Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Feature Inspiratif: Kunci yang Tak Boleh Berubah

Dzikro Haul Ke-121 Syaikh KH. Hasan Busyro Bin Syaikh KH. Abdul Hamid Karangsambo & Pengajian Selasa Pon Ke-329 Jam’iyah Rifa’iyah Kabupaten Wonosobo

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
October 14, 2026
in Kolom
0
Feature Inspiratif: Kunci yang Tak Boleh Berubah
0
SHARES
33
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Dari halaman Masjid Hasan Busyro, di hari haul ke-121 sang Syaikh, ribuan jemaah menggenggam satu pesan yang sama: dunia boleh terus berganti rupa, tetapi iman dan Islam harus tetap tinggal.

📅  Hari/Tanggal Selasa Pon, 13 Oktober 2026
⏰  Waktu 08.00 WIB – selesai
📍  Lokasi Halaman Masjid Hasan Busyro, Karangsambo
🎥  Dokumentasi Dokumentasi dan live streaming oleh ARD Multimedia Wonosobo

Semoga acara ini membawa keberkahan, menambah keimanan, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta meningkatkan kecintaan kita kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Pagi yang Dipenuhi Doa di Karangsambo

Selasa Pon, 13 Oktober 2026. Sejak pagi, halaman Masjid Hasan Busyro di Dusun Karangsambo, Wonosobo, tak lagi sekadar halaman. Ia menjelma lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru—Wonosobo sendiri, Pati, Kendal, Pekalongan, Batang, Pemalang, Jakarta dan daerah-daerah lain—duduk berdesakan di bawah tenda maupun di luarnya, menunggu satu hal yang sama: berkah sebuah majelis.

Hari itu dua tradisi bertemu dalam satu pagi. Yang pertama adalah Dzikro Haul ke-121 Syaikh KH. Hasan Busyro bin Syaikh KH. Abdul Hamid, ulama yang sejak kecil sempat berjumpa dengan Syaikh Ahmad Rifa’i dan kini dikenang sebagai salah satu sesepuh warga Rifa’iyah. Yang kedua adalah Pengajian Rutin Selasa Pon ke-329 Jam’iyah Rifa’iyah Kabupaten Wonosobo—sebuah majelis yang berputar mengikuti hitungan selapan, tiga puluh lima hari sekali, berpindah dari satu ranting ke ranting lain.

Panitia menyiapkan lebih dari sepuluh ribu kotak hidangan untuk para hadirin. Dalam salah satu sambutan, kehadiran jemaah disebut telah mencapai puluhan ribu—jauh dari masa awal ketika pengajian ini hanya dihadiri ratusan orang. Dari angka itu saja sudah terbaca sesuatu: ada api yang dijaga bertahun-tahun, dan api itu belum padam, bahkan semakin membara.

Tulisan ini berusaha merekam bukan hanya jalannya acara, melainkan denyut pesan yang mengalir dari mimbar ke hati ribuan pendengar—tentang tauhid, adab, ikhlas, istiqamah, dan kesadaran bahwa kita semua sedang berjalan menuju sebuah pertemuan.

Tertib Acara: Rangkaian yang Tertata

Pranatacara memandu jalannya majelis dengan tutur Jawa krama yang santun. Dari pembukaan hingga doa penutup, rangkaian acara berjalan sebagai berikut:

No Rangkaian Acara Petugas / Penyampai
1 Pembukaan, bertawasul dengan Al-Fatihah Pranatacara
2 Bacaan tahlil dan doa KH. Thoha Ja’far (Kabupaten Pati)
3 Bacaan asrakal Tim ustaz: Ahmad Sofahani Al-Hafidz, Kukuhurudin, Warisno
4 Sambutan panitia pelaksana dzikro haul Al-Ustaz Ahmad Saifuddin
5 Sambutan sesepuh Padukuhan Karangsambo KH. Afif Afdhol
6 Sambutan Pimpinan Daerah Rifa’iyah Kabupaten Wonosobo Bapak Nurudin
7 Sengkuyung pembangunan gedung Kantor Pimpinan Pusat Rifa’iyah Al-Ustaz Abdul Basit Aziz, Al-Hafidz
8 Pembacaan kitab karya Syaikh Ahmad Rifa’i KH. Imbuh Jumali
9 Pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an KH. Ubaidillah, S.Ag. (Kabupaten Batang)
10 Mau’idhah hasanah dan doa KH. Ahmad Said Asrori

Sebelum hadirin pulang, panitia menyerahkan cendera mata berupa kitab karangan Syaikhina Syaikh Haji Ahmad Rifa’i—sebuah isyarat sederhana namun bermakna: yang dibawa pulang dari haul bukan sekadar kenangan, melainkan bahan untuk terus belajar.

