sebuah pengakuan jenaka sekaligus dalam. Acara ini digelar di tengah area makam, maka mauidhah yang sesungguhnya bukanlah ceramahnya, melainkan kematian yang terbaring di sekeliling kita. Omongannya, kata beliau, hanyalah prolog menuju ke sana. Dari prolog itulah mengalir enam pelajaran.

Pelajaran Pertama: Yang Wafat Tidak Benar-Benar Selesai

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah engkau mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki.” (QS. Āli ‘Imrān: 169)

Banyak ahli tafsir memaknai “orang yang gugur di jalan Allah” sebagai mereka yang terbunuh ketika berperang menegakkan agama Allah. Namun, tutur beliau, sebagian ulama memperluas maknanya. Sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Syarhus Shudur, para ulama dan wali yang wafat pun menyandang predikat “mati di jalan Allah”. Mereka nyaman di alam kuburnya, dan tetap mendapat rezeki dari Tuhannya. “Jangan kira ini omongan saya,” kata beliau, “ini firman Gusti Allah.”

Dari sini beliau menyelipkan kisah nasab keilmuan yang menggelitik. Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari dijuluki بَيْنَ الْحَجَرَيْنِ (yang diapit dua batu), karena gurunya bernama Ibnu Hajar al-’Asqalani dan muridnya bernama Ibnu Hajar al-Haitami, sedangkan hajar berarti batu. Beliau juga dijuluki بَيْنَ الْجَلَالَيْنِ karena gurunya Jalaluddin al-Mahalli dan muridnya Jalaluddin as-Suyuthi, dua penyusun Tafsir Jalalain, serta بَيْنَ الْكَمَالَيْنِ karena gurunya Kamal Ibnu al-Humam dan muridnya Kamal Ibnu Syarif.

Hikmahnya, kata beliau sambil berseloroh, ada pada kedua sisi. Guru yang alim akan menekan muridnya agar menyamai dirinya: “Aku umur lima belas sudah hafal Alfiyah, kamu kok belum?” Murid yang cerdas akan terus bertanya dan menguji gurunya: “Kenapa begini? Kenapa harus begitu?” Capek memang, tetapi dari tempaan dua arah itulah lahir seorang Syaikhul Islam. Maka carilah guru yang cerdas, dan bila kelak menjadi guru, bersyukurlah memiliki murid yang cerdas.

Pelajaran Kedua: Mati Meninggalkan Nama

مَوْتُ الصَّالِحِ رَاحَةٌ لَهُ، وَمَوْتُ الطَّالِحِ رَاحَةٌ لِلنَّاسِ

“Wafatnya orang saleh adalah istirahat baginya, dan wafatnya orang yang buruk adalah kelegaan bagi sesama.” (Pepatah Arab, sebagaimana disampaikan penceramah)

Orang saleh yang kembali kepada Tuhannya tak lagi dikejar-kejar undangan pengajian dan panitia, canda beliau. Ia istirahat. Sebaliknya, orang yang selama hidup membuat gregetan tetangganya, ketika wafat tetangga mengucap innalillahi, lalu diam-diam mengucap syukur. Dari sini beliau mengingatkan kita pada pepatah: gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.

Beliau lalu menggambarkan dua adegan yang membuat hadirin tertawa sekaligus tertegun. Seorang anak ditanya, “Kamu anaknya siapa?” Jawabnya, “Anak Pak Fulan.” Bila Pak Fulan dikenang karena kebaikannya, “Wah, bapakmu itu orang baik. Ayo, kita doakan bapakmu,” maka anak itu pulang membawa doa. Tetapi bila yang diingat adalah utang-utangnya, “Ooh, kamu anaknya? Bapakmu masih punya utang banyak,” maka anak itu justru ditagih. Beliau pun mengingatkan bahwa malaikat Izrail sebenarnya punya pasukan pengingat sebelum mencabut nyawa: asam urat, kolesterol, darah tinggi, stroke. Semua itu alarm. Tugas kita yang masih hidup adalah menabung kebaikan untuk rumah masa depan.

Dan beliau mengajak jemaah merenung: siapakah sebenarnya yang mengundang kita hari ini? Bukan panitia, bukan sound system, melainkan Mbah Kiai Abdul Malik sendiri. Kita datang karena teringat kebaikannya.

Pelajaran Ketiga: Cinta yang Turun dari Langit

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (di hati manusia) kepada mereka.” (QS. Maryam: 96)

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

“Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Jibril pun mencintainya, lalu menyeru penghuni langit, ‘Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka penghuni langit mencintainya, kemudian diletakkanlah penerimaan baginya di bumi.” (Hadis riwayat Abu Hurairah — al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadis ini, tutur beliau, para ulama merumuskan sebuah kaidah: مَحَبَّةُ النَّاسِ لِلْعَبْدِ عَلَامَةٌ عَلَى أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ, cinta masyarakat kepada seseorang adalah pertanda bahwa Allah mencintainya. Tentu dengan satu syarat penting: cinta itu tumbuh karena kebaikan dan karena syariatnya, bukan karena ia pandai menyenangkan orang dengan hal-hal yang melanggar syariat.

