Sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia-Nya sehingga AMRI sampai di usia yang ke-25 ini, animo dan euforia peringatan Harlahnya terasa berbeda dikarenakan angka 25 itu memiliki keistimewaan filosofi tersendiri.
Seperti halnya orang Jawa yang menyebut dua puluh lima dengan selawe, tidak seperti sebutan untuk teman-temannya di bilangan 20 ke atas dengan istilah likur (22 rolikur, 28 wolulikur).
Terserah apapun dan bagaimanapun rekan-rekan AMRI memaknainya pokoke euforia di usia 25 ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Lain halnya euforia peringatan Harlah ke-25 AMRI di sana sana, euforia Harlah di cabang Kesesi sederhana saja, dan dirayakannya pun dibarengkan dengan kegiatan selapanan malam Ahad Pahing maulid simthudduror.. jarene men ngirit.. men Katon beda yaa biyasane potong tumpeng kiye potong kue.. kaya kuwi puwo lah.
Malam itu.. males sekali Mas’ad berangkat, apalagi cuaca gerimis seolah-olah mendukung untuk beralasan tidak berangkat AMRI-nan.
Tapi Mas’ad sudah berjanji kepada Mbah mad nanti menyusul karena Mbah mad sudah berangkat duluan ikut rombongan bapak-bapak yang dapat undangan tapi nanti pulangnya pengin bareng Mas’ad.
Pukul 21.30 WIB, meski dengan malas, Mas’ad pun berangkat, gerimis juga sudah reda dan dalam hati ia mbatin “akal-akalane Simbah kiye tah.. men nyong mangkat..”.
Sesampainya di tempat, Mas’ad melihat jamaah pada berdiri.. “pass.. wayahe mahalul qiyam.. Alhamdulillah isih keduman”.
Mas’ad pun mendekat dan ikut menikmati suasana khusyu’ nan Khidmat mahalul qiyam bersama jama’ah.
Selesai mahalul qiyam, Mas’ad langsung dikasih besek berkat dan dipersilahkan mencari tempat duduk senyamannya.
Mas’ad duduk tepat di depan gelaran depan masjid yang lumayan sepi yang duduk, dikarenakan mungkin tadi gerimis jamaah banyak yang merapat ke dalam masjid.
Baru duduk nyantai sebentar sambil menikmati jajan, MC mengumumkan kepada hadirin untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars AMRI, “ngadek maning…” Gumam Mas’ad.
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Suasana meriah dari jamaah yang menyanyikan lagu Indonesia Raya pelan-pelan menggugah semangat Mas’ad yang ikut juga bernyanyi sambil memperhatikan sekitar (biasa Mas’ad.. meski sawangane ngadeg anteng tapi pandangan dan pikirannya selalu lirak-lirik dan tolah-toleh ke mana-mana).
Indonesia Raya merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Di bait itu pandangan Mas’ad tertuju pada Mbah-mbah yang berdiri dengan posisi membungkuk seperti sedang rukuk, wajahnya terlihat kesusahan namun entah apa yang membuat Mbah-mbah tersebut tetap teguh berdiri.
Mas’ad senyum-senyum sendiri dan malah merekamnya, dalam hati ia berkata “ya Allah Mbah… Dikerjani.. hmm”
Meraih cita-cita mulia
Marilah para pemuda Rifaiyah
Giliran menyanyikan lagu Mars AMRI, Mas’ad masih merekam sekitar dan pandangannya lagi-lagi kembali ke view Mbah Bungkuk.
Bangkit berjuang dengan keteguhan iman
Seketika Mas’ad tertegun. Pandangannya kepada Mbah Bungkuk mulai berbeda, ia tiba-tiba teringat dawuh:
Mu’min Bungkuk kasab nandur jagung lan telo
Luweh Mulyo timbang ngawulo londo
Seolah-olah tertampar dan tersadar.. kenapa kamu malas-malasan Mas’ad.. tidakkah kau lihat beliau.. sang Mu’min Bungkuk berdiri jadi pandu ibu. Beliau tetap bangkit.. berjuang.. dengan keteguhan iman.. itulah wujud manusia Indonesia.. manusia yang merdeka..
Riuh tepuk tangan dan gema takbir Allahu Akbar berkumandang di langit-langit menambah gegap gempita, tapi Mas’ad malah tertunduk sambil menatap rekaman video Mbah Bungkuk.
Jamaah mulai duduk, sedangkan Mas’ad masih tertunduk sambil melihat video tersebut, lalu ia berinisiatif untuk mengunggah video tersebut di status WA dengan kepsyen syair mu’min bungkuk (seperti tulisan di atas).
Ia tersenyum lega penuh bahagia karena mendapat inspirasi. Belum satu menit tiba-tiba.. Pink!! chat WA masuk..
“Ngaworrrr!!, kuwi salah kuwe!!!, hoooo!!!”
Chat dari Mbah mad yang melihat status cucu kesayangannya dengan kepsyen sing jarene ngawor.
“Loh?!.. kog.. “Mas’ad lalu browsing, dan..
Mu’min bungkuk kasab nenandur ketela
Iku luwih becik tinimbang bungkuk seba ing wong ala
Nanggung dosa gede tan bisa tobat katula
Ora patut wong duraka gede di pilala.
hahaha ya Allah ngawor nemen nyong!! hapos Bae ah!! mompong orong ana sing ndelok!!
Srinahan, 2 November 2026
Baca Juga: Mas’ad dan Mbah Mad: Ibu Kita Kartini Jilbaban
Penulis: Hikman Adli
Editor: Yusril Mahendra