Tuan Rumah yang Rendah Hati

Sambutan pertama disampaikan wakil panitia, Al-Ustaz Ahmad Saifuddin. Tak ada pidato panjang. Yang ada adalah rangkaian ucapan terima kasih: kepada warga dan para pemuda dari dusun-dusun di sekitar Karangsambo yang bahu-membahu menyukseskan acara, kepada para donatur, dan kepada keluarga besar bani Syaikh KH. Hasan Busyro. Lalu, dengan kerendahan hati yang khas tuan rumah, ia berulang kali memohon maaf—atas kekurangan dalam menyambut tamu, menata tempat, hingga hidangan yang mungkin belum sempurna.

Ada pelajaran sunyi di sini. Di tengah ribuan orang yang datang untuk dilayani, justru panitialah yang paling banyak meminta maaf. Begitulah adab: yang melayani merasa masih kurang, yang dilayani merasa lebih dari cukup. Doa panitia pun sederhana—agar seluruh jemaah memperoleh keberkahan dalam ilmu, rezeki, dan keturunan.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 103)

Ayat inilah yang kemudian dikutip Bapak Nurudin, Pimpinan Daerah Rifa’iyah Kabupaten Wonosobo, ketika menjelaskan mengapa majelis semacam ini perlu terus dihidupkan: sering berkumpul, kata beliau, adalah sumber kekuatan organisasi sekaligus kekuatan dunia dan akhirat.

Dari Pekalongan sampai Karangsambo: Jejak yang Tak Putus

Sambutan Bapak Nurudin adalah kelas sejarah singkat yang disampaikan dengan hangat, nyaris seperti cerita keluarga—dan memang beliau menyebut dirinya bagian dari keluarga besar Mbah Busyro.

Anak kecil yang dibawa menghadap sang guru

Menurut penuturan beliau, ayah Syaikh Hasan Busyro, Mbah Haji Abdul Hamid, dikenal dengan sebutan Mbah Hadis. Julukan itu bukan tanpa sebab: ia telah alim bahkan ahli hadis ketika berguru kepada Syaikhina Haji Ahmad Rifa’i. Dan ketika sang ayah menyerahkan diri sebagai murid, Busyro masih sangat kecil—diceritakan dibawa dengan keranjang bambu kecil. Namun walau masih kanak-kanak, ia sempat bertemu dan dikenal oleh Syaikh Ahmad Rifa’i. Dari perjumpaan sekilas yang tak pernah dilupakan keturunannya itulah, kata Bapak Nurudin, mengalir penghormatan yang kini mewujud dalam haul yang diperingati lebih dari seabad.

Dari Mbah Hadis dan para sesepuh seangkatannya—Mbah Haji Abdul Aziz di Tempursari, Mbah Abdul Hadi yang berasal dari Aceh, dan banyak lainnya—dakwah Rifa’iyah menyebar di Wonosobo. Cara mereka berdakwah, tutur beliau, adalah lewat berdagang: berniaga sambil mengajar, bergaul sambil menanamkan iman.

Dua tokoh sezaman, dua jalan perjuangan

Bapak Nurudin juga mengingatkan bahwa Syaikh Ahmad Rifa’i lahir pada tahun 1786, hanya berselisih satu tahun dari Pangeran Diponegoro yang lahir 1785. Beberapa murid Rifa’i, menurut beliau, ikut dalam barisan Diponegoro—termasuk Mbah Abdul Hadi dari Aceh itu. Keduanya sama-sama menjadi perhatian pemerintah kolonial dan sama-sama merasakan pengasingan, hanya saja jalannya berbeda: Diponegoro melalui perlawanan fisik, Syaikh Ahmad Rifa’i melalui perlawanan moral lewat ilmu dan tulisan.