Karena itu beliau berpesan agar kebaikan jangan tebang pilih. Manusia terdiri dari dua kemungkinan, baik dan buruk; mungkin hari ini seseorang belum menyukai kita, tetapi suatu saat hatinya terbuka. Bila ada orang yang gelagapan di tengah samudra, apakah kita akan menolongnya dulu atau bertanya partai dan ormasnya? Kebaikan adalah bahasa universal yang dapat didengar oleh yang tuli dan dilihat oleh yang buta. Sebagaimana kata hikmah, الْإِحْسَانُ يَسْتَعْبِدُ الْإِنْسَانَ, kebaikan mengikat hati manusia. Dan kebaikanlah, kata beliau, yang hari ini mengumpulkan sembilan ribu orang di Ngawinan.

Pelajaran Keempat: Meneruskan Perjuangan Adalah Berbakti

Hikmah haul, lanjut beliau, adalah kesempatan untuk meneladani dan meneruskan perjuangan Mbah Kiai Abdul Malik, baik bagi keturunan langsung, murid-muridnya, maupun para pencinta. Beliau menegaskan bahwa orang tua kita ada tiga: orang tua biologis yang melahirkan, mertua yang hadir melalui akad pernikahan, dan guru yang mengajari kita ilmu. Maka meneruskan perjuangan para guru sama dengan birrul walidain, berbakti kepada orang tua. Beliau mengutip hadis tentang bakti kepada orang tua setelah wafatnya, yang di dalamnya terdapat sabda:

وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا

“… dan melaksanakan janji (wasiat) keduanya sepeninggal mereka.” (Hadis dari Abu Usaid as-Sa’idi — Abu Dawud dan Ibnu Majah, bagian yang dikutip penceramah)

Tetapi meneruskan perjuangan tak bisa dilakukan dengan asal-asalan. Tentara punya pendidikan dan latihan, polisi punya sekolah dan briefing, Banser punya diklat, bahkan lurah pun punya pembekalan. Demikian pula kita yang hendak meneruskan jejak para leluhur: perlu pondasi, perlu tahu apa yang diperjuangkan. Haul adalah salah satu media briefing itu, agar langkah kita tak keluar dari prinsip yang telah digariskan Mbah Kiai Abdul Malik.

Pelajaran Kelima: Kisah, Pasukan Allah yang Tak Terlihat

الْحِكَايَاتُ عَنِ الْعُلَمَاءِ وَمُجَالَسَتُهُمْ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْفِقْهِ؛ لِأَنَّهَا آدَابُ الْقَوْمِ

“Kisah-kisah tentang para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada banyak (perdebatan) fikih, sebab di dalamnya terdapat adab dan akhlak orang-orang terdahulu.” (Imam Abu Hanifah, sebagaimana dikutip penceramah, redaksi masyhur)

إِذَا تَعَذَّرَتْ رُؤْيَتُهُمْ وَمُصَاحَبَتُهُمْ فَلَا أَنْفَعَ لِلْقُلُوبِ وَالنُّفُوسِ إِلَّا حِكَايَاتُهُمْ

“Bila tak lagi mungkin melihat dan bersahabat dengan mereka, maka tiada yang lebih bermanfaat bagi hati dan jiwa selain kisah-kisah mereka.” (Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, sebagaimana dikutip penceramah)

Banyak di antara jemaah yang tak sempat bertemu langsung dengan Mbah Kiai Abdul Malik, dan penceramah mengaku termasuk di dalamnya. Tetapi semangat beliau, kata Gus Reza, hidup di dalam hati. Itulah mengapa menceritakan kisah leluhur bukan nostalgia kosong. Sebagian ahli hikmah menyebut kisah-kisah itu sebagai salah satu pasukan Allah, sebab dengan mengingat kisah mereka hati kita tergugah, semangat berjuang dan beribadah bertambah, dan pulang dari haul semoga salat kian rajin dan mengaji kian giat. Berapa banyak orang yang bertobat hanya karena mendengar kisah Sunan Ampel, kisah Syekh Abdul Qadir al-Jilani, atau kisah Fudhail bin ‘Iyadh?

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

“Dan semua kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, agar dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS. Hud: 120)

Al-Qur’an sendiri, ujar beliau, sebagian besar berisi kisah, tentang Maryam, Ali Imran, Yusuf, Ibrahim, para nabi dan umat terdahulu. Karena itu hikayah adalah metode dakwah yang sah dan kuat. Beliau pun mengaku lebih senang melihat anak-anak muda memenuhi majelis haul. Waktu perjuangan mereka lebih panjang, dan yang mereka lihat hari ini kelak menjadi pegangan. Pesannya jelas: jangan hanya diri sendiri yang diajak mengambil berkat, ajaklah anak cucu hadir ke haul, supaya mereka tahu siapa Mbah Kiai Abdul Malik.