Setiap tanggal 16 Syawal, warga Rifa’iyah mengenang hari ketika Syaikh Ahmad Rifa’i dibawa dengan perahu dari Pelabuhan Pekalongan menuju pengasingan. Haul dan peringatan seperti ini, kata beliau, penting agar anak cucu mengenal biografi para pendahulunya—mengapa Mbah Busyro dijuluki Mbah Agung, dan mengapa jasanya layak terus diingat.

Pengajian yang tak pernah sepi peminat

Bagian yang paling mengundang senyum adalah cerita tentang giliran tuan rumah. Dulu, kenang beliau yang telah lama menjadi panitia, jemaah selapanan hanya ratusan orang. Kini puluhan ribu. Dan kini ranting-ranting justru berebut ingin menjadi tuan rumah—sampai antrean pendaftarnya mengular dan jadwal harus digilir. Bahkan beliau sendiri, sebagai yang lebih tua, memilih mengalah demi kerukunan. Penyakit terbesar sebuah majelis, kata beliau, adalah rasa bosan. Alhamdulillah, majelis ini justru kebanjiran peminat.

“Kalau sering berkumpul, insyaallah menjadi kekuatan: kekuatan organisasi, kekuatan dunia dan akhirat.”  — Bapak Nurudin, Pimpinan Daerah Rifa’iyah Wonosobo

Baca Juga: Reportase Inspiratif: Seikat Lidi di Malam Selasa Pon

Mengingat Allah agar Diingat Allah

KH. Afif Afdhol, sesepuh dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Busro, membuka sambutannya dengan syukur. Beliau mengingatkan bahwa hari itu pengajian Selasa Pon kebetulan bertemu dengan hari haul; namun, haul tetap menjadi pokoknya—mengenang yang dihauli sekaligus menyambung estafet perjuangannya. Sempat pula beliau menyelipkan penghargaan untuk kaum ibu: program-program yang paling sukses, kata beliau sambil berseloroh, biasanya berjalan lewat tangan para ibu.

Empat jenis manusia di hadapan kebahagiaan

Kiai Afif menuturkan apa yang pernah beliau baca dalam tafsir Ibnu Katsir tentang empat golongan manusia: pertama, yang bahagia di dunia dan bahagia di akhirat; kedua, yang bahagia di akhirat meski hidup di dunia penuh kesusahan; ketiga, yang tampak senang di dunia tetapi celaka di akhirat; dan keempat, yang celaka di dunia sekaligus di akhirat. Doa sapu jagat Rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah wa fil-ākhirati ḥasanah sesungguhnya adalah permohonan agar kita digolongkan pada yang pertama.

Lalu bagaimana agar kita terpilih? Jawaban beliau ringkas: eling—ingat Allah.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 152)

Dzikir, kata beliau, bukan hanya lafal sesudah salat. Ia adalah kesadaran yang menyertai setiap keadaan: ketika tertimpa musibah mengucap innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn; ketika menerima nikmat mengucap alhamdulillāh; ketika memulai pekerjaan mengucap bismillāh; ketika takjub mengucap subḥānallāh. Dan ketika pandangan atau hati tergelincir kepada hal yang tak patut, jangan berhenti pada tergelincirnya—segera iringi dengan istighfar.

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya.” (HR. At-Tirmidzi)

“Di mana pun engkau berada” itulah yang digarisbawahi Kiai Afif. Di jemaah itu ada buruh, petani, pedagang, pegawai kantor, kiai, dan ustaz; masing-masing harus memegang takwa di tempatnya sendiri. Godaan tiap profesi berbeda—harta, tahta, wanita, kata beliau—tetapi obatnya sama: eling, lalu tamhuha, hapuslah keburukan dengan kebaikan.

Ketika keburukan dihapus oleh kebaikan—bahkan dalam sejarah

Hadis tentang menghapus keburukan dengan kebaikan itu kemudian beliau tautkan dengan sebuah kisah sejarah yang jarang didengar. Beliau bercerita tentang penelitian Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo tentang perkembangan Islam abad ke-19 di pantai utara Jawa. Dalam penelusurannya di arsip Leiden, Belanda, ditemukan sebuah serat—yang beliau sebut Serat Cebolek—yang menggambarkan Mbah Rifa’i secara kurang elok dalam sebuah perdebatan dengan seorang penghulu yang berpihak pada pemerintah kolonial.

Ketika pertanyaan diajukan kepada sang sejarawan, “apakah naskah itu harus dihapus?”, jawabannya tegas: sejarah adalah dokumen, dan dokumen tidak boleh diubah. Tetapi, lanjutnya, ada jalan lain—adakan seminar, tampakkan yang baik. Maka diteliti dan dipelajarilah ushul, fikih, dan tasawuf Rifa’iyah. Hasilnya terang: ajaran ini berpijak pada ahlus sunnah wal jama‘ah. Dari sanalah, kata Kiai Afif, organisasi Rifa’iyah melangkah maju.

“Yang buruk tidak perlu dihapus; cukup ditampakkan yang baik, dan lambat laun yang baik itulah yang akan terlihat.”  — Kiai Afif Afdhol, menuturkan nasihat sang sejarawan

Tiru Nabi, tiru Mbah Rifa’i

Pesan praktisnya sederhana tetapi tidak enteng. Orang Islam diminta meniru Rasulullah SAW; dan karena warga Rifa’iyah bernaung di bawah Syaikh Ahmad Rifa’i, maka yang paling dekat adalah meniru jalan beliau—yang meninggalkan sekitar enam puluh lima kitab. Tak harus menghafal semuanya. Cukup dua hal: kerjakan perintah, tinggalkan larangan. Beliau juga mengingatkan bahwa teknologi, termasuk gawai di genggaman, adalah pisau bermata dua—bisa dipakai mengaji dan mencari rezeki, tetapi bisa pula menyeret ke maksiat dan merenggangkan rumah tangga bila tak pandai menjaga diri.

Kiai Afif menutup dengan meluruskan niat mengikuti pengajian Selasa Pon. Ada tiga niat yang beliau tawarkan: thalabul ilmi (mencari ilmu), nglebur dosa (menghapus dosa), dan tasharuf amrillah (menggunakan nikmat sehat, harta, dan waktu sesuai kehendak Allah dengan penuh syukur).

Sengkuyung untuk Rumah Besar

Pada sesi tengah, Al-Ustaz Abdul Basit Aziz, Al-Hafidz, mengajak jemaah ikut menyokong pembangunan gedung Kantor Pimpinan Pusat Rifa’iyah. Pesannya lugas: kantor itu bukan milik satu kabupaten—bukan milik Batang, Pekalongan, Pemalang, Kendal, atau sekitarnya—melainkan milik seluruh warga Rifa’iyah. Wonosobo, yang jemaah selapanannya diperkirakan sekitar sepuluh ribu orang—belum lagi ketika dibarengi haul—diharapkan menjadi penopang.

Yang membuat suasana begitu hidup adalah cara ajakan itu dijalankan. Selagi kardus-kardus infak diedarkan dari tangan ke tangan, jemaah dipandu melantunkan selawat bersama. Suara selawat yang bersahutan, para relawan yang bergerak membantu, ibu-ibu yang kompak—semuanya membuat infak terasa bukan sebagai kewajiban yang menekan, melainkan sebagai ibadah yang bergema. Pada penghujung acara, panitia mengumumkan bahwa infak hari itu terkumpul Rp16.396.000.

Adab: Cara Ilmu Menjadi Berkah

Di sesi pembacaan kitab, KH. Imbuh Jumali membuka kitab karya Syaikh Ahmad Rifa’i, Syarih al-Iman. Beliau mengakui bahwa kitab ini tak sesederhana kitab-kitab yang punya syarah berlapis—ia perlu dibaca dengan bimbingan guru. “Kalau jalan ke dunia, buka saja Google,” kurang lebih begitu candanya. “Tapi jalan ke akhirat, kita harus bertanya kepada orang yang mengenal medannya.”

Menuntut ilmu tanpa meninggalkan ibadah

اُطْلُبُوا هَذَا الْعِلْمَ طَلَبًا لَا يَضُرُّ بِالْعِبَادَةِ، وَاطْلُبُوا هَذِهِ الْعِبَادَةَ طَلَبًا لَا يَضُرُّ بِالْعِلْمِ

“Tuntutlah ilmu dengan cara yang tidak merugikan ibadah, dan tekunilah ibadah dengan cara yang tidak merugikan ilmu.” (Dinukil dari Imam Hasan Al-Bashri dalam Minhājul ‘Ābidīn)

Ilmu tanpa amal menambah beban; amal tanpa ilmu menyesatkan. Itulah mengapa, dalam penuturan beliau, orang yang berilmu pun wajib terus belajar dan tidak boleh merasa selesai. Bahkan ulama besar, jika ada hal yang belum diketahuinya, tetap wajib bertanya.