Pelajaran Keenam: Pohon yang Tak Mau Tumbang

Pelajaran terakhir ditutup dengan sebuah gambaran. Beliau mengutip ungkapan Marcus Garvey: “A people without knowledge of their past history, origin and culture is like a tree without roots.” Sebuah generasi yang tak mengenal sejarah, asal-usul, dan budayanya ibarat pohon tanpa akar. Setinggi apa pun pohon itu, bila angin puting beliung datang, ia akan tumbang.

Generasi tanpa bekal tradisi leluhur, kata beliau, akan mudah roboh oleh hantaman radikalisme, kapitalisme, sekularisme, dan isme-isme lain yang mengepung dari segala sisi. Ketika ditawari kursi di sebuah organisasi, ia tak tahu bahwa di baliknya ada ideologi yang hendak mengubah tatanan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Padahal para guru telah mewariskan prinsip: NKRI harga mati. Maka syarat meneruskan perjuangan itu tiga: mengenal sejarah, mengenal dawuh para guru, dan memegang prinsipnya. Bila ditambah dengan budaya dan tradisi yang terjaga, semakin mantap.

Kisah yang Menenangkan, Doa yang Menutup

Menjelang akhir, suasana kembali cair. Gus Reza menceritakan sebuah kisah yang beliau riwayatkan dari kitab An-Nawadir: sekelompok perampok yang mengaku sebagai mujahid fi sabilillah dijamu oleh seorang tuan rumah. Sang tuan rumah meminta mereka untuk mendoakan agar anaknya yang lumpuh dapat berjalan. Doa dipanjatkan, dan keesokan paginya, sang anak berlari-lari di teras rumah. Lalu beliau melempar teka-teki jenaka kepada jemaah: yang sesungguhnya mustajab itu siapa, yang berdoa atau yang mengaminkan? Jawabannya dibiarkan menggantung, seolah menyampaikan bahwa pintu rahmat Allah terlalu luas untuk dipagari dugaan kita.

Beliau menambahkan kisah tentang karamah Sayyidina Umar bin Khattab. Seorang pemuda yang kedapatan membawa botol minuman keras menyembunyikannya di balik jubah. Ia bertobat dalam hati ketika didekati sang Khalifah, dan ketika ditanya apa yang ada di balik jubahnya, ia menjawab, “Cuka.” Botol itu diambil, dicium, dan dirasakan, dan memang berubah menjadi cuka. Kisah ini beliau tutup dengan satu pertanyaan yang sama, dan tawa pun pecah lagi di antara nisan-nisan.

Doa penutup dipanjatkan dengan tawasul kepada Rasulullah ﷺ, para ulama, para wali, Mbah Kiai Ahmad Rifa’i, dan Mbah Kiai Abdul Malik. Jemaah memohon ampunan, rezeki yang halal, perlindungan dari azab kubur, serta husnul khatimah bagi diri, keluarga, dan keturunan. Lantunan hasbunallah wa ni’mal wakil menggema panjang, sebelum pengumuman terakhir disampaikan: estafet haul belum selesai, sebab pada Selasa Pon, 13 Oktober 2026 (bertepatan dengan 2 Jumadil Awal), haul Syekh KH. Hasan Busro akan digelar di Sapuran, Kabupaten Wonosobo.

Catatan Penutup: Merawat Akar

Pulang dari Ngawinan, orang membawa banyak hal: sebungkus berkat, sebait selawat, sekelumit canda, dan barangkali satu kesadaran yang lebih sunyi. Bahwa yang paling lama hidup bukanlah harta, bukan jabatan, bukan pula suara paling lantang, melainkan nama yang dikenang dengan baik dan doa yang terus dikirim sepeninggal kita.

Bagi dunia pendidikan kita, madrasah dan pesantren, pesan haul ini terasa sangat dekat. Murid-murid kita membutuhkan guru yang alim sekaligus murid yang kritis; mereka membutuhkan kisah para leluhur agar tak tercerabut dari akarnya; dan mereka membutuhkan keteladanan kebaikan yang tak tebang pilih. Sebab sebuah generasi tak cukup hanya tinggi menjulang. Ia harus berakar.

Sembilan ribu hati yang berkumpul di Ngawinan hari itu berangkat dari rumah masing-masing, tetapi pulang dengan satu pertanyaan yang sama: kelak, ketika kita yang dikenang, nama apakah yang akan disebut orang?

Wallāhu a’lam bish-shawāb.


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Haul KH. Abdul MalikKH Abdul MalikKH. Ahmad RifaiKisah ulamaOrganisasi RifaiyahPengajian akbarRifaiyahsanad keilmuanUlama Rifa’iyahWarisan ulama
Previous Post

Feature Inspiratif: Kunci yang Tak Boleh Berubah

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Organisasi Rifa’iyah dan Ummahatur Rifa’iyah (UMRI)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.