Hormat kepada guru, di waktu hidup dan setelah wafat

Inti kajian itu jatuh pada adab murid. Wajib bagi murid menghormati gurunya semampunya—ketika guru masih hidup, dan tidak berhenti ketika guru telah tiada. Dari sini, kata beliau, haul menemukan maknanya: yang hidup mendoakan dan memohonkan ampun bagi yang telah wafat, sebab hadiah terbaik orang hidup kepada orang yang telah berpulang adalah doa dan istighfar. Karena itu, beliau mengajak jemaah yang menghadiri haul untuk datang lebih awal dan tidak sekadar “mampir”.

Beliau menyebutkan sanad ilmunya sendiri sebagai contoh: guru ke guru yang bersambung hingga Mbah Rifa’i dan Mbah Busyro. Sanad yang bersambung seperti itu, tegas beliau, tak bisa diperoleh dari sekadar mencari-cari lewat ponsel. Beliau pun mencemaskan masa depan: jangan sampai kelak tak ada lagi yang membaca kitab Rifa’iyah, hingga orang tak tahu dari siapa mereka belajar.

“Ilmu yang kita peroleh di pondok, paling-paling baru memberi lima persen berkah dan manfaat. Sembilan puluh lima persen sisanya bergantung pada ridha guru.”  — KH. Imbuh Jumali

Kiai Imbuh lalu menyinggung perlakuan terhadap keturunan guru—dzurriyah. Ketika kita telah jelas berguru kepada seorang alim yang adil, anak-cucunya patut dimuliakan; sebab dari keridhaan keluarga guru pun sering mengalir keberkahan ilmu. Penghormatan itu, katanya, diukur sesuai kemampuan; bila perlu mengeluarkan biaya, tetap dikeluarkan.

Kehalusan seorang guru

Beliau juga mengajak jemaah menengok kecermatan cara Syaikh Ahmad Rifa’i mengajar. Ketika menerangkan salat berjemaah, Mbah Rifa’i tidak menggunakan kalimat perintah yang keras, tetapi memakai bentuk kabar yang lembut—seolah-olah mengatakan bahwa orang-orang sedang mengerjakannya—namun isinya tetap mendidik hingga pendengar paham bahwa itu perlu dilakukan. “Itulah cara memerintah dengan halus,” ujar beliau.

Beliau menutup dengan nasihat yang hangat bagi orang tua: bila anak-anak dipondokkan, silakan; tetapi setelah selesai, jangan lupa mengajak mereka kembali mengaji kitab-kitab Rifa’i, agar tidak kehilangan akar. Para pendahulunya sendiri, kata beliau, menempuh jalan itu: tetap teguh pada pegangan sembari menghargai ilmu dari mana pun.

Kunci yang Tak Boleh Berubah

Puncak majelis adalah mau’idhah hasanah KH. Ahmad Said Asrori, pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thullab, Magelang, sekaligus Katib ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Dengan Jawa campur Indonesia yang renyah, diselingi kelakar dan cerita, beliau mengajak ribuan jemaah menelusuri satu pertanyaan besar: apa yang sebenarnya diwariskan oleh Mbah Rifa’i dan Mbah Busyro kepada kita?

Tabarruk: mencari bertambahnya kebaikan

Beliau memulai dengan menjernihkan makna ngalap berkah. Hadirin yang datang ke haul pada dasarnya sedang bertabarruk—tetapi apa itu berkah?

اَلْبَرَكَةُ هِيَ الزِّيَادَةُ فِي الْخَيْرِ

“Berkah adalah bertambahnya kebaikan.”

Berkah, jelasnya, bukan sekadar “tambah banyak”, melainkan mundak-mundak, bertambah-tambah dalam kebaikan. Mbah Busyro dan Mbah Rifa’i, kata beliau, tak pernah berhenti berjihad di jalan Allah, meninggikan kalimat Allah, mengajar, dan membimbing masyarakat. Berkah yang kita cari hari ini adalah lanjutan dari kebaikan yang tak pernah mereka hentikan.

Syahadat: kunci segala pintu

Inti dakwah para kiai, tegas beliau, adalah kalimat tauhid. Dan di sini beliau memakai perumpamaan yang mudah diingat: kunci.

“Rumah punya kunci. Segala perkara punya kunci. Kita tak bisa masuk ruangan kalau tak punya kuncinya. Kunci kehidupan itu syahadat tauhid dan syahadat rasul.”  — KH. Ahmad Said Asrori

Kalimat itulah kalimah thayyibah, kalimat terbaik, yang naik ke hadirat Allah—tetapi, sebagaimana firman-Nya, ia tak naik sendirian; ada amal saleh yang mengangkatnya.

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Ilaihi yash‘adul kalimuth thayyibu wal ‘amalush shālihu yarfa‘uh.

“Kepada-Nyalah naik perkataan yang baik, dan amal yang saleh Dia angkat.” (QS. Fāthir [35]: 10)

Salah satu amal saleh yang mengangkat itu, kata beliau, adalah berbakti kepada orang tua. Dan orang tua ada tiga: orang tua yang melahirkan kita (nasab), orang tua yang kita peroleh lewat pernikahan (mertua, mushaharah), dan orang tua yang mengajar kita agama (ilmu)—guru-guru kita. Menghormati ketiganya adalah satu paket bakti.

Kepada mereka yang berpandangan bahwa semua agama sama saja, beliau menyampaikan sikap yang jelas: ukuran kebenaran harus dikembalikan kepada Al-Qur’an, dan inilah yang diajarkan Mbah Rifa’i dalam kitabnya Tarajumah.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 85)

Beliau menambahkan bahwa jalan-jalan tarekat—Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Tijaniyah, Satariyah, dan lain-lain—pada dasarnya bertemu di satu titik yang sama: kalimat lā ilāha illallāh. Bahkan ketika seseorang paling rusak sekalipun, pesan Rasulullah SAW sebagaimana disampaikan beliau, jangan pernah meninggalkan kalimat itu.

Membicarakan kematian karena kita semua calonnya

Dari kunci hidup, pembicaraan bergeser kepada kematian—tema yang menurut beliau penting justru karena kita semua calon almarhum. Beliau bercerita bahwa hampir setiap hari bertakziah, dan baru saja menerima kabar wafatnya seorang kiai sahabat yang hendak ditemuinya. “Orang percaya mati ataupun tidak percaya, tetap akan mati,” ujarnya. “Karena itu tak perlu takut mati. Yang perlu kita khawatirkan adalah keadaan saat mati.”

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 185)

Beliau mengajak jemaah merenungkan kata dzā’iqah—mencicipi. Orang mencicipi sedikit saja, tidak menelan banyak. Begitu pula kematian: dari dimandikan, dikafani, disalatkan, hingga dikuburkan, tak lebih dari sekitar tiga jam. Sementara hidup di dunia terasa begitu panjang. Maka, pesannya, jangan sampai “sebentar” yang menentukan segalanya itu kita sia-siakan.

Beliau lalu mengingatkan tentang talqin: kata-kata yang dibisikkan pada mayit di tepi kubur agar siap menjawab pertanyaan malaikat. Dan tentang ruh, beliau mengajak jemaah merendahkan diri di hadapan misteri—penelitian tentang nyawa telah berlangsung beratus-ratus tahun, namun tak ada yang dapat memastikan bobotnya, bentuknya, atau letaknya.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu urusan Tuhanku, dan kamu diberi ilmu hanya sedikit.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 85)

Dari yang tak kasat mata itu, beliau menarik jembatan menuju iman kepada yang gaib—ciri pertama orang bertakwa dalam awal Surah Al-Baqarah. Matanya mungkin sudah rabun dan butuh kacamata untuk membaca Al-Qur’an, kata beliau sambil berseloroh, tetapi anehnya terang kembali begitu melihat uang. Jemaah tertawa—dan juga tercenung.

Menara yang menjulang, dunia yang fana

Beliau lalu menggambarkan betapa dunia sanggup membuat manusia terpukau: pencakar langit yang saling berlomba menjulang, hotel yang tarif semalamnya mencapai ratusan juta rupiah, teknologi yang berkembang tanpa henti. Namun semua itu, katanya, tak ada artinya dibandingkan nikmat yang paling besar—nikmatul hidayah, nikmat iman dan Islam.

أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلُ ۞ وَكُلُّ نَعِيمٍ لَا مَحَالَةَ زَائِلُ

“Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah pasti binasa, dan setiap kenikmatan pasti akan lenyap.” (Syair Labid bin Rabi‘ah, yang dipuji Rasulullah SAW sebagai kalimat paling benar yang diucapkan seorang penyair.)

“Dunia boleh berkembang. Ilmu dan teknologi boleh terus maju. Yang tidak boleh berubah adalah iman dan Islam.”  — KH. Ahmad Said Asrori

Inilah judul tulisan ini sekaligus ruh tausiyah hari itu. Kunci yang digenggam hingga akhir hayat itulah yang kelak menjadi pintu husnul khatimah.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu akhir hidup yang baik.”

Kebiasaan hari ini adalah gambaran akhir esok

Agar pesan itu tak berhenti sebagai wacana, beliau menuturkan dua kisah dari lingkungannya sendiri, tanpa menyebut nama. Seorang tetangga yang akrab dengan minuman keras wafat setelah sebuah pesta; ketika jenazahnya hendak diurus, orang kampung enggan karena kebiasaan buruk yang melekat padanya, hingga ia dikuburkan seadanya. Tetangga lain, pencari rumput yang kerap melewatkan salat demi pekerjaan, wafat ketika mengikat seikat rumput; orang yang diminta mensalatinya pun ragu karena mengetahui kebiasaannya itu.

Kisah-kisah itu, kata beliau, mengingatkan kita bahwa seseorang cenderung wafat sesuai kebiasaannya. Karena itu, salat lima waktu adalah ibadah yang tak boleh ditinggalkan dalam keadaan apa pun dan sesibuk apa pun—dan sebaik-baik salat adalah berjemaah, sekalipun dengan keadaan seadanya. “Kitab Tarajumah Mbah Rifa’i,” ujar beliau, “yang pertama dibahas adalah salat: syarat dan rukunnya.”

Tiga warisan: ikhlas, istiqamah, doa

Menjelang penutup, beliau merumuskan tiga hal yang menurutnya menjadi rahasia di balik haul yang bertahan seabad lebih.

Pertama, ikhlas. Mudah diucapkan, berat dijalani. Ikhlas berarti mengerjakan kebaikan tanpa ada yang dituju selain ridha Allah. Beliau jujur menguji diri sendiri di depan jemaah: berangkat pagi itu ia salat Duha dulu, lalu bertanya pada hati, apakah niat menghadiri majelis ini sungguh untuk Allah, ataukah ada harap pada sesuatu yang lain? “Kalau ada yang terselip, itu pun dosa,” katanya, lalu menambahkan bahwa panitia yang mengundang pun menanggung bagian dosanya bila niatnya tak lurus. Jemaah tergelak, tapi pesannya masuk. Menurut beliau, haul yang kini genap seratus kali lebih—dan masih dihadiri sebanyak ini—tak mungkin terjadi tanpa keikhlasan para pendahulunya.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)

Kedua, istiqamah. Bukan hanya melakukan kebaikan, tetapi melakukannya terus-menerus. Beliau mengutip penjelasan Imam Al-Ghazali tentang kebaikan yang tidak langgeng, lalu menjelaskannya lewat perumpamaan jenaka yang membuat jemaah tergelak. Intinya serius: kebaikan yang terhenti kehilangan nilainya, sedangkan yang terus dijaga akan menjadikan seseorang mulia. Ini sejalan dengan sabda Nabi SAW:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Aḥabbul a‘māli ilallāhi adwamuhā wa in qalla.

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu, meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ketiga, tidak berhenti berdoa. Manusia, kata beliau, hanya diberi dua bekal oleh Allah: ikhtiar dan doa. Bila ikhtiar sejalan dengan doa, insyaallah takdir terasa baik di dunia dan akhirat. Maka ada satu doa yang ditegaskan beliau tak boleh ditinggalkan—sesibuk atau semalas apa pun kita sehabis salat.

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ وَإِلَيْكَ يَعُودُ السَّلَامُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ

“Ya Allah, Engkaulah Maha Sejahtera, dari-Mu kesejahteraan, dan kepada-Mu kembalinya kesejahteraan. Hidupkanlah kami, wahai Tuhan kami, dengan sejahtera, dan masukkanlah kami ke surga, negeri keselamatan.”

Dari mimbar untuk negeri

Seperti lazimnya mimbar para kiai yang hidup di tengah umat, tausiyah itu juga menyentuh persoalan sehari-hari. Beliau menyinggung gejolak dunia yang tak kunjung reda dan imbasnya pada harga energi serta kebutuhan pokok, kemarau panjang yang membuat sawah di sejumlah daerah kering, serta kabar tentang rencana kebijakan subsidi bahan bakar yang meresahkan banyak orang. Jawaban yang beliau tawarkan bukan keluhan, melainkan kesabaran dan salat sebagai penolong, sebagaimana firman Allah, wasta‘īnū bish-shabri wash-shalāh—mintalah pertolongan dengan sabar dan salat.

Beliau juga mengingatkan agar orang tua dan wali murid berhati-hati terhadap makanan yang dibagikan kepada anak-anak sekolah: diperiksa lebih dulu sebelum dikonsumsi, karena pernah ada kasus keracunan. Soal pajak, beliau menuturkan bahwa menurut sebagian pandangan fikih yang diperdebatkan, kewajiban pajak bisa dipersoalkan bila dikorupsi, namun menurut hukum negara tetap wajib dibayar—karena itu, katanya, ingatkanlah petugas agar pajak digunakan sebagaimana mestinya, sebab negara memang berjalan dengan pajak. Untuk para pejabat, beliau menutupnya dengan doa agar hati mereka dibukakan oleh Allah.

Satu kalimat beliau di bagian ini layak dicatat: dalam situasi apa pun—harga naik, hujan tak kunjung turun, atau urusan dunia yang rumit—yang tidak boleh goyah adalah keimanan.

Penutup: Menggenggam Kunci Sampai Akhir

Menjelang siang, rangkaian acara ditutup dengan doa yang dipimpin KH. Ahmad Said Asrori. Doa itu memohon agar iman dan Islam dikokohkan hingga ajal, agar umur dan rezeki dicukupkan dan diberkahi, agar anak-cucu menjadi keturunan yang baik, bermanfaat, dan selamat, serta agar seluruh jemaah dipejahkan dalam keadaan iman, Islam, dan husnul khatimah. Panitia kemudian mengumumkan bahwa pengajian Selasa Pon bulan berikutnya akan digelar di Ranting Dalangan, Cabang Kecamatan Kertek.

Jika haul seorang syaikh yang wafat lebih dari seabad silam masih dihadiri puluhan ribu orang, maka sesungguhnya yang kita saksikan bukan sekadar tradisi. Itu adalah bukti bahwa satu keikhlasan yang tulus dapat melampaui usia pelakunya. Yang diwariskan Mbah Rifa’i dan Mbah Busyro bukan bangunan megah, melainkan sebuah kunci—dan kunci itu, jika terus digenggam, akan membukakan pintu yang tak bisa dibuka oleh apa pun di dunia ini.

Mutiara Hikmah dari Karangsambo

1.      Berkah itu bertambahnya kebaikan. Haul bukan sekadar mengenang, melainkan meneruskan kebaikan yang tak pernah dihentikan para pendahulu.

2.     Genggam kuncinya. Syahadat tauhid dan syahadat rasul adalah kunci hidup; jangan lepaskan hingga ajal menjemput.

3.     Jaga adab kepada guru. Berkah ilmu bersambung lewat hormat dan doa—kepada guru, kepada keluarga guru, di waktu hidup maupun setelah wafat.

4.     Ikhlas, istiqamah, doa. Tiga warisan yang menjaga sebuah majelis tetap hidup lebih dari seratus tahun.

5.     Jaga yang tak boleh berubah. Dunia, ekonomi, dan teknologi boleh berubah; iman dan Islam tidak. Setiap khilaf, iringi dengan kebaikan.

Semoga acara ini membawa keberkahan, menambah keimanan, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta meningkatkan kecintaan kita kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Haul KH. Hasyan BusyroKH Imbuh JumaliKH. Hasan BusyroRifaiyahRifaiyah WonosoboWonosobo
Previous Post

Kotoran Cicak di Tempat Salat, Haruskah Dibersihkan?

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Organisasi Rifa’iyah dan Ummahatur Rifa’iyah (UMRI)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